
Sekarang usia kehamilan Stella telah memasuki bulan nya untuk lahiran.
"Sayang tidak usah khawatir ya, kita kan sudah rutin kontrol setiap bulan. Dokter pun selama ini mengatakan kondisi anak kita baik-baik saja dan sehat. Jadi kamu yang fokus dan tetap berdoa. Semua pasti baik-baik saja", Aditya terus menyemangati Stella.
"Iya sayang, terimakasih ya atas dukungannya", Stella sedikit khawatir karena proses lahirannya tinggal menghitung hari lagi.
"Kamu mikirnya yang enak-enak saja deh. Misalnya gimana kalau anak kita nanti perempuan, kamu mau mirip aku atau mirip kamu. Sebaliknya yang cowok kamu mau mirip siapa sayang?", tanya Aditya kepada Stella. Yang memang tidak menanyakan jenis kelamin bayinya kepada dokter, agar nanti bisa
menjadi surprise.
"Aku mau yang perempuan mirip aku dong!, agar cantik seperti aku. Dan yang cowok mirip kamu, dan pastinya lebih ganteng dong dari kamu?", Stella antusias.
"Yap, kali ini memang kita satu hati. Akupun berharap seperti itu", Aditya tersenyum.
"Kamu sendiri pengennya anaknya yang lahir nanti jenis kelamin nya perempuan atau laki-laki?", kembali Aditya bertanya ingin tahu jawaban Stella, dan sekalian menghindari rasa khawatir Stella agar tidak fokus pada ketakutan nya saat operasi nanti.
"Aku pengennya yang lahir adalah anak laki-laki sayang, aku ingin Aditya junior menemani ku selalu kala Aditya senior tidak di rumah dan selalu pergi ke luar kota", Stella mengungkapkan keinginannya sambil senyum-senyum.
"Aduh gawat deh aku. Berarti papanya nanti ada saingan dong. Papa nya harus waspada nih, karena ada Aditya junior yang akan menjadi pembela mamanya", Aditya menggoda Stella sambil tertawa kecil.
"Iya dong, kamu tidak boleh macam-macam di luar sana", Stella mengancam.
"Tidak usah takut sayang, akupun tidak ada rencana untuk melakukan hal-hal yang aneh di luar sana", Aditya menyakinkan Stella.
"Iya, sekarang sih belum. Kali aja, ada perempuan yang lebih genit dan pandai merayu. Pasti klepek-klepek juga kamu nanti", Stella terus menggoda Aditya.
"Segenit apapun dan sehebat apapun perempuan itu merayu. Aku pastikan aku tidak akan tergoda. Di rumah lebih aduhai dan lebih menggoda kok" Aditya menyakinkan Stella. Stella pun memerah pipinya begitu Aditya memujinya.
"Baiklah kamu istrirahat duluan ya sayang, aku masih ada kerjaan. Sebentar aku pergi ke ruang kerja ku. Begitu aku selesai akupun akan segera datang untuk menemani tidur kamu", Aditya pamit dan langsung pergi ke ruang kerja nya.
Memang Aditya sebelum tidur pun masih harus disibukkan oleh urusan kantor. Stella pun sudah terbiasa dan maklum sementara tidur awalnya tidak ditemani. Terkadang entah jam berapa Aditya masuk kamar. Yang pasti Stella sudah dalam kondisi sudah terlelap tidur.
__ADS_1
****
Proses lahiran telah tiba.
Aditya dan Stella sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit dan membawa segala perlengkapan dan keperluan untuk bayi dan ibunya.
Aditya terus menyemangati dan memberi dukungan kepada Stella agar tidak merasa takut dan khawatir.
Begitu sampai di rumah sakit. Stella dengan cekatan langsung ditangani oleh perawat. Diperiksa semua suhu, tensi dan pemeriksaan baby-nya semua dalam kondisi baik.
Aditya pun telah mewanti-wanti sebelumnya, agar Stella di tangani oleh dokter yang terbaik dan obat-obatan nya pun diberikan yang terbaik. Karena Aditya tidak mau kehilangan bayinya untuk yang kedua kali.
Setelah mendapatkan obat bius, Stella pun akhirnya dibawa ke ruang operasi. Aditya selalu setia menemani. Beruntung suami diperbolehkan untuk masuk keruang operasi.
