
Melihat istri nya sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan nya membuat Bram hanya bisa pasrah saja. Ia juga tidak mungkin terus memaksa istri nya untuk pulang ke rumah sedangkan istri nya sendiri begitu keras kepala dan tidak mau mendengar apa yang ia katakan, padahal Bram sendiri sudah berulangkali menakut-nakuti Serena tapi sayangnya wanita itu sama sekali tidak terlihat takut dan justru malah mengajak dirinya untuk segera mencari ketiga orang yang sedang bersembunyi saat ini.
"Sayang, perhatikan langkah mu! Disini terlalu banyak duri dan bisa saja melukai kaki mu!" peringat Bram.
"Bram, dari tadi kau terus mengoceh tidak jelas. Sekarang kuping ku hampir saja tuli!"
"Ya, maafkan aku, Sayang. Aku hanya mengingatkan mu saja dan ini semua demi kebaikan mu. Kau tahu, jika kau terluka maka aku akan sangat khawatir."
"Mas Bram sendiri bilang sebelum nya supaya aku tidak terlalu khawatir berlebihan. Tapi, sekarang kenapa Bram yang jadi seperti itu?"
"Stt! Berhentilah mencoba mengalihkan pembicaraan! Sebaiknya dengarkan aku saja dan perhatikan jalan mu!" ucap Bram dengan tegas, padahal ia sendiri yang mencoba menghindari dari pertanyaan istri nya. Karena Bram juga bingung bagaimana caranya ia menjelaskan kepada Serena sehingga ia dengan cepat mengalihkan pembicaraan mereka berdua.
Setelah cukup menelusuri hutan, Bram rasa ketiga orang itu tidak sedang bersembunyi di sekitar tempat itu. Ia pun berpikir lebih baik mengajak istri nya kembali ke tempat semula saja. Namun, Serena malah bersih keras untuk mengajak Bram untuk tetap melangkah maju.
"Sayang, sebaiknya kita berdua kembali saja. Kau lihat tidak tanda-tanda jejak mereka memasuki hutan ini dari tadi."
"Kata siapa? Coba Mas Bram lihat baik-baik!"
Bram langsung saja melihat ke arah dimana istri nya memperlihatkan sesuatu untuk diri nya dan ternyata itu adalah sebuah jepitan rambut yang tak lain milik Melisa sendiri.
"Sayang, kau benar-benar sangat teliti."
"Bagaimana? Apa kita berdua akan pergi melangkah ke depan menemukan ketiga orang itu? Atau kembali saja?"
"Itu bergantung pada mu saja. Karena jika aku mengajak mu kembali, belum tentu kau mau, kan?"
Mendengar ucapan suami nya seperti itu membuat Serena langsung saja tersenyum manis. Ia tentunya akan memilih untuk mencari ketiga orang itu ketimbang harus kembali dengan tangan kosong. Serena pun melangkah mengikuti jejak kaki yang tampak samar-samar terlihat dan ternyata ketiga orang itu telah berusaha menutupi jejak kaki yang ada di tanah memakai rumput serta dedaunan sehingga ketika orang yang tidak teliti sama sekali jelas tidak akan bisa melihat nya.
Sekarang Bram dan Serena mengikuti jejak kaki tersebut hingga beberapa meter melangkah pada akhirnya mereka berdua menemukan sebuah gubuk tua lagi sama seperti sebelumnya namun tempat yang berbeda.
"Aku rasa ketiga orang itu bersembunyi disini, Mas."
"Kau benar, Sayang. Kita berdua harus berhati-hati takutnya ketiga orang itu mengetahui kehadiran kita berdua."
Perlahan-lahan Serena dan Bram mendekati gubuk tua itu. Lalu mereka berdua mendengar suara perdebatan antara ketiga orang itu membahas tentang masalah pertempuran yang sedang terjadi saat ini. Sepertinya ketiga orang itu sedang menyusun strategi namun salah satu dari ketiga nya tidak setuju sehingga terdengar begitu ribut.
"Mas Bram, segera nyalakan ini saja!" bisik Serena langsung saja memberikan sebuah benda yang jelas dapat meledakan gubuk tua itu berserta orang-orang yang ada di dalam nya.
"Serena, berkat bantuan mu kini aku tidak harus di berangkatkan ke luar negeri oleh, papi."
"Hem, syukurlah."
"Kau menginginkan apa? Aku akan mengabulkan nya?"
