Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#51. Kehilangan Gibran diceritakan kepada Juan


__ADS_3

Tidak henti-hentinya Stella menangis dan memeluk Gibran. Tidak terbayang, betapa paniknya Stella tadi begitu tahu kalau Gibran tidak ada di dalam baby stroller nya.


Sejenak terbayang dipikiran nya kalau Gibran di perdagangkan atau di pergunakan untuk mencari nafkah, yaitu di pakai untuk mengelabui orang lain meminta-minta atau mengemis di jalanan sambil menggendong baby Gibran.


Bersyukur banget Gibran bisa cepat di temukan, Stella menangis terharu.


"Sayang sudahlah, dari pengalaman ini hendaknya kita bisa belajar dan berbenah diri. Untuk selalu berhati-hati, selalu waspada, tidak sembarangan meninggalkan anak. Baiknya Anak itu harus tetap dalam jangkauan penglihatan kita", Aditya memberi nasehat. Stella pun hanya bisa mengangguk-angguk menyetujui atas apa yang dikatakan Aditya.


"Iya sayang. Maaf aku tadi lalai. Aku tidak akan mengulangi kesalahan ku dan akan selalu ada di dekat Gibran", Stella menyadari kesalahannya.


"Baiklah, kita lupakan masalah kita ini. Akibat kejadian ini sampai lupa, kalau kita seharusnya sekarang harus ke rumah sakit. Karena ayah dalam kondisi kurang sehat saat ini", Aditya mengingatkan Stella.


"Oh iya. Baik!. Aku akan segera bersiap-siap", Stella masuk ke kamar untuk berganti pakaian sekalian membenahi dan mengganti pakaian Gibran juga.


Setelah selesai berbenah mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan segera berangkat menuju rumah sakit tempat Juan dirawat.


Begitu tiba di rumah sakit Aditya lantas langsung mencari tahu dengan bertanya kepada resepsionis dan satpam dimana posisi kamar tempat Juan dirawat. Yaitu kamar VIP bonsai 6 lantai 4.


Aditya langsung mengetuk dan masuk karena di depan pintu tertulis vip bonsai 6.


"Halo yah, gimana kondisi kesehatan ayah saat ini. Apakah sudah baikan?", Aditya langsung memeluk Juan dan menanyakan kondisi kesehatannya.


"Sudah agak baikan dit, tadi itu memang ayah merasa sesak tidak bisa bernapas. Makanya ibu mu panik dan segera membawa ayah kemari", Juan menceritakan alasannya tiba-tiba masuk rumah sakit.

__ADS_1


"Syukurlah, Memang seharusnya begitu yah. Kita harus buru-buru membawa ke rumah sakit. Kalau memang kita tidak tahu apa yang harus diperbuat, sebelum semua terlambat dan akhirnya tidak bisa ditangani", Aditya membenarkan keputusan ibunya membawa Juan dengan segera.


"Hari ini pun kami mengalami suatu kejadian yang sangat tragis. Beruntung segera bertindak dengan cepat. Kalau tidak, mungkin selamanya kami tidak akan bisa ketemu lagi dengan Gibran", Aditya mencoba menceritakan kejadian Hari ini yang menimpa baby Gibran.


"Maksud kamu apa dit?, ayah tidak paham", Juan tidak mengerti arah pembicaraan Aditya.


"Tadi pagi Gibran hilang dari baby stroller nya. Kejadian itu terjadi di depan rumah, ketika Stella ingin membawa baby Gibran keluar untuk berjemur mendapatkan sinar matahari.


Itu terjadi ketika handphone Stella berdering. Lantas Stella ingin mengangkat telepon dari saya yang memberitahukan kalau ayah sedang di rumah sakit.


Kebetulan handphone itu letaknya di meja yang berada di ruang tamu, Karena merasa aman, tidak ada orang lain disekitar itu Stella pun segera mengangkat teleponnya yang berdering.


Lantas Stella meninggalkan baby Gibran di luar didalam baby stroller nya. Setelah selesai bertelepon, Stella bermaksud ingin menggendong Gibran.


Dengan cepat stella langsung melihat rekaman cctv kalau Gibran diculik oleh wanita penderita gangguan jiwa. Kamipun langsung melapor ke satpam dan memberitahu kalau yang menculik Gibran adalah wanita penderita gangguan jiwa.


