
"Mas Bram, aku hamil!" ucap Serena sambil kedua mata nya sudah berkaca-kaca ingin menangis karena terharu. Akhir nya yang di tunggu kini telah hadir di rahim nya dan ia berharap kesempatan yang telah diberikan itu bisa ia jaga dengan sebaik mungkin.
Bram yang masih saja asik berada di dalam mimpi nya sama sekali tidak bangun dari tadi. Padahal Serena sudah mengoncang tubuh nya berulangkali, tapi laki-laki itu seolah-olah seperti orang yang sudah tidak sadarkan diri. Serena yang melihat suami nya masih saja tidur, menjadi sangat kesal padahal ia sangat berharap Bram langsung memeluk dirinya ketika ia mengatakan kabar baik itu tapi apa yang ia harapkan malah tidak sesuai dengan yang diinginkan nya.
"Mas Bram, jika kau tidak ingin bangun juga. Baiklah, sebaiknya kau tidak perlu tahu saja!" Serena sudah sangat marah kepada suami nya dan ia menganggap suami sudah tidak perduli lagi dengan diri nya.
"Kenapa dia benar-benar berubah? Apa dia tidak mencintai ku?" gumam Serena, ia malah makin berpikir sesuatu hal yang tidak-tidak terhadap suami nya. Dan apa yang di rasakan oleh wanita itu tentunya karena hormon nya yang mulai mudah berubah-ubah dan sudah menjadi bawaan seorang ibu hamil muda.
Serena memutuskan untuk pergi keluar dari kamar dan mencoba untuk menenangkan diri nya. Dari pada kesal memikirkan suami nya yang seperti itu kepada nya, ia lebih mencari makanan yang ia inginkan. Tiba di ruang tamu, ia tidak sengaja melihat ke arah televisi dan menanyangkan sebuah film tentang beberapa orang sedang merujak buah mangga muda. Serena pun berulangkali meneguk air liur nya dan ia pun tiba-tiba saja merasa sangat menginginkan buah mangga itu juga.
"Aku rasa ada pohon mangga di depan halaman rumah," gumam Serena yang langsung saja melangkahkan kedua kakinya pergi keluar lalu menuju ke arah pohon mangga muda yang terlihat jelas dari depan pintu rumah nya.
"Dimana orang-orang? Kenapa terasa begitu sepi pagi ini?" gumam Serena, ia sama sekali tidak melihat satu orang pun berada di sekitar halaman rumah nya termasuk para pengawal yang berjaga di depan gerbang rumah nya. Padahal sebenarnya ia ingin meminta salah satu pengawal ayah nya untuk memanjat pohon mangga yang sedikit tinggi itu.
"Sepertinya aku harus memanjat sendiri saja, lagian sudah lama aku tidak memanjat mangga."
Kebetulan Serena melihat ada sebuah tangga di bawah pohon mangga, ia pun langsung saja menaiki anak tangga tersebut dengan sangat hati-hati. Serena yang sudah hampir sampai di atas pohon mangga, ia tiba-tiba saja terkejut saat mendengar suami nya memanggil diri nya dari kejauhan.
"Ada apa, Mas?" tanya Serena dengan wajah yang kesal tapi Bram sama sekali belum menyadari nya.
"Kau ingin mengambil buah mangga?"
__ADS_1
"Hem, kenapa?"
"Ambilah yang banyak, aku akan mengambil tempat nya!" teriak Bram dengan sedikit nyaring, lalu ia pun langsung saja berlari ke rumah untuk mengambil baskom kecil. Selang beberapa menit, Bram berjalan dengan penuh semangat karena ia sendiri beberapa hari ini menginginkan mangga muda juga sehingga ia menjadi tidak sabar untuk merujak buah mangga yang ia inginkan beberapa hari ini.
"Dasar! Istri yang lagi hamil malah menaiki pohon mangga, sedangkan dia menunggu dibawah pohon mangga. Kau benar-benar, Mas!" Serena pun menjadi sangat geram melihat suami nya yang sama sekali tidak peka kepada nya.
"Akh!" Tiba-tiba saja terdengar sebuah pekikan yang cukup nyaring.