Begitu proses operasi berlangsung Aditya meneteskan air matanya. Tidak menyangka ruang operasi itu mengerikan sekali. Stella kini terbaring tidak berdaya. Bertarung antara hidup dan mati.
"Aku akan selalu menjagamu dan melindungi mu sayang. Seperti engkau telah berkorban untuk selalu menjaga dan melindungi anak yang ada dalam kandunganmu.
Begitu lahirpun kamu terus berjuang antara hidup dan mati. Perjuangan mu tidak lantas berhenti, melainkan kamu terus mengasuh dan menyusuinya", gumam Aditya sedih, berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Stella.
Bayi dan ibunya dalam kondisi selamat dan sehat. Baby boy junior telah lahir ke dunia. Aditya memanjatkan syukur yang tidak terkira. Sementara Stella belum bisa dibawa ke ruang rawat inap, masih harus tunggu 1 jam lagi untuk observasi.
Melihat kondisi Stella apakah ada pendarahan atau tidak. Untung lah Stella baik-baik saja. Stella pun sadar dari pengaruh Obat biusnya. Sedari tadi tidak sedikitpun Aditya tidak meninggalkan nya. Begitu Stella sadar. Aditya langsung menyampaikan jenis kelamin anaknya, karena Stella pun pasti merasa penasaran, pikir Aditya.
"Anak kita laki-laki sayang. Sehat dan semua berjalan dengan lancar dan selamat", Aditya menyampaikan kepada stella sambil memegang tangan Stella.
"Terimakasih sayang, kamu telah berjuang agar bayi kita dan kamu selamat dan lancar", Aditya menguatkan Stella.
"Aku akan menamakan anak kita
Gibran sayang. Gimana kamu setuju?", Aditya minta pendapat Stella.
__ADS_1
"Gibran, bagus. Aku suka sayang", Stella setuju ide Aditya.
"Baiklah, berarti sah ya anak kita bernama Gibran", Aditya memastikan. Stella pun mengangguk tanda setuju.
Tidak lupa Aditya juga menyampaikan kabar gembira ini kepada Juan dan Julia.
"Halo ayah, cucu ayah sudah lahir. Sehat dan ibunya juga sehat", Aditya memberitahu Juan lewat telepon.
"Syukurlah, baiklah sebentar lagi ayah akan sampai di rumah sakit. Ini ada sedikit urusan", Juan langsung mematikan handphone nya.
Tidak beberapa lama Juan dan Julia tiba di rumah sakit. Kebetulan Stella juga sudah masuk ruang rawat inap.
"Halo semua", Juan langsung masuk kamar ruang inap sebelumnya telah memastikan kamar inap Stella dari para perawat yang sedang duduk di meja resepsionis.
"Selamat ya Stella, selamat ya Adit. Kalian telah menjadi ibu dan ayah sekarang. Semoga kalian diberikan kebijakan dalam menuntun dan merawat anak kalian. Kelak menjadi anak yang berguna, yang patuh dan anak yang berbakti kepada orang tua", Juan memberikan wejangan.
"Terimakasih banyak ayah", Aditya dan Stella mengucapkan secara bersamaan.
Juan pun langsung menggendong baby Gibran saat perawat datang membawa baby Gibran dari ruang baby.
"Wah cucu kakek ganteng. Sehat-sehat ya. Jadi anak yang baik dan anak yang berbakti kepada orang tua ya nak", Juan memanjatkan doa-doa.
Semua pun sontak mengucapkan "amin",
Lengkap sudah kebahagiaan Aditya dan Stella. Begitu tahu perjuangan dan pengorbanan Stella di ruang operasi. Perhatian Aditya begitu besar merawat Stella pasca operasi.
Sebelum Stella gesit bergerak dan menyusui baby Gibran. Aditya dengan sigap mau memberikan susu formula sementara.
"Wah, jago kamu dit. Belajar nya cepat banget. Kamu seperti sudah mempunyai anak 2 orang", Juan memuji Aditya yang cekatan membuat susu, menggendong baby Gibran dan menyusuinya dengan memakai Dodot.
"Adit sudah les sebelumnya ayah. Bagaimana cara mengasuh baby yang benar", Aditya memberitahu.
__ADS_1
"Serius kamu sudah belajar dit?", Juan tidak percaya.
"Serius lah yah. Aditya kan suami yang siaga", Aditya memuji diri. Stella bangga dan terharu dengan keseriusan Aditya. Tidak menyangka Aditya sampai bertindak segitunya.