
Kilas balik ketika Juan telah diusir Rianti dari rumahnya. Juan meminta Julia menjemput di warung dekat komplek rumah nya.
"Julia, Hartaku sebagian besar telah disita Rianti. Yang tersisa hanya dua perusahaan kecil. Itupun tidak tahu bagaimana nasibnya, karena
aku sedang melakukan proses peminjaman uang kepada Bank. Dan sekarang pihak Bank akan menolak permintaan ku, begitu rumah yang kujaminkan bukan atas namaku lagi.
Padahal hutang-hutang menunggu harus dibayar dengan segera. Aku bangkrut Julia. Terserah kepadamu saja. Sekarang aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Kamu bebas untuk meninggalkan aku, aku ihklas kok", Juan menceritakan kondisinya dan pasrah pada keputusan Julia.
"Tidak Juan, aku akan terus menemani kamu. Kita jalani bersama-sama. Aku juga akan membantu keuangan perusahaan kamu.
Memang sedari SMA aku sudah menyimpan perasaan kepadamu. Setelah tahu kamu pacaran sama Liana. Aku tidak berani mengungkapkan perasaan ku. Sekarang tahu Liana telah meninggal dunia, dan dengan secara kebetulan kita pun ketemu.
Aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan ku kepada mu. Kita pun akhirnya resmi berpacaran. Dengan usia pacaran kita yang masih seumur jagung, kamupun ingin kita menikah.
Dan ternyata kamu mendapat musibah, kalau mantan istri kamu telah merampas sebagian besar harta kekayaanmu. Ditengah keterpurukan mu saat ini, aku memilih untuk tetap setia mendampingi mu", Julia mengungkapkan perasaan nya.
Bukan main senangnya Juan. Karena Julia bukan tipe perempuan matre. Julia tulus mencintai Juan, dan memutuskan untuk terus berpacaran dengan Juan.
"Terimakasih Julia, ternyata kamu menerima aku apa adanya. Bagaimana kalau kita menikah saja, maukah kamu menikah dengan ku?", Juan melamar Julia. Julia langsung menerima lamaran Juan tanpa basa-basi, "Aku mau menikah dengan mu Juan", ucapnya lantang.
"Baiklah, Sebaiknya kita menikah secara sederhana saja. Yang penting kita sudah sah di mata hukum dan agama. Tidak apa-apa kan sayang. Kalau kita menikahnya secara sederhana, karena saat ini kondisi perusahaan sedang tidak baik. Nanti suatu saat kalau Perusahaan ku sudah bertambah maju. Kita rayakan sekaligus berbulan madu ke luar negeri", Juan berjanji.
"Tidak apa-apa sayang, terserah kamu saja. Sebenarnya kalau aku yang bayarin biaya resepsi tidak masalah sih. Kebetulan perusahaan ku sedang berkembang. Tapi sebagai istri yang baik aku menghormati keputusan mu", Julia menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Juan.
"Aku malu, kalau kamu semua yang mengeluarkan biayanya. Dimana harga diriku sebagai laki-laki. Aku tetap pada keputusan ku. Biarlah nanti saja kita mengadakan resepsi nya, kalau perusahaan ku sudah berkembang", Juan tetap pada keputusannya.
__ADS_1
"Baiklah sayang, aku tidak apa-apa. Aku tetap menghargai dan menghormati keputusan mu", Julia mendukung Juan.
"Terimakasih sayang, kamu sudah mensupport dan mendukung aku, aku janji akan menjalankan perusahaan ini dengan sebaik-baiknya", Juan memegang tangan Julia erat. Julia pun tersenyum lebar.
****
"Rianti, mana bayaran aku atas apa yang sudah kau perintahkan kepada ku", dokter Ramli menemui Rianti, karena bayaran atas apa yang disuruh Rianti lakukan, yaitu untuk memberikan obat terlarang secara rutin kepada aditya ketika berada di rumah sakit jiwa.
"Bukankah, seminggu yang lalu sudah ku transfer kepada mu?", Rianti mengingat kan dokter Ramli.
