
Berita kehamilan Stella langsung diberitahukan Aditya kepada ayahnya Juan.
"Ayah, Aditya mau menyampaikan berita baik kepada ayah", Aditya memberitahu lewat telepon.
"Berita baik apa itu Adit, ayah jadi penasaran", Juan merasa penasaran dan tidak sabar menunggu berita baik yang ingin disampaikan Aditya.
"Berita baiknya.... Aditya akan menjadi ayah, Ayah akan menjadi kakek", Aditya memberitahu dengan jelas dan tegas.
"Benarkah dit, ayah senang sekali mendengarnya. Syukurlah akhirnya ayah bisa segera menjadi kakek. benarkan dit ayah bilang. Kalian harus sering liburan dan jalan berdua. Buktinya istri kamu segera hamil gara-gara liburan ke Bali satu bulan yang lalu", Juan merasa yakin kalau kehamilan Stella karena habis liburan sebulan yang lalu.
"Iya deh, Aditya mengakui resep ayah manjur", Aditya mengalah.
"Kamu pun harus ikut menjaga janin Stella dit. Caranya kamu buat Stella happy jangan stress. Kamu perhatikan dan ingatkan dia untuk tidak banyak melakukan aktifitas dan pekerjaan yang berat-berat. Karena 3 bulan kehamilan itu sangat rentan dan lemah. Jangan gara-gara kesalahan sedikit, kamu kehilangan anak lagi", Juan menasihati Aditya.
"Iya ayah. Aditya harus menjadi suami yang siaga. Mengetahui segala keluh kesah istri", Aditya menyakinkan Juan.
"Baiklah Adit, nanti kalau ada kesempatan ayahbdan ibu kamu akan mampir ke rumah. Sekarang ayah tutup dulu teleponnya ya, ayah ada tamu ini di kantor", Juan pamit dan segera menutup teleponnya.
****
Menjelang makan malam Juan dan Julia ingin mampir ke rumah Aditya.
Diperjalanan sebelum Juan sampai di rumah Aditya.
Mobil Juan berhenti di perempat lampu merah.
"Sayang kasihan wanita itu, lihat deh. Sepertinya dia dulu wanita cantik. Mungkin kalau mukanya dibersihkan pasti dia kelihatan cantik", Julia menunjuk kepada seorang wanita yang mengalami gangguan jiwa yang ada di perempatan lampu merah wanita itu terus saja mengatakan, "Jangan ambil rumahku, itu adalah jerih payahku", wanita penderita gangguan jiwa itu terus mengucapkannya berulang-ulang.
Juan terus memperhatikan wanita penderita gangguan jiwa tersebut.
"Kamu benar sayang, mungkin kalau dibersihkan wajahnya pasti kelihatan cantik. Tapi sebentar deh... Sepertinya wajahnya tidak asing, siapa ya.?", Juan berusaha mengingat-ingat wajah wanita penderita gangguan jiwa tersebut.
__ADS_1
"Oh iya, aku ingat sayang. Seperti nya itu adalah Rianti. Iya Rianti istri kedua ku. Yang telah mengambil semua hartaku", Juan merasa yakin.
"Mengapa dia seperti itu ya?, apa yang terjadi kepada nya?", Juan merasa iba dan penasaran mengapa Rianti menjadi sakit jiwa.
"Sekilas aku tadi mendengar dia berbicara ketika lewat dari samping mobil kita, "Jangan ambil rumahku, itu adalah jerih payahku. Mungkin dia sudah kehilangan segalanya makanya seperti itu", Julia mencoba menerka penyebab Rianti menjadi sakit jiwa.
"Benarkah dia mengatakan seperti itu sayang?", Juan bertanya ulang.
"Aku sih dengarnya seperti itu sayang. Tidak salah lagi", Julia merasa yakin dengan pendengaran nya.
"Aku jadi penasaran, dan ingin menemuinya. coba kita menghampirinya Oalah dia mengenali aku", Juan ingin bertemu Rianti, segera Juan mencoba mencari parkiran untuk mobilnya.
Setelah agak dekat dengan Rianti, Juan berusaha menyapanya.
"Rianti..", teriak Juan sambil menyerahkan sebungkus makanan. Rianti hanya diam saja tidak ada ekspresi hanya menatap bingung kepada Juan dan segera meninggalkan Juan.
