Mendadak Menikahi Gadis Cacat

Mendadak Menikahi Gadis Cacat
Bermimpi Buruk


__ADS_3

"Serena! Serena!" Seseorang terus berusaha membangun wanita itu yang sedang berada di dalam mobil, mendengar suara memanggil namanya akhirnya wanita itu perlahan-lahan membuka kedua mata nya. Ia melihat disekitar sekeliling nya terlihat seperti baik-baik saja, bahkan Serena melibatkan Bram duduk di samping nya sambil menatap nya.


"Mas Bram!" ucap Serena tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Ini benar-benar, Mas Bram?"


Bram terlihat kebingungan melihat sikap istri nya yang terlihat begitu aneh, bahkan wanita itu sampai membuka baju nya seolah-olah sedang memeriksa sesuatu dari nya.


"Serena, ada apa?"


"Apa Mas Bram tidak apa-apa?!"


"Hem, aku tidak apa-apa. Justru aku yang bertanya seperti itu kepada mu, memangnya kau kenapa?"


"Sepertinya aku hanya bermimpi saja."


"Bermimpi apa?"


Bram yang penasaran langsung bertanya kepada istri nya dan Serena pun menceritakan semua yang terjadi di dalam mimpi nya. Bram yang mendengar hal itu turut bersedih, ia tidak menyangka istri nya sampai bermimpi buruk seperti itu dan ia pun berusaha menghibur Serena dengan kalimat yang menenangkan wanita itu.


"Kita sudah sampai, aku akan membopong mu terlebih dahulu," ucap Bram, ia pun mengangkat tubuh Serena untuk masuk kedalam vila terlebih dahulu dan selanjutnya baru ia akan mengangkat barang-barang masuk.


Sedangkan Serena hanya bisa duduk di sofa saja, ia melihat Bram menyangkut barang mereka berdua dengan sendirian. Seharusnya ia membantu suami nya tapi sayangnya ia tidak bisa melakukan hal itu sehingga Serena merasa sangat bersedih karena tidak dapat melakukan apapun.


"Ada apa? Kenapa wajah mu cemberut seperti itu?"


"Maaf ... aku tidak bisa membantu mu dan hanya duduk melihat mu saja ..." ucap Serena dengan nada sedih.


"Ini semua sudah kewajiban seorang Suami untuk meratukan Istri nya."


Serena terdiam tapi didalam hati nya ia merasa sangat bahagia memiliki seorang suami yang begitu tulus menikahi nya. Ia pikir laki-laki itu terpaksa menikahi nya hanya karena ayah nya membantu laki-laki itu keluar dari penjara.


"Apa kau sudah lapar?" tanya Bram.


"Hem, aku sedikit lapar sekarang. Apakah ada makanan?"


"Tunggulah, aku akan memasak."


"Bisakah aku ikut melihat mu?"


"Tentu saja," ucap Bram dengan penuh semangat. Ia pun mendorong kursi roda istri nya menuju ke arah dapur.


Sedangkan Serena sendiri merasa sangat bahagia ketika dibawa ke dapur oleh suami nya karena selama ini ia tidak pernah diijinkan untuk kedapur oleh ayah nya. Terutama tidak ada yang mau mengawasi dirinya padahal Serena sangat ingin melihat pekerjaan yang ada di dapur.


"Mas Bram, biarkan aku saja yang memotong sayur nya."


"Apa tidak apa-apa? Bagaimana jika kamu melukai tangan mu?" tanya Bram yang sedikit khawatir.


"Bisa kok, serahkan saja padaku. Aku akan melakukan nya dengan sangat hati-hati."


Bram bukan bermaksud membuat istri nya berkerja, hanya saja ketika melihat wajah istri nya yang terlihat ingin melakukan nya membuat Bram tidak enak jika menolak nya. Mungkin dengan cara itu Serena bisa merasa bahagia walaupun dengan cara yang sederhana tapi setidaknya tidak membuat wanita bersedih.


