
"Marvel, aku rasa kamu tidak perlu pulang ke rumah. Sebaiknya kamu menginap lah di rumah ku saja. Kamu mau, kan?" Desta berusaha untuk menahan kekasih nya untuk tidak pulang ke rumah sedangkan Marvel terus memainkan peran nya sebagai seorang laki-laki yang baik di mata kedua mertua nya, termasuk mertua laki-laki yang jelas terlihat tidak menyukai dirinya.
Tuan Bisma menjadi kesal mendengar anak nya sana sekali tidak menghargai dirinya sebagai seorang ayah. Seharusnya Desta berbicara terlebih dahulu kepada nya namun gadis itu malah mengambil sebuah keputusan tanpa campur tangan dari nya. Dan lebih kesal lagi, tuan Bisma kepada istri nya Jesika seharusnya istri nya memberikan teguran kepada anaknya tapi istri justru mendukung apa yang anaknya lakukan.
"Desta! Segeralah masuk kedalam kamar mu!" ucap tuan Bisma dengan dingin. Tapi, Desta sama sekali tidak menghiraukan perkataan ayah nya. Gadis itu terlihat seolah-olah tidak takut lagi kepada ayah nya tidak seperti sebelumnya, Desta tidak akan bisa berkutik jika dirinya hanya berbicara beberapa kata saja namun sekarang Desta benar-benar terlihat berbeda.
Tuan Bisma mengepalkan kedua tangannya, ia tak menyangka anaknya sudah mulai menjadi anak pembangkang. Bahkan ia sudah tidak bisa menahan diri lagi hingga ia sampai memukul meja tamu dengan sekuat mungkin.
Semua orang yang berada di ruang tamu sangat terkejut dan sekaligus merasa ketakutan. Mereka semua terlihat sama sekali tidak berkutik sedikitpun.
"Kamu! Pergilah!" usir tuan Bisma kepada Marvel yang saat ini begitu menyukai pertunjukan yang begitu menarik di mata nya.
"Sayang, seperti nya aku harus pulang padahal di luar sana sedang hujan deras sedangkan aku hanya memakai motor saja!" ucap Marvel, ia pun memperlihatkan wajah sedih nya kepada Desta dengan begitu gadis itu akan berusaha menahan dirinya.
"Kau tenang saja! Suami ku memiiki jas hujan, kau bisa memakainya sekalian saja untuk mu!" sahut Serena, ia benar-benar muak dengan kekasih saudara nya itu yang berusaha untuk mencari perhatian.
"Sebentar! Aku akan mengambil nya!" ucap Bram, laki-laki itu dengan cepat pergi ke kamar nya lalu memberikan jas hujan itu untuk Marvel dan ia tidak menyangka istri nya begitu pandai membuat Marvel tidak dapat mencari alasan lagi untuk tidak pulang ke rumah.
"Kedua orang ini benar-benar membuat ku kesal! Tunggu saja, permainan masih belum di mulai!" gumam Marvel dalam hati nya. Ia pun dengan sangat terpaksa mengambil jas hujan berada di tangan Bram.
"Biarkan aku mengantarkan mu!" ucap Bram karena ia sangat ingin mengatakan sesuatu pada laki-laki itu saat ini.
Setelah berpamitan pulang, Marvel dan Bram pergi keluar dari rumah. Namun, Bram dengan cepat mencekik Marvel hingga laki-laki itu tak berdaya merasakan rasa sakit di lehernya. Tapi, sayangnya Bram tetap berusaha untuk menahan diri sehingga ia segera melepaskan tangannya dari leher Marvel, sehingga laki-laki itu bisa bernafas dengan lega sedangkan Marvel sama sekali tidak menyangka Bram melakukan serangan kepada nya secara mendadak.
"Ku peringatkan kau untuk tidak datang kemari lagi!" ucap Bram dengan dingin tapi Marvel malah tersenyum mengejek.
"Kau pikir aku mau menuruti perkataan bodoh mu itu?!" Marvel terlihat menyepelekan apa yang dikatakan oleh Bram.
"Aku akan mem—"
"Mas Bram! Segeralah masuk!" ucap Serena yang tiba-tiba saja muncul di belakang nya.
