
"Bu, mengapa ketika pak aditya tidak rumah ibu berdandan seperti orang penyakitan saja, begitu pucat. Tetapi ketika bapak tidak di rumah, ibu berdandan sangat cantik?", tanya mbok Rani kepada Anggi.
"Sebenarnya aku tidak suka berdandan seperti ini. Kamu tahu kan, kalau aku sangat suka sekali berdandan. Ini hanya menunjukkan kepada Aditya, kalau aku itu sedang membohonginya", Anggi berkata jujur.
"Berbohong bagaimana maksud nya Bu?", mbok Rani bingung, tidak paham maksud Anggi.
"Begini loh mbok. Agar Aditya sayang dan perhatian sama aku. Aku itu berpura-pura mengatakan kepadanya kalau umurku tidak panjang lagi, karena penyakit rahim yang kuderita,
Aku juga membawa-bawa kandungan ku, kukatakan semenarik mungkin. Agar Aditya percaya apa yang kukatakan. Bahkan dokter kandungan berkonsfirasi dengan ku. Agar lebih menyakinkan kebohongan ini kepada Aditya", Anggi terus saja berkata jujur mengenai kebohongan nya.
Ternyata Aditya sudah dari tadi menguping pembicaraan mbok Rani dan Anggi.
"Apa, Ternyata selama ini kamu membohongi aku?. Jahat sekali kamu Anggi. Tega kamu melakukan ini kepada ku dan Stella. Bodohnya aku selalu percaya atas kebohongan mu", Aditya begitu marah, karena Anggi telah membohonginya. Mbok Rani langsung lari kearah dapur menghindari pertengkaran Aditya dan Anggi.
Buru-buru Aditya memberesi pakaiannya dan bermaksud untuk meninggalkan Anggi.
Anggi langsung gelagapan, bingung mau mengatakan apa.
"Aditya dengar dulu perkataan ku. Aku hanya ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayangmu. Karena aku sangat mencintaimu Aditya. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu Aditya", Anggi terus mencegah Aditya agar tidak meninggalkan nya.
"Sudahlah, Aku bahkan telah bertengkar dengan Stella. Karena aku begitu percaya atas perkataan mu. Ternyata Stella benar, kalau ini adalah akal-akalan mu. Harusnya aku sadar sejak awal. Kamu mengatakan kalau umur kamu tidak akan lama.
Padahal kamu begitu ingin melahirkan anak yang ada dalam kandungan mu. Kamu memohon-mohon kepada ku dengan penuh rasa iba, agar aku mau perhatian dan merawat kamu.
Setelah berbulan-bulan aku perhatian dan merawat mu. Bahkan aku telah mengorbankan rumah tangga ku. Aku tidak pernah menemui Stella lagi.
Apa yang kudapatkan?, kamu membohongi aku. Aduh bodoh sekali aku telah mempercayai mu", Aditya marah dan sangat menyesal telah mempercayai Anggi, dan tidak mempercayai perkataan Stella.
"Sayang.... Maafkan aku?", Anggi berusaha mencegah Aditya dengan menarik-narik baju Aditya.
__ADS_1
"Tidak usah memanggil aku sayang", Aditya langsung menepis tangan Anggi.
"Jangan pernah kamu menemui atau menghubungi ku lagi. Sampai kapan pun aku tidak akan mau menemui atau mempercayai setiap perkataan mu. Kamu itu tidak jauh beda dengan ular berbisa.
Sangat sadis dan melakukan apa saja dengan berbagai cara untuk mencapai keinginannya", Aditya terus melangkah keluar rumah meninggalkan Anggi yang senantiasa memohon-mohon kepada Aditya. Anggi merasakan sakit pada perutnya.
"Sayang...aduh perut ku sakit sekali. sayang tolong bawa aku ke rumah sakit. Perut ku sakit sekali", Anggi merintih kesakitan.
"Aku tidak akan percaya lagi semua tipu muslihat mu. Kamu pasti berusaha membohongi ku lagi", Aditya langsung mengeluarkan kendaraannya dari bagasi dan langsung melaju dengan cepat. Tidak menghiraukan lagi Anggi yang merintih kesakitan.
Anggi tergeletak di lantai, "Mbok Rani", teriaknya sangat kencang.
Mbok Rani langsung berlari menghampiri Anggi. Mbok Rani panik dan ketakutan melihat darah mengalir di kaki Anggi.
"Mbok. Tolong bawa aku ke rumah sakit, Tolong telepon dokter Ira, beritahukan Kondisi ku", Mbok Rani pun segera berlari mencari pak Tony supir pribadi Anggi.
