Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#56. Stella tidak ingin Rico terus menerus datang ke rumah


__ADS_3

Tiga bulan sudah Aditya tidak ada kabar kabari nya. Stella merasa yakin pada kata hatinya. Kata hatinya menyatakan kalau Aditya masih hidup.


Kalau Juan sendiri dan Rico merasa ragu kalau Aditya masih hidup. Pikir mereka Aditya ada kecelakaan jatuh ke jurang sehingga tidak ditemukan, atau ada orang jahat yang telah membunuhnya, tetapi mayatnya di buang. Sehingga jasadnya sampai sekarang tidak diketahui.


Mereka hanya bisa pasrah dan berharap keajaiban saja yang bisa membuat Aditya bisa kembali.


Rico selalu perhatian kepada Stella dan Gibran. Rico tidak ingin Gibran kehilangan perhatian dari sosok ayah. Karena Rico tahu, kalau Gibran sangat kompak dan dekat dengan Aditya. Rico pun berusaha memberi perhatian seperti yang diberikan Aditya kepadanya.


Sepulang dari kantor Rico selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Stella, sekedar membeli hadiah mainan kepada Gibran. Terkadang membeli makanan kesukaan Gibran.


Dan dengan terpaksa Stella menuruti kemauan Gibran kalau Gibran sedang ingin ke arena bermain seperti mandi bola, arena bermain game yang ada di mall. Rico dengan senang hati selalu menemani Stella dan Rico.


"Mau main apa lagi Gibran", tanya Rico senang melihat Gibran antusias sekali bermain di arena game.


"Mau main tembak-tembakan om", ucap Gibran antusias.


"Baiklah let's go". Mereka pun berlari ke arah permainan game tembak-tembakan. Stella pun hanya mengikut dari belakang.


Sesungguhnya nya Rico sepertinya mempunyai perasaan kepada Stella, tetapi Rico takut untuk mengungkapkan perasaannya. Takut bila Rico mengungkapkan perasaannya, Stella akan menjauhi dirinya.


Akhirnya Rico hanya bisa menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya dengan sering berkunjung dan menemani Rico. Itu sebagai alasan Rico untuk mendekati Stella.


Walaupun sesungguhnya Rico tahu, Stella masih berharap Aditya kembali. Tidak dipungkiri perjuangan Stella untuk menyembuhkan Aditya dari sakit jiwa. Itu sudah merupakan bukti kalau Stella sangat tulus mencintai Aditya, begitu juga sebaliknya Aditya tulus mencintai Stella.


Rico tahu, sisi kelam Stella karena Aditya sangat terbuka pada Rico. "Tetapi tidak bisa disangkal kekuatan cinta mereka pun telah terbukti selama ini. Dari semua masalah yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka. Mereka selalu mampu menyelesaikan sendiri", gumam Rico terkadang harus menepis perasaannya kepada Stella.


Ketika Rico sudah sampai di rumah mengantar Stella dan Gibran balik ke rumah. Setelah seharian keluar jalan-jalan ke mall.


"Rico terimakasih kamu sudah baik dan perhatian sama Gibran dan aku selama ini. Tetapi aku merasa tidak enak atas pandangan sinis tetangga.


Suamiku sedang tidak di rumah. Tetapi ada laki-laki asing sering mampir ke rumah ini.

__ADS_1


Sebaiknya Kamu tidak usah sering-sering datang ke rumah ini ya. Nanti kalau misalnya aku butuh atau perlu kamu. Aku akan telepon kamu.


Maaf ya, kuharap kamu bisa memaklumi kondisi aku. Bukan aku tidak senang kamu datang ke sini, aku senang niat baik kamu pasti untuk menemui Gibran.


Berusaha memberikan kasih sayang seperti yang diberikan Aditya kepadanya. Aku merasa tidak enak saja sama tetangga. Sekali lagi kuharap kamu bisa memaklumi nya", Stella terbuka, agar Rico tidak sering-sering datang ke rumah.


Sesungguhnya Rico ingin berontak, tetapi Rico memikirkan perasaan Stella. Rico pun hanya bisa pasrah atas perintah Stella.


"Baiklah Stella, aku mengerti perasaan mu. Tetapi kamu jangan segan-segan ya untuk menelepon aku kalau ada perlu", Rico hanya bisa pasrah.


"Pasti Rico", Stella senang Rico bisa memaklumi nya.


Rico pun segera pamit dan meninggalkan Stella tanpa masuk ke rumah.