"Itu tidak sebanding dengan apa yang kamu dapatkan Rianti. Aku tahu kamu sudah mendapatkan rumah ini, perusahaan dan aset-aset lainnya. Aku juga tahu kalau kamu sudah menendang keluar suami kamu. Sekarang kamu pemilik satu-satunya di rumah ini", dokter Ramli mengetahui segalanya.
"Mau kamu apa?, Toh bayaran yang kuberikan kepadamu itu sudah kesepakatan kita bersama. Ku laporin polisi baru tahu kamu", Rianti mengancam dokter Ramli.
"Tidak apa-apa, kamu laporin sana. Kamu tidak mempunyai bukti apa-apa. Lagian kamu siapa nya Aditya. Adanya laporan kamu malah tidak di gubris oleh pihak yang berwajib", Rianti balik menakut-nakuti dokter Ramli.
"Ha....ha...ha... Rianti... Rianti...Kamu tidak tahu kan", dokter Ramli menertawai Rianti.
"Tahu apa?. Apa maksud kamu?", Rianti bingung.
"Aditya sudah tidak ada di rumah sakit, Istrinya membawa Aditya, untuk merawatnya sendiri", dokter Ramli memberitahu.
"Apa!, istrinya membawa Aditya keluar dari rumah Sakit dan memutuskan untuk merawatnya sendiri!. Mengapa kamu mengizinkannya, siapa yang memberi perintah kepadamu untuk mengizinkan Aditya keluar dari rumah sakit jiwa?", Rianti emosi dan merasa geram.
Rianti merasa ketakutan bila Aditya sembuh pasti Aditya akan melaporkan nya ke yang berwajib.
__ADS_1
"Aku tidak akan membayar kamu apa-apa. Karena kamu telah mengeluarkan Aditya dari rumah sakit", Rianti tetap pada pendiriannya.
"Kalau kamu tidak membayar apa-apa. Aku yang akan memberi tahukan kepada Aditya kalau kamu telah membuatnya menjadi sakit jiwa, karena memberinya obat-obatan terlarang", dokter Ramli terus memaksa untuk diberikan bayaran.
Rianti pun merasa ketakutan. "Terus apa kamu sudah memberitahu kepada istrinya kalau aku telah memberikan obat terlarang?", Rianti ingin tahu.
"Tentu saja aku tidak memberitahu nya, karena aku ingin menjalin kerjasama dengan mu untuk mendapatkan uang yang lebih banyak tentunya", dokter Ramli meyakinkan Rianti. Rianti pun merasa aman kalau dokter Ramli tidak memberitahu semua kejahatannya kepada Aditya.
"Baiklah berapa uang yang kamu butuhkan sekarang?", Rianti merasa kesal terus menerus mentransfer sejumlah uang kepada dokter Ramli.
"Aku butuh 100 juta sekarang juga", dokter Ramli memberitahu keinginannya.
"Apa, 100 juta. Banyak banget. Tidak...tidak ..tidak. Aku tidak mau, jumlah itu terlalu besar. 20 juta saja, itu sudah cukup menurut ku", Rianti kesal.
"100 juta itu jumlah yang tidak seberapa Rianti, dibanding semua harta dan kekayaan yang kamu rampas. Atau kamu lebih suka kehilangan semua?", Dokter Ramli terus mengancam.
"Sudah...sudah.. Sekarang juga aku transfer 100 juta. Teb..Sudah aku sudah transfer. Sekarang kamu pergi dari hadapan aku. Aku tidak mau melihat mu lagi", Rianti kesal karena harus berbagi kepada dokter Ramli.
Dokter Ramli pun langsung pergi beranjak meninggalkan Rianti yang masih kesal, "Terimakasih Rianti", ucap dokter Ramli sambil berlalu
"Kurang ajar, dasar dokter tidak tahu diri. Masak iya dokter memeras, harusnya dokter itu untuk menyelamatkan nyawa orang", Rianti mengerutu dengan geram.
"Evans juga membuat aku pusing, Evans tahunya main perempuan dan Evans pun begitu royal memberikan ke teman wanitanya hadiah-hadiah mahal.
Adanya seluruh hartaku pasti habis bila terus-terusan seperti ini", Rianti melempar bantal kursi yang sedari tadi dipeluknya, karena geram dan marah atas tingkah Evans dan dokter Ramli yang memorotinya terus menerus.
__ADS_1