
Evans hanya bisa pasrah menerima nasibnya sekarang. Bukan saja bingung bagaimana supaya dapat makan. Bahkan untuk ongkos naik angkot saja Evans sudah tidak punya uang lagi.
"Bagaimana ini aku tidak mempunyai uang sepeser pun, bang supir pasti akan memarahiku bila kukatakan kalau dompetku hilang.
Sudahlah, biarlah aku paksakan saja untuk naik angkot. Aku harus ikhlas dimarahi oleh bang supir. Daripada aku harus berjalan jauh", pikir Evans mengatur strategi untuk bisa pulang ke rumah. Evans pun segera menaiki angkot menuju rumahnya.
"Pinggir bang", teriak Evans begitu tiba depan komplek rumahnya.
"Bang maaf, tadi saya kecopetan jadi tidak bisa bayar ongkos. Maaf ya bang", ucap Evans memohon.
"Ga usah ngaku-ngaku di copet bang. Bilang saja memang tidak punya uang. Lain kali kalau tidak ada uang. Jangan naik angkot ya bang?", ucap bang sopir kesal, langsung melaju meninggalkan Evans.
Evans pun hanya pasrah dimaki oleh bang sopir. Evans menangis baru kali ini dia merasakan hidup susah tidak mempunyai uang. Segala kebutuhan hidup dari sebelum tinggal di rumah mewah. Rianti yang memenuhinya.
"Ibu kamu benar, Desi sekarang telah meninggalkan aku. Aku bodoh tidak mendengarkan nasihatmu", Evans teringat sosok Rianti yang ditelantarkan nya di penjara hanya demi Desi.
Evans memandang ke sekeliling, dulu ada banyak pegawai di rumah ini. Sekarang 1 pun tidak ada, semua dipecat karena tidak bisa membayar uang gajinya. Evans juga tidak tahu sampai kapan bisa diizinkan tinggal di rumah ini.
Evans pun bermaksud untuk rebahan melepaskan kesedihan. Tiba-tiba terdengar bell rumah berdering. Evans Segera berlari ingin membukakan pintu.
"Selamat pagi pak", kata salah satu tamu dari 3 orang tamu yang datang.
"Kami adalah petugas bank, bermaksud untuk menyita rumah ini. Karena rumah ini telah dijaminkan untuk mendapatkan pinjaman. Tetapi pemilik rumah tidak pernah membayar cicilan pinjaman. Jadi dengan terpaksa rumah ini harus dikosongkan sekarang juga", ucap petugas bank memberitahu.
"Pak izinkan saya tinggal disini untuk beberapa hari lagi. Saya tidak mempunyai rumah", Evans memohon.
"Tidak boleh pak, bapak harus keluar. Karena rumah ini sekarang sudah menjadi milik pihak bank", petuga ngotot mengusir paksa Evans.
__ADS_1
Evans diberi waktu untuk segera mengemasi barang-barang nya yang perlu dibawa. Evans bingung barang apa yang akan dibawanya, akhirnya Evans memutuskan untuk membawa barang hanya seadanya, karna evans juga tidak tahu harus tinggal dimana.
Evans langsung meninggalkan rumah, terus berjalan tidak tahu arah, Evans bermaksud ingin pergi ke penjara, menemui ibunya dan meminta maaf. Lagi-lagi Evans memakai trik naik angkot tidak membawa dompet. Evans hanya pasrah dimaki-maki terus oleh supir angkot.
Setelah Evans dan Rianti bertemu, Rianti merasa senang, pikir nya Evans berubah pikiran akan mengeluarkan nya dari penjara.
"Kamu mau mengeluarkan ibu kan nak", tanya Rianti dengan wajah berseri-seri.
Evans hanya tertunduk, tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada ibunya. Dengan wajah sedih sambil sujud di kaki Rianti Evans menangis.
"Ibu maafkan aku. Ibu benar Desi telah meninggalkan aku. Selama ini Desi memang berniat untuk memoroti aku. Sekarang Desi telah meninggalkan aku. Padahal aku sudah menyerahkan sisa tabungan ku dan mobil.
Untuk mengurusi pernikahan, membuka usaha dan untuk biaya hidup. Sekarang rumah kita telah disita. Aku bahkan tidak tahu aku harus tinggal dimana. Aku sudah tidak mempunyai uang lagi Bu.", tangis Evans tersedu-sedu.