"Mas Bram, sayur nya sudah selesai di potong. Aku akan mencucinya."


"Hem, berhati-hatilah," ucap Bram yang tak henti-henti nya memperhatikan Serena melakukan pekerjaan nya.


Bram sangat bahagia ketika melihat istri nya sangat menyukai pekerjaan yang ia buat saat ini. Tidak seperti di rumah istri nya banyak diam tanpa ekspresi dan ini adalah pertama kalinya bagi Bram melihat wajah istri nya yang tidak lagi begitu dingin.


Setelah memasak dengan waktu yang cukup lama, kini masakan yang dibuat oleh Bram dan Serena telah matang. Kedua orang itu pun sama-sama menikmati makan siang dengan penuh romantis. Dulunya Serena sosok wanita yang pendiam, kini menjadi sering berbicara dan itu semua saat kehadiran Bram berada di dalam hidup nya.


"Mas Bram, aku ingin mengatakan sesuatu untuk mu," ucap wanita itu yang baru saja selesai menikmati makan siang nya. Dan entah kenapa ia sangat ingin mengatakan sesuatu hal yang ia sembunyikan selama ini.


"Sesuatu?" tanya Bram sambil menuangkan es segar kedalam gelas milik Serena.


"Hem, sebenarnya ak—"


"Serena, maaf aku tidak sengaja!" ucap Bram yang tak sengaja menumpah kan minuman tersebut ke arah istri nya akibat terkejut mendengar suara tembakan yang begitu nyaring dari luar villa.


Sedangkan Serena yang berniat mengatakan rahasia nya, seketika membatalkan niatnya untuk mengatakannya. Apa lagi ketika mendengar suara tembakan itu, membuat dirinya ketakutan dan bahkan ia juga tidak perduli dengan kemeja yang ia pakai basah akibat minuman yang tumpah.


"Bram, siapa yang melakukan hal itu di sekitar tempat ini?" tanya Serena yang terlihat tidak tenang sama sekali.


"Aku akan memeriksa nya terlebih dahulu, kau tunggulah disini!" ucap Bram.


Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Serena sendirian di dalam rumah. Tapi, ia juga takut jika membawa Serena pergi keluar bersama dengannya. Sehingga ia tidak punya pilihan lain selain pergi sendiri tanpa membawa wanita itu bersama nya. Sebelum pergi keluar, Bram tidak lupa memastikan semua pintu terkunci dengan sangat rapat setelah itu ia pun memutuskan untuk mengecek suara tembakan itu berada di arah mana. Saat pergi keluar, Bram tidak lupa membawa sebuah senjata untuk melindungi diri dari serangan musuh.


Bram melangkah dengan sangat hati-hati, sambil melihat disekitar sekelilingnya untuk memastikan tidak ada bahaya yang mendekati dirinya. Namun, setelah melangkah cukup jauh ia sama sekali tidak melihat satu orang pun dan rasanya Bram merasakan suatu perasaan yang tidak nyaman saat ini, ia pun memutuskan untuk segera kembali ke villa.


"Akh! Sialan!" pekik Bram saat tidak sengaja tersandung batu hingga membuat kedua tangannya terluka. Tapi, saat ia berusaha untuk bangkit berdiri tiba-tiba ia melihat beberapa orang memakai pakaian hitam serta memakai topeng dan Bram segera membungkuk ke tanah kembali supaya orang-orang itu tidak melihat dirinya.


"Apa yang ingin orang-orang itu lakukan?!" gumam Bram, ia begitu penasaran saat melihat orang-orang itu membawa sebuah karung yang terlihat sangat berat dan tiba-tiba salah satu dari keempat orang itu membuka sebuah tumpukan rerumputan yang ternyata itu adalah sebuah terowongan yang tersembunyi.


"Aku harus mengikuti mereka!" gumam Bram saat keempat orang itu sudah masuk kedalam terowongan tersebut. Tapi, ia tiba-tiba teringat dengan istri nya yang saat ini sedang sendirian di dalam villa dan ia pun membatalkan niatnya untuk mengikuti orang-orang itu karena keselamatan istri nya lebih penting ketimbang terlalu penasaran dengan urusan orang yang tak jelas apa yang telah mereka lakukan.


