
"Lepaskan, Istri ku brengsek!"
Bram dengan segera menghampiri Marvel yang saat ini sedang memegang kedua bahu Serena lalu Bram langsung memberikan sebuah pukulan beberapa kali ke arah wajah Marvel.
Desta yang baru saja datang dari dapur sangat terkejut saat melihat kekasih nya di pukul oleh Bram. Gadis itu benar-benar sangat marah sehingga Desta langsung saja menampar wajah Bram tanpa mengetahui kebenaran yang telah dilakukan Marvel kepada istri nya itu.
"Jika kau ingin hidup mu lebih baik! Segera akhiri hubungan mu dengan laki-laki brengsek ini!" peringat Bram kepada Desta.
Namun, gadis itu sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang Bram katakan, justru Desta semakin membenci Bram dan ia bahkan akan membalaskan perbuatan Bram terhadap kekasih nya barusan.
"Sayang, kau tidak apa-apa, kan?" tanya Desta yang begitu perduli terhadap Marvel.
"Wajah ku terasa sakit sekali."
"Baiklah, aku akan segera mengoleskan salep supaya rasa sakit nya segera hilang." Desta pun langsung membawa kekasih nya pergi dari hadapan Bram. Tapi, kejadian barusan ia sama sekali tidak akan melupakan nya dan ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa Bram akan segera mendapatkan pelajaran dari nya.
"Gadis itu sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan ku!"
"Biarkan saja! Suatu saat dia akan menyesalinya! Gadis yang seperti itu memang harus mendapatkan pelajaran terlebih dahulu, baru menangisi menyesalinya!" sahut Serena yang sudah tidak terlalu perduli dengan adik tiri nya itu.
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Bram yang baru saja sadar tentang istri nya.
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan ku."
"Jika laki-laki itu terus datang ke rumah ini, aku tidak yakin kau akan baik-baik saja karena nya."
"Lalu apa rencana mu sekarang?"
"Sebenarnya aku ingin segera menghabisi nya tapi aku akan membalaskan perbuatan mereka semua terhadap ku di masa lalu terlebih dahulu. Aku harap kau tidak akan keberatan."
"Selama kau baik-baik saja, aku tidak akan mempermasalahkan nya."
"Begini saja, disaat aku pergi keluar. Aku akan meminta beberapa pengawal ayah mu untuk menjaga mu sementara aku datang, bagaimana?"
"Ide yang bagus, aku setuju, Mas."
__ADS_1
Bram berpikir membahas masalah hal itu tidak perlu penting lagi karena ia sendiri akan menyelesaikan masalah tersebut tanpa melibatkan istri nya, ia pun mengajak Serena untuk masuk kedalam kamar dan ingin mengajak gadis itu mandi bersama dengan dirinya.
***
Selang beberapa minggu setelah kejadian dimana Marvel ingin membuat Serena menderita pada akhirnya laki-laki itu mendapatkan sebuah karma yang setimpal atas perbuatan nya, dimana saat ini Marvel sedang menjalankan operasi nya karena ia tidak sengaja mengalami kecelakaan tunggal akibat menyetir terlalu laju, sehingga mobilnya pun tidak bisa dikendalikan lagi dan pada akhirnya ia masuk kedalam sungai kecil yang berada di pinggir jalan.
"Mami, aku harus bagaimana? Apakah aku harus mempertahankan Marvel? Sekarang dia sudah tidak seperti dulu lagi! Aku tidak mungkin hidup bersama dengan seorang laki-laki cacat seperti nya," jelas Desta dengan jujur walaupun sebenarnya ia turut prihatin dengan keadaan laki-laki itu, tapi ia lebih mementingkan masa depan nya dan tidak ingin hidup menderita bersama orang cacat seperti Marvel yang tak bisa berbuat apa-apa selain berada di atas kasur nya.
"Tinggalkan dia!" ucap ibu Jesika yang jelas tidak ingin membiarkan putri satu-satunya itu harus menjalani kehidupan yang begitu pahit.
"Apakah semuanya akan baik-baik saja, Mi?"
"Tentu saja! Laki-laki itu jelas tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi!"
Mendengar ibu nya yang sangat mendukung semua keputusan nya, Desta benar-benar merasa sangat lega sekarang. Kini keputusan nya sudah bulat untuk mengakhiri hubungan nya dengan Marvel. Mulai sekarang dirinya akan melupakan laki-laki itu serta ia akan menghapus semua foto kenangan yang ada di ponsel nya.
"Sepertinya kita berdua tidak di takdirkan untuk bersama, Marvel!" gumam Desta yang terlihat sama sekali tidak bersedih.
