
"Bu, tidak ada luka serius yang ibu alami. Hanya lecet sedikit saja, dipakai kan Bethadine juga sudah cukup. Besok lukanya pasti mulai kering", ucap dokter Rani memberitahu kondisi Rianti.
"Dok, saya ingin minta tolong kepada dokter. Bolehkah dokter menolong saya?", tanya Rianti sedikit ragu-ragu dan takut.
"Ibu mau minta tolong apa sama saya?, silahkan saja selagi saya bisa lakukan, akan saya lakukan", dokter Rani sedikit bingung, Rianti mau minta tolong hal apa, pikirnya dalam hati.
"Begini Dok. Suami saya adalah orang yang sangat kejam, 5 tahun menikah saya belum mempunyai anak sampai sekarang. Suami saya akan mengancam ingin menceraikan saya bila saya tidak kunjung hamil.
Selama beberapa bulan ini saya telah mengatakan kepada suami saya, kalau saya sedang hamil dan usia kehamilan saya sudah hampir mendekati 4 bulan. Agar saya tidak ketahuan berbohong, dan terus mengatai saya kenapa belum membesar perut saya.
Dengan luka lecet ini saya akan mengatakan bahwa akibat kecelakaan ini, saya telah keguguran. Bisakah bu dokter memberikan kesaksian palsu atau surat keterangan palsu kalau saya benar-benar telah keguguran", perintah Rianti kepada dokter Rani.
"Tidak Bu, saya tidak mau. Ini namanya telah melanggar kode etik sebagai Dokter. Dokter itu untuk menyelamatkan nyawa manusia bukan malah memberikan kesaksian palsu", dokter Rani tidak bersedia mengikuti perintah Rianti.
"Tolong lah saya Bu, saya akan diceraikan oleh suami saya bila belum mempunyai anak. Setidaknya setelah saya keguguran, paling-paling suami saya akan bersabar menunggu hingga saya bisa hamil lagi", Rianti memohon-mohon.
"Tidak bisa Bu, itu tidak bisa saya lakukan. Bagaimana kalau suami ibu tahu kalau saya telah memalsukan surat keterangan tersebut. Pasti saya akan dituntut balik oleh suami ibu", dokter Rani berkeras tidak mau menuruti perintah Rianti.
"Saya jamin suami saya tidak akan tahu hal ini. Dan saya akan berikan sedikit uang sebagai rasa ucapan terimakasih saya", Rianti lalu mengeluarkan amplop berisi uang.
"Ini Bu, 100 juta, saya rasa cukup sebagai ucapan terimakasih saya. Karena Bu dokter telah membantu saya", Rianti memberikan uang tersebut langsung ke tangan dokter Rani.
Dokter Rani sejenak terdiam, dan sangat tergiur atas tawaran uang 100 juta Rianti. "Lumayan untuk sekedar memberikan surat keterangan palsu", pikirnya dalam hati dengan penuh kebahagian. Lagian sudah beberapa hari ini pasien di kliniknya sepi tidak terlalu banyak pengunjung. Hanya 2-3 orang sehari.
"Baiklah Bu, saya akan terima tawaran ibu. Satu hal yang ingin saya tekankan, ibu harus berjanji kalau saya tidak mau dilibatkan suatu saat nanti", dokter Rani tegas.
"Iya Bu, saya berjanji tidak akan melibatkan ibu", Rianti menyakinkan dokter Rani.
__ADS_1
"Baiklah saya akan menelepon suami saya, saya akan mengatakan kalau saya sedang kecelakaan dan sedang diklinik dan mengatakan kalau saya sudah keguguran dan butuh menginap di klinik ini beberapa hari.
Dan bila suami saya datang nanti atau besok. Pintar-pintar ibu dokter saja mengatakan, yang lebih menyakinkan tentunya. Agar suami saya percaya dan tidak mencurigai saya", Rianti mengajari dokter Rani mengenai skenario yang ingin dijalankan oleh Rianti.
"Sebentar saya ingin menelepon suami saya", Rianti mengeluarkan handphone nya dari dalam tasnya.
Tut.....Tut...Tut...
"Halo, iya ada apa sayang", ucap Juan lembut menjawab panggilan telepon Rianti.