"Sayang, kenapa kau melempari buah mangga tepat di atas kepala ku?!" teriak Bram dari bawah pohon mangga.
"Aku tidak sengaja, lagian buah nya hanya kecil, kok!"
Sebenarnya Serena dengan sengaja melemparkan buah mangga tersebut ke arah suami nya dengan begitu ia bisa melampiaskan rasa amarahnya yang terpendam dari tadi.
"Sayang, majulah lebih sedikit lagi! Ambil buah mangga yang cukup banyak itu!" teriak Bram sambil memerintahkan istri nya untuk mengambil buah mangga yang ada di paling ujung dahannya.
Serena yang tidak ingin semakin pusing mendengar teriakan suami nya di bawah pohon mangga itu, pada akhirnya menuruti apa yang diinginkan suami nya. Untung nya Serena seorang wanita yang sangat handal memanjat sehingga ia tetap aman dan tidak terjatuh saat mengambil buah mangga yang ada di dahan pohon.
"Sayang, aku rasa ini sudah cukup. Sebaiknya kau turunlah saja," ucap Bram yang terlihat begitu senang ketika buah mangga yang ia inginkan sudah ada di depan mata nya.
"Bram! Apa yang kau lakukan disini?" tanya tuan Bisma yang baru saja datang dari gudang belakang bersama dengan para pengawal nya untuk menyimpan beberapa barang yang cukup penting.
__ADS_1
"Ayah mertua, Serena benar-benar sangat pandai memanjat. Dia sudah mengambil mangga sebanyak ini," ucap Bram yang sama sekali belum menyadari sebuah kesalahan besar yang telah ia lakukan saat ini.
"Serena, memang sangat pandai memanjat karena dari kecil dia memang suka memanjat buah. Maka dari situlah pohon buah disekitar halaman rumah ini sama sekali tidak ditebang karena Serena sendiri yang meminta nya untuk tidak menebang nya."
Tuan Bisma tentunya juga tidak menyadari bahwa anaknya saat ini sedang mengandung, sehingga ia menganggap nya menjadi biasa-biasa saja. Serena telah berhasil turun dari pohon mangga tapi raut wajah wanita itu membuat tuan Bisma dan Bram kebingungan melihat nya. Bahkan wanita itu malah melewati mereka berdua begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kalimat pun.
"Bram, ada apa dengan nya?"
"Mungkin Serena kelelahan memanjat dan buru-buru ingin minum air."
"Oh, mungkin saja. Ayo, bawalah mangga-mangga muda ini aku juga menginginkan nya."
Sampai di dapur, Bram dan tuan Bisma sama sekali tidak melihat keberadaan Serena. Namun, kedua laki-laki itu berpikir bahwa Serena saat ini mungkin sedang mandi untuk membersihkan diri, tapi sebenarnya mereka berdua tidak tahu bahwa Serena saat ini sedang berbaring menangis karena menahan emosi yang sudah tidak dapat ia tahan lagi dari tadi.
"Entah kenapa aku bisa memiliki seorang suami seperti nya yang sama sekali tidak peka. Dalam keadaan hamil muda saja, justru dia malah senang aku memanjat pohon mangga! Benar-benar suami bodoh!" kesal Serena sambil mengigit bantal guling untuk melampiaskan rasa amarah nya.
Selama 1 jam menangis di dalam kamar, akhirnya Serena berhenti menangis karena ia seketika teringat dengan buah mangga yang ia panjat sebelum nya dan tentunya ia juga ingin membuat rujak buah mangga sekarang.
"Ketimbang menangis sama sekali tidak ada gunanya, lebih baik aku memakan buah mangga yang aku panjat sebelum nya saja. Untungnya kelopak mata ku tidak bengkak," gumam Serena. Lalu ia turun kebawah dan melihat semua orang duduk di atas karpet yang berada di lantai untuk menikmati rujak buah mangga.
"Sayang, bukankah kau pergi mandi? Tapi, kenapa pakain mu tidak kau ganti?"
__ADS_1
"Aku hanya beristirahat saja."
"Oh, pantas saja. Kalau begitu, ayo duduklah bersama kami untuk menikmati rujak buah yang dibuat oleh Desta barusan. Rasanya benar-benar sangat enak."