Mendadak Menikahi Gadis Cacat

Mendadak Menikahi Gadis Cacat
Bram Menatap Istri Nya


__ADS_3

Kekhawatiran Bram membuat nya hampir begitu gila. Ia tidak menyangka dirinya sampai terlalu berlebihan mengkhawatirkan istri nya yang saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Ia pikir Serena telah di bawa beberapa orang yang memakai pakaian serba hitam itu dan ia hampir saja berangkat menemui orang yang masuk kedalam terowongan sebelum nya, tapi untungnya ia masuk ke dalam kamar terlebih dahulu dan memeriksa ke dalam kamar mandi yang ternyata istri nya sedang mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terlihat kotor akibat minuman jus yang tak sengaja Bram tumpahkan sebelum nya.


"Kenapa kau membuka pintu nya? Bukankah, aku sudah jelas melarang mu membuka nya?"


"Takutnya ketika Mas Bram kembali, aku tidak mendengar nya. Jadi, aku biarkan saja pintu nya terbuka," jelas Serena.


"Serena, kau benar-benar wanita pertama yang membuat ku khawatir seperti ini," gumam Bram dalam hati nya.


Hari sudah mulai sore, Bram dan Serena pun akhirnya memutuskan untuk pergi menikmati pantai di sore hari. Kedua orang itu benar-benar sangat menikmati pemandangan yang begitu indah di pantai itu, air yang terlihat biru dan jernih membuat Serena sangat ingin pergi mandi tapi ia sadar diri nya sama sekali tidak dapat melakukan hal itu semua.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba melamun seperti itu?" tanya Bram, padahal sebelum nya Serena terlihat sangat bahagia tapi sekarang raut wajah istri nya tiba-tiba saja berubah hingga membuat nya menjadi bingung sendiri.


"Tidak apa-apa, Mas," ucap Serena, ia tidak ingin mengatakan kepada suami nya tentang keinginan nya karena ia tahu sendiri ia akan malah merepotkan Bram.


"Apa kau bosan?"


"Tidak, kok."


Bram jelas melihat bahwa istri nya sedang bosan, ia pun memiliki suatu ide untuk menyenangkan Serena.


"Mas Bram! Apa yang kau lakukan?!"


Serena begitu terkejut saat suami nya tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya dari kursi roda. Tapi, beberapa detik kemudian, ia malah melihat Bram membawa diri nya mencebur ke air. Serena tak menyangka suami nya benar-benar begitu peka terhadap nya, padahal ia sama sekali tidak mengatakan apapun kepada laki-laki itu.


"Bagaimana? Apa kau senang sekarang?!"


"Sudah lama aku tidak mandi menikmati air pantai dan ini pertama kali nya sejak aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Terimakasih, Mas Bram," jelas Serena tanpa sadar meneteskan air mata nya. Ia sangat terharu dengan apa yang telah Bram lakukan kepada nya.


"Serena, jika menginginkan sesuatu bicaralah. Itu sudah kewajiban ku untuk memenuhi keinginan mu, tapi aku harap kamu jangan kecewa jika suatu saat aku benar-benar tidak bisa melakukan nya," jelas Bram. Ia pun memeluk istri nya dengan erat, sedangkan Serena terus berada di pangkuan Bram. Hingga kedua orang itu pada akhirnya terhanyut dalam sebuah permainan yang mengairahkan.


Sekarang Serena benar-benar sepenuhnya memberikan seluruh hidup nya untuk Bram. Kini, ia telah yakin bahwa laki-laki yang sedang bersama nya saat ini adalah laki-laki yang terakhir ada di hati nya. Kedua orang itu saling berpelukan dengan begitu erat, matahari pun perlahan-lahan tengelam air laut pun sudah terasa mulai berubah menjadi dingin. Bram dan Serena pun akhirnya naik ke pinggir pantai lalu berbaring di atas pasir yang terasa begitu hangat.


Cinta yang tulus didapatkan Serena membuat hidup wanita itu sekarang menjadi berarti. Tidak seperti sebelumnya, ia selalu merasa putus asa dan bosan dengan keadaan yang ia alami.