"u....u....u..", Rianti menangis tersedu-sedu.
"Kamu kenapa sayang?, mengapa menangis?", Juan kebingungan.
"uuu....uu.. Sayang...bayi...kita bayi kita.... keguguran", Rianti bersandiwara.
"Sekarang aku sedang di rumah sakit sayang, sedang perawatan barusan tadi baru di kuret", Rianti berbicara dengan tanggung.
"Maksudnya kamu tadi keguguran?, kok bisa, apa yang sedang terjadi?", Juan merasa belum paham apa yang sedang terjadi kepada Rianti.
"Tadi aku hampir ke tabrak oleh pengendara sepeda motor. Karena aku kurang hati-hati, sedang asyik menyebrang jalan dan mungkin aku sedang melamun. Tiba-tiba pengendara sepeda motor yang melaju dengan kencang hampir menabrak ku.
Aku pun terjatuh dan tergeletak di jalan. Sehingga bayi yang dalam kandungan ku tidak bisa diselamatkan. Tindakan kuret harus cepat kulakukan. Makanya aku tidak sempat memberitahukan kepada mu sayang. Maaf aku telah mengambil keputusan tanpa persetujuan dari kamu", Rianti berpura-pura merasa menyesal dan merasa bersalah.
" Sebenarnya aku sangat sedih atas insiden yang terjadi atas kamu. Aku sangat mengharapkan kamu memiliki anak dari aku. Tetapi memang saat ini tidak memungkinkan lagi. Mau bilang apa lagi. Lagian kamu mengapa tidak minta supir yang mengantar", Juan sedikit kesal.
Takut kemarahan Juan akan semakin bertambah. Rianti pun mencoba merayu dan membujuk Juan, agar Juan tidak membicarakan lagi perihal keguguran nya. Rianti mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Sayang kamu datang jam berapa menjenguk aku", Rianti merengek-rengek manja.
"Aku bisa datang nanti jam 6 sore ya, karena memang ini jadwalnya sudah jauh-jauh hari di tetap kan. Jadi aku tidak bisa menunda, bahkan mengulur waktunya. Aku datang setelah aku selesai kerja ya. Tidak apa-apa kan sayang", Juan merasa bersalah tidak bisa menemani Rianti di rumah sakit.
"Ya sudah sayang. Tidak apa-apa kok. Tidak usah memaksa begitu. Aku ada suster dan dokter yang menemani kok. Mereka semua ramah", ucap Rianti seolah seorang yang sangat pengertian.
****
"Bagaimana kondisi kamu sayang, sudah baikan?", Juan memeriksa kondisi fisik Rianti.
"Aku sudah baikan kok.Tadi itu memang aku sangat shock sekali, begitu tahu ada darah keluar dari bagian vaginaku. Aku panik sekali, karena aku juga sangat takut dan tidak ingin bayi kita kenapa-napa", Rianti berputra sedih.
"Terus kata dokternya Bagaimana?. Apa semua sudah beres?. Maksudnya apa semua sudah bersih, tidak ada lagi kah yang tertinggal. Takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan di hari kemudian. Misalnya tumor ganas, atau kanker", Juan ingin tahu.
"Semua sudah beres dan aman sayang. Dokter sudah memastikan itu tadi sama saya", Rianti menyakinkan Juan.
"Oh iya, kamu masih bisa kan mengandung lagi", Juan sangat berharap mempunyai anak lagi.
"Masih dong sayang", Rianti bicara sambil tersenyum.
"Baguslah kalau begitu. Tadinya aku sangat khawatir kamu tidak bisa melahirkan lagi", Juan memberitahu.
"Kalau aku tidak bisa mengandung lagi bagaimana emangnya sayang", Rianti penasaran dan ingin tahu.
"Kalau kamu tidak bisa mengandung lagi. Yah kamu akan saya cerai dong", Juan mengerjai Rianti.
"Sayang kamu jahat ya. Kondisi aku saja belum baikan kamu sudah berani ngomong seperti itu", Rianti berpura-pura sedih.
__ADS_1
"Jangan merengek seperti itu dong. Aku hanya bercanda sayang. Mana mau aku meninggalkan kamu. Kamu kan cantik", Juan mencoba membujuk Rianti.