
"Ini sebuah ledakan, kau serius ingin aku melemparkan benda ini ke dalam gubuk ini?" tanya Bram.
"Hem, aku serius. Jika dengan cara ini akan sangat mudah mengalahkan ketiga orang ini, jadi sebaiknya Mas Bram segera lakukan saja sebelum orang-orang itu keluar dari gubuk ini!" ucap Serena yang tak ingin suami nya terlalu menunda waktu yang begitu lama, takutnya ketiga orang itu pergi keluar dan ledakan yang ia bawa satu-satu nya itu malah menjadi sia-sia saja.
Bram menatap benda di tangannya, sambil menatap ke arah gubuk tua itu. Ia tahu jika benda itu dilemparkan ke dalam gubuk itu, maka ketiga orang itu segera musnah dan ia tidak perlu lagi membuang tenaga nya untuk membalaskan dendam nya. Tanpa berpikir panjang lagi, Bram pun pada akhirnya melemparkan ledakan itu kedalam gubuk tua melewati sebuah jendela yang tak terkunci itu, lalu Bram dengan cepat menarik tangan istri nya segera pergi menjauh sebelum ledakan tersebut mengenai mereka berdua. Setelah cukup jauh, beberapa detik kemudian terdengar suara ledakan yang begitu nyaring hingga menghancurkan gubuk tua tersebut.
Bram dan Serena melihat sendiri gubuk tua itu sudah benar-benar hancur di dilahap oleh api. Sekarang kedua orang itu saling berpelukan dan berpikir bahwa semuanya sudah selesai, mereka berdua pun memutuskan untuk kembali menemui tuan Bisma yang saat ini sedang berjuang melawan para musuh bersama dengan pengawal yang lainnya. Tiba disana, Bram dan Serena melihat bahwa tuan Bisma juga telah berhasil mengalahkan para musuh yang sebelumnya begitu banyak itu dan sekarang para musuh itu telah di bantai habis oleh ledakan yang di sediakan tuan Bisma.
__ADS_1
"Papi, apa kalian semuanya baik-baik saja?"
"Hem, kami semuanya baik-baik saja. Bagaimana dengan ketiga orang itu? Apa kalian berdua telah berhasil melenyapkan nya?"
"Hem, kami berdua telah mengunakan benda itu, Pi."
Sedangkan para mayat tergeletak di tanah, akan di urus oleh para pengawal tuan Bisma. Saat masuk kedalam mobil, Bram terlihat termenung ia bukan berarti masih merasa bersedih hanya saja ia kini sudah merasa sangat bahagia karena pada akhirnya ia bisa membalaskan dendam nya atas kematian kedua orangtua kandung nya. Di masa lalu Bram jelas masih teringat bagaimana orang-orang itu menghilangkan nyawa kedua orangtua nya dengan begitu keji, belum lagi orang-orang itu juga telah membuat ia harus masuk penjara. Namun, sekarang semua dendam nya telah berhasil ia balaskan dan ia juga tidak lupa mengucapkan rasa terimakasih nya kepada mertua serta istri nya yang selama ini mau menerima diri nya di rumah itu dengan sangat baik.
__ADS_1
Seandainya bukan karena tuan Bisma yang mengeluarkan dirinya. Mungkin saat ini ia masih terkurung dalam penjara dengan begitu menyedihkan, maka dari situlah Bram tidak ingin berkhianat ataupun melakukan sesuatu hal yang jahat kepada orang yang telah membantunya bebas dari penderitaan nya.
Setelah tiba di parkiran rumah sakit, Serena melihat ada noda darah di punggung suami nya. Dan ia pun dengan cepat mengambil tisu basah untuk menghilangkan luka tersebut. Ia takut malah membuat orang-orang merasa tidak nyaman ketika melihat noda darah tersebut.
"Sudah selesai?"
"Hem, sudah. Mas Bram bisa jalan sekarang."
__ADS_1