
"Ayah Mertua, ide mu benar-benar membuat ku kagum!" ucap Bram dengan jujur, ia tak menyangka mertua nya telah mempersiapkan nya dengan begitu matang untuk menghadapi para musuh disaat keadaan yang begitu mendesak.
"Kita tidak boleh senang dulu, Bram! Para musuh masih belum di bantai habis dan masih banyak yang tersisa saat ini. Dan kau tidak boleh lengah karena di antara mereka jelas ada yang bisa diam-diam mencari kesempatan untuk menyerang kita!" peringat tuan Bisma dan Bram pun tentunya dengan cepat kembali fokus.
"Ayah Mertua, sepertinya mereka sedang bersembunyi!" ucap Bram, saat ini ia sudah tidak melihat keberadaan Candra, Melisa serta Marsel yang sebelumnya berdiri di dekat mobil.
"Inilah yang aku khawatirkan, Bram!" ucap tuan Bisma sambil memberikan kode kepada para pengawal nya supaya berwaspada.
Bram mencoba melihat ke arah lain, tapi ia sama sekali tidak melihat keberadaan ketiga orang itu. Ia begitu penasaran kemana arah ketiga orang itu bersembunyi saat ini.
"Bram! Kau ingin kemana?"
"Aku akan mencari ketiga orang itu terlebih dahulu."
__ADS_1
"Tunggu! Ambilah ini!"
Tuan Bisma langsung saja memberikan sebuah senjata yang dapat di gunakan oleh menantu nya di saat keadaan mendesak nantinya. Bram yang melihat senjata kecil yang diberikan oleh mertua nya langsung saja menyimpan di dalam kantong jaket nya dan ia juga tidak lupa mengucapkan terimakasih karena sudah perduli kepada nya. Sedangkan tuan Bisma hanya tersenyum saja, ia berharap menantunya bisa melindungi diri dari orang-orang yang ingin melukai nya. Terutama ia tidak ingin melihat anaknya bersedih karena telah kehilangan orang yang di di cintai maka dari situlah ia sangat mengharapkan Bram kembali dengan keadaan baik-baik saja.
Bram sudah melangkah cukup jauh memasuki hutan, tapi ia sama sekali belum menemukan keberadaan ketiga orang itu. Namun, ketika Bram ingin memutuskan untuk kembali, tanpa sengaja ia mendengar sebuah ranting patah seolah-olah karena diinjak oleh seseorang.
"Keluarlah!" ucap Bram sambil melihat disekitar sekelilingnya, tapi ia hanya mendengar suara angin saja serta melihat pepohonan bergerak karena angin ribut yang cukup kencang.
"Kalian bertiga tidak perlu bersembunyi! Hadapi saja aku!"
"Ka—kau hampir membuat ku mati jatungan!" ucap Bram sambil mengelus dada nya yang masih berdegup dengan cepat. Sambil bibir nya juga terlihat sedikit pucat saat ini dan Bram masih benar-benar tidak menyangka akan melihat kehadiran istri nya.
"Mas Bram! Kenapa kau pergi sendirian disini?"
__ADS_1
"Hei! Seharusnya aku yang bertanya kepada mu, kenapa kau berada disini sendirian? Bukankah seharusnya kau berada di rumah sakit saat ini?"
"Aku sama sekali tidak tenang jika membiarkan kalian berdua papi ku pergi berduaan saja. Maka, dari situlah aku lebih pergi menyusul saja."
"Justru kehadiran mu disini yang akan membuat kami tidak tenang, Serena! Disini terlalu berbahaya untuk mu! Sekarang kau kembalilah, aku akan meminta beberapa pengawal untuk mengantarkan mu pulang!" Bram langsung memeluk punggung Serena dan mencoba membawa istri nya pulang tapi Serena dengan bersih keras menolak permintaan Bram.
"Aku akan tetap berada disini saja, bersama kalian! Jangan memaksa ku untuk pulang, Mas."
"Tapi disini terlalu berbahaya, Sayang."
"Aku tidak perduli!"
"Tapi aku sangat perduli pada mu. Jadi menurutlah saja."
__ADS_1
"Mas Bram, aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku!"