"Ayo pergi sayang, Rianti tidak mengenal aku", Juan segera mengajak Julia meninggalkan tempat itu.
"Iya sayang, aku paham maksud kamu. Aku tidak marah kok, atas tindakan kamu. Aku juga kasihan melihat Rianti seperti itu", Julia maklum.
"Baiklah kita lanjut ke rumah Aditya sayang. Nanti malah Aditya dan Stella bingung. Kita tidak sampai-sampai di rumah", Julia menambahi.
Tidak beberapa lama Juan dan Julia tiba di rumah Aditya.
Aditya dan Stella langsung menghampiri begitu tahu Juan dan Julia sudah tiba.
"Selamat ya dit, Stella. Kalian masih dipercaya kan Tuhan untuk memiliki anak. Jaga baik-baik ya. Semoga sehat dan lancar hingga proses lahiran nanti", Juan memberi kan doa dan dukungan.
"Amin", ucap Aditya dan Stella bersamaan.
"Ayo kita segera makan, nanti keburu makanannya dingin semua", Aditya mengajak semua berjalan ke arah meja makan.
__ADS_1
Ssemua memilih tempat duduk masing-masing.
"Sepertinya ayah dan ibu agak lama tibanya. Mengapa?, jalanan macet ya?", Aditya mencoba memulai obrolan, Juan dan Julia saling bertatapan dan terdiam sejenak.
"Mengapa ayah, seperti ada yang disembunyikan?", Aditya bingung.
"Tadi ayah ketemu Rianti di lampu merah", Juan membuka pembicaraan.
"Apa!. Apa Rianti melarikan diri dari penjara. Harusnya hukumannya masih berjalan sekarang", Aditya merasa heran.
"Rianti sakit jiwa dit, tadi ayah melihat dia di perempatan lampu merah dalam keadaan yang tidak terurus berjalan-jalan tidak tentu arah sambil terus mengucapkan, "Jangan ambil rumah ku, itu adalah hasil usahaku", Ayah jadi penasaran mengapa Rianti jadi seperti itu?", Juan memberitahukan. Sontak Stella dan Aditya berteriak tidak percaya kondisi Rianti.
"Kasihan Rianti, mengapa dia menjadi seperti itu ya", Aditya tidak menyangka dan merasa penasaran.
"Mungkin dia tidak terima dan menjadi stress. Karena kehilangan segalanya", Stella mencoba memberikan tanggapan.
"Iya mungkin saja seperti itu. Tetapi mengapa cepat sekali dia kehilangan segalanya, secara harta ayah yang diambilnya lumayan banyak. Apakah dia telah menjadi gelap mata, sehingga terus berfoya-foya", Aditya mencoba menebak-nebak.
"Sudahlah, biarlah kita mengambil pelajaran dari kejadian yang menimpa Rianti. Bahwa kita tidak boleh terlalu serakah dan berambisi, apalagi dengan jalan yang tidak benar. Apa yang kita dapatkan bila diperoleh dengan cepat, maka akan hilang dengan cepat pula.
Baiklah kita selalu melakukan tindakan itu dengan benar. Karena hidup ini adalah tabur-tuai. 'Apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai'. Bila kita menabur kejahatan maka kita menuai yang jahat. Sebaliknya bila kita menabur kebaikan, maka kita menuai yang baik ", Juan memberi wejangan.
Semua hanya bisa manggut-manggut. Setuju atas wejangan yang diberikan Juan.
"Kita terlalu banyak bercerita, kapan nih makannya. Perutku sudah pada demo sejak tadi", Juan mencoba mengalihkan pembicaraan dan langsung menyendok nasi kedalam piringnya. Semua pun makan dengan lahap.
"Makanan ini semua enak-enak. Ini siapa yang masakin. Sepertinya beda dari masakan mbok Lasmi, ayah kenal sekali ciri khas dari masakan mbok Lasmi", Juan ingin tahu.
"Stella yang kasih resep ayah, mbok Lasmi yang mengeksekusi nya", ucap Stella malu-malu.
"Wah, ternyata aslinya Stella pintar masak. Kita buka restoran boleh banget nih", Juan memberi ide.
__ADS_1
"Stella fokus ngelahirin dulu ayah, tidak perlu Stella yang cari kebutuhan keluarga. Kan sudah ada Aditya yang jadi kepala rumah tangga", Aditya membanggakan diri. Semua hanya bisa tertawa dan senyum-senyum.