"Untuk apa?"
"Katakan saja! Kau tidak perlu bertel-tele dan berpura-pura tidak tahu apa maksud ku!"
"Aku tidak ingin apa-apa."
"Baiklah, aku akan membelikan mu tas yang bermerk itu saja."
"Aku tidak membutuhkan nya. Sebaiknya tidak perlu membuang-buang uang mu."
"Aku tidak ingin memiliki hutang budi dengan mu. Sebaiknya kau harus menerima nya."
"Aku sama sekali tidak menganggap nya sebagai hutang budi. Jadi, jangan terlalu berlebihan."
"Cih! Apakah kau menginginkan sesuatu hal yang mahal? Baiklah, aku akan membelikan berlian untuk mu."
"Sudah ku katakan tidak perlu!"
Desta merasa sangat kesal dengan Serena yang sangat sulit untuk dibujuk, padahal ia hanya ingin membayar hutang budi nya karena Serena telah membantu dirinya keluar dari masalah itu.
"Kalau begitu kau berhentilah mencari masalah dengan ku. Apa kau bisa melakukan nya?"
"Maksud ... kamu?"
"Aku tidak perlu menjelaskan nya sejelas mungkin! Karena aku tahu kau bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa."
Desta pada akhirnya mengerti apa yang dikatakan oleh Serena. Ia pikir Serena akan meminta sebuah imbalan yang sangat besar dari nya, tapi ternyata saudara nya itu malah meminta sesuatu hal yang diluar dari nalar nya. Tapi, menurut Desta permintaan Serena sama sekali tidak buruk untuk dilakukan sehingga ia pun menyetujui permintaan tersebut.
Serena pergi meninggalkan Desta sendirian di pinggir kolam renang. Wanita itu terlihat tersenyum senang ketika melihat Desta sudah tahu diri membalas kebaikan orang lain terhadap nya dan ia berharap Desta bisa sadar tidak melakukan sesuatu kesalahan yang begitu fatal lagi seperti sebelumnya.
"Papi, terimakasih kau sudah memberikan nya kesempatan lagi. Aku harap dia benar-benar bisa berubah."
"Papi, sebenarnya tidak tega. Tapi, melihat sikap nya yang terlalu kurang ajar selama ini membuat Papi sudah kehilangan kesabaran. Dan untungnya kau bisa menenangkan hati Papi kembali, Serena."
Melihat istri dan mertua nya yang sedang mengobrol, Bram langsung saja ikut bergabung untuk duduk di depan teras rumah.
"Bram, sore nanti aku ingin mengajak mu bertemu dengan klien ku di salah satu restoran terkenal di kota ini. Apa kau bisa ikut?"
"Bisa, kira-kira jam berapa?"
"Jam 3 sore, kamu harus sudah siap."
"Aku ingin ikut, Pi!" sahut Serena dengan penuh semangat, ia merasa tidak sabar melihat pemandangan yang di luar sana sambil berjalan menggunakan kedua kaki nya itu.
"Kau baru saja sembuh, Nak. Sebaiknya di rumah saja."
"Aku sangat bosan berada di rumah."
"Saat ini terlalu bahaya jika kau keluar rumah, apa kau tidak ingat orang-orang itu masih belum berhasil di tangkap sampai saat ini. Jadi, Papi benar-benar sangat mengkhawatirkan keselamatan mu."
"Apa yang dikatakan oleh Papi mu benar, Serena. Ini semua demi kebaikan mu."
Serena pada akhirnya menyerah untuk membujuk kedua laki-laki di depan nya. Lalu ia pun memilih untuk mengundurkan diri nya saja dari perbincangan kedua laki-laki itu ketimbang ia malah menjadi obat nyamuk saja, ia lebih baik meminum obat nya yang masih belum habis dari dokter. Tapi, ketika Serena sedang meminum obat nya ia malah tiba-tiba mengingat sesuatu hal hingga membuat wanita itu terlihat seketika menjadi senang, padahal awalnya wajah Serena benar-benar cemberut karena tidak di perbolehkan ikut keluar oleh ayah dan suami nya. Tapi, sekarang Serena memiliki sebuah ide dan kedua laki-laki itu sama sekali tidak bisa menolak apa yang ia katakan nanti nya.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, Bram dan tuan Bisma tampak kebingungan melihat penampilan Serena yang begitu rapi saat ini.
