
Sebulan berlalu setelah Stella dan Aditya mengungkapkan semua kebohongan Anggi.
"Sayang, terimakasih ya, atas pengertian kamu. Kamu masih menerimaku, walaupun aku sudah mempunyai anak dari Anggi", aku Aditya kepada Stella.
"Kamu melakukannya kan bukan atas keinginan dan kemauan kamu sendiri. Kamu hanya di bohongi dan ditipu daya oleh Anggi. Bagaimana pun itu bukan kesalahan kamu sayang. Aku harus bisa memakluminya", Stella penuh pengertian.
"Itulah mengapa aku begitu mencintaimu. Aku bersyukur banget bisa mendapatkan istri yang tulus mencintai aku. Aku juga yakin, kamu selalu mendoakan aku dan keluarga kita. Sehingga segala rintangan bisa kita lalui bersama", Aditya memuji Stella.
"Jangan terlalu memuji ku sayang, aku juga bangga kok mempunyai suami seperti kamu. Karena rasa cintamulah juga, Rumah tangga kita berjalan dengan baik dan terhalang dari bujuk rayu Pelakor", Stella tidak enak dipuji terlalu berlebihan oleh Aditya.
"Aku juga salut kamu mau menerima dan mengasuh anak yang ada dalam kandungan Anggi", ucap Aditya datar.
"Tidak apa-apa sayang, kalau Anggi terus menuntut mu bertanggung jawab hanya karena benih kamu yang dikandungnya. Aku yakin Anggi juga tidak akan mau anaknya kuasuh. Kita lihat saja deh sayang. Akupun yakin Anggi pasti akan melakukan cara apalagi untuk merebut kamu dari aku.
Seperti tidak ada pria lain saja diluar sana. Sehingga Anggi harus merebut kamu, yang nota Bene sudah mempunyai istri dan anak", Stella tahu sedikit banyak sikap Anggi, yakin kalau Anggi punya siasat untuk merebut Aditya.
"Kita harus waspada sayang, Intinya, kita harus saling menjaga keutuhan rumah tangga kita", Aditya menasihati.
"Aku sih bisa jaga diri, aku takut kamu nanti yang berubah pikiran. Karena lelaki paling susah menolak bila ada wanita yang minta tolong atau sedang kesusahan. Padahal itu adalah suatu tipu daya wanita penggoda tersebut, agar pria itu masuk dalam jebakan nya", Stella memberitahu dengan tegas. Aditya hanya diam saja.
"Sudahlah pusing kita kalau mikirin Anggi terus. Agar keluarga kita dijauhkan dari orang-orang yang zolim. Baiknya kita banyak berdoa dan berikhtiar yang baik-baik saja", stella menyudahi pembicaraan mengenai Anggi.
***
__ADS_1
Anggi merasa kalah, geram, dan emosi, karena Aditya tidak bersama nya lagi.
"Aku harus segera memikirkan rencana agar Aditya tetap bersamaku selamanya. Stella tunggu saja pembalasan ku", gumam Anggi mencoba berpikir keras, rencana apa yang akan di jalankannya. Tiba-tiba muncul ide dalam otaknya.
"Baiklah aku akan berpura-pura sakit parah dan umurku tidak akan panjang. Aku akan membawa-bawa anak yang ada dalam kandungan ku agar Aditya mau dan dekat dengan ku", gumam Anggi merasa kalau ide yang didapat nya ini adalah ide yang sangat brilian. Anggi senyum-senyum sendiri.
"Baiklah sekarang aku akan ke klinik berpura-pura memeriksakan kandunganku. Disana dokter terlebih dahulu ku suruh untuk mengatakan kebohongan kalau aku menderita penyakit kanker, dan umur ku tidak akan lama lagi. Aku akan menyuruh Aditya datang. Pasti Aditya akan mempercayai nya", Anggi menyusun rencana jahatnya.
Anggi pun segera beberes mengganti pakaian nya dan segera pergi ke klinik.
Benar saja begitu tiba di klinik, kebetulan masih sepi pengunjung. Anggi langsung menjalankan rencananya dan sedang berbicara serius dengan dokter klinik tersebut.