Melihat Serena berada di depan pintu membuat Bram membatalkan niatnya untuk tidak mengatakan sesuatu hal yang mengerikan kepada Marvel.
"Ayo, segeralah masuk!" ajak Serena, ia tahu sendiri apa yang telah dilakukan oleh kedua laki-laki itu barusan tapi ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
Di ruang tamu, terlihat Desta masih terlihat begitu kesal terhadap ayah nya yang malah menyuruh kekasih nya untuk pulang. Padahal ia sangat berharap kekasih nya itu menginap malam ini dengan begitu ayah nya bisa perlahan-lahan saling mengenal satu sama lain.
"Papi, kenapa malah menyuruh nya pergi? Apakah Papi tidak menyukai nya?!"
"Kau benar, Desta! Papi, sama sekali tidak menyukai laki-laki itu sebaiknya segera putus hubungan dengan nya!"
Desta mendengar nya semakin membenci ayah nya. Tapi, tatapan nya malah tertuju ke arah Serena karena ia rasa kakak tiri nya itulah penyebab ayah nya sampai seperti itu kepada nya. Padahal sebelum nya ayah nya sama sekali tidak melarang dirinya untuk berpacaran dengan siapapun namun sekarang ayah nya malah terang-terangan bersikap tidak suka kepada kekasih nya itu.
"Pi, kenapa berkata seperti itu kepada, Desta? Kenapa Papi sama sekali tidak menghargai pilihan nya? Bukankah Serena menikah dengan laki-laki miskin ini, Papi sama sekali tidak mempermasalahkan nya?!"
"Diam!" ucap tuan Bisma dengan dingin.
"Pi, aku rasa perkataan Mami memang benar!" sahut Desta yang kini semakin menjadi pembangkang.
"Jika aku yang memilih nya, berarti dia adalah sosok suami yang sangat pantas untuk anak ku. Baik dia miskin ataupun kaya, Papi sama sekali tidak mempermasalahkan nya. Hal yang utama adalah dia sosok laki-laki yang menyayangi anak ku dan tak akan berkhianat!" jelas tuan Bisma dengan tegas.
Desta dan ibu Jesika benar-benar murka melihat Serena dan suami nya. Mereka berdua berpikir sepasang suami istri itu jelas merasa sangat bahagia saat ini.
"Tunggu saja! Rumah tangga kalian berdua akan segera aku hancurkan!" gumam Desta dalam hati nya dan ia akan membuktikan bahwa Bram sama sekali tidak seperti yang di katakan oleh ayah nya barusan.
"Nak Bram, besok kau ikutlah aku ke kantor."
__ADS_1
"Baik, Ayah."
Serena melihat ayah nya begitu mempercayai suami nya merasa sangat bahagia. Ia berharap Bram juga tidak akan mengecewakan ia dan ayah nya yang selama ini selalu percaya kepada nya.
***
Pagi hari, Bram terlihat sudah begitu rapi memakai semua pakaian nya untuk bersiap-siap pergi ke kantor bersama dengan tuan Bisma. Sedangkan Serena masih saja tidur nyenyak di atas kasur namun Bram sama sekali tidak mempermasalahkan nya, justru laki-laki itu malah mencium kening istri nya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Tidurlah yang nyenyak Istri ku!" gumam Bram dalam hati nya. Lalu ia pun menemui ayah mertua nya yang saat ini sedang berada di meja makan untuk menikmati serapan pagi.
"Nak Bram, segeralah serapan bersama ku!" ajak tuan Bisma.
Bram langsung saja duduk di kursi untuk menikmati serapan pagi yang sudah di hidangkan di atas meja. Tapi, laki-laki itu tidak lupa untuk menyiapkan serapan pagi untuk istri nya karena ia tahu sikap para pembantu di rumah itu sama sekali tidak pernah menghargai istri nya.
"Nak Bram, itu untuk siapa?"
"Untuk Serena, Ayah."
"Gadis itu memang dari kecil sangat manja dan Ayah bersyukur jika kamu memperlakukan nya dengan sangat baik."
Bram hanya tersenyum saja mendengar ucapan ayah mertua nya, lalu ia pun lansung saja mengantarkan makan dan minum untuk istri nya di kamar. Tapi, ia malah melihat istri nya duduk sambil memainkan ponsel nya.