"Apa!. Kamu menyerahkan sisa uang tabungan dan mobil kepada perempuan tidak malu itu. Dasar kamu memang anak yang bodoh. Dari dulu ibu sudah memperingati kamu. Bahwa Desi hanya memoroti kamu. Tetapi kamu tidak peduli. Seharusnya aku yang pegang sisa uang tabungan itu beserta mobil. Karena itu semua adalah hasil kerja keras ibu. Pergi kamu Evans. Ibu sangat benci sama kamu. Ibu tidak rela apa yang ibu perjuangkan hilang begitu saja. Tidak bersisa sedikit pun".
Kamu pasti sangat menderita, ini hukuman dari kamu yang tega menelantarkan ibunya. Hanya demi seorang perempuan bodoh. Pergi Evans", Rianti berteriak sangat kencang dan penuh emosi. Rianti langsung kembali ke selnya dan meninggalkan Evans yang terus menangis.
"Ibu...Maafkan aku", Evans beranjak dari duduknya dan disuruh segera meninggalkan lapas karena suruhan dari petugas.
Evans bingung tidak tahu harus pergi kemana. "Ibu benar, aku adalah anak bodoh dan manja. Yang selama ini selalu disediain berbagai fasilitas. Bahkan aku sangat tidak mandiri", Evans merenungkan semua perkataan Rianti.
Evans terus menangis. Perutnya terasa lapar kerongkongan juga terasa kering. Evans mencoba mengais-ngais tong sampah "mana tahu ada sedikit makanan sisa", pikir nya, karena perutnya sudah tidak bisa ditolerir lagi.
Evans berusaha meminta-minta, tetapi tidak ada yang memberinya uang, karena dari wajah dan cara berpakaian Evans. Seperti tampak orang yang berkecukupan.
Akhirnya Evans sampai di pasar, Evans memperhatikan dan mengamati gerak gerik dipasar. Akhirnya timbul ide dipikiran nya untuk menjadi kuli barang angkut. Evans mencoba bertanya kepada tukang beras.
__ADS_1
"Permisi pak, apakah bapak membutuhkan pegawai sebagai kuli angkut?", tanya Evans kepada pemilik toko.
"Baik, saya akan menggaji kamu 40.000 sehari. Tetapi karena ini sudah siang. Kamu kugaji setengahnya sampai jam 5 sore. 25.000. Kamu mau?", ucap pemilik warung, karena jam kerja Evans tinggal 4 jam lagi.
"Tidak apa lah yang penting aku bisa beli makanan nanti", gumamnya sedikit lega karna dia berpikir bisa makan nanti malam.
"Baik pak, saya ingin bekerja", ucap Evans senang.
Evans pun mulai bekerja, 1,2,3 mengangkut barang Evans tidak sanggup karena terasa sangat berat. Bahkan harus dibantu oleh pemilik warung. Karna sering jatuh. akhirnya Evans disuruh beristirahat. Tibalah pemberian gaji.
"Ini gaji kamu 20.000 saja. Sudah syukur kamu saya gaji. Karena saya jadi ikut bantu kamu, karena beberapa kali kamu menjatuhkan barang saya. Besok kamu tidak usah berkerja disini lagi. Tenaga kamu tidak bisa diharapkan", pemilik warung menyerahkan uang gaji Evans.
Evans hanya pasrah digaji segitu. Dia pun menyadari kalau dirinya tidak kuat memundak beras berukuran 30-50kg.
"Tidak apalah yang penting aku bisa makan malam ini, aku harus makan seadanya. Besok aku akan mencoba mencari pekerjaan lain", gumamnya dalam hati.
*****.
Di penjara Rianti masih kesal kepada Evans. Belum rela Rianti kehilangan sisa harta miliknya dari Juan.
Rianti terus memaki-maki Evans dan Desi dalam hatinya. Rianti jadi sering merenung dan menangis dalam sel. Ada salah satu teman Rianti didalam sel, tidak senang melihat Rianti termenung dan menangis.
"He, jangan menangis!, berisik tahu.. Sekali lagi kamu menangis kupukul kamu", teriak nya merasa terganggu.
Rianti berwatak keras kepala, merasa tidak ingin diatur. Rianti tetap saja menangis. Rianti selalu diberi peringatan tetapi tetap saja tidak mengindahkan peringatan teman selnya.
Akhirnya Rianti dipukuli, Rianti tidak terima dan tidak mau kalah mencoba menarik rambut lawannya. Perkelahian tidak bisa dihindari Rianti menjadi babak belur, karena Rianti dikeroyok oleh 3 orang. Perkelahian segera dihentikan petugas, Rianti dibawa ke klinik karena mengalami luka parah.
__ADS_1