
Bram sama sekali tidak bisa melihat wajah seorang wanita yang dikatakan Serena barusan. Padahal ia begitu penasaran siapa wanita itu karena ia melihat sendiri wanita itu menutup wajahnya mengunakan sebuah lis menu makanan yang di atas meja sehingga ia tidak dapat melihat wajah orang itu sedikitpun. Belum lagi ada ada seorang pria yang duduk di hadapan wanita itu hingga Bram lebih baik pasrah saja dan tetap berusaha berpikir positif saja.
"Lebih baik lanjutkan saja memakan makanan mu, lagian jika orang jahat dia juga tidak akan berani bertindak sesuka hati nya di tempat umum seperti ini. Terutama, kita juga akan sangat mudah menangkap nya karena CCTV-nya ada dimana-mana," jelas Bram yang mencoba untuk menenangkan istri nya. Ia tahu, istri nya saat ini sedang merasa takut tapi ia akan tetap berusaha membuat istri nya kembali tenang karena ia sendiri jelas tidak akan membiarkan orang itu menyakiti Serena sedikitpun.
"Mas, setelah selesai memakan ini semua. Aku ingin pulang saja, bagaiamana?"
"Baiklah, lagian kita berdua sudah cukup lama berada di tempat ini."
Serena yang mendengar suami nya sama sekali tidak keberatan dengan permintaan nya merasa sangat senang dan wanita itu langsung saja tersenyum bahagia, bahkan masalah sebelumnya sudah terlupakan hanya karena sikap Bram yang begitu perduli kepada nya.
"Aku sudah selesai, Mas."
"Aku akan pergi membayarnya terlebih dahulu."
Serena mengangukkan kepala nya saja lalu menunggu Bram di kursi nya sambil memainkan ponsel nya. Tapi, ketika ia masih teringat dengan seorang gadis yang sebelumnya menatap diri nya, Serena pun kembali merasa penasaran lagi ia pun dengan sangat hati-hati melihat ke arah gadis itu dan ternyata gadis itu masih saja menatap dirinya dengan tajam. Serena pun menjadi takut dan sekaligus penasaran kenapa orang itu menatap dirinya sampai seperti itu padahal ia sendiri sama sekali tidak mengenal orang itu sedikitpun.
"Aku akan memotret nya!" gumam Serena. Ia pun dengan cepat memotret gadis itu dan ternyata ia berhasil mengambil gambar orang tersebut dengan begitu ia bisa memperlihatkan kepada Bram lalu meminta Bram mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya karena ia sendiri jelas merasa orang tersebut telah memiliki masalah dengan dirinya walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak merasa bersalah kepada orang itu, tapi Serena tetap saja merasa bahwa orang itu akan melakukan sesuatu hal yang buruk kepada nya.
"Serena, aku sudah selesai membayar nya. Sekarang kita berdua pulang!" Bram pun mendorong kursi roda Serena menuju ke arah pintu keluar hingga beberapa menit kemudian Serena dan Bram telah tiba di parkiran.
"Mas Bram! Aku ingin bunga yang ada di seberang sana! Bisakah membelinya untuk ku?" tanya Serena yang tiba-tiba saja melihat bunga yang ada di toko seberang.
"Kau menginginkan nya?"
"Hem, bunga nya sangat bagus. Dan belilah beberapa untuk ku."
"Baiklah, kau tunggu saja di dalam mobil. Aku akan pergi membeli nya sendiri."
__ADS_1
"Baiklah, Mas. Tapi, aku menunggu Mas disini saja!"
"Tidak masuk kedalam mobil?"
"Tidak, Mas. Disini saja."
"Apa ada bunga lain yang ingin kamu beli?"
"Tidak, Mas. Aku hanya ingin bunga yang di gantung itu saja dan pilih yang berwarna merah."
Bram pun menganguk paham. Ia pun dengan cepat menyebrangi jalan untuk membeli bunga yang diinginkan istri nya. Sedangkan Serena, ia terus memperhatikan suami nya ada di seberang, wanita itu tersenyum bahagia saat melihat suami nya mau melakukan apa saja untuk dirinya. Namun, raut wajah Serena tiba-tiba saja berubah, ia dengan cepat memencet tombol kursi roda nya dan otomatis kursi roda yang di naiki Serena langsung saja berjalan sesuai dengan tombol yang di klik oleh wanita itulalu Serena langsung saja menghampiri Bram untuk mencegah suami nya.