"Nak, kamu ingin kemana?" tanya tuan Bisma.
"Apa Papi lupa bahwa sore ini Serena memiliki jadwal untuk kontrol kembali dengan dokter, ya?"
Bram dan tuan Bisma saling menatap satu sama lain, mereka berdua benar-benar sangat lupa dengan jadwal yang begitu penting bagi Serena hari ini. Sekarang tuan Bisma melarang Bram untuk ikut dengan nya dan ia meminta menantu nya lebih baik menemani anak nya ke rumah sakit saja. Sedangkan klien itu, ia akan menemui nya sendiri karena Serena sangat membutuhkan Bram di samping nya apa lagi anak nya itu baru saja sembuh dari lumpuh nya sehingga tuan Bisma tidak ingin anak nya melewati jadwal kontrol nya yang begitu penting itu.
"Ayo, masuklah kedalam mobil!" ajak Bram sambil membuka pintu mobil untuk istri nya, Bram benar-benar memperlakukan Serena layaknya seorang tuan putri. Apapun yang Serena inginkan, Bram selalu berusaha untuk memenuhi permintaan wanita itu dan Bram sama sekali tidak keberatan melakukan hal itu.
__ADS_1
"Mas Bram, setelah pulang dari rumah sakit. Aku ingin berhenti di restoran itu! Apakah boleh?"
"Boleh, tapi makan di rumah saja. Itu akan lebih baik."
"Yang penting bisa makan makanan dari restoran itu, kok."
"Mas, Bram! Bukankah itu ibu tiri ku?" tunjuk Serena begitu jelas melihat sosok nyonya Jesika yang sedang berada di dalam mobil bersama dengan seseorang.
"Hem, benar. Tapi, mobil nya bukan milik nya, kan?"
"Benar, tapi siapa orang yang bersama dengan nya, ya?"
Bram dan Serena sangat penasaran dengan seseorang yang ada di samping nyonya Jesika. Bahkan mereka berdua sendiri melihat orang itu malah hampir saja menyerempet seorang tukang becak yang juga berada di jalan itu. Bram dan Serena rasanya senam jantung ketika melihat paman beca itu hampir saja terjatuh.
"Aku akan berhenti sebentar," ucap Bram yang merasa sangat kasihan dengan paman becak yang kini memilih berhenti di pinggir jalan karena ia sendiri juga sangat terkejut dengan sebuah mobil yang tiba-tiba saja mendekati diri nya, padahal ia sudah melalui jalan yang benar dan ia sama sekali tidak terlalu melewati jalan tengah tapi tetap saja mobil itu hampir menabrak nya.
"Bapak, baik-baik saja?" tanya Bram.
"Iya, baik-baik saja."
"Ini untuk, Bapak."
"Uang ini untuk apa? Kenapa kau memberikan nya untuk ku?"
"Hanya ingin berbagi kepada Bapak saja. Tolong terimalah," ucap Bram yang langsung saja pergi masuk kedalam mobil nya, ia tentunya tidak bisa terlalu beelama karena Serena akan bertemu dengan dokter jam 4 sore nanti sedangkan jam sudah menunjukkan setengah 4 sore.
Kini Bram dan Serena kembali melanjutkan perjalanan mereka berdua lagi, tapi di sepanjang perjalanan Serena tiba-tiba saja kembali kepikiran tentang orang yang bersama dengan ibu nya sebelum nya. Terutama dengan tato yang di miliki oleh orang itu, terlihat sama sekali tidak asing di mata nya.
"Kenapa aku begitu kesulitan mengingat siapa yang memiliki tato itu, ya?!" gumam Serena dalam hatinya yang begitu kesal kepada diri nya sendiri.
"Sayang, kita sudah sampai. Ayo, turunlah!" tegur Bram hingga seketika menyadarkan lamunan Serena.
"Itukan orang yang memiliki tato yang ada di dalam mobil ibu sebelum nya?" gumam Serena yang semakin penasaran dengan sosok orang itu. Tapi, disamping orang itu ia sama sekali tidak melihat kebarada ibu nya.
"Mungkinkah ada beberapa orang yang sama memiliki tato itu?" Serena terus bergumam di dalam hatinya.
Sedangkan Bram terlihat begitu asik berbincang dengan seorang dokter yang sebelumnya menangani Serena operasi.
"Dok, apa kau tidak salah bicara?" tanya tuan Bisma yang sama sekali tidak mempercayai omongan dokter Davin.
