Mendadak Menikahi Gadis Cacat

Mendadak Menikahi Gadis Cacat
Belum Memikirkan


__ADS_3

"Kau tenang saja! Minggu depan dia akan berangkat ke luar negeri dan masalah kehamilan nya, aku masih belum memikirkan apa yang harus dilakukan. Tapi, yang pastinya aku tidak akan membiarkan nya di tinggal di Indonesia lagi dengan begitu kau tidak akan pernah berhubungan dengan nya lagi."


Nyonya Jesika terlihat begitu asik saja berbincang dengan seseorang yang ada di telepon. Ia tidak sadar, dari tadi Desta telah memperhatikan dirinya diam-diam di balik pintu. Wajah gadis itu terlihat benar-benar tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh ibu nya saat ini yang pastinya Desta sudah mengerti bahwa sikap ibu nya tiba-tiba berubah seperti itu akhir-akhir ini sudah perlahan-lahan terjawab. Untuk memastikan apa yang ia curigai, Desta akan mencoba mencari alasan supaya ayah nya membatalkan dirinya untuk berangkat ke luar negeri dengan begitu ia bisa mencari tahu apa yang sebenarnya direncanakan ibu nya kepada nya selama ini.


Desta juga penasaran kenapa ibu nya bertindak seperti itu kepada nya, padahal ia sama sekali tidak melakukan sebuah kesalahan apapun kepada nya. Masalah dirinya yang sering gonta-ganti pasangan, sebelum nya ibu nya malah mendukung nya dan tidak pernah sedikitpun melarangnya untuk melakukan hal itu. Ia rasa itu bukanlah suatu alasan kenapa ibu nya bersikap seperti itu, Desta rada ibu nya telah menyimpan sesuatu hal yang tak ia ketahui selama ini dan harus benar-benar mencari tahu semuanya.


"Mami, rahasia apa yang kau simpan dari ku selama ini? Dan siapa orang yang menemani mu berbincang saat ini?"


Desta semakin penasaran dengan ibu nya, tapi ia tidak bisa terlalu berlama-lama di menguping takutnya ibu nya malah menyadari apa yang telah ia lakukan saat ini. Sekarang Desta memilih untuk pergi saja dan ia malah bertemu dengan Serena yang baru saja mengembalikan gelas air minum ke dapur.


"Serena, aku ingin berbicara kepada mu!"


"Bacalah!"


"Tidak disini!"


"Lalu?"


"Ikutlah dengan ku."


Serena pun mengikuti Desta dari arah belakang, sebenarnya ia begitu malas untuk berbincang dengan adik nya itu. Tapi, melihat Desta yang terlihat begitu serius ingin berbicara kepada nya akhirnya Serena mencoba untuk memaksakan diri untuk mendengar apa yang ingin dikatakan oleh adik nya itu. Terutama, ia juga cukup merasa kasihan dengan kehidupan yang dijalani Desta saat ini, ia tak menyangka adik nya itu malah hamil diluar nikah dan sekarang kedua orangtua nya sama sekali tidak mau menerima laki-laki itu di keluarga mereka. Entah seperti apa nasib kandungan yang ada di perut Desta nantinya, Serena sangat berharap ada jalan keluar nya sehingga janin yang ada di dalam kandungan Desta malah menjadi korban nya.


"Aku ingin kau membujuk papi untuk membatalkan penerbangan ku ke luar negeri."


"Urusan dengan ku apa?"


"Apa kau sama sekali tidak punya hati sedikitpun melihat saudara mu sedang mengalami musibah seperti ini, hah?!"


"Apa kau pernah mengasihani ku selama ini? Tidak, kan?!"


"Serena! Aku sedang serius meminta mu untuk membujuk papi! Aku tahu, papi pasti akan memenuhi permintaan mu."


"Kenapa tidak kau saja?"


"Ngapain aku meminta mu jika aku sendiri bisa?!"


"Tidak! Aku malas!"


"Serena, aku sudah meminta mu baik-baik. Bisakah kau melakukan nya untuk ku, sekali ini saja?!"


Desta benar-benar terlihat memohon kepada Serena. Karena Desta sendiri sudah kebingungan meminta pertolongan dari siapa lagi selain kepada saudara nya yang sebelumnya sering ia musuhi. Sebenarnya Desta juga tidak ingin meminta pertolongan dari Serena, tapi ia tak punya pilihan lain lagi dan ia pun berusaha menghilangkan rasa malu nya kepada Serena


"Aku akan mencoba nya!" Walaupun Serena berbicara dengan nada sedikit ketus, tapi ia akan tetap membantu Desta untuk membujuk ayah nya itu. Ia berharap ayah nya bisa memenuhi permintaan Desta, apa lagi Serena tahu saudara nya itu terlihat begitu engan untuk pergi ke luar negeri.