"Mas Bram!" Serena mencoba untuk berteriak dengan sangat nyaring tapi sayangnya Bram sama sekali tidak mendengar teriakan nya karena suara kendaraan yang terus melewati jalan tersebut.
"Aku tidak punya pilihan lain!" Tanpa berpikir panjang lagi, Serena langsung saja menyebrangi jalan tanpa memikirkan resikonya yang terlalu berbahaya untuk diri nya sendiri. Saat ini pikirannya hanya memikirkan Bram yang sedang dalam berbahaya. Dan Serena melihat sendiri laki-laki asing itu terus mencari kesempatan untuk menikam Bram dari arah belakang mengunakan sebuah belati yang cukup tajam.
Truk sudah semakin dekat dan melaju. Bram yang melihat itu dengan cepat menarik kursi roda istri nya tapi sayangnya terlambat, kursi roda yang di naiki Serena terseret oleh truk itu. Sedangkan Bram sendiri terpental cukup jauh akibat terserempet oleh kendaraan lain hingga keadaan Bram sendiri sama sekali tidak memungkinkan untuk menyelamatkan Serena.
***
"Bram! Bram! Bangunlan!"
Mendengar suara yang cukup berisik di telinga nya, membuat Bram yang sebelumnya tidak sadarkan diri perlahan-lahan membuka kedua kelopak mata nya. Tapi, penglihatan nya tampak masih samar-samar dan belum jelas, kepalanya juga masih terasa begitu nyeri. Melihat di sekitar sekeliling nya ia rasa dirinya saat ini tidak berada di dalam rumah melainkan berada di rumah sakit.
"Serena ...."
Kalimat utama yang di ucapkan di mulut Bram saat ini hanya nama istri nya. Keadaan nya masih saja belum sepenuhnya normal dan laki-laki itu masih saja merasakan seluruh tubuh nya benar-benar tak berdaya. Tapi, ketika mengingat kejadian itu Bram seketika mencari keberadaan istri nya dan ia ingin memastikan bahwa istri nya dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Dimana ... Serena ..." ucap Bram dengan nafas yang masih belum teratur.
"Dia baik-baik saja, bagaimana dengan mu?" tanya tuan Bisma yang begitu mengkhawatirkan keadaan menantu nya itu.
"Aku baik-baik saja ...."
"Syukurlah, Serena juga baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkan nya."
"Aku ingin melihat nya."
"Saat ini, kau tidak bisa melihat nya."
"Kenapa?"
Tuan Bisma terlihat sama sekali tidak bisa mengatakan alasannya. Sedangkan Bram sendiri sangat ingin melihat keadaan istri nya dan entah kenapa ia sama sekali tidak begitu yakin dengan jawaban mertua nya itu. Sehingga ia bersih keras untuk melihat Serena yang saat ini sedang dirawat diruangan yang berbeda dari nya.
"Aku ingin melihat nya. Dimana ruangan nya saat ini?"
"Tidak perlu! Kau beristirahatlah saja dan pulihkan keadaan mu lebih dulu."
"Aku hanya ingin melihat nya sebentar saja!" Bram tentu saja tidak ingin mendengar ucapan ayah mertua nya, bahkan ia berusaha dengan keras berdiri walaupun kepala nya masih berdenyut sakit tapi ia tetap saja melangkah menemui istri nya.
"Baiklah, aku akan mengantarkan mu. Tapi, kau harus tetap tenang. Kau berjanji?"
"Kenapa Ayah mertua berkata seperti itu?"
"Berjanji saja pada ku jika kau ingin menemuinya! Jika tidak, aku tidak akan mengatakan dimana ruangannya saat ini!"
__ADS_1
"Baiklah, aku berjanji!" Entah kenapa mendengar ucapan tuan Bisma membuat perasaan Bram sama sekali tidak enak dan pikiran nya saat ini sudah kemana-mana sekarang. Hati nya benar-benar tidak tenang sama sekali, tapi ia sangat berharap Serena dalam keadaan baik-baik saja.