***


Hari sudah pagi, terlihat Bram begitu sibuk mengurus pekerjaan di dapur. Laki-laki itu pagi-pagi sekali membuat serapan untuk dirinya dan istri nya. Sebuah senyuman manis terukir diwajah Bram, ia terlihat begitu semangat melakukan semua pekerjaan nya. Apa lagi ketika mengingat kejadian semalam membuat Bram tak henti-henti nya mengingat nya, kenangan itu sangat berharga dihidup nya dan kini Bram benar-benar menemukan kebahagiaan di pernikahan nya.


"Mas Bram, apa yang sedang kau lakukan itu?"


"Aku membuat puding untuk mu. Apa kau menyukai nya?"


"Hem, semua makanan yang Mas Bram buat pasti aku akan sangat menyukai nya."


"Sekarang Istri ku sudah mulai mengombal," goda Bram sambil mengcubit pipi Serena dengan lembut.


"Selagi itu tidak akan meracuni ku, tentu nya aku akan memakan nya, Mas"


"Baiklah, Istri ku."


Serena melihat Bram yang sedang memasak, ia terus memperhatikan wajah laki-laki itu sehingga Bram yang menyadari tatapan Serena membuat nya menjadi salah tingkah. Bahkan saat Bram bekerja, laki-laki itu malah tidak sengaja menjatuhkan spatula. Tidak hanya itu, Bram juga sampai lupa menghidupkan kompor nya saking merasa malu dengan tatapan Serena yang begitu menggoda.


"Serena, berhentilah menatap ku seperti itu!"


Akhirnya Bram sudah tidak tahan lagi membiarkan istri nya untuk memperhatikan dirinya. Karena ia sendiri sama sekali tidak bisa fokus untuk memasak dan takutnya malah membuat masakan yang tak enak hingga Serena tidak menyukai masakannya lagi.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu kan Suami ku, jadi tidak masalah jika aku melakukan hal itu."


"Masalah nya, tatapan mu itu tidak bisa membuat ku fo—fokus!" ucap Bram dengan jujur. Bahkan ia sampai berbicara terbata-bata sekarang.


Serena mendengar penjelasan Bram, membuat nya terkikik geli. Tapi, ia tidak ingin membuat Bram merasa terganggu karena dirinya sehingga Serena pun memilih untuk pergi ke ruang tamu menonton televisi saja.


Saat menonton, Serena tiba-tiba kembali dikejutkan dengan suara tembakan nyaring seperti sebelumnya. Bram yang juga mendengar nya dengan cepat menghampiri istri nya karena ia takut jika terjadi sesuatu hal yang berbahaya.


"Mas Bram, apa yang sedang terjadi? Kenapa suara tembakan itu terdengar lagi?"


"Entahlah, sebelumnya aku melihat ada tiga orang laki-laki asing masuk kedalam sebuah terowongan dan entah apa yang mereka lakukan. Mungkin suara tembakan itu berasal dari sana."


"Sepertinya ada sesuatu hal yang tak beres, Mas."


"Kalau begitu kita berdua sebaiknya pulang saja," ucap Bram yang sangat mengkhawatirkan istri nya. Demi keselamatan istri nya, ia lebih baik mempersingkat bulan madu mereka walaupun sebenarnya ia menginginkan bulan madu berduaan dengan waktu yang begitu lama namun keadaan tidak akan memungkinkan.


Setelah serapan pagi bersama, Bram memutuskan untuk membawa Serena untuk segera pulang ke rumah. Sedangkan suara tembakan itu kembali terdengar lagi, hingga membuat Serena semakin ketakutan dan tidak sabar untuk pulang ke rumah. Bahkan ia meminta Bram untuk memasukkan semua makanan itu kedalam kotak makan saja.


"Sialan! Mereka benar-benar sangat menganggu ketenangan ku bersama Istri!" gumam Bram dalam hati nya dengan kesal.


Sekarang Bram dan Serena sudah berada di dalam mobil untuk bersiap-siap pulang ke rumah. Namun, tiba-tiba saja ban mobil bocor hingga membuat Bram dan Serena tidak dapat pulang ke rumah dengan waktu yang cepat.


"Aku akan menganti ban nya terlebih dahulu."


"Apakah lama?"