"Sudah bangun?"
"Hem, baru saja."
"Kalau begitu segeralah mandi. Aku akan membopong mu kedalam kamar mandi."
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri, kok. Lagian Mas sebentar lagi ikut ayah pergi ke kantor."
"Mas Bram, ini terlalu banyak. Kenapa Mas Brama membelinya sebanyak ini?"
"Terimakasih. Mas Bram benar-benar sangat perduli terhadap ku," ucap Serena yang merasa sangat terharu dengan apa yang telah suami nya lakukan kepada nya.
Sekarang Serena benar-benar menemukan kebahagiaan nya seperti dulu lagi. Ia tak menyangka dirinya mendapatkan sosok laki-laki yang begitu mengerti keadaan nya dan mau menerima apanya dirinya yang cacat. Ia berharap Brama akan terus bersikap tulus kepada nya dengan begitu ia tidak merasa dirinya dikhianati.
"Sayang, kenapa kau melamun?" tanya Bram yang sebelumnya begitu asik berbelanja tapi ketika dirinya berbalik melihat istri nya, ia malah melihat Serena seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak apa-apa, Mas. Apa tidak sebaiknya kita berdua makan siang saja? Aku sudah lapar sekarang."
"Baiklah, aku akan membayar beberapa barang ini terlebih dahulu. Kau tunggulah disini saja."
"Hem, baik, Mas."
Serena pun menunggu Brama di kursi roda nya. Lalu kedua mata nya melihat ke arah di sekitar sekeliling nya dan entah kenapa ia tiba-tiba saja merasa sangat minder saat melihat orang-orang bisa berjalan dengan kedua kakinya dengan begitu normal. Rasanya Serena benar-benar merindukan hal itu semua, ia berharap dirinya bisa sembuh dan berjalan mengunakan kedua kaki nya.
"Kenapa aku harus hidup seperti ini?" Pikiran Serena pun seketika menjadi putus asa hingga kedua bola mata wanita itu berkaca-kacw ingin menangis.
"Padahal aku sama sekali tidak melakukan suatu kejahatan yang begitu fatal. Aku hanya ingin kedua kaki ku bisa berjalan seperti dulu lagi dan bisa hidup bersama dengan laki-laki itu!" gumam Serena berusaha untuk menahan air matanya, Bram yang sudah selesai membayar barang belanjaan nya segera menghampiri Serena sedangkan wanita itu berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis. Ia takut jika Bram melihat nya dan laki-laki itu jelas merasa sangat khawatir serta selalu bertanya kenapa dirinya bisa sampai seperti. Serena tak ingin membuat semuanya menjadi rumit sehingga sekarang ia telah berhasil memenangkan hatinya yang terluka.
"Mas Bram."
"Hem, ada apa?"
"Apa Mas Bram tidak malu bersama dengan ku?"
Bram seketika berhenti mendorong kursi roda istri nya lalu ia mengatakan beberapa kalimat yang membuat hati Serena kembali tenang. Padahal wanita itu sebelum nya merasa sangat putus asa dengan keadaan nya tapi ketika Brama mengatakan kalimat yang terkena menyakinkan diri nya sekarang Serena sama sekali tidak takut lagi jika Bram hanya menfaatkan dirinya.
__ADS_1
"Untuk apa aku membawa mu kemari jika aku malu dengan mu? Kau adalah Istri ku dan aku menerima mu dengan tulus dan penuh cinta. Seandainya aku tidak mencintai mu, aku akan sangat mudah pergi meninggalkan mu. Tapi, sampai saat ini kita berdua tetap bersama dan aku berharap kau tidak merasa diri ku akan meninggalkan mu. Yakinlah, aku tetap milik mu untuk selamanya."
"Sekarang kita berdua tidak perlu membahas hal itu. Karena aku juga sudah benar-benar lapar sekarang."
Serena yang mendengar ucapan suami nya tersenyum senang, ia tak menyangka suami nya malah dengan begitu cepat menenangkan hati nya.
"Terimakasih, Mas Bram."
Kedua orang itu pun langsung saja pergi ke restoran yang ada di mall. Setelah tiba disana, Bram langsung memesan makanan kesukaan Serena dan ia juga tidak lupa meminta jus nya tidak terlalu manis karena Serena sendiri sama sekali tidak suka minuman yang manis-manis.