Tiba di depan villa, Bram melihat sebuah pintu terbuka lebar. Padahal sebelum nya ia meminta Serena untuk menguncinya dan bahkan ia juga sudah memperingati Serena untuk tidak membuka pintu sebelum dirinya pulang ke rumah. Bram pun seketika menjadi panik dan ia segera berlari masik kedalam villa.


"Serena!" panggil Bram dengan sedikit nyaring, tapi ia tidak mendengar wanita itu menyahuti panggilan nya. Pikiran Bram semakin tidak karuan, bahkan laki-laki itu berulang kali menahan nafas nya saking merasa takut jika apa yang ia bayangkan benar-benar terjadi.


"Serena, kau harus baik-baik saja!" gumam Bram berusaha untuk tetap berpikir positif.


Kekhawatiran Bram membuat nya hampir begitu gila. Ia tidak menyangka dirinya sampai terlalu berlebihan mengkhawatirkan istri nya yang saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Ia pikir Serena telah di bawa beberapa orang yang memakai pakaian serba hitam itu dan ia hampir saja berangkat menemui orang yang masuk kedalam terowongan sebelum nya, tapi untungnya ia masuk ke dalam kamar terlebih dahulu dan memeriksa ke dalam kamar mandi yang ternyata istri nya sedang mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terlihat kotor akibat minuman jus yang tak sengaja Bram tumpahkan sebelum nya.


"Kenapa kau membuka pintu nya? Bukankah, aku sudah jelas melarang mu membuka nya?"


"Takutnya ketika Mas Bram kembali, aku tidak mendengar nya. Jadi, aku biarkan saja pintu nya terbuka," jelas Serena.


"Serena, kau benar-benar wanita pertama yang membuat ku khawatir seperti ini," gumam Bram dalam hati nya.


Hari sudah mulai sore, Bram dan Serena pun akhirnya memutuskan untuk pergi menikmati pantai di sore hari. Kedua orang itu benar-benar sangat menikmati pemandangan yang begitu indah di pantai itu, air yang terlihat biru dan jernih membuat Serena sangat ingin pergi mandi tapi ia sadar diri nya sama sekali tidak dapat melakukan hal itu semua.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba melamun seperti itu?" tanya Bram, padahal sebelum nya Serena terlihat sangat bahagia tapi sekarang raut wajah istri nya tiba-tiba saja berubah hingga membuat nya menjadi bingung sendiri.


"Tidak apa-apa, Mas," ucap Serena, ia tidak ingin mengatakan kepada suami nya tentang keinginan nya karena ia tahu sendiri ia akan malah merepotkan Bram.


"Apa kau bosan?"


"Tidak, kok."


Bram jelas melihat bahwa istri nya sedang bosan, ia pun memiliki suatu ide untuk menyenangkan Serena.

__ADS_1


"Mas Bram! Apa yang kau lakukan?!"


Serena begitu terkejut saat suami nya tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya dari kursi roda. Tapi, beberapa detik kemudian, ia malah melihat Bram membawa diri nya mencebur ke air. Serena tak menyangka suami nya benar-benar begitu peka terhadap nya, padahal ia sama sekali tidak mengatakan apapun kepada laki-laki itu.


"Bagaimana? Apa kau senang sekarang?!"


"Sudah lama aku tidak mandi menikmati air pantai dan ini pertama kali nya sejak aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Terimakasih, Mas Bram," jelas Serena tanpa sadar meneteskan air mata nya. Ia sangat terharu dengan apa yang telah Bram lakukan kepada nya.