"Benar, Tuan Bisma. Saya sama sekali tidak salah bicara dan Nona Serena tidak lagi harus duduk di kursi roda itu lagi."
"Sebaiknya Dokter pergi beristirahat lah saja. Mungkin dokter sedang kelelahan menangani pasien yang cukup banyak hari ini!"
Saking merasa masih tidak mempercayai omongan dokter, tuan Bisma malah berbicara ngawur hingga dokter Davin menjadi bingung mendengar ucapan nya. Bahkan Davin menatap ke arah Bram berharap menantu tuan Bisma bisa menjelaskan semuanya. Sedangkan Bram sendiri hanya mengangkat kedua bahu nya saja seolah-olah tidak tahu apa-apa, padahal Bram sendiri mengerti apa yang dikatakan oleh mertua nya itu.
Bram merasa sangat senang mendengar kabar bahwa istri nya bisa pulih kembali seperti dulu lagi. Ia sama sekali tidak sabar menantikan momen itu, terutama ia juga tidak sabar melihat senyuman bahagia istri nya saat mengetahui dirinya bisa kembali berjalan seperti dulu lagi.
"Sayang, cepatlah sadar. Aku tidak sabar mengatakan kabar bahagia ini untuk mu," gumam Bram dalam hati nya sambil memeluk punggung tangan Serena dengan begitu erat dan sesekali dirinya juga mencium dengan lembut tangan istri nya itu.
Hari sudah malam, Bram terlihat senantiasa berada di samping Serena tapi wanita itu masih belum juga sadarkan diri. Namun, ketika Bram berniat ingin pergi ke kamar mandi tiba-tiba ia melihat kedua mata Serena tampak berkedip. Bram langsung saja terdiam sebentar menatap ke arah istri nya dan memastikan bahwa apa yang ia lihat barusan tidak salah, ia bahkan tanpa sadar menahan nafas nya serta kedua matanya cukup lama tidak berkedip demi memastikan semuanya.
"Serena, bangunlah!" ucap Bram yang masih belum juga melihat Serena mengedipkan mata nya lagi, tapi setelah dirinya memegang erat kedua tangan wanita itu seketika ia merasakan tangannya di genggam oleh istri nya. Bram langsung saja tampak bersemangat menantikan istri nya bangun membuka kedua mata nya.
"Bram ..." Walaupun belum sepenuhnya sadar, tapi Serena spontan menyebutkan nama suami nya. Bram yang mendengar nya merasa sangat terharu, ia pun mengelus rambut Serena dengan lembut sambil mencium punggung tangan istri nya dengan penuh kasih sayang.
Serena kini perlahan-lahan membuka kedua kelopak mata nya. Penglihatan nya masih terlihat masih samar-samar, tapi ia sama sekali tidak ingin putus asa dan tetap mencoba membuka kedua matanya walaupun rasanya terasa begitu berat, tapi Serena sama sekali tidak ingin menyerah apa lagi ketika mendengar suara Bram yang terdengar begitu nyaring di telinga nya membuat Serena pada akhirnya sudah benar-benar kembali sadar. Melihat Bram ada di samping nya, Serena merasa sangat bahagia walaupun ia sama sekali masih belum bisa mengekspresikan senyuman nya tapi dihatinya ia bisa merasakan kebahagiaan itu.
"Mas Bram, kau baik-baik saja, kan?"
"Hem, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan mu?"
"Tubuh ku entah kenapa terasa begitu ringan sekali bahkan kedua kak—" ucap Serena terpotong, saat ia tanpa sengaja mengerakan kedua kaki nya dan ia merasa bahwa kedua kakinya benar-benar terasa begitu aneh.
Serena terus berulang kali mengerakan kedua kakinya, ia merasa apa yang terjadi pada nya saat ini terasa seperti mimpi bagi nya.
"Kedua ... kaki ku?"
"Tidak! Ini tidak mungkin! Sepertinya ini hanyalah mimpi ku saja!"
Serena terus bergumam dalam jati hati nya. Karena ia sendiri masih belum mempercayai bahwa kedua kakinya bisa digerakkan bahkan ia berpikir mungkin ia masih belum bangun dari tidur nya.Tapi, melihat Bram tersenyum menatap ke arah diri nya Serena merasa ia sama sekali tidak bermimpi dan kedua kakinya sudah benar-benar dapat digerakkan kembali seperti dulu lagi.