"Sementara menunggu makanan nya datang. Cobalah kau lihat ini, apa kau menyukai nya?"
Bram pun memperlihatkan sebuah kalung yang sebelumnya ia beli secara diam-diam saat Serena termenung. Lalu dirinya memberikan kalung tersebut yang ia rasa sangat cocok untuk di pakai oleh Serena.
"Kapan Mas Bram membeli nya?"
"Kau terlalu asik melamun sampai tidak sadar Suami mu mendatangi toko sebelah," goda Bram hingga Serena sendiri tersenyum malu mendengar nya.
"Ini untuk ku?"
"Hem, maaf harganya tidak seberapa. Aku berjanji akan membeli nya lebih mahal dari ini lagi setelah aku mendapatkan kembali semua yang telah hilang selama ini. Sekarang pakai ini saja lebih dulu." Bram langsung saja memakaikan kalung tersebut ke leher Serena yang terlihat begitu putih bersih itu. Serena menatap kalung yang di berikan oleh Bram untuk dirinya dan ia merasa kalung yang diberikan oleh suami nya itu benar-benar sangat indah. Serena tentu saja sangat menyukai nya dan menjadikan barang tersebut sangat berharga di hidupnya.
"Terimakasih, Mas. Ini barang yang paling berharga untuk ku! Tapi, aku rasa ini tidak adil."
"Kenapa?"
"Aku harus membelikan sesuatu untuk mu, Mas. Setelah ini antarkan aku ke suatu tempat."
"Padahal aku sama sekali tidak mengharapkan hal itu."
"Aku tidak ingin menerima penolakan mu, Mas. Lagian, aku sendiri sama sekali tidak menolak pemberian, Mas, kok."
"Baiklah, aku akan menuruti permintaan, Istri ku."
Saat Serena dan Bram begitu asik berbincang, pelayan pun sudah datang lalu menghidangkan makanan yang sebelumnya sudah di pesan. Melihat makanan yang ada di atas meja, Serena seketika tersenyum karena ia merasa semua makanan yang di pesan itu semuanya adalah makanan kesukaan nya. Apa lagi ketika merasakan rasa jus nya sesuai yang diinginkan membuat Serena semakin merasa Bram benar-benar memperhatikan dirinya dengan sangat baik.
"Mas, kau benar-benar memesan makanan ini semua?"
"Tentu saja, kenapa?"
"Lalu makanan Mas sendiri, dimana?"
"Apa yang kau suka, aku juga menyukai nya. Jadi, aku tidak perlu memesan makanan lain."
Serena pun langsung saja mengambil beberapa makanan lalu menyimpan nya kedalam piring Bram. Dan entah kenapa ketika melakukan hal itu, Serena begitu bahagia padahal yang ia lakukan sangatlah sederhana.
"Ini sudah banyak."
"Mas Bram, memang harus makan lebih banyak. Jadi, tidak perlu protes."
"Istri ku, juga harus makan banyak."
Bram juga tidak lupa mengambil beberapa makanan lalu menyimpan nya di dalam piring Serena. Serta ia tidak lupa menyuapi istri nya dengan penuh kasih sayang. Begitu juga dengan Serena sendiri, ia juga menyuapi Bram dengan tulus. Namun, kedua orang itu sama sekali tidak menyadari bahwa ada sosok seseorang yang diam-diam memperhatikan kedua orang itu.
"Aku harus menghancurkan hubungan mereka berdua!" gumam orang itu yang sama sekali tidak suka melihat kehidupan rumah tangga Serena dan Bram yang begitu bahagia.
"Tunggu saja permainan nya, aku jelas tidak akan membuat kalian berdua bersama lagi!" gumam orang itu. Lalu ia pun tersenyum begitu sinis dan dalam hatinya ia sudah menyimpan rencana jahatnya.
__ADS_1
"Bram, kenapa wanita itu terus menatap kita berdua dengan sinis seperti itu?!" tanya Serena yang merasa sangat risih di tatap seperti itu.
"Wanita yang mana?" tanya Bram sambil menoleh ke arah belakang nya namun ia sama sekali tidak melihat keberadaan orang yang dikatakan oleh istri nya itu.