"Serena, jika menginginkan sesuatu bicaralah. Itu sudah kewajiban ku untuk memenuhi keinginan mu, tapi aku harap kamu jangan kecewa jika suatu saat aku benar-benar tidak bisa melakukan nya," jelas Bram. Ia pun memeluk istri nya dengan erat, sedangkan Serena terus berada di pangkuan Bram. Hingga kedua orang itu pada akhirnya terhanyut dalam sebuah permainan yang mengairahkan.


Sekarang Serena benar-benar sepenuhnya memberikan seluruh hidup nya untuk Bram. Kini, ia telah yakin bahwa laki-laki yang sedang bersama nya saat ini adalah laki-laki yang terakhir ada di hati nya. Kedua orang itu saling berpelukan dengan begitu erat, matahari pun perlahan-lahan tengelam air laut pun sudah terasa mulai berubah menjadi dingin. Bram dan Serena pun akhirnya naik ke pinggir pantai lalu berbaring di atas pasir yang terasa begitu hangat.


Cinta yang tulus didapatkan Serena membuat hidup wanita itu sekarang menjadi berarti. Tidak seperti sebelumnya, ia selalu merasa putus asa dan bosan dengan keadaan yang ia alami.


***


Hari sudah pagi, terlihat Bram begitu sibuk mengurus pekerjaan di dapur. Laki-laki itu pagi-pagi sekali membuat serapan untuk dirinya dan istri nya. Sebuah senyuman manis terukir diwajah Bram, ia terlihat begitu semangat melakukan semua pekerjaan nya. Apa lagi ketika mengingat kejadian semalam membuat Bram tak henti-henti nya mengingat nya, kenangan itu sangat berharga dihidup nya dan kini Bram benar-benar menemukan kebahagiaan di pernikahan nya.


"Mas Bram, apa yang sedang kau lakukan itu?"


"Aku membuat puding untuk mu. Apa kau menyukai nya?"


"Hem, semua makanan yang Mas Bram buat pasti aku akan sangat menyukai nya."


"Sekarang Istri ku sudah mulai mengombal," goda Bram sambil mengcubit pipi Serena dengan lembut.


"Selagi itu tidak akan meracuni ku, tentu nya aku akan memakan nya, Mas"


"Baiklah, Istri ku."


Serena melihat Bram yang sedang memasak, ia terus memperhatikan wajah laki-laki itu sehingga Bram yang menyadari tatapan Serena membuat nya menjadi salah tingkah. Bahkan saat Bram bekerja, laki-laki itu malah tidak sengaja menjatuhkan spatula. Tidak hanya itu, Bram juga sampai lupa menghidupkan kompor nya saking merasa malu dengan tatapan Serena yang begitu menggoda.


"Serena, berhentilah menatap ku seperti itu!"


Akhirnya Bram sudah tidak tahan lagi membiarkan istri nya untuk memperhatikan dirinya. Karena ia sendiri sama sekali tidak bisa fokus untuk memasak dan takutnya malah membuat masakan yang tak enak hingga Serena tidak menyukai masakannya lagi.


"Kenapa? Kamu kan Suami ku, jadi tidak masalah jika aku melakukan hal itu."


"Masalah nya, tatapan mu itu tidak bisa membuat ku fo—fokus!" ucap Bram dengan jujur. Bahkan ia sampai berbicara terbata-bata sekarang.


Serena mendengar penjelasan Bram, membuat nya terkikik geli. Tapi, ia tidak ingin membuat Bram merasa terganggu karena dirinya sehingga Serena pun memilih untuk pergi ke ruang tamu menonton televisi saja.


Saat menonton, Serena tiba-tiba kembali dikejutkan dengan suara tembakan nyaring seperti sebelumnya. Bram yang juga mendengar nya dengan cepat menghampiri istri nya karena ia takut jika terjadi sesuatu hal yang berbahaya.


"Mas Bram, apa yang sedang terjadi? Kenapa suara tembakan itu terdengar lagi?"


"Entahlah, sebelumnya aku melihat ada tiga orang laki-laki asing masuk kedalam sebuah terowongan dan entah apa yang mereka lakukan. Mungkin suara tembakan itu berasal dari sana."


