Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#52. Aditya mengalami kecelakaan


__ADS_3

2 Tahun kemudian.


Usia Gibran sudah memasuki usia ke 2 tahun lebih. Gibran sudah bisa berjalan dan berbicara dengan lancar. Stella dan Aditya begitu menyayangi Gibran. Gibran tumbuh menjadi anak yang pintar dan pemberani.


Aditya tidak ingin Gibran kurang mendapat perhatian, artinya selama Aditya masih hidup sebisa mungkin Aditya mencurahkan kasih sayang nya kepada Gibran. Karena apabila sudah tidak bernyawa lagi, maka Gibran pasti akan merasa sedih bila kehilangan ayahnya.


Dan itu sangat menyakitkan. Belajar dari pengalaman nya, maka selagi masih diberi kesempatan hidup. Aditya sebisa mungkin memberikan kasih sayang yang lebih kepada Gibran.


Bukan berarti memanjakan anak dengan segala fasilitas lengkap dan memenuhi segala kebutuhannya secara berlebihan. Aditya tetap disiplin menerapkan aturan kepada Gibran mana yang boleh dan mana yang tidak boleh di miliki atau di lakukan.


"Gibran sayang. Coba lihat ayah membawa apa buat kamu", Aditya datang membawa bingkisan berupa kotak dengan ukuran sedang, sebesar kotak sepatu bermaksud untuk memberikan surprise kepada Gibran.


"Hore, Gibran dapat hadiah. Apa itu yah, isinya?", Gibran merasa penasaran dan tidak sabar untuk mengetahui isi dalam kotak tersebut.


"Sebelum kita membuka kotak ini, kenapa coba ayah memberikan hadiah kepada Gibran?", Aditya bertanya kepada Gibran. Gibran bingung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak tahu alasan kenapa ayahnya memberikannya hadiah.


"Ayah beli hadiah ini, karena Gibran telah menjadi anak yang disiplin. Disiplin menyimpan mainan setelah selesai bermain. Dan Gibran juga tidak cengeng", Aditya mengapresiasi kelebihan Gibran. Lantas Gibran pun langsung bersorak penuh kegirangan.


"Hore, asyik", sorak Gibran. Gibran merasa senang telah dipuji dan bahagia Aditya mengapresiasi perbuatan nya.


"Sekarang kita buka ya hadiah Gibran", Aditya menyerahkan sepenuhnya kepada Gibran yang membuka hadiahnya.


Setelah semua telah terbuka, ternyata isinya adalah mobil-mobilan dengan remote control. Gibran pun merasa senang sekali. Sebelum nya Gibran sudah mempunyai mainan mobil-mobilan, tetapi yang kecil dan di jalankan secara manual. Sekarang Gibran mempunyai mobil-mobilan yang berukuran lumayan besar dan bisa di jalankan dengan remote control. Gibran sangat senang sekali.


"Terimakasih ayah, Gibran suka sekali", Gibran langsung mencium dan memeluk Aditya dan langsung memainkan mobil-mobilan nya.

__ADS_1


Stella melihat kekompakan Aditya dan Gibran. Stella senang melihat keduanya bisa bermain bersama-sama.


***


Keesokan harinya seperti biasa sebelum Aditya pergi ke kantor, Stella selalu menyempatkan diri membuatkan sarapan kepada Aditya.


"Sayang aku pergi dulu ya", Aditya pamit setelah menghabiskan sepiring nasi goreng yang telah disajikan Stella.


"Ok sayang, hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut dan tetap fokus berkendara", Stella menyalim tangan Aditya dan menasihati nya agar berhati-hati dalam berkendara. Entah mengapa firasat Stella seperti tidak enak.


"Tumben sekali kamu menasihati secara mendetail begitu, biasanya juga hati-hati di jalan ya sayang", Aditya sedikit bingung.


"Iya, aku mempunyai firasat yang tidak enak, mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ya sayang", Stella berdoa berharap semua baik-baik saja.


"Tidak usah khawatir berlebihan begitu!, Kamu juga jaga diri dan Gibran dengan baik ya", Aditya ikut memberikan nasihat. Dan langsung melajukan kendaraannya meninggalkan stella dan Gibran yang begitu asik dengan mainan barunya.


