
"Papi! Kalian berdua ingin kemana lagi?" tanya Serena yang melihat ayah dan suami nya terlihat begitu sibuk mencari sesuatu dengan sangat terburu-buru.
"Segera bawalah Juan ke rumah sakit! Saat ini kami berdua Bram akan kembali menghajar orang-orang itu!" ucap tuan Bisma sambil menyusun senjata nya dengan sangat baik di dalam koper.
Serena yang mendengar hal itu seketika menjadi gemetaran. Ia takut jika ayah dan suami nya malah tidak bisa melawan orang-orang itu. Lalu mereka berdua malah mati terbunuh, Serena benar-benar tidak ingin kehilangan dua orang yang ia sayangi di hidup nya sehingga ia memohon kepada ayah dan suami nya supaya tidak pergi.
Namun, Bram memilih untuk tetap pergi. Jika ia dan ayah mertua nya tidak mengalahkan orang-orang itu, maka mereka sendiri yang akan di tindas habis-habisan oleh para musuh dengan seenaknya. Bram berusaha menyakinkan Serena, bahwa semuanya akan baik-baik saja sedangkan Serena sendiri hampir saja menangis mendengar suami nya membujuk diri nya. Ia tahu maksud Bram memang sangat baik dan itu semua demi diri nya tapi pikirannya terus membayangkan bagaimana jika ayah dan suami nya tidak bisa kembali lagi itulah membuat hati Serena sangat gelisah sekarang.
"Sayang, aku dan ayah mu pasti akan kembali. Kau tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Lagian kami berdua juga pergi bersama dengan pengawal yang lainnya dan sekarang kami tidak memiliki banyak waktu untuk bersama mu saat ini, mereka semua jelas akan datang kemari untuk menghancurkan kita, jadi sebaiknya kalian berdua Desta segera antarkan Juan ke rumah sakit saja. Oke?"
"Baiklah, tapi kalian berdua harus berjanji bahwa akan kembali!"
Melihat istri nya sudah tenang, Bram perlahan-lahan memeluk istri nya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Sekarang ia melepaskan pelukan tersebut lalu pergi menyusul ayah mertua nya yang kini sudah menunggu dirinya di dalam mobil untuk bersiap-siap menemui para musuh yang kini masih mengejar mereka.
"Ayah Mertua, apa Serena akan baik-baik saja?"
"Dia wanita yang kuat! Kau tidak perlu mengkhawatirkan nya, dia memang terlalu sangat menyedihkan di hadapan mu. Tapi ketika berada di belakang mu, kau pasti tidak akan mengenalnya!" ucap tuan Bisma hingga Bram sendiri kebingungan mendengar ucapan ayah mertua nya itu. Tapi, Bram tidak terlalu memikirkan hal itu lagi karena saat ini pikirannya hanya fokus bagaimana caranya bisa mengalahkan para musuh itu tanpa harus membuang banyak tenaga.
Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, kini mobil telah berhenti di suatu tempat dimana tempat tersebut sangat sepi dan tidak ada satupun rumah yang berada di tempat tersebut. Bram segera turun dan ia tidak lupa memberikan beberapa strategi kepada para pengawal yang juga ikut dengan dirinya. Sedangkan tuan Bisma sendiri juga mengatur semua senjata yang sebelumnya telah ia masukan ke dalam koper.
"Aku akan menghancurkan kalian semua dengan senjata ini!" gumam tuan Bisma. Ia pun juga ikut turun, beberapa senjata yang mematikan telah ia selipkan di kantong celana serta jaket nya.
Para musuh yang sebelumnya mengejar mereka baru saja tiba dan berhenti tepat di depan Bram dan tuan Bisma dengan jarak sekitar 20 meter.
"Rupanya, dia telah bekerja sama dengan laki-laki itu!" gumam Bram ketika melihat mantan istri nya bersama dengan Candra.
"Bram, sudah cukup lama kita berdua tidak bertemu seperti ini. Bagaimana kabar mu sekarang? Apakah baik-baik saja?" tanya Melihat yang hanya sekedar basa-basi saja.