"Sepertinya ada sesuatu hal yang tak beres, Mas."


"Kalau begitu kita berdua sebaiknya pulang saja," ucap Bram yang sangat mengkhawatirkan istri nya. Demi keselamatan istri nya, ia lebih baik mempersingkat bulan madu mereka walaupun sebenarnya ia menginginkan bulan madu berduaan dengan waktu yang begitu lama namun keadaan tidak akan memungkinkan.


Setelah serapan pagi bersama, Bram memutuskan untuk membawa Serena untuk segera pulang ke rumah. Sedangkan suara tembakan itu kembali terdengar lagi, hingga membuat Serena semakin ketakutan dan tidak sabar untuk pulang ke rumah. Bahkan ia meminta Bram untuk memasukkan semua makanan itu kedalam kotak makan saja.


"Sialan! Mereka benar-benar sangat menganggu ketenangan ku bersama Istri!" gumam Bram dalam hati nya dengan kesal.


"Aku akan menganti ban nya terlebih dahulu."


"Apakah lama?"


"Lumayan, kamu tenanglah. Aku akan menjaga mu dan tidak akan membiarkan mu terluka," ucap Bram berusaha untuk menenangkan istri nya yang saat ini sedang ketakutan.


"Nak Bram, kamu tunggulah di ruangan ku lebih dulu. Aku akan pergi meeting sebentar," ucap tuan Bisma.


"Baik, Ayah."


Bram pun duduk di sofa yang sudah disediakan untuk tamu. Ia melihat di sekitar sekeliling ruang kerja mertua nya yang tampak begitu mewah, ia pun seketika kembali teringat dengan masa lalu nya tapi Bram sama sekali tidak menginginkan kehidupan yang seperti dulu karena ia rasa kehidupan yang dulu benar-benar sangat menyakitkan untuk dirinya. Namun, saat Bram begitu asik melamun tiba-tiba saja ia mendengar sebuah ketukan pintu dari luar, ia pun segera membuka pintu nya. Tapi, beberapa saat kemudian laki-laki itu terdiam kaku di tempat.


"Mas Bram?!" Seorang gadis cantik berdiri di depan Bram dengan raut wajah yang terkejut dan sekaligus berubah menjadi dingin.


"Apa yang kau lakukan kemari?!" tanya Bram dengan dingin.


"Aku menjadi sekertaris di perusahaan ini. Lalu, Mas Bram?"


"Kau tidak perlu tahu!"


Bram melihat raut wajah mantan istri nya saat melihat kehadiran nya benar-benar terlihat biasa-biasa saja. Bram yakin, mantan istri nya itu sudah mengetahui dirinya telah keluar dari penjara. Sifat istri nya yang selalu ingin tahu, jelas membuat Bram tidak perlu dipertanyakan lagi sehingga Bram juga tidak perlu bingung lagi akan hal itu.


"Mas Bram, bagaimana kabar mu sekarang? Aku sangat merindukan mu!" ucap Melisa yang berniat ingin memeluk laki-laki itu. Tapi, sayangnya, Bram dengan cepat menghindar bahkan laki-laki itu memperlihatkan sikap tidak suka terhadap mantan istri nya itu secara terang-terangan.


"Kau pikir aku bodoh? Tentu saja tidak! Melisa!" gumam Bram dalam hati nya, sikap Melisa yang terlihat ingin mendekati nya membuat Bram curiga bahwa mantan istri nya itu memiliki sebuah tujuan lain lagi terhadap nya.


"Bram, ak—" ucap Melisa terpotong saat tidak sengaja melihat tuan Bisma datang menghampiri mereka berdua.


"Nak Bram, apa kau mengenal nya?" tanya tuan Bisma.


"Hem, benar, Ayah."


"Ayah?!"


Melisa terlihat kebingungan saat mendengar Bram memanggil bos nya dengan sebutan 'ayah'. Ia pun semakin penasaran hubungan yang seperti apa dimiliki antar bos nya dengan mantan suami nya itu.


