
Sejak kematian nyonya Jesika serta para musuh yang lainnya, kini kehidupan tuan Bisma serta anak dan menantunya sudah menjadi tenang. Termasuk Bram dan Serena sendiri, hari ini Serena bangun pagi-pagi demi datang ke sebuah restoran salah satu tempat yang sering ia kunjungi bersama ibu nya semasa ia kecil.
"Mas Bram, aku sudah siap. Cepat, segera bangunlah dan mempersiapkan diri mu."
"Ini masih jam 6 pagi, Sayang."
"Aku tidak ingin mengantri menunggu waktu yang begitu lama."
"Aku rasa tidak mungkin. Sebaiknya jam 8 saja kita berdua kesana," ucap Bram sambil memejamkan kedua mata nya, sedangkan ia sama sekali tidak memperhatikan raut wajah istri nya dan memilih untuk melanjutkan mimpinya yang terasa begitu indah itu.
Serena langsung saja turun kebawah dengan raut wajah yang sudah cemberut. Mendengar jawaban suami nya barusan, entah kenapa membuat hati nya terasa begitu panas dan rasanya berteriak marah tapi ia tidak ingin melakukan hal itu sehingga ia lebih baik memendam nya sendiri, bahkan tanpa sadar Serena malah menangis sesegukan layaknya anak kecil yang menginginkan mainan namun tidak dipenuhi.
"Juan, ada apa dengan nya? Kenapa dia malah menangis seperti itu? Apa mungkin dia sedang bertengkar dengan suami nya?" tanya Desta yang kebingungan melihat Serena menangis di meja makan sambil menikmati roti dan susu yang telah di sediakan pembantu di rumah itu.
"Nona menanyakan hal itu kepada ku? Sedangkan aku sendiri baru saja keluar dari kamar bersama Nona."
"Diamlah!" kesal Desta yang tak suka mendengar jawaban suami nya.
__ADS_1
Sedangkan Juan hanya bisa menghela nafas dengan sabar melihat sikap judes istri nya yang tak bisa hilang itu. Padahal ia selalu berusaha mengalah supaya istri nya tidak marah-marah kepada nya, walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak salah tapi Juan akan tetap mengatakan bahwa dirinya salah.
"Cepat cari Bram sekarang!"
"Baik, Nona."
Juan dengan cepat melangkah untuk mencari Bram, ia akan mencari laki-laki itu ke dalam kamar terlebih dahulu dan ternyata ketika ia masuk kedalam kamar ia malah melihat Bram dengan begitu entengnya tidur nyenyak di atas kasur.
"Bram! Bram!"
Juan dengan pelan menguncang kaki laki-laki itu berharap bisa segera bangun namun Juan rasa ia terlalu lembut membangunkan nya sehingga ia pun berpikir bahwa ia lebih baik membangunkan Bram dengan cara sedikit lebih kasar lagi. Tanpa berpikir panjang lagi, Juan langsung saja menguncang bahu Bram sedikit kasar hingga Bram yang sebelumnya sedang bermimpi indah tiba-tiba saja merasa sangat terganggu.
"Istri mu, kenapa? Kenapa dia menangis sesegukan di meja makan?" tanya Juan tanpa bertele-tele lagi.
"Menangis? Sesegukan?"
"Kalian berdua sedang bertengkar?"
__ADS_1
"Tidak!"
"Lalu kenapa dia menangis?"
Bram pun seketika termenung sebentar untuk mengingat kesalahan apa yang sebenarnya telah ia lakukan hingga membuat istri nya menangis. Tapi, Bram sama sekali masih belum menyadari sebuah kesalahan kecil yang tentunya malah akan membuat masalah menjadi rumit untuk diri nya.
"Aku benar-benar tidak melakukan suatu kesalahan pada nya."
"Aku benar-benar pusing dengan kalian berdua. Sebaiknya kau segera tenangkan dia!"
Bram pun segera bangkit berdiri, tapi ia tidak lupa memakai sendal nya dengan sangat tergesa-gesa sehingga ia pun tanpa sengaja menabrak pintu kamar nya. Namun, Bram sama sekali tidak marah ataupun memaki pintu tersebut justru laki-laki itu malah termenung seolah-olah sedang teringat akan satu hal yang membuat dirinya harus segera mempersiapkan dirinya secepat mungkin karena sekarang ia sudah tahu penyebab istri nya sampai seperti itu.
"GAWAT! GAWAT! GAWAT!!"
Bram dengan cepat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuh nya, hanya membutuhkan beberapa menit saja laki-laki itu sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan tubuh yang masih saja basah. Saking buru-buru untuk pergi ke lemari pakaian ia malah terpeleset akibat kedua kaki nya yang masih basah dan handuk yang terlilit di pinggang nya pun sampai melorot ke bawah, untung nya tida ada seorang pun didalam kamar tersebut selain dirinya sehingga Bram benar-benar merasa aman sekarang.
Selama ingin memakai pakaian nya, Bram benar-benar begitu kesulitan saking tergesa-gesa ingin segera menemui istri nya lalu mengatakan bahwa ia sudah siap untuk berangkat bersama pergi ke restoran. Tapi, sayangnya ia malah memakai ****** ***** milik Serena sendiri dan Bram benar-benar hampir gila melihat kekonyolan yang telah ia lakukan itu.
__ADS_1
"Sialan! Ini benar-benar memalukan!" Bram dengan cepat melepaskan ****** ***** milik Serena lalu mencari ****** ***** nya yang ternyata berada di laci sebelah. Pikiran Bram sudah sangat kacau sehingga ia tidak bisa berpikir dengan baik sekarang.
"Kenapa semuanya terasa begitu kacau! Bram, lain kali kau jangan seperti ini lagi! Bisa-bisa kau malah menjadi orang gilan beneran!" gumam Bram dalam hati nya sendiri.