Betapa terkejutnya kami bahwa satpam tidak ada melihat ada wanita penderita gangguan jiwa masuk kedalam kompleks. Stella mencoba bertanya apakah ada mobil bak terbuka yang masuk ke dalam kompleks.


Ternyata kata satpam ada mobil bak terbuka masuk kedalam kompleks mengantar tanaman hias ke dua rumah sebelum rumah kita. Kami pun langsung mendatangi rumah warga yang dimaksud kan oleh satpam, ternyata benar ada mobil bak terbuka parkir di depan rumahnya. Sedari tadi ketika mencari keluar rumah Stella telah melihat mobil bak terbuka itu, Stella tidak berpikir kalau mobil bak terbuka itu menjadi persembunyian dari wanita penderita gangguan jiwa tersebut.


Kami pun segera menghampiri mobil bak terbuka itu. Dan betapa terkejutnya kami kalau wanita itu sedang duduk didalam mobil bak terbuka itu sambil menggendong baby Gibran yang sedang tidur nyenyak.


Lantas aku pun langsung mengambil paksa Gibran dari gendongan nya. Tahukah ayah siapa wanita penderita gangguan jiwa tersebut?", Aditya menjelaskan kronologi menghilangnya Gibran semua bingung dan bertanya-tanya merasa penasaran siapa wanita penderita gangguan jiwa tersebut.

__ADS_1


"Wanita itu adalah Rianti yah", Aditya bicara dengan sedikit keras dan jelas. Semua lantas terkejut mendengar pengakuan Aditya.


"Apa, Rianti!. Kamu yakin kalau wanita yang menculik Gibran adalah Rianti?. Darimana Rianti tahu rumah kamu. Lagian Rianti menderita gangguan jiwa. Rianti tidak mengenal siapapun", Juan bingung mengapa kebetulan sekali Rianti menculik anaknya Aditya dan Stella.


"Mungkin itu suatu kebetulan saja ayah. Itu semua karena ada peluang dan kesempatan. Artinya kebetulan Gibran sendiri dan tidak ada yang mengawasinya", Aditya mencoba memberi gambaran.


"Tahu tidak yah. Ingatan Rianti saat ini mungkin hanya mengenai ambisinya untuk mendapatkan harta kekayaan ayah. Soalnya Rianti sering mengulang-ulang ucapannya "Ambil anaknya, agar Aditya tidak mendapatkan hartanya", kata-kata itu selalu Rianti ucapkan berulang-ulang.


Menurut Adit, Siapapun bisa menjadi korban Rianti. Karena dalam pikirannya anak yang baru lahir akan penjadi penghalang Rianti tidak mendapatkan bagian dari kekayaan ayah.


Rianti masih terobsesi masih hidup dalam ambisinya untuk mengambil kekayaan ayah. Kejatuhan Rianti seperti tidak ada dalam ingatan nya saat ini", Aditya mencoba memberikan gambaran kondisi kejiwaan Rianti saat ini.


"Ayah pun berpikir seperti itu. Sudahlah kita tidak usah memikirkan masalah Rianti tersebut. Sekarang Rianti sedang mendapat kan karma atas perbuatan jahat yang dilakukannya.


Sebaiknya memang kita tidak boleh terlalu berambisi. Boleh berambisi, tetapi harus tahu porsinya. Jangan sampai menghalalkan segalanya. Marilah kita pelajari apa yang dialami Rianti saat ini", Juan memberikan nasihat.


"Oh iya dit, tolong kamu urus keperluan administrasi ayah. Karena ayah sudah merasa baikan saat ini. Ayah ingin pulang dan baiklah ayah istirahat di rumah saja. Di rumah sakit ini pikiran ayah menjadi sangat mumet", Juan ingin segera keluar dari rumah sakit.


"Baik ayah, akan Aditya urus segala administrasi nya. Kalau memang kondisi ayah sudah memungkinkan untuk pulang. Tidak apa-apa sih, ayah pulang.


Dan kalau memang dokter pun sudah mengizinkan pulang", Aditya memaklumi Juan yang memang merasa tidak betah untuk berlama-lama di rumah sakit. Adit pun langsung berlalu meninggalkan kamar inap pasien, lanjut pergi untuk mengurus administrasi agar Juan diperbolehkan pulang ke rumah.


Selesai Aditya mengurus administrasi nya Juan pun diperbolehkan pulang. Akhirnya Juan keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2