Tuan Bisma berniat menjelaskan nya kepada Melisa. Tapi, Bram malah menghentikan nya dan malah mengajak mertua nya untuk segera masuk kedalam, sedangkan Melisa tentunya tidak bisa masuk dengan semaunya terkecuali atas permintaan atasan nya sehingga rasa penasaran nya sama sekali tidak dapat ia temukan jawabannya.


"Nak, apakah ada sesuatu?"


"Wanita itu terlalu penasaran, aku tidak terlalu menyukai nya!"


"Mantan istri mu, aku tahu sosok wanita itu seperti apa?!"


"Ayah, tahu tentang dia dan aku?"


"Tentu saja!" jawab tuan Bisma dengan begitu santai, saat melihat menantu dan sekertaris nya terlihat begitu serius ketika berbincang tuan Bisma sama sekali tidak terkejut akan hal itu karena ia sendiri tentunya telah menyelidiki semuanya sebelum Bram telah sah menjadi suami anak nya.


"Kenapa Ayah memberikan nya pekerjaan? Bukankah Ayah tahu juga bagaimana hubungan kami sebelum nya seperti?!"


"Wanita itu datang melamar di perusahaan ini. Dia pikir aku tidak tahu apa-apa tentang nya, bahkan ia jelas memiliki cukup banyak uang tapi malah bekerja sebagai sekertaris ku dan itu sudah jelas bahwa wanita itu memiliki sebuah tujuan, bukan hanya kepada mu melainkan kepada ku juga!" jelas tuan Bisma.


"Apa Ayah memiliki suatu rencana?!" tanya Bram.

__ADS_1


"Ten—" ucap tuan Bisma terpotong saat melihat menantu nya memberikan sebuah kode untuk segera menutup mulutnya supaya berhenti berbicara.


"Ada apa?"


Bram masih belum menjawab pertanyaan mertua nya. Ia malah menuju ke arah tanaman bunga yang terlihat begitu mencurigakan di mata nya, sedangkan tuan Bisma sendiri semakin penasaran apa yang sedang dilakukan oleh menantu nya saat ini. Dan tiba-tiba, tuan Bisma dikejutkan dengan sebuah benda yang di perlihatkan oleh Bram untuk nya, benda tersebut jelas tuan Bisma tahu.


"Penyadap suara!?" gumam tuan Bisma yang tak percaya akan hal itu.


"Sialan! Siapa yang melakukan hal ini?!" ucap tuan Bisma dengan kesal.


"Aku rasa alat ini telah rusak di makan tikus!" jelas Bisma memperlihatkan kerusakan alat tersebut kepada ayah mertua nya.


"Benarkah?!" Tuan Bisma terlihat bersemangat saat mendengar ucapan menantu nya itu untuk memastikan nya, ia sampai meminta Bram memberikan alat itu kepada nya dan ia ingin melihat sendiri apakah alat itu benar-benar rusak atau tidak karena jika alat itu telah bekerja dengan sangat baik selama ini mungkin semua rahasia yang telah ia bicarakan kepada kepercayaan nya jelas sudah diketahui para musuh nya.


"Aku ingin tahu sejak kapan alat ini berada disini?!"


"Ayah, bisa mengecek nya di rekaman CCTV saja dan melihat siapa yang telah memasang alat ini!"


"Kau benar, Nak. Aku akan mengecek nya dan kau juga harus ikut melihat nya!" ajak Tuan Bisma.


Bram yang juga penasaran, tentunya dengan cepat mengikuti apa yang diperintahkan oleh mertua nya itu. Kedua orang itu pun langsung saja membuka laptop untuk melihat hasil rekaman CCTV. Dan kedua laki-laki itu tidak bisa membayangkan bahwa yang melakukan hal itu adalah Melisa mantan istri Bram sendiri. Rupanya wanita itu benar-benar sudah menjalankan rencana nya lebih dulu dari mereka tapi untung mereka dengan cepat menyadari hal itu semua.