***


Tiga hari berlalu, Gibran merasa kecarian atas sosok Rico. Sebenarnya Stella sering dan mau menemani Gibran bermain bola. "Tetapi bermain dengan sesama lelaki lebih mengasyikkan", pikir Gibran dalam hati.


"Ma, kenapa om Rico tidak pernah datang lagi ke rumah kita ma?", tanya Gibran dengan wajah sedih.


"Oh begitu ya, tetapi hari Minggu kemarin kan tanggal merah. Harusnya om Rico libur. Mengapa om Rico tidak datang ke rumah ma atau mengajak kita jalan-jalan?", Gibran tidak lantas mempercayai alasan Stella.


"Mungkin om Rico sedang keluar kota untuk urusan bisnis", Stella tidak mau kalah.


"Oh begitu ya, kapan om Rico tidak sibuk ma?", Gibran terus bertanya karena merasa penasaran.


"Mama tidak tahu sayang, Mungkin om Rico sudah punya pacar. Makanya sibuk tidak punya waktu", Stella mencari-cari alasan agar Gibran tidak bertanya lagi tentang Rico.


"Oh begitu ya ma", Gibran pun langsung masuk ke kamarnya meninggalkan Stella.


Hati Stella sangat sakit. Melihat raut wajah Gibran yang begitu sedih, karena tidak bisa bermain lagi dengan Rico.

__ADS_1


"Ya Tuhan, ini semua karena ke egoisan ku. Sehingga aku telah mengorbankan kesenangan anak ku. Tetapi aku pun perlu memikirkan gunjingan tetangga yang menatap ku sinis", Stella terus menangis.


"Apa yang harus kuperbuat Tuhan", gumam Stella dalam hati.


Ternyata akibat terus memikirkan Rico, Gibran menjadi tidak bersemangat makan dan beraktifitas. Gibran pun jatuh sakit. Stella panik, berusaha tetap tidak mau menelepon Rico. "Gibran harus dibiasakan tanpa sosok Rico di dekatnya", pikir Stella dalam hati.


Tetapi kondisi kesehatan Gibran terus menurun. Akhirnya Stella dengan terpaksa menelepon Rico, ingin menyuruh Rico untuk datang menemui Gibran.


Stella menghubungi Rico.


"Rico, maaf telah mengganggu kamu. Gibran sedang sakit dan sekarang lagi di rawat di rumah sakit. Bolehkah kamu datang menemuinya?, karena Gibran rindu sekali kepada mu", Stella to the point.


"Apa!, iya..iya. aku segera datang. di rumah sakit mana kalian berada sekarang?", Rico langsung menanggapi Stella, dan buru-buru langsung tancap gas ke rumah sakit, setelah Stella memberitahu alamat rumah sakit tempat Gibran di rawat.


Tidak beberapa lama Rico tiba di rumah sakit. Dan langsung masuk ke kamar tempat Gibran di rawat.


Tok...tok ..tok ..


Rico membuka pintu, Gibran sedang duduk tidak bersemangat di atas ranjangnya.


"Hai jagoan", Rico berteriak. Gibran langsung menoleh, karena sangat mengenal suara tersebut.


"Om Rico", teriak Gibran bersemangat.


"Om Rico kenapa tidak pernah lagi menemui Gibran?, Om Rico sibuk ya atau om Rico sudah punya pacar ya. Makanya tidak punya waktu lagi untuk Gibran", Gibran mengungkapkan kerinduan nya.


Rico dan Stella hanya bertatapan, "Mungkin Stella yang telah memberitahukan alasan itu agar Gibran tidak terus bertanya-tanya tentang dirinya", pikir Rico dalam hati memakluminya.


"Iya, om sangat sibuk sekali. Maaf ya, sudah melupakan mu. Tetapi om janji sekali-kali om akan meluangkan waktu om untuk menemani kamu bermain di mall, bagaimana?", Rico menyemangati Gibran.


"Nanti om telepon deh kalau ada waktu, atau om tanya mama dulu apa Gibran bisa om bawa pergi ke mall. Sesama lelaki saja", Rico melirik Stella.

__ADS_1


"Asyik, boleh ya ma", tanya Gibran merengek membujuk Stella.


Stella pun hanya bisa mengangguk-angguk setuju, "Karena saat ini yang sangat perlu adalah untuk kesembuhan Gibran", gumam Stella dalam hati.


__ADS_2