
Selama hamil, Serena selalu merasa tubuh nya seolah-olah bukan seperti seorang wanita yang hamil. Ia selalu merasa tubuh nya sehat dan baik-baik saja, padahal biasanya kebanyakan para ibu hamil sering mengeluh tak enak badan bahkan seluruh tubuh nya terasa lemas karena tidak nafsu makan. Namun, tidak dengan Serena sendiri, justru wanita itu memakan semua makanan yang ia rasa sangat disayangkan jika ia sampai melewati makanan yang disiapkan oleh para pembantu di rumah itu. Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Bram, laki-laki itu berulangkali merasa mual hingga sampai muntah ketika mencium aroma makanan. Ia bingung kenapa dirinya harus mengalami fase ngidam, padahal ia seorang laki-laki dan bukanlah seorang ibu hamil namun ia harus merasakan seperti apa yang di alami oleh seorang ibu hamil saat ini.
"Mas Bram, kau ingin makan apa?" tanya Serena cukup prihatin melihat suami nya lemas tidak berdaya di atas kasur, pagi-pagi suami nya selalu muntah hebat sehingga setelah itu suami nya hanya mampu berbaring di atas kasur.
"Aku tidak ingin makan apa-apa saat ini."
"Hari kemarin Mas Bram hanya makan sedikit saja dan hari ini Mas Bram sama sekali tidak mau makan. Nanti keadaan Mas Bram bisa semakin drop. Apa tidak sebaiknya aku memanggil dokter kemari saja untuk memasangkan infus di tangan, Mas Bram?"
"Harukah?"
"Hem, Mas Bram benar-benar membuat ku khawatir saja."
"Baiklah, lakukan saja," ucap Bram dengan pasrah, ketimbang dirinya membuat istri nya khawatir hanya karena dirinya tidak makan, ia pun setuju dengan usulan istri nya.
Sekarang Serena dengan segera menelpon dokter untuk segera datang ke rumah. Setelah menelpon, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar sana Serena pun segera membuka nya yang ternyata itu adalah ayah nya sendiri.
"Bagaimana keadaan, Bram?"
"Dia sama sekali tidak mau makan sekarang, Ayah. Dan barusan aku menelpon dokter untuk kemari saja."
"Baik nya memang begitu, ini cobalah bujuk dia untuk memakan sedikit bubur ini," ucap tuan Bisma yang baru saja membuat bubur ayam buatan nya sendiri untuk menantu nya itu. Ia berharap setidaknya Bram mau makan beberapa sendok untuk mengisi perutnya yang kosong. Bahkan minum air saja Bram berulang kali menolaknya, tuan Bisma takut jika menantunya mengalami dehidrasi sehingga sampai masuk ke rumah sakit.
"Mas Bram, makanlah bubur ini. Ayah sudah membuatkan untuk mu. Makanlah sedikit saja," ucap Serena mencoba untuk membujuk suami nya.
Bram perlahan-lahan membuka mata nya dan melihat sebuah mangkuk yang berisikan bubur ayam. Entah kenapa ketika melihat bubur ayam itu, Bram malah tiba-tiba duduk bersandar lalu perlahan-lahan membuka mulutnya meminta istri nya untuk menyuapi nya.
Saat sendok pertama, Bram langsung saja meminta Serena memberikan mangkuk bubur ayam itu dari istri nya. Karena ia akan memakannya sendiri tanpa di suapi, Serena yang melihat suami nya mau memakan bubur itu merasa sangat senang dan ia bersyukur sekarang suami akhirnya mau membuka mulut nya untuk makan.
"Apakah seenak itu?" tanya Serena saat melihat suami nya begitu lahap memakan bubur ayam tersebut, bahkan bubur ayam nya sudah hampir habis.
__ADS_1
"Sisa nya masih ada di dapur?" tanya Bram dan Serena menganggukan kepala nya dengan pelan. Lalu tiba-tiba ia kejutkan dengan Bram seketika berdiri dan turun dari ranjang sambil membawa mangkuk bubur itu keluar dari kamar.
"Apakah dia sudah sehat? Bukankah barusan mas Bram terlihat sama sekali tidak berdaya untuk bangkit berdiri? Lalu barusan yang ku lihat apa?" gumam Serena bertanya-tanya dengan kebingungan.