"Lumayan, kamu tenanglah. Aku akan menjaga mu dan tidak akan membiarkan mu terluka," ucap Bram berusaha untuk menenangkan istri nya yang saat ini sedang ketakutan.


"Marvel, aku rasa kamu tidak perlu pulang ke rumah. Sebaiknya kamu menginap lah di rumah ku saja. Kamu mau, kan?" Desta berusaha untuk menahan kekasih nya untuk tidak pulang ke rumah sedangkan Marvel terus memainkan peran nya sebagai seorang laki-laki yang baik di mata kedua mertua nya, termasuk mertua laki-laki yang jelas terlihat tidak menyukai dirinya.


"Desta! Segeralah masuk kedalam kamar mu!" ucap tuan Bisma dengan dingin. Tapi, Desta sama sekali tidak menghiraukan perkataan ayah nya. Gadis itu terlihat seolah-olah tidak takut lagi kepada ayah nya tidak seperti sebelumnya, Desta tidak akan bisa berkutik jika dirinya hanya berbicara beberapa kata saja namun sekarang Desta benar-benar terlihat berbeda.


Tuan Bisma mengepalkan kedua tangannya, ia tak menyangka anaknya sudah mulai menjadi anak pembangkang. Bahkan ia sudah tidak bisa menahan diri lagi hingga ia sampai memukul meja tamu dengan sekuat mungkin.


Semua orang yang berada di ruang tamu sangat terkejut dan sekaligus merasa ketakutan. Mereka semua terlihat sama sekali tidak berkutik sedikitpun.


"Kamu! Pergilah!" usir tuan Bisma kepada Marvel yang saat ini begitu menyukai pertunjukan yang begitu menarik di mata nya.


"Sayang, seperti nya aku harus pulang padahal di luar sana sedang hujan deras sedangkan aku hanya memakai motor saja!" ucap Marvel, ia pun memperlihatkan wajah sedih nya kepada Desta dengan begitu gadis itu akan berusaha menahan dirinya.


"Kau tenang saja! Suami ku memiiki jas hujan, kau bisa memakainya sekalian saja untuk mu!" sahut Serena, ia benar-benar muak dengan kekasih saudara nya itu yang berusaha untuk mencari perhatian.


"Sebentar! Aku akan mengambil nya!" ucap Bram, laki-laki itu dengan cepat pergi ke kamar nya lalu memberikan jas hujan itu untuk Marvel dan ia tidak menyangka istri nya begitu pandai membuat Marvel tidak dapat mencari alasan lagi untuk tidak pulang ke rumah.


"Kedua orang ini benar-benar membuat ku kesal! Tunggu saja, permainan masih belum di mulai!" gumam Marvel dalam hati nya. Ia pun dengan sangat terpaksa mengambil jas hujan berada di tangan Bram.


"Biarkan aku mengantarkan mu!" ucap Bram karena ia sangat ingin mengatakan sesuatu pada laki-laki itu saat ini.


Setelah berpamitan pulang, Marvel dan Bram pergi keluar dari rumah. Namun, Bram dengan cepat mencekik Marvel hingga laki-laki itu tak berdaya merasakan rasa sakit di lehernya. Tapi, sayangnya Bram tetap berusaha untuk menahan diri sehingga ia segera melepaskan tangannya dari leher Marvel, sehingga laki-laki itu bisa bernafas dengan lega sedangkan Marvel sama sekali tidak menyangka Bram melakukan serangan kepada nya secara mendadak.


"Ku peringatkan kau untuk tidak datang kemari lagi!" ucap Bram dengan dingin tapi Marvel malah tersenyum mengejek.


"Kau pikir aku mau menuruti perkataan bodoh mu itu?!" Marvel terlihat menyepelekan apa yang dikatakan oleh Bram.


"Aku akan mem—"

__ADS_1


"Mas Bram! Segeralah masuk!" ucap Serena yang tiba-tiba saja muncul di belakang nya.


Melihat Serena berada di depan pintu membuat Bram membatalkan niatnya untuk tidak mengatakan sesuatu hal yang mengerikan kepada Marvel.


"Ayo, segeralah masuk!" ajak Serena, ia tahu sendiri apa yang telah dilakukan oleh kedua laki-laki itu barusan tapi ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu.