Mendengar Serena menyetujui nya, sekarang Desta langsung saja pergi tapi di dalam hati nya ia tak menyangka Serena masih mau membantu nya walaupun sebenarnya ia sempat memohon untuk melakukan hal itu semua. Dan setidaknya ia memiliki harapan untuk tidak pergi ke luar negeri.


"Dia berbicara apa dengan mu?"


"Dia hanya ingin aku membantunya."


"Membantunya? Tumben."


"Aku rasa tidak ada orang lain lagi yang dapat membantu nya sehingga memilih aku."


"Dan kau mau?"


"Aku tidak tega melihat nya, apa lagi sekarang dia sedang menghadapi masalah besar. "


"Istri ku memang terlalu baik."


"Aku berharap dia segera sadar dan berhenti melakukan sesuatu hal konyol."


"Aku juga berharap nya seperti itu dengan begitu dia berhenti memusuhi mu secara tidak jelas."


Serena hanya tersenyum tipis saja mendengar ucapan suami nya. Tapi, ia kembali teringat dengan pembahasan ayah nya dan suami nya sebelumnya.


"Mas Bram, bagaimana dengan orang itu? Apa kalian berdua papi sudah menemukan ide untuk menangkap orang itu?"


"Papi sudah mengirimkan beberapa orang untuk menangkap nya. Dan kita hanya tinggal menunggu kabar nya saja."


"Bagaimana jika mereka gagal?"


"Kita akan mencoba mencari jalan lain dan aku berjanji tidak akan membiarkan orang-orang itu menyakiti mu lagi."


"Terimakasih, Mas Bram!"


***


Pagi hari Serena bangun dengan wajah yang terlihat berseri-seri, wanita itu langsung saja turun dari kasur setelah merasa puas menatap wajah suami nya yang sedang tidur. Serena keluar dari kamar dan melihat ayah nya sedang menikmati kopi di ruang tamu, wanita pun berpikir bahwa itu adalah kesempatan untuk dirinya berbincang kepada ayah nya membahas masalah Desta yang akan di berangkatkan ke luar negeri.


"Kau sudah bangun, Nak? Dimana, Bram?"


"Hem, Mas Bram masih tidur, Pi."


"Mungkin dia terlalu kelelahan setelah semalaman mengurus berkas itu!" ucap tuan Bisma yang begitu mengerti keadaan menantu nya itu dan ia jelas merasa sangat bersyukur karena menantu nya benar-benar dapat di andalkan.


Sejak kedatangan Bram, semua pekerjaan di kantor lebih sedikit ringan dan itu semua berkat Bram yang sangat pandai mengurus segala urusan di kantor sehingga ia tidak terlalu begitu pusing mengurus berkas itu sendirian di rumah.


"Aku merasa juga begitu, Pi."

__ADS_1


"Jangan menganggu nya, biarkan sana dia tidur sepuasnya."


"Baik, Pi."


Saat ini Serena terlihat kebingungan bagaimana caranya ia membahas masalah Desta dengan nyaman sehingga ayah nya tidak seketika emosi mendengar ucapan nya.


"Papi, aku ingin membicarakan sesuatu hal kepada, Papi. Apakah Papi bersedia mendengar nya?"


"Tentu saja. Katakan, Papi akan mendengar nya dengan sangat baik."


"Tapi, Papi tidak boleh emosi dan harus bisa mengendalikan diri."


"Ada apa dengan mu, Serena? Kenapa kau terlihat begitu serius seperti ini?"


"Serena, memang ingin berbicara serius kepada, Papi. Maka dari situlah Papi harus bisa menahan diri untuk tidak emosi langsung saat aku mengatakan nya."


"Baiklah, segera katakan."


Serena menarik nafas nya dalam-dalam lalu mengeluarkan nya dengan pelan. Ia berharap diri nya bisa membuat ayah nya berubah pikiran untuk tidak memberangkatkan Desta ke luar negeri, apa lagi saudara nya saat ini sedang hamil muda dan jelas harus membutuhkan banyak beristirahat.


"Dok, apa kau tidak salah bicara?" tanya tuan Bisma yang sama sekali tidak mempercayai omongan dokter Davin.


"Benar, Tuan Bisma. Saya sama sekali tidak salah bicara dan Nona Serena tidak lagi harus duduk di kursi roda itu lagi."