"Dok, tolong bantu saya menjalankan aksi saya ini. Saya sudah tidak tahu lagi apa yang harus saya perbuat. Agar suami saya peduli dan perhatian sama saya.
Suami saya lebih peduli terhadap istri keduanya. Sedangkan saya sampai dalam keadaan hamil begini pun. Suami saya tidak juga peduli dan kasihan kepada saya", Anggi berpura-pura sedih agar dokter Ira mau menjalankan kebohongan Anggi.
"Tolonglah dokter. Saya tahu profesi dokter sangat mulia. Tetapi hanya ini cara agar suami saya peduli dan perhatian kepada saya. Tolong lah dokter.
Sebagai ucapan rasa terimakasih saya, saya akan memberikan sedikit uang untuk sekedar untuk minum-minum teh, penghilang rasa suntuk dokter", Anggi menyerahkan amplop berisi uang 100 juta.
"Maaf ya Bu, ini hanya sebagai ucapan terimakasih saya kepada Bu dokter. Karena telah membantu dan menolong saya", Anggi menyerahkan uang agar dokter Ira tidak merasa tersinggung karena disogok.
"Baiklah Bu, saya mau membantu ibu karena saya sangat kasihan dan iba atas Kondisi ibu. Yang suaminya tidak peduli, semoga apa yang ibu harapkan mudah-mudahan terkabul", ucap dokter Ira sambil mengambil dan menyimpan amplop pemberian Anggi.
__ADS_1
"Terimakasih Bu dokter, atas perhatiannya. Sebentar saya akan menelepon suami saya. Dan Bu dokter harus betul-betul menyakinkan suami saya", Anggi memberikan arahan. Dokter Ira pun hanya mengangguk-angguk.
Anggi pun segera menelepon Aditya menyuruhnya untuk datang ke klinik.
"Sayang, sekarang aku sedang kontrol kesehatan ku dan sekalian kandunganku. Kamu tolong datang ke klinik Sehat ya. Ku mohon, sekalian dokternya ingin bicara kepada kamu, selaku suamiku. Ada hal penting yang harus disampaikan dokter kepadamu", Anggi membujuk seperti minta dikasihani.
"Hal apa sih Anggi, aku lagi sibuk nih. Aku tidak percaya lagi tentang tipu dayamu", Aditya merasa takut dijebak oleh Anggi.
"Sayang... tolong.. datang lah ke klinik. Supaya kamu tahu sebenarnya dengan kondisiku. Aku sedang sakit parah saat ini. uhuk...uhuk...uhuk...", Anggi berpura-oura batuk dan terpatah-patah cara berbicaranya agar lebih menyakinkan Aditya.
Mendengar suara Anggi seperti menderita sakit parah, Aditya merasa iba dan kasihan.
"Sayang, sebentar aku mau ke klinik menjenguk Anggi. Katanya ada yang ingin disampaikan dokter kepadaku, mengenai penyakit Anggi. Selaku aku sebagai suami Anggi", Aditya minta izin kepada Stella untuk pergi menemui Anggi.
"Aku ikut sayang, agar Anggi tidak macam-macam lagi kepadamu", stella tidak mau Aditya terjebak tipu daya Anggi.
Stella dan Aditya buru-buru langsung berangkat ke klinik yang diberitahu oleh Anggi.
Setelah tiba di klinik, stella dan Aditya langsung memasuki ruang perawatan Anggi. Dan melihat Anggi terbaring lemas dan sedang tertidur di ranjangnya dengan impus dan oksigen yang telah dipasang pada tubuhnya.
"Hai Anggi, gimana kondisimu?", Aditya merasa kasihan. Anggi pun langsung terbangun mendengar suara Aditya.
"Hai sayang kamu sudah datang. Aku tidak tahu sayang, kondisiku sangat lemah dan tidak bertenaga. Padahal aku sedang mengandung anak kamu.
__ADS_1
Aku sangat ingin melahirkan dan melihat tumbuh kembang anak kita hingga besar nanti. Tetapi dokter telah memfonis aku, kalau umurku tidak akan lama lagi", Anggi berpura-pura menangis. Aditya dan Stella pun sangat prihatin atas kondisi Stella.
"Maksud kamu apa Anggi", stella merasa penasaran.