Begitu tiba di ruang UGD, Anggi lansung mendapatkan perawatan. Kondisi Anggi sudah terlihat lemas
Anggi kehilangan banyak darah, Anggi harus cepat-cepat dilakukan operasi karena kondisi Anggi sudah sangat lemah, ini untuk mengantisipasi agar bayi yang ada di dalam kandungan Anggi bisa diselamatkan. salah satu dokter yang memeriksa Anggi menghampiri mbok Rani, karena hanya mbok Rani dari keluarga Anggi yang menemaninya di rumah sakit.
"Keluarga Bu Anggi", sapa dokter yang menangani Anggi.
"Iya, dok", balas mbok Rani.
"Bu, silahkan mencari donor untuk golongan darah B, karena pasien sangat banyak kehilangan darah akibat pendarahan yang dialaminya.
Padahal stok darah untuk golongan darah B sedang kosong", dokter memberitahu. Mbok Rani bingung dan panik tidak tahu harus berbuat apa, padahal mbok Rani sendiri adalah golongan darah A.
Mbok Rani langsung kepikiran Aditya dan segera menghubunginya. Beberapa kali Mbok Rani mencoba menghubungi tetap saja handphone nya tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
Mbok Rani segera melapor kepada tim dokter, agar pihak rumah sakit yang mencarikan donor untuk Anggi, karena pihak keluarga Anggi, tidak diketahui keberadaannya, dan memang setahu Mbok Rani, tidak ada keluarga Anggi yang pernah mengunjungi kediaman Anggi.
Dan untuk mencari donor darah adalah tidak mudah.
Mbok Rani sangat ketakutan, berusaha menghubungi pak Tony, supirnya Anggi. Ternyata pak Tony juga bergolongan dara A. Mbok Rani hanya bisa pasrah tidak tahu harus berbuat apa.
Bersyukur dokter Ira datang, segera menghampiri mbok Rani. Mbok Rani pun pun langsung mengatakan semua kejadiannya.
"Baiklah mbok, saya akan bertanya kepada teman dan berusaha untuk mencari darah ke PMI terdekat. Mudah-mudahan stok darah untuk golongan B ada tersedia. Dan mudah-mudahan juga kita tidak terlambat untuk mendapatkan golongan darah Anggi", ucap dokter Ira menyakinkan mbok Rani.
Mbok Rani hanya bisa mengangguk-angguk pasrah. Dan berharap semoga Anggi bisa diselamatkan.
Beberapa menit kemudian setelah kepergian dokter Ira. Keluar salah satu dokter yang menangani Anggi.
"Maaf sekali Bu, kami sudah berusaha menyelamatkan Anggi. Tetapi Bu Anggi tidak bisa diselamatkan lagi, Bu Anggi telah dinyatakan meninggal dunia. Dan memang pendarahan Anggi sangat parah, sampai membuat Bu Anggi tidak sadarkan diri.
Kami terpaksa harus cepat menangani kandungannya. Dan karena kandungan bu anggi masih memasuki usia 7 bulan. Anak yang dikandung Anggi terlahir prematur dan sedang berada di ruang inkubator. Masih harus mendapatkan perawatan yang intensif.
Kami berharap seluruh keluarga bisa menerima dengan ikhlas dan lapang dada", dokter yang menangani Anggi langsung berlalu meninggalkan mbok Rani. Yang masih tidak menyangka kalau Anggi akan pergi secepat itu.
Mbok Rani lemas, tidak berdaya. Baginya Anggi sudah seperti keluarga sendiri.
Mbok Rani segera membereskan berkas untuk kepulangan jenazah Anggi ke rumah nya. Mbok Rani segera menghubungi pak Tony, supir Anggi. Agar mempersiapkan segala keperluan di rumah, untuk menyambut kepulangan jenazah Anggi. Baik melapor kepada pak RT, tetangga setempat.
Untuk proses pemandian jenazah, dan yang akan mensholat kan jenazah Anggi serta sampai kepada proses pengurusan untuk peristirahatan terakhir Anggi. Pak Tony yang mengurusnya.
Padahal selama ini Anggi tidak pernah bersosialisasi terhadap tetangga setempat dan juga ikut pengajian di mesjid.
Bersyukur tetangga tidak melihat segala perbuatan Anggi yang tidak pernah bersosialisasi dengan tetangga. Tetangga datang menyampaikan turut berdukacita, dan menyampaikan doa-doa kepada Anggi, semoga arwah Anggi diterima disisi-Nya. Proses pemakaman Anggi pun berjalan dengan aman dan lancar.
__ADS_1