"Kau benar-benar masih belum puas untuk menganggu kehidupan ku! Sebenarnya apa yang kau inginkan?!"
__ADS_1
"Tentu saja ingin hidup mu lebih menderita lagi? Kalau bukan itu apa lagi, Bram? Terkecuali kau kembali dengan ku maka aku akan berhenti melakukan semuanya."
"Kau seorang wanita ular tentunya kau tidak akan pernah bisa mendapatkan kebahagiaan di hidup mu! Mendapatkan ku? Tentu saja aku tidak akan pernah sudi kembali dengan seorang wanita kejam seperti mu! Benar-benar murahan!" ejek Bram secara terang-terangan.
Mendengar Bram merendahkan diri nya membuat hati Melisa terasa begitu panas dan terasa hampir meledak. Tapi, ia tidak mungkin memperlihatkan kekalahan nya sehingga ia tidak berhenti mengejek Bram juga.
"Kau memang laki-laki murahan, Bram! Menikah dengan seorang wanita tanpa cinta dan kau mau saja? Benar-benar konyol."
"Kau benar, aku menikah dengannya tanpa cinta! Tapi, itu dulu waktu pertama kali aku bertemu dengan nya dan sekarang sudah berbeda, hati ku hanya untuk nya dan dia menganggap ku sebagai suami satu-satu nya di dalam hidup nya!" jelas Bram dengan sangat tegas. Melisa tentunya semakin merasa gerah mendengar ucapan Bram, rasanya ia sudah tidak sabar lagi menghancurkan kehidupan Bram dan sekaligus melenyapkan laki-laki sombong seperti Bram yang berdiri menatapnya dengan penuh sinis kepada nya.
"Melisa! Kau tidak perlu merasa panas dengan omongan nya, sebaiknya kita lenyapkan saja dia. Dengan begitu kau tidak akan melihat wajah sombong nya itu!" ucap Candra yang sudah dari tadi berdiri di belakang Melisa.
Melisa yang sudah terlanjur membenci Bram, langsung saja memerintahkan beberapa orang untuk menghajar Bram serta orang-orang yang saat ini berdiri dibelakang laki-laki itu. Melisa ingin para pengawal nya membantai habis semua orang yang berhubungan dengan mantan suami nya itu termasuk Bram sendiri, ia tidak ingin laki-laki itu hidup di dunia ini. Karena Melisa sendiri jelas tahu bahwa Bram akan berusaha merebutkan semua harta yang telah ia miliki selama ini.
Bram dengan cepat menangkis serangan musuh yang berusaha melukai dirinya. Sedangkan tuan Bisma sendiri terlihat begitu santai saja untuk menghadapi musuh yang sedang ingin melukai dirinya. Hanya beberapa tembakan saja, para musuh sudah terbantai oleh diri nya dan itu semua karena senjata yang ia pegang dikendalikan dengan sangat baik oleh nya.
Setelah beberapa menit semua musuh yang ada di depan mata telah terbantai habis. Sekarang hanya tinggal menghadapi Candra dan Melisa yang saat ini sedang berdiri di dekat mobil menatap ke arah mereka dengan sinis.
"Candra! Kau hadapi mereka sekarang!"
"Tenanglah! Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku sudah menyusun sebuah rencana yang sangat bagus untuk mengalahkan para semut ini!" ucap Candra dengan begitu santai.
Ketika Bram dan tuan Bisma ingin mendekati kedua orang itu. Tiba-tiba saja berhenti melangkah dan terdiam di tempat.
"Ayah Mertua! Kita akan menghadapi masalah besar!" ucap Bram yang melihat banyak pengawal Candra yang keluar dari tempat persembunyian. Dan lebih mengejutkan lagi, Bram melihat sendiri ada seseorang yang jelas ia kenal akan sosok itu.
"Marsel?!" ucap Bram.