"Untung saja hari kemarin aku tidak ada di kantor," jelas tuan Bisma merasa lega karena alat itu telah rusak saat tidak berhasil mendapatkan informasi dari nya.


"Ayah Martua, setelah ini apa yang ingin Ayah lakukan kepada wanita itu?"


"Tentu saja Ayah akan memberikan nya sedikit pelajaran!" jelas tuan Bisma.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, terlihat Serena sangat menantikan kehadiran suami nya pulang dari kantor. Dari tadi gadis itu tidak sabar suami nya tiba di rumah karena saat ini dirinya benar-benar merasa sangat kesepian. Sedangkan Desta bersama dengan kekasihnya terus bermesraan di ruang tamu, hingga Serena yang melihat nya merasa sangat jijik. Apa lagi ibu tiri nya sama sekali tidak menegur adik nya itu dan hanya acuh saja, padahal apa yang dilakukan oleh Desta bersama kekasih nya itu benar-benar sangat tidak pantas apa lagi di tempat terbuka seperti itu akan sangat memalukan.


"Sayang, kenapa kau tidak mengajaknya untuk berkumpul bersama dengan kita disini?!" tanya Marvel.


"Untuk apa? Aku rasa itu tidak penting!"


"Baiklah, bagaimana jika kamu membutuhkan ku minuman terlebih dahulu. Rasanya aku sangat ingin minum yang segar-segar dan manis."


"Emh, memangnya Sayang ingin minum apa?"


"Jus jeruk saja, lebih praktis."


"Baiklah, aku akan membuat nya terlebih dahulu," jelas Desta yang langsung saja pergi ke dapur.


Sedangkan Marvel terlihat tersenyum licik ke arah Serena. Wanita itu yang menyadari bahwa Marvel ingin menghampiri dirinya, seketika langsung saja pergi menuju ke kamar nya namun sayangnya Marvel dengan cepat mengejar wanita itu.


"Kau ingin kemana? Ingin kabur?"


"Lepaskan!" ucap Serena dengan kesal tapi Marvel malah tertawa mengejek.


Sejak kematian nyonya Jesika serta para musuh yang lainnya, kini kehidupan tuan Bisma serta anak dan menantunya sudah menjadi tenang. Termasuk Bram dan Serena sendiri, hari ini Serena bangun pagi-pagi demi datang ke sebuah restoran salah satu tempat yang sering ia kunjungi bersama ibu nya semasa ia kecil.


"Mas Bram, aku sudah siap. Cepat, segera bangunlah dan mempersiapkan diri mu."


"Ini masih jam 6 pagi, Sayang."


"Aku tidak ingin mengantri menunggu waktu yang begitu lama."


"Aku rasa tidak mungkin. Sebaiknya jam 8 saja kita berdua kesana," ucap Bram sambil memejamkan kedua mata nya, sedangkan ia sama sekali tidak memperhatikan raut wajah istri nya dan memilih untuk melanjutkan mimpinya yang terasa begitu indah itu.


Serena langsung saja turun kebawah dengan raut wajah yang sudah cemberut. Mendengar jawaban suami nya barusan, entah kenapa membuat hati nya terasa begitu panas dan rasanya berteriak marah tapi ia tidak ingin melakukan hal itu sehingga ia lebih baik memendam nya sendiri, bahkan tanpa sadar Serena malah menangis sesegukan layaknya anak kecil yang menginginkan mainan namun tidak dipenuhi.


"Juan, ada apa dengan nya? Kenapa dia malah menangis seperti itu? Apa mungkin dia sedang bertengkar dengan suami nya?" tanya Desta yang kebingungan melihat Serena menangis di meja makan sambil menikmati roti dan susu yang telah di sediakan pembantu di rumah itu.


"Nona menanyakan hal itu kepada ku? Sedangkan aku sendiri baru saja keluar dari kamar bersama Nona."


"Diamlah!" kesal Desta yang tak suka mendengar jawaban suami nya.


