Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#23. Stella bermaksud merawat sendiri Aditya


__ADS_3

"Bagaimana kakak membawa Aditya?, Apakah pihak rumah sakit akan mengizinkan nya?, Kakak juga tidak yakin bisa merawat Aditya, Bagaimana kalau Aditya terus berontak, malah akan mencelakai kita nantinya", Stella bimbang, tidak yakin kalau merawat Aditya adalah solusinya.


"Kakak, kalau memang kakak dan Aditya tadinya menikah karena cinta, yakinlah cinta kalian akan mengalahkan segalanya. Masalah apapun yang kalian hadapi dengan doa dan harapan pasti akan berakhir dengan buah manis", Jenni memberi harapan dan semangat kepada Stella.


"Cie...cie...cie . Rupanya adik kakak sekarang sudah lebih pintar berpujangga. Kakak tidak menyangka kecil-kecil begini, ternyata lebih berpengalaman", Stella meledek Jenny.


"Kakak.... Jenny serius lho. Ya sudah kalau kakak tidak percaya", jenny ngambek dan memasang muka cemberut dan bermaksud meninggalkan Stella di ruang tamu.


Stella pun langsung menarik tangan jenny, "Iya deh. Kakak minta maaf. Jangan cemberut gitu dong. Kakak sebenarnya merasa stress dan frustasi memikirkan Aditya. Daripada terus suntuk, tidak apa-apa kan sesekali kita bicaranya releks. Itung-itung melonggarkan otot-otot syaraf", Stella mencari pembenaran, agar Jenni tidak salah paham.


"Kamu mungkin benar, tetapi kakak merasa pesimis tidak yakin rencana ini akan berhasil", Stella putus asa.


"Kak. Usaha yang sedang kita jalankan dengan niat serta doa dan kerja keras pasti akan berhasil", Jenni terus menyemangati Stella.


"Lagian kak, seandainya betul obat yang dikonsumsi Aditya adalah memang sengaja membuat Aditya semakin parah. Kalau kakak yang merawat Aditya, otomatis obat itu tidak akan diberikan lagi kepada Aditya. Kakak harus mencari dan konsultasi kepada dokter ahli syaraf, siapa tahu ada obat penawarnya. Jenny yakin kak, Aditya pasti akan sembuh. Dengan dukungan dan support kakak tentunya", jenny memberikan solusi.


"Benar juga apa katamu Jen, terimakasih Jen, kamu memang adik yang selalu mendukung kakak. Sekarang kakak mantap untuk merawat Aditya di rumah. Doakan ya Jen. Aditya bisa sembuh kembali", Stella minta dukungan Jenni.


"Iya kak, jenny berdoa dan berharap semoga cinta kakak dan Aditya, bisa mengalahkan segala masalah yang terjadi dalam rumah tangga kalian", Jenni terus menyemangati Stella. Tiba-tiba Stella merasa mual dan segera berlari ke kamar mandi untuk muntah.


"Uuuuaaakk..... uuuuaaaakkk", Stella muntah.


"Kakak kenapa?, kakak sakit?", tanya Jenni bingung.


"Tidak tahu Jen, kakak merasa pusing, mual dan lemas tidak bertenaga. Mungkin karena stress barang kali memikirkan Aditya. Atau karena masuk angin", Stella kembali merasa ingin muntah, uuuuaaaakkk... uuuuaaakk.


"Apa mungkin kakak hamil?", jenny menebak.


"Apa..tidak mungkin Jen. Aduh jangan dong, bukannya kakak tidak terima benih Aditya tumbuh di rahim kakak. Tetapi dengan kondisi Aditya saat ini, kakak merasa tidak sanggup menjalani semua ini", Stella sedih.

__ADS_1


"Anak itu berkah dan rezeki kak, mungkin bisa saja anak itu akan membuka jalan terhadap hubungan rumah tangga kakak, kedepannya bisa lebih baik dan bahagia", Jenni menasihati dan terus menyemangati Stella.


"Agar lebih yakin. Sebentar Jenni pergi kedepan membeli test pack, agar kakak bisa yakin kalau memang benar-benar hamil", Jenni menambahi dan segera pergi meninggalkan Stella untuk membeli test pack ke apotek terdekat.


Stella bermaksud rebahan, karena merasa lemas dan tidak berselera makan.


"Bagaimana kalau benar aku hamil?, Bagaimana kalau anak ini lahir, Aditya belum sembuh?, Apakah Aditya akan menerima anak ini?", Stella merasa pusing memikirkan segala ketakutan yang akan terjadi.