"Mas Bram, apa yang terjadi pada ku?"
"Sekarang kau tak perlu duduk dikursi roda lagi. Karena kau sudah bisa berjalan kembali normal lagi seperti dulu," ucap Bram dengan penuh semangat.
"Be—benarkah?"
"Hem, buktinya kau sudah bisa mengerakan kedua kaki mu, kan?"
"Ini bukan mimpi kan, Mas?"
"Tidak! Ini benar-benar nyata."
Serena langsung saja memeluk Bram sambil menangis sesegukan. Berjalan normal seperti yang lainnya tentu saja itu adalah harapan besar di hidup Serena selama ini. Apa lagi sekarang ia telah memiliki seorang suami membuat Serena sudah tidak sabar lagi menikmati kebersamaan dengan orang yang ia cintai.
Tuan Bisma yang baru saja kembali dari luar tanpa sengaja melihat pemandangan yang begitu mengharukan. Ia berharap anak dan menantu nya bisa hidup bahagia untuk selama nya, bahkan tuan Bisma tiba-tiba berharap mendapatkan cucu secepatnya dengan begitu rumah nya akan semakin ramai dengan kehadiran seorang anak kecil. Tapi, ia kembali teringat dengan keadaan Serena yang baru saja pulih dari lumpuh nya yang sudah bertahun-tahun lama nya itu, sehingga ia lebih baik membiarkan kedua orang itu menikmati kebersamaan terlebih dahulu dengan sepuasnya.
"Ehem!" Tuan Bisma langsung saja berdehem dengan cukup nyaring, lalu ia pun mendekati kedua orang itu dan membicarakan masalah kecelakaan yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu.
"Aku sudah mendapatkan rekaman CCTV-nya serta plat truk yang menabrak kalian berdua sebelumnya," jelas tuan Bisma.
"Ayah, sudah mendapatkan nya secepat itu?"
"Kau tidak perlu ikut membahas hal ini. Sebaiknya kamu lebih banyak beristirahat saja," ucap tuan Bisma yang tak ingin membuat anaknya kelelahan hanya karena memikirkan semua masalah yang terjadi. Apa lagi Serena baru saja menjalani operasi di bagian kepala nya karena telah mengalami sedikit robekan sehingga harus ada sedikit perbaikan oleh dokter.
"Kau dengar apa yang dikatakan Ayah barusan? Sebaiknya kamu tidurlah lagi, jangan terlalu banyak bergerak," sahut Bram.
Serena pun akhirnya terpaksa melakukan apa yang telah dikatakan oleh ayah dan suami nya itu. Tapi, ia sama sekali tidak ingin tidur dan tetap terjaga karena ia sendiri sudah merasa sangat bosan jika terus menerus tidur dan rasanya Serena sudah tidak sabar untuk menggunakan kedua kaki nya berjalan kembali seperti dulu lagi.
"Aku tidak mengenal siapa orang nya, hanya saja kendaraan yang di pakai oleh orang ini malah di temukan di dalam jurang. Tapi, pengemudinya sama sekali tidak di temukan berada di sekitar tempat itu," jelas tuan Bisma yang baru saja mendapatkan laporan dari salah satu pengawalnya beberapa waktu yang lalu.
"Sebelumnya, aku telah melihat seorang laki-laki ingin menikam Mas Bram dari arah belakang saat Mas Bram asik membeli bunga. Dan semua yang terjadi berawal dari situ!" sahut Serena yang masih saja teringat dengan jelas kejadian itu.
"Orang itu bukanlah pelaku yang sebenarnya. Dia hanya suruhan orang saja."
"Apa Mas Bram ingat sosok gadis yang ada di restoran sebelumnya?" tanya Serena.
__ADS_1
"Memang nya kenapa? Aku kan tidak melihat wajah nya."
"Sesudah kecelakaan itu, aku melihat sendiri dia tersenyum senang menatap ke arah ku. Dan dimana ponsel ku?"
"Ini."
"Kau lihatlah foto gadis itu di ponsel ku! Siapa tahu kau mengenalnya."
Bram pun langsung saja membuka galeri yang ada di ponsel Serena dan melihat apa yang dikatakan oleh istri nya barusan. Setelah melihat foto itu, Bram seketika terdiam lalu menatap ke arah mertua nya yang saat ini begitu penasaran kenapa menantu nya menatap nya seperti itu kepada nya.
