Mendadak Menikahi Gadis Cacat

Mendadak Menikahi Gadis Cacat
Diam-Diam Memperhatikan


__ADS_3

"Mas Bram, ini terlalu banyak. Kenapa Mas Brama membelinya sebanyak ini?"


"Istri ku selama ini tidak pernah lagi menikmati dunia luar, jadi sekarang kau tidak perlu protes dengan apa yang aku lakukan. Ini semua demi menyenangkan hati istri ku sendiri."


"Terimakasih. Mas Bram benar-benar sangat perduli terhadap ku," ucap Serena yang merasa sangat terharu dengan apa yang telah suami nya lakukan kepada nya.


Sekarang Serena benar-benar menemukan kebahagiaan nya seperti dulu lagi. Ia tak menyangka dirinya mendapatkan sosok laki-laki yang begitu mengerti keadaan nya dan mau menerima apanya dirinya yang cacat. Ia berharap Brama akan terus bersikap tulus kepada nya dengan begitu ia tidak merasa dirinya dikhianati.


"Sayang, kenapa kau melamun?" tanya Bram yang sebelumnya begitu asik berbelanja tapi ketika dirinya berbalik melihat istri nya, ia malah melihat Serena seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak apa-apa, Mas. Apa tidak sebaiknya kita berdua makan siang saja? Aku sudah lapar sekarang."


"Baiklah, aku akan membayar beberapa barang ini terlebih dahulu. Kau tunggulah disini saja."


"Hem, baik, Mas."


Serena pun menunggu Brama di kursi roda nya. Lalu kedua mata nya melihat ke arah di sekitar sekeliling nya dan entah kenapa ia tiba-tiba saja merasa sangat minder saat melihat orang-orang bisa berjalan dengan kedua kakinya dengan begitu normal. Rasanya Serena benar-benar merindukan hal itu semua, ia berharap dirinya bisa sembuh dan berjalan mengunakan kedua kaki nya.


"Kenapa aku harus hidup seperti ini?" Pikiran Serena pun seketika menjadi putus asa hingga kedua bola mata wanita itu berkaca-kacw ingin menangis.


"Padahal aku sama sekali tidak melakukan suatu kejahatan yang begitu fatal. Aku hanya ingin kedua kaki ku bisa berjalan seperti dulu lagi dan bisa hidup bersama dengan laki-laki itu!" gumam Serena berusaha untuk menahan air matanya, Bram yang sudah selesai membayar barang belanjaan nya segera menghampiri Serena sedangkan wanita itu berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis. Ia takut jika Bram melihat nya dan laki-laki itu jelas merasa sangat khawatir serta selalu bertanya kenapa dirinya bisa sampai seperti. Serena tak ingin membuat semuanya menjadi rumit sehingga sekarang ia telah berhasil memenangkan hatinya yang terluka.


"Mas Bram."


"Hem, ada apa?"


"Apa Mas Bram tidak malu bersama dengan ku?"


Bram seketika berhenti mendorong kursi roda istri nya lalu ia mengatakan beberapa kalimat yang membuat hati Serena kembali tenang. Padahal wanita itu sebelum nya merasa sangat putus asa dengan keadaan nya tapi ketika Brama mengatakan kalimat yang terkena menyakinkan diri nya sekarang Serena sama sekali tidak takut lagi jika Bram hanya menfaatkan dirinya.

__ADS_1


"Untuk apa aku membawa mu kemari jika aku malu dengan mu? Kau adalah Istri ku dan aku menerima mu dengan tulus dan penuh cinta. Seandainya aku tidak mencintai mu, aku akan sangat mudah pergi meninggalkan mu. Tapi, sampai saat ini kita berdua tetap bersama dan aku berharap kau tidak merasa diri ku akan meninggalkan mu. Yakinlah, aku tetap milik mu untuk selamanya."


"Sekarang kita berdua tidak perlu membahas hal itu. Karena aku juga sudah benar-benar lapar sekarang."


Serena yang mendengar ucapan suami nya tersenyum senang, ia tak menyangka suami nya malah dengan begitu cepat menenangkan hati nya.


"Terimakasih, Mas Bram."