Sedangkan Juan hanya bisa menghela nafas dengan sabar melihat sikap judes istri nya yang tak bisa hilang itu. Padahal ia selalu berusaha mengalah supaya istri nya tidak marah-marah kepada nya, walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak salah tapi Juan akan tetap mengatakan bahwa dirinya salah.


"Cepat cari Bram sekarang!"


"Baik, Nona."


Juan dengan cepat melangkah untuk mencari Bram, ia akan mencari laki-laki itu ke dalam kamar terlebih dahulu dan ternyata ketika ia masuk kedalam kamar ia malah melihat Bram dengan begitu entengnya tidur nyenyak di atas kasur.


"Bram! Bram!"


Juan dengan pelan menguncang kaki laki-laki itu berharap bisa segera bangun namun Juan rasa ia terlalu lembut membangunkan nya sehingga ia pun berpikir bahwa ia lebih baik membangunkan Bram dengan cara sedikit lebih kasar lagi. Tanpa berpikir panjang lagi, Juan langsung saja menguncang bahu Bram sedikit kasar hingga Bram yang sebelumnya sedang bermimpi indah tiba-tiba saja merasa sangat terganggu.


"Ada apa, Juan? Kenapa kau kemari?"


"Istri mu, kenapa? Kenapa dia menangis sesegukan di meja makan?" tanya Juan tanpa bertele-tele lagi.


"Menangis? Sesegukan?"


"Kalian berdua sedang bertengkar?"


"Tidak!"


"Lalu kenapa dia menangis?"


Bram pun seketika termenung sebentar untuk mengingat kesalahan apa yang sebenarnya telah ia lakukan hingga membuat istri nya menangis. Tapi, Bram sama sekali masih belum menyadari sebuah kesalahan kecil yang tentunya malah akan membuat masalah menjadi rumit untuk diri nya.


"Aku benar-benar tidak melakukan suatu kesalahan pada nya."


"Aku benar-benar pusing dengan kalian berdua. Sebaiknya kau segera tenangkan dia!"


Bram pun segera bangkit berdiri, tapi ia tidak lupa memakai sendal nya dengan sangat tergesa-gesa sehingga ia pun tanpa sengaja menabrak pintu kamar nya. Namun, Bram sama sekali tidak marah ataupun memaki pintu tersebut justru laki-laki itu malah termenung seolah-olah sedang teringat akan satu hal yang membuat dirinya harus segera mempersiapkan dirinya secepat mungkin karena sekarang ia sudah tahu penyebab istri nya sampai seperti itu.


"GAWAT! GAWAT! GAWAT!!"


Bram dengan cepat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuh nya, hanya membutuhkan beberapa menit saja laki-laki itu sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan tubuh yang masih saja basah. Saking buru-buru untuk pergi ke lemari pakaian ia malah terpeleset akibat kedua kaki nya yang masih basah dan handuk yang terlilit di pinggang nya pun sampai melorot ke bawah, untung nya tida ada seorang pun didalam kamar tersebut selain dirinya sehingga Bram benar-benar merasa aman sekarang.


Selama ingin memakai pakaian nya, Bram benar-benar begitu kesulitan saking tergesa-gesa ingin segera menemui istri nya lalu mengatakan bahwa ia sudah siap untuk berangkat bersama pergi ke restoran. Tapi, sayangnya ia malah memakai ****** ***** milik Serena sendiri dan Bram benar-benar hampir gila melihat kekonyolan yang telah ia lakukan itu.


"Sialan! Ini benar-benar memalukan!" Bram dengan cepat melepaskan ****** ***** milik Serena lalu mencari ****** ***** nya yang ternyata berada di laci sebelah. Pikiran Bram sudah sangat kacau sehingga ia tidak bisa berpikir dengan baik sekarang.


"Kenapa semuanya terasa begitu kacau! Bram, lain kali kau jangan seperti ini lagi! Bisa-bisa kau malah menjadi orang gilan beneran!" gumam Bram dalam hati nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2