"Nak Bram, kamu tunggulah di ruangan ku lebih dulu. Aku akan pergi meeting sebentar," ucap tuan Bisma.
"Baik, Ayah."
Bram pun duduk di sofa yang sudah disediakan untuk tamu. Ia melihat di sekitar sekeliling ruang kerja mertua nya yang tampak begitu mewah, ia pun seketika kembali teringat dengan masa lalu nya tapi Bram sama sekali tidak menginginkan kehidupan yang seperti dulu karena ia rasa kehidupan yang dulu benar-benar sangat menyakitkan untuk dirinya. Namun, saat Bram begitu asik melamun tiba-tiba saja ia mendengar sebuah ketukan pintu dari luar, ia pun segera membuka pintu nya. Tapi, beberapa saat kemudian laki-laki itu terdiam kaku di tempat.
"Mas Bram?!" Seorang gadis cantik berdiri di depan Bram dengan raut wajah yang terkejut dan sekaligus berubah menjadi dingin.
"Apa yang kau lakukan kemari?!" tanya Bram dengan dingin.
"Aku menjadi sekertaris di perusahaan ini. Lalu, Mas Bram?"
"Kau tidak perlu tahu!"
Bram melihat raut wajah mantan istri nya saat melihat kehadiran nya benar-benar terlihat biasa-biasa saja. Bram yakin, mantan istri nya itu sudah mengetahui dirinya telah keluar dari penjara. Sifat istri nya yang selalu ingin tahu, jelas membuat Bram tidak perlu dipertanyakan lagi sehingga Bram juga tidak perlu bingung lagi akan hal itu.
"Mas Bram, bagaimana kabar mu sekarang? Aku sangat merindukan mu!" ucap Melisa yang berniat ingin memeluk laki-laki itu. Tapi, sayangnya, Bram dengan cepat menghindar bahkan laki-laki itu memperlihatkan sikap tidak suka terhadap mantan istri nya itu secara terang-terangan.
"Kau pikir aku bodoh? Tentu saja tidak! Melisa!" gumam Bram dalam hati nya, sikap Melisa yang terlihat ingin mendekati nya membuat Bram curiga bahwa mantan istri nya itu memiliki sebuah tujuan lain lagi terhadap nya.
"Bram, ak—" ucap Melisa terpotong saat tidak sengaja melihat tuan Bisma datang menghampiri mereka berdua.
"Nak Bram, apa kau mengenal nya?" tanya tuan Bisma.
"Hem, benar, Ayah."
"Ayah?!"
Melisa terlihat kebingungan saat mendengar Bram memanggil bos nya dengan sebutan 'ayah'. Ia pun semakin penasaran hubungan yang seperti apa dimiliki antar bos nya dengan mantan suami nya itu.
Tuan Bisma berniat menjelaskan nya kepada Melisa. Tapi, Bram malah menghentikan nya dan malah mengajak mertua nya untuk segera masuk kedalam, sedangkan Melisa tentunya tidak bisa masuk dengan semaunya terkecuali atas permintaan atasan nya sehingga rasa penasaran nya sama sekali tidak dapat ia temukan jawabannya.
"Nak, apakah ada sesuatu?"
"Wanita itu terlalu penasaran, aku tidak terlalu menyukai nya!"
"Mantan istri mu, aku tahu sosok wanita itu seperti apa?!"
"Ayah, tahu tentang dia dan aku?"
"Tentu saja!" jawab tuan Bisma dengan begitu santai, saat melihat menantu dan sekertaris nya terlihat begitu serius ketika berbincang tuan Bisma sama sekali tidak terkejut akan hal itu karena ia sendiri tentunya telah menyelidiki semuanya sebelum Bram telah sah menjadi suami anak nya.
"Kenapa Ayah memberikan nya pekerjaan? Bukankah Ayah tahu juga bagaimana hubungan kami sebelum nya seperti?!"
"Wanita itu datang melamar di perusahaan ini. Dia pikir aku tidak tahu apa-apa tentang nya, bahkan ia jelas memiliki cukup banyak uang tapi malah bekerja sebagai sekertaris ku dan itu sudah jelas bahwa wanita itu memiliki sebuah tujuan, bukan hanya kepada mu melainkan kepada ku juga!" jelas tuan Bisma.
"Apa Ayah memiliki suatu rencana?!" tanya Bram.