Kedua orang itu pun langsung saja pergi ke restoran yang ada di mall. Setelah tiba disana, Bram langsung memesan makanan kesukaan Serena dan ia juga tidak lupa meminta jus nya tidak terlalu manis karena Serena sendiri sama sekali tidak suka minuman yang manis-manis.


"Sementara menunggu makanan nya datang. Cobalah kau lihat ini, apa kau menyukai nya?"


Bram pun memperlihatkan sebuah kalung yang sebelumnya ia beli secara diam-diam saat Serena termenung. Lalu dirinya memberikan kalung tersebut yang ia rasa sangat cocok untuk di pakai oleh Serena.


"Kapan Mas Bram membeli nya?"


"Ini untuk ku?"


"Hem, maaf harganya tidak seberapa. Aku berjanji akan membeli nya lebih mahal dari ini lagi setelah aku mendapatkan kembali semua yang telah hilang selama ini. Sekarang pakai ini saja lebih dulu." Bram langsung saja memakaikan kalung tersebut ke leher Serena yang terlihat begitu putih bersih itu. Serena menatap kalung yang di berikan oleh Bram untuk dirinya dan ia merasa kalung yang diberikan oleh suami nya itu benar-benar sangat indah. Serena tentu saja sangat menyukai nya dan menjadikan barang tersebut sangat berharga di hidupnya.


"Terimakasih, Mas. Ini barang yang paling berharga untuk ku! Tapi, aku rasa ini tidak adil."


"Kenapa?"


"Aku harus membelikan sesuatu untuk mu, Mas. Setelah ini antarkan aku ke suatu tempat."


"Padahal aku sama sekali tidak mengharapkan hal itu."


"Aku tidak ingin menerima penolakan mu, Mas. Lagian, aku sendiri sama sekali tidak menolak pemberian, Mas, kok."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menuruti permintaan, Istri ku."


Saat Serena dan Bram begitu asik berbincang, pelayan pun sudah datang lalu menghidangkan makanan yang sebelumnya sudah di pesan. Melihat makanan yang ada di atas meja, Serena seketika tersenyum karena ia merasa semua makanan yang di pesan itu semuanya adalah makanan kesukaan nya. Apa lagi ketika merasakan rasa jus nya sesuai yang diinginkan membuat Serena semakin merasa Bram benar-benar memperhatikan dirinya dengan sangat baik.


"Mas, kau benar-benar memesan makanan ini semua?"


"Tentu saja, kenapa?"


"Lalu makanan Mas sendiri, dimana?"


"Apa yang kau suka, aku juga menyukai nya. Jadi, aku tidak perlu memesan makanan lain."


Serena pun langsung saja mengambil beberapa makanan lalu menyimpan nya kedalam piring Bram. Dan entah kenapa ketika melakukan hal itu, Serena begitu bahagia padahal yang ia lakukan sangatlah sederhana.


"Ini sudah banyak."


"Mas Bram, memang harus makan lebih banyak. Jadi, tidak perlu protes."


"Istri ku, juga harus makan banyak."


Bram juga tidak lupa mengambil beberapa makanan lalu menyimpan nya di dalam piring Serena. Serta ia tidak lupa menyuapi istri nya dengan penuh kasih sayang. Begitu juga dengan Serena sendiri, ia juga menyuapi Bram dengan tulus. Namun, kedua orang itu sama sekali tidak menyadari bahwa ada sosok seseorang yang diam-diam memperhatikan kedua orang itu.


"Aku harus menghancurkan hubungan mereka berdua!" gumam orang itu yang sama sekali tidak suka melihat kehidupan rumah tangga Serena dan Bram yang begitu bahagia.


"Tunggu saja permainan nya, aku jelas tidak akan membuat kalian berdua bersama lagi!" gumam orang itu. Lalu ia pun tersenyum begitu sinis dan dalam hatinya ia sudah menyimpan rencana jahatnya.


"Bram, kenapa wanita itu terus menatap kita berdua dengan sinis seperti itu?!" tanya Serena yang merasa sangat risih di tatap seperti itu.


"Wanita yang mana?" tanya Bram sambil menoleh ke arah belakang nya namun ia sama sekali tidak melihat keberadaan orang yang dikatakan oleh istri nya itu.

__ADS_1


__ADS_2