"Mas Bram!" panggil Serena dari dalam kamar lalu langsung pergi keluar menyusul suami nya yang saat ini berada di dapur. Tapi, baru saja ingin memanggil kembali suami nya tiba-tiba saja ia melihat Desta, Juan dan ayah nya sedang menatap ke arah dirinya. Serena langsung saja menghampiri ketiga orang itu karena ia tahu sendiri apa yang sedang dipikirkan mereka bertiga saat ini sudah jelas ia tahu.
"Lalu apa guna nya dokter kemari, Serena?" tanya Desta.
"Sebaiknya aku membatalkan nya saja," ucap Serena berniat pergi ke kamar untuk mengambil ponsel tapi sayangnya ia malah melihat pintu terbuka dari luar dan ternyata itu adalah salah satu pengawal yang mengantarkan dokter itu masuk kedalam rumah.
"Terlambat!" sahut tuan Bisma.
"Selamat pagi tuan Bisma, bagaimana kabar Anda?" tanya dokter Reno.
"Baik, silahkan duduklah."
"Saya akan mengobati menantu Anda terlebih dahulu, Tuan. Takutnya keadaan nya semakin drop," ucap dokter Reno yang sebelumnya sangat terburu-buru untuk datang menemui calon pasien nya.
"Kenapa, Tuan? Apakah sudah ada dokter lain? Maaf kalau saya sudah datang terlambat."
"Bukan, sebaiknya kau lihat ke arah dapur sana!" tunjuk tuan Bisma yang sedang memperlihatkan Bram menikmati bubur ayam yang ia buat sebelum nya.
"Nona Serena, apakah Anda sedang bercanda kepada saya? Suami Anda terlihat baik-baik saja, bukankah Anda sebelum nya mengatakan bahwa suami Anda sedang dalam keadaan lemah?" tanya dokter Reno kebingungan melihat suami Serena baik-baik.
"Dok, sebenarnya saya juga bingung bagaimana saya menjelaskan nya?!"
Dokter Reno pun juga tidak dapat berkata-kata, ia pun berniat untuk kembali ke rumah sakit saja karena saat ini banyak pasien yang sedang menantikan diri nya. Tapi, ketika ia ingin berpamitan tiba-tiba saja Bram menghentikan nya lalu menghampiri nya.
"Ada apa Tuan Bram?"
__ADS_1
"Kenapa ingin pulang, Dok? Bukankah kau kemari ingin memasangkan infus untuk ku?" tanya Bram hingga semua orang langsung menatap aneh ke arah diri nya.
"Saya rasa tidak perlu, Anda terlihat baik-baik saja."
"Itu hanya penglihatan dokter saja, sebenarnya saya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sekarang pasanglah infus ke tangan ku sekarang juga."
"Mas Bram, kenapa kau ingin melakukan nya?"
"Karena aku membutuhkan nya," ucap Bram dengan singkat.
Dokter Reno sudah merasa sangat pusing, ia lebih baik melakukan apa yang dikatakan oleh Bram ketimbang masalah nya semakin diperumit. Bram pun duduk dengan santai di sofa, sedangkan dokter Reno terlihat sibuk mengurus Bram yang terlihat baik-baik saja.
"Mas Bram, apa kau yakin mau memasang infus ini?"
"Tentu saja, Sayang. Aku tidak ingin sakit-sakitan disaat kau sedang hamil, jika aku sakit siapa yang akan mengurus mu? Jadi, lebih baik seperti, kan?!"
"Baiklah-baiklah, lakukan saja sesuka hati mu."
Serena pun pada akhirnya menyerah, ia lebih baik duduk saja melihat semua yang terjadi di depan mata nya.
"Dia benar-benar suami yang sangat konyol!" gumam Serena sambil menghela nafas dengan sabar.
Setelah melihat Bram selesai di infus, dokter Bram pun pamit pergi dan Serena tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada dokter Reno karena sudah sabar menghadapi suami nya yang bertingkah konyol itu.
"Nak Bram, aku ingin bertanya sesuatu pada mu," ucap tuan Bisma dengan raut wajah yang serius.
"Baiklah, aku akan mendengarkan apa yang ingin Ayah tanyakan pada ku?"
"Tapi sebelum nya kau harus jujur pada ku."
__ADS_1
"Selama ini aku tidak pernah berbohong kepada Ayah Mertua. Jadi, percayalah aku akan tetap jujur karena aku sendiri sama sekali tidak suka dengan kebohongan."