"Ten—" ucap tuan Bisma terpotong saat melihat menantu nya memberikan sebuah kode untuk segera menutup mulutnya supaya berhenti berbicara.
"Ada apa?"
Bram masih belum menjawab pertanyaan mertua nya. Ia malah menuju ke arah tanaman bunga yang terlihat begitu mencurigakan di mata nya, sedangkan tuan Bisma sendiri semakin penasaran apa yang sedang dilakukan oleh menantu nya saat ini. Dan tiba-tiba, tuan Bisma dikejutkan dengan sebuah benda yang di perlihatkan oleh Bram untuk nya, benda tersebut jelas tuan Bisma tahu.
"Penyadap suara!?" gumam tuan Bisma yang tak percaya akan hal itu.
"Sialan! Siapa yang melakukan hal ini?!" ucap tuan Bisma dengan kesal.
"Aku rasa alat ini telah rusak di makan tikus!" jelas Bisma memperlihatkan kerusakan alat tersebut kepada ayah mertua nya.
"Benarkah?!" Tuan Bisma terlihat bersemangat saat mendengar ucapan menantu nya itu untuk memastikan nya, ia sampai meminta Bram memberikan alat itu kepada nya dan ia ingin melihat sendiri apakah alat itu benar-benar rusak atau tidak karena jika alat itu telah bekerja dengan sangat baik selama ini mungkin semua rahasia yang telah ia bicarakan kepada kepercayaan nya jelas sudah diketahui para musuh nya.
"Aku ingin tahu sejak kapan alat ini berada disini?!"
"Ayah, bisa mengecek nya di rekaman CCTV saja dan melihat siapa yang telah memasang alat ini!"
"Kau benar, Nak. Aku akan mengecek nya dan kau juga harus ikut melihat nya!" ajak Tuan Bisma.
Bram yang juga penasaran, tentunya dengan cepat mengikuti apa yang diperintahkan oleh mertua nya itu. Kedua orang itu pun langsung saja membuka laptop untuk melihat hasil rekaman CCTV. Dan kedua laki-laki itu tidak bisa membayangkan bahwa yang melakukan hal itu adalah Melisa mantan istri Bram sendiri. Rupanya wanita itu benar-benar sudah menjalankan rencana nya lebih dulu dari mereka tapi untung mereka dengan cepat menyadari hal itu semua.
"Untung saja hari kemarin aku tidak ada di kantor," jelas tuan Bisma merasa lega karena alat itu telah rusak saat tidak berhasil mendapatkan informasi dari nya.
"Ayah Martua, setelah ini apa yang ingin Ayah lakukan kepada wanita itu?"
"Tentu saja Ayah akan memberikan nya sedikit pelajaran!" jelas tuan Bisma.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, terlihat Serena sangat menantikan kehadiran suami nya pulang dari kantor. Dari tadi gadis itu tidak sabar suami nya tiba di rumah karena saat ini dirinya benar-benar merasa sangat kesepian. Sedangkan Desta bersama dengan kekasihnya terus bermesraan di ruang tamu, hingga Serena yang melihat nya merasa sangat jijik. Apa lagi ibu tiri nya sama sekali tidak menegur adik nya itu dan hanya acuh saja, padahal apa yang dilakukan oleh Desta bersama kekasih nya itu benar-benar sangat tidak pantas apa lagi di tempat terbuka seperti itu akan sangat memalukan.
"Sayang, kenapa kau tidak mengajaknya untuk berkumpul bersama dengan kita disini?!" tanya Marvel.
"Untuk apa? Aku rasa itu tidak penting!"
"Baiklah, bagaimana jika kamu membutuhkan ku minuman terlebih dahulu. Rasanya aku sangat ingin minum yang segar-segar dan manis."
"Emh, memangnya Sayang ingin minum apa?"
"Jus jeruk saja, lebih praktis."
"Baiklah, aku akan membuat nya terlebih dahulu," jelas Desta yang langsung saja pergi ke dapur.
Sedangkan Marvel terlihat tersenyum licik ke arah Serena. Wanita itu yang menyadari bahwa Marvel ingin menghampiri dirinya, seketika langsung saja pergi menuju ke kamar nya namun sayangnya Marvel dengan cepat mengejar wanita itu.
"Kau ingin kemana? Ingin kabur?"
"Lepaskan!" ucap Serena dengan kesal tapi Marvel malah tertawa mengejek.
__ADS_1