Di ruang tamu, terlihat Desta masih terlihat begitu kesal terhadap ayah nya yang malah menyuruh kekasih nya untuk pulang. Padahal ia sangat berharap kekasih nya itu menginap malam ini dengan begitu ayah nya bisa perlahan-lahan saling mengenal satu sama lain.


"Papi, kenapa malah menyuruh nya pergi? Apakah Papi tidak menyukai nya?!"


"Kau benar, Desta! Papi, sama sekali tidak menyukai laki-laki itu sebaiknya segera putus hubungan dengan nya!"


Desta mendengar nya semakin membenci ayah nya. Tapi, tatapan nya malah tertuju ke arah Serena karena ia rasa kakak tiri nya itulah penyebab ayah nya sampai seperti itu kepada nya. Padahal sebelum nya ayah nya sama sekali tidak melarang dirinya untuk berpacaran dengan siapapun namun sekarang ayah nya malah terang-terangan bersikap tidak suka kepada kekasih nya itu.


"Pi, kenapa berkata seperti itu kepada, Desta? Kenapa Papi sama sekali tidak menghargai pilihan nya? Bukankah Serena menikah dengan laki-laki miskin ini, Papi sama sekali tidak mempermasalahkan nya?!"


"Diam!" ucap tuan Bisma dengan dingin.


"Pi, aku rasa perkataan Mami memang benar!" sahut Desta yang kini semakin menjadi pembangkang.


"Jika aku yang memilih nya, berarti dia adalah sosok suami yang sangat pantas untuk anak ku. Baik dia miskin ataupun kaya, Papi sama sekali tidak mempermasalahkan nya. Hal yang utama adalah dia sosok laki-laki yang menyayangi anak ku dan tak akan berkhianat!" jelas tuan Bisma dengan tegas.


Desta dan ibu Jesika benar-benar murka melihat Serena dan suami nya. Mereka berdua berpikir sepasang suami istri itu jelas merasa sangat bahagia saat ini.


"Tunggu saja! Rumah tangga kalian berdua akan segera aku hancurkan!" gumam Desta dalam hati nya dan ia akan membuktikan bahwa Bram sama sekali tidak seperti yang di katakan oleh ayah nya barusan.


"Nak Bram, besok kau ikutlah aku ke kantor."


"Baik, Ayah."


Serena melihat ayah nya begitu mempercayai suami nya merasa sangat bahagia. Ia berharap Bram juga tidak akan mengecewakan ia dan ayah nya yang selama ini selalu percaya kepada nya.


***


Pagi hari, Bram terlihat sudah begitu rapi memakai semua pakaian nya untuk bersiap-siap pergi ke kantor bersama dengan tuan Bisma. Sedangkan Serena masih saja tidur nyenyak di atas kasur namun Bram sama sekali tidak mempermasalahkan nya, justru laki-laki itu malah mencium kening istri nya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Tidurlah yang nyenyak Istri ku!" gumam Bram dalam hati nya. Lalu ia pun menemui ayah mertua nya yang saat ini sedang berada di meja makan untuk menikmati serapan pagi.


"Nak Bram, segeralah serapan bersama ku!" ajak tuan Bisma.


Bram langsung saja duduk di kursi untuk menikmati serapan pagi yang sudah di hidangkan di atas meja. Tapi, laki-laki itu tidak lupa untuk menyiapkan serapan pagi untuk istri nya karena ia tahu sikap para pembantu di rumah itu sama sekali tidak pernah menghargai istri nya.


"Nak Bram, itu untuk siapa?"


"Untuk Serena, Ayah."


"Gadis itu memang dari kecil sangat manja dan Ayah bersyukur jika kamu memperlakukan nya dengan sangat baik."


Bram hanya tersenyum saja mendengar ucapan ayah mertua nya, lalu ia pun lansung saja mengantarkan makan dan minum untuk istri nya di kamar. Tapi, ia malah melihat istri nya duduk sambil memainkan ponsel nya.


"Sudah bangun?"


"Hem, baru saja."


"Kalau begitu segeralah mandi. Aku akan membopong mu kedalam kamar mandi."

__ADS_1


"Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri, kok. Lagian Mas sebentar lagi ikut ayah pergi ke kantor."


__ADS_2