Ditengah jalan sebelum Aditya sampai di kantornya. Muncul Anggi tiba-tiba memberhentikan mobilnya. Rupanya Anggi selama ini sudah mencari tahu kantor dan kediaman rumah Aditya. Bahkan Anggi juga telah mengetahui jam keberangkatan Aditya dari rumah ke Kantor. Dan rute perjalanan Aditya, mulai dari rumah melewati jalan apa semua diketahui oleh Anggi.


Akibat dari kebiasaan itu karena Anggi tahu jalur perjalanan Aditya. Anggi pun bermaksud menghentikan kendaraan Aditya.


"Anggi", sapa Aditya menghentikan mobilnya.


Anggi pun langsung berpura-pura menangis minta tolong kepada Aditya.


"Adit, tolong aku. Tadi itu aku sedang di timpa musibah. Aku di rampok, mobilku telah dicuri dan aku ditinggalkan di jalanan sendiri", Anggi berpura-pura menangis agar mendapat simpati dari Aditya.

__ADS_1


Benar saja, Aditya percaya apa yang diucapkan Anggi. Walaupun Aditya tidak suka kepada Anggi karena masih berusaha merebut dirinya dari Stella. Tetapi karena Anggi adalah teman SMA Aditya, dan pernah menjadi pacar Aditya, walaupun sebenarnya Anggi hanya menganggap Aditya hanya sebagai pelampiasan Anggi saja yang baru saja diputusin pacarnya.


Aditya mempunyai hati nurani sebagai manusia dan sebagai teman. Aditya jahat namanya kalau tidak menolong Anggi yang sedang di timpa musibah.


"Masuk Nggi", ajak Aditya kepada Anggi.


Anggi merasa senang kalau Aditya masuk dalam perangkap nya. "Bagus dit, kamu masuk dalam perangkap ku. Sekarang aku akan berpura-pura sedih, agar mendapatkan belas kasihan dari kamu. Dan aku akan menjebak kamu dan memisahkan kamu dari Stella", gumam Anggi dalam hati penuh kemenangan.


"Coba kamu ceritakan, bagaimana kejadiannya?", tanya Aditya penasaran kronologi Anggi di rampok orang.


"Tadi itu ada orang di jalanan berpura-pura terluka dan korban tabrak lari. Lantas orang tersebut minta tolong kepadaku. Aku pun bermaksud turun dari mobil dan ingin menolongnya. Kenyataannya nya begitu aku turun dari mobil dan ingin menghampiri orang yang terluka tersebut.


Karena pintu mobil dalam posisi tidak terkunci ada orang asing masuk kedalam mobil ku dan segera merampokku. Ternyata orang yang terluka tersebut merupakan kawanan dari orang yang telah masuk lebih awal kedalam mobil ku.


Aku pun ditinggalkan di jalanan tidak mempunyai apa-apa. Karena dompet dan handphone ku ada di dalam mobil", Anggi menceritakan kronologi musibah yang menimpa nya sambil menangis terisak-isak.


"Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa mu. Tetapi bersyukur kamu tidak kenapa-kenapa. Mobil kamu kan banyak", Aditya memberitahu.


"Makasih dit, untung kamu lewat dan sekarang menolong aku. Kalau kamu tidak ada. Mungkin aku akan terus dijalanan. Karena aku tidak ada membawa uang sepeserpun dan handphone ku juga tidak ada. Tetapi akibat kejadian ini aku masih merasa shock dan ketakutan serta masih trauma", Anggi terus terisak.


"Sudahlah, jangan sedih lagi. Yang penting kamu sekarang sudah merasa aman", Aditya memegang tangan Anggi bermaksud memberikan semangat dan support. Tetapi Anggi mengambil kesempatan dan terus memegang erat tangan Aditya.


Aditya berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Anggi yang begitu erat menggenggam nya. Takut Anggi salah paham, merasa kalau Aditya menaruh hati kepadanya. Aditya tidak mau menduakan Stella.


Aditya pun berusaha keras melepaskan genggaman tangan Anggi. dan ternyata Aditya menjadi tidak fokus, karena berusaha menghindari pengendara mobil dari arah depan. Aditya banting stir melawan arah mobil yang dari depan, Aditya lantas menabrak sebuah tembok pembatas jalan.

__ADS_1


Aditya terpelanting keluar dari mobil dan jatuh ke jalan. Begitu juga Anggi mengalami luka. Belum diketahui apakah Anggi dan Aditya mengalami luka serius atau hanya memar biasa. Anggi dan Aditya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.


__ADS_2