"Sebaiknya Dokter pergi beristirahat lah saja. Mungkin dokter sedang kelelahan menangani pasien yang cukup banyak hari ini!"


Saking merasa masih tidak mempercayai omongan dokter, tuan Bisma malah berbicara ngawur hingga dokter Davin menjadi bingung mendengar ucapan nya. Bahkan Davin menatap ke arah Bram berharap menantu tuan Bisma bisa menjelaskan semuanya. Sedangkan Bram sendiri hanya mengangkat kedua bahu nya saja seolah-olah tidak tahu apa-apa, padahal Bram sendiri mengerti apa yang dikatakan oleh mertua nya itu.


Bram merasa sangat senang mendengar kabar bahwa istri nya bisa pulih kembali seperti dulu lagi. Ia sama sekali tidak sabar menantikan momen itu, terutama ia juga tidak sabar melihat senyuman bahagia istri nya saat mengetahui dirinya bisa kembali berjalan seperti dulu lagi.


"Sayang, cepatlah sadar. Aku tidak sabar mengatakan kabar bahagia ini untuk mu," gumam Bram dalam hati nya sambil memeluk punggung tangan Serena dengan begitu erat dan sesekali dirinya juga mencium dengan lembut tangan istri nya itu.


Hari sudah malam, Bram terlihat senantiasa berada di samping Serena tapi wanita itu masih belum juga sadarkan diri. Namun, ketika Bram berniat ingin pergi ke kamar mandi tiba-tiba ia melihat kedua mata Serena tampak berkedip. Bram langsung saja terdiam sebentar menatap ke arah istri nya dan memastikan bahwa apa yang ia lihat barusan tidak salah, ia bahkan tanpa sadar menahan nafas nya serta kedua matanya cukup lama tidak berkedip demi memastikan semuanya.


"Serena, bangunlah!" ucap Bram yang masih belum juga melihat Serena mengedipkan mata nya lagi, tapi setelah dirinya memegang erat kedua tangan wanita itu seketika ia merasakan tangannya di genggam oleh istri nya. Bram langsung saja tampak bersemangat menantikan istri nya bangun membuka kedua mata nya.


"Bram ..." Walaupun belum sepenuhnya sadar, tapi Serena spontan menyebutkan nama suami nya. Bram yang mendengar nya merasa sangat terharu, ia pun mengelus rambut Serena dengan lembut sambil mencium punggung tangan istri nya dengan penuh kasih sayang.


"Serena Sayang, bangunlah. Aku sangat menantikan mu."


Serena kini perlahan-lahan membuka kedua kelopak mata nya. Penglihatan nya masih terlihat masih samar-samar, tapi ia sama sekali tidak ingin putus asa dan tetap mencoba membuka kedua matanya walaupun rasanya terasa begitu berat, tapi Serena sama sekali tidak ingin menyerah apa lagi ketika mendengar suara Bram yang terdengar begitu nyaring di telinga nya membuat Serena pada akhirnya sudah benar-benar kembali sadar. Melihat Bram ada di samping nya, Serena merasa sangat bahagia walaupun ia sama sekali masih belum bisa mengekspresikan senyuman nya tapi dihatinya ia bisa merasakan kebahagiaan itu.


"Mas Bram, kau baik-baik saja, kan?"


"Hem, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan mu?"


"Tubuh ku entah kenapa terasa begitu ringan sekali bahkan kedua kak—" ucap Serena terpotong, saat ia tanpa sengaja mengerakan kedua kaki nya dan ia merasa bahwa kedua kakinya benar-benar terasa begitu aneh.


"Kedua ... kaki ku?"


"Tidak! Ini tidak mungkin! Sepertinya ini hanyalah mimpi ku saja!"


Serena terus bergumam dalam jati hati nya. Karena ia sendiri masih belum mempercayai bahwa kedua kakinya bisa digerakkan bahkan ia berpikir mungkin ia masih belum bangun dari tidur nya.Tapi, melihat Bram tersenyum menatap ke arah diri nya Serena merasa ia sama sekali tidak bermimpi dan kedua kakinya sudah benar-benar dapat digerakkan kembali seperti dulu lagi.


"Mas Bram, apa yang terjadi pada ku?"


"Sekarang kau tak perlu duduk dikursi roda lagi. Karena kau sudah bisa berjalan kembali normal lagi seperti dulu," ucap Bram dengan penuh semangat.


"Be—benarkah?"


"Hem, buktinya kau sudah bisa mengerakan kedua kaki mu, kan?"


"Ini bukan mimpi kan, Mas?"