Saat ini Stella dan kedua adik-adiknya, mengandalkan uang dari Tabungan Stella. Aditya sempat memindah bukukan uangnya kepada Stella. Rianti tidak bisa memblokir nya kalau tanpa persetujuan Stella.


Lumayan banyak jumlahnya, selain karena Aditya suami Stella. Stella pun merasa berhutang Budi kepada Aditya atas pertolongan dan ketulusan Aditya menerima Stella apa adanya.


Jenny datang membawa test pack. "Ini kak, Jenni beli 2. Biar tidak penasaran kakak bisa langsung test sekarang, kemudian agar lebih memastikan dan lebih akurat. Kakak pakai test packnya pagi setelah bangun tidur", jenny memberitahu aturan pemakaian nya. Stella pun langsung menerima test pack yang diberikan Jenni dan segera bergegas ke kamar mandi.


Stella tidak sabar, dan langsung mengeksekusi test pack tersebut.


Dan ternyata hasilnya adalah garis 2. Stella positif hamil. Antara gembira dan sedih, perasaan Stella saat ini. Stella keluar dari kamar mandi dengan tidak terlalu bersemangat.


"Positif, kakak hamil Jen!", Stella tidak bersemangat.


"Syukurlah kak, artinya janin ini adalah benih cinta kakak dan Aditya", jenny merasa senang.


"Ayo dong kak, jangan lemas begitu. Semangat dong", jenny menyemangati Stella.


Stella pun berusaha tegar.


"Sudah ya Jen, kakak lemas ni, pengen mau rebahan. Kakak masuk dulu ke kamar ya", Stella pamit meninggalkan Jenni.


"Baiklah kak, ingat lho kak. Kakak tidak boleh stress. Jaga kesehatan kakak", Jenni berteriak ketika Stella ingin masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Stella langsung rebahan di tempat tidurnya. Matanya pun tidak bisa terpejam. Mencoba mencari-cari Ide dan memikirkan apa yang harus diperbuatnya selanjutnya.


Stella bingung, "Apa dokter akan mengizinkan nya membawa dan merawat Aditya?, bagaimana kalau benar dokter itu adalah suruhan Rianti, dan memberitahu keberadaan stella. Bagaimana kalau Rianti menuduh ku, menculik Aditya nantinya?", Ketakutan itu muncul di otak Stella, dan membuatnya semakin takut bertindak.


"Sudahlah, aku harus optimis dan berusaha. Bagaimana mungkin aku bisa mencapai apa yang kuinginkan kalau aku tidak berusaha dengan keras?", Stella menyemangati dirinya sendiri.


"Jenni benar, cinta kami yang akan mengalahkan segalanya, aku akan memperjuangkan cinta kami. untuk mencapai apa yang kami cita-cita selama ini", batin Stella dalam hati.


Stella merasa sangat bersedih dan ingin menangis atas apa yang sedang dialaminya.


Stella bermaksud berdoa, menumpahkan segala beban masalahnya yang terasa berat terhadap sang pencipta.


Stella sujud berdoa.


"Syukur hamba panjatkan kepada mu ya Tuhan.


Hamba yang hina ini, masih Kau layakkan hidup dan Kau memberikan apa yang tidak hamba minta.


Kau telah memberikan suami yang menerima dan mencintai hamba apa adanya.


Kau yang telah menyatukan kami dalam ikatan pernikahan. Apakah Tuhan akan memisahkan kami?, Itu sangat tidak mungkin. Karena apa yang Tuhan satukan tidak dapat dipisahkan oleh manusia.


Tuhan kehendak Mu lah yang jadi, Hamba hanya bisa menjalaninya. Sembuhkan lah suami hamba, satukan kami kembali. Tunjukkan kebesaran Mu ya Tuhan.


Apa yang harus kami lakukan dan perbuat, berilah petunjuk Mu.


Kami hanya berserah kepada Mu ya Tuhan. Dengar kanlah doa kami.


Stella berurai air mata, dan terus mencurahkan segala isi hatinya. Seperti air mata rasanya telah kering. Barulah Stella selesai, dan kembali merebahkan tubuhnya dan selanjutnya tertidur dan terlelap. Mungkin Stella terlalu lelah karena terlalu banyak menangis sehingga langsung tertidur.

__ADS_1


🥰 Terima kasih kakak-kakak semua yang sudah berkenan mampir di novel aku. Kalau lah boleh kiranya memberikan komen, agar bisa memberikan ide dan inspirasi bagi saya. Terimakasih banyak 🙏😍


__ADS_2