"Habisi saja mereka semua! Aku tidak ingin melihat keluarga ini hidup di dunia ini!" ucap Marsel, sampai saat ini ia begitu dendam kepada Bram dan kepada keluarga tuan Bisma.
__ADS_1
Menurutnya kecelakaan yang telah ia alami sebelum nya adalah karena Bram serta keluarga tuan Bisma. Maka dari situlah ia tidak akan pernah melepaskan keluarga tersebut walaupun keadaan nya saat ini cacat, ia tetap bisa membalaskan dendam nya. Uang adalah salah satu cara untuk membalaskan dendam nya sehingga ia rela menghabiskan uang untuk menyewa para pembunuh yang handal untuk membantai habis keluarga itu.
"Ayah Mertua, aku rasa kita tidak bisa melawan mereka semua!" ucap Bram yang sudah sedikit panik. Walaupun ia tidak sempat menghitung berapa jumlah orang-orang yang datang itu, tapi ia sudah mengira bahwa jumlah mereka semua hampir mendekati 100 orang lebih.
"Tenanglah! Kita tidak boleh menyerah begitu saja, Bram!" ucap tuan Bisma mencoba menyakinkan menantunya supaya tidak menyerah begitu saja.
"Bagaimana dengan senjata yang kita miliki?"
"Apa kalian semua sudah kehabisan peluru, hah?" sahut Candra dengan nada mengejek lalu laki-laki itu langsung saja tertawa sekeras mungkin.
"Ini adalah rencana terbesarnya! Dengan cara ini dia jelas berpikir bahwa kita tidak akan mampu lagi mengalahkan mereka semua!" ucap tuan Bisma.
"Lalu kita harus bagaimana? Bukankah pergi dari sini adalah jalan satu-satu nya memiliki kesempatan untuk hidup?"
"Kau salah besar, Bram! Pergi dari sini jelas mereka akan tetap mengejar kita! Kau lihat sendiri mereka memiliki banyak pengawal dan kita hanya tinggal beberapa orang saja."
Bram semakin tidak tenang, ia benar-benar tidak yakin bisa mengalahkan orang-orang itu tanpa senjata. Sedangkan para musuh nya masing-masing memiliki senjata yang jelas dengan sangat mudah mengalahkan diri nya dan serta orang-orang yang ada bersama dengan diri nya.
"Lalu bagaimana?"
Tuan Bisma tidak lagi banyak berbicara, ia langsung saja pergi ke arah mobil dimana mobil yang dibawa oleh pengawal nya dan tidak lupa beberapa pengawal mengikutinya dari arah belakang. Sedangkan Bram sendiri penasaran apa yang telah dilakukan oleh ayah mertua nya itu dan ia berharap ayah mertua nya segera kembali karena beberapa orang sudah mulai menyerang menuju ke arah mereka. Bram dengan cepat berlindung ke suatu tempat sambil sesekali membidik salah satu dari orang-orang yang ingin menembak nya dan untungnya ia masih memiliki sedikit peluru sehingga dapat mempertahankan diri sementara waktu ini.
Beberapa orang sudah berhasil ia kalahkan, tapi peluru nya sudah habis. Sedangkan mertua nya masih belum datang juga dan saat ini ia hanya bisa berlindung di tempat yang lebih aman.
"Sialan! Mereka semakin mendekat!" gumam Bram, keringat nya sudah keluar bercucuran. Nafasnya mulai terengah-engah, jantung nya berdetak tidak karuan. Tapi, beberapa detik kemudian ia malah mendengar sebuah ledakan yang begitu nyaring hingga membuat pendengaran nya terasa sedikit sakit.
"Apa yang terjadi?" gumam Bram, ia pun perlahan-lahan mengintip ke arah musuhnya dan ia melihat banyak asap serta api di sekitar tempat itu.
"Bram! Bagaimana? Apa kau mengagumimu rencana ku?" Tuan Bisma tiba-tiba saja datang hingga mengejutkan Bram yang sedang kebingungan melihat sebagian para musuh nya tidak berdaya di tanah.
__ADS_1