Melihat Desta yang begitu asik duduk di sofa tamu. Tuan Bisma pun segera menghampiri anak nya dan sekaligus ingin mengatakan sesuatu kepada Desta.
"Kenapa kau tidak pergi ke rumah sakit?"
"Bukankah itu yang Papi inginkan?"
"Kenapa kau begitu mudah meninggalkan seorang laki-laki seperti itu? Cintailah satu laki-laki bukan mencintai semua laki-laki, Desta! Berhentilah bermain-main kepada laki-laki kau justru bisa saja mendapatkan karma atas perbuatan mu ini!"
"Seharusnya Papi mendoakan yang baik-baik saja untuk Desta! Bukan malah mengutuk seperti itu!" kesal Desta.
"Karena sikap mu ini benar-benar sudah keterlaluan! Pergilah menemui laki-laki itu setidaknya temani dia sampai dia benar-benar sudah sembuh dan setelah itu baru kamu mengambil sebuah keputusan untuk mengakhiri hubungan kalian berdua!"
"Tidak! Aku tidak akan pernah menemuinya!"
Tuan Bisma rasanya sangat ingin menampar wajah anak nya yang begitu keras kepala tidak mau mendengarkan ucapan sama sekali. Tapi, ia berusaha untuk menenangkan hati nya dan berharap anaknya mau mendengarkan apa yang ia katakan walaupun ia tahu itu semua sangat mustahil.
Desta merasa muak dengan ayah nya, sehingga ia memilih untuk pergi saja dengan hati yang begitu kesal karena ayah nya sama sekali tidak pernah mau mendukung apa yang ia mau selama ini.
__ADS_1
"Ayah, Desta sangat keras kepala dan sangat sulit untuk dinasehati. Sebaiknya Ayah tidak perlu terbawa emosi seperti ini, itu tidak baik untuk kesehatan, Ayah!" ucap Serena yang tiba-tiba berada di belakang tuan Bisma.
"Sekarang Ayah juga sudah lepas tangan, biarkan dia sendiri yang mengatur hidup nya. Dan Ayah berharap dia tidak akan menyesalinya."
"Baiklah, tapi ngomong-ngomong Marvel kenapa bisa kecelakaan seperti itu?" tanya Serena yang begitu penasaran.
"Dari infromasi yang Ayah dapatkan, laki-laki itu mabuk dan menyetir terlalu laju sehingga tidak bisa mengendalikan mobilnya dengan baik lagi."
"Mungkin itu sudah karma karena perbuatannya yang keji itu!" ucap Serena, ia tentu saja masih teringat dengan jelas apa yang telah Marvel lakukan kepadanya seminggu yang lalu.
"Hem, kau benar, Nak. Kalian berdua mau kemana?"
"Mau pergi jalan-jalan terlebih dahulu. Rasanya sangat membosankan jika terus berada di rumah."
"Baiklah, kalian berdua hati-hatilah."
Sekarang Bram mendorong kursi roda Serena menuju ke arah mobil yang sudah terpakir di depan rumah. Sebelumnya ia telah berjanji akan membawa istri nya pergi jalan-jalan menghirup udara yang segar diluar sana dan tidak lupa ia akan membawa Serena untuk makan siang di salah satu restoran mewah di kota tersebut.
"Katakan jika kamu ingin pergi ke suatu tempat, aku akan bersedia mengantar mu."
"Pergi ke mall saja, Mas. Aku sudah lama tidak berbelanja pakain dan aku ingin sekaligus berbelanja pakain Mas juga."
"Ini pertama kali nya kan kita pergi berbelanja ke, Mall?" lanjut Serena lagi.
"Hem, kau benar. Aku jadi tidak sabar tiba disana sekarang."
"Apa yang ingin Mas beli disana?"
"Aku ingin membelikan pakain untuk mu serta ingin membeli beberapa barang yang aku rasa kau sangat membutuhkan nya," jelas Bram.
"Benarkah Mas Bram ingin membelikan nya untuk ku? Memang nya Mas Brama tahu apa yang aku suka dan yang tidak?"
"Istri ku sangat menyukai pakain yang sangat simple yang penting kain nya sangat nyaman di pakai saja."
"Benar, Mas. Kenapa Mas tahu?"
__ADS_1
"Walaupun kita berdua baru saja tinggal bersama, tapi aku sangat mudah mengetahui sifat dan karakter istri ku. Apa lagi makanan kesukaan istri ku sendiri, aku tentu saja tahu apa yang Istri ku suka!" jelas Bram hingga membuat Serena merasa sangat terharu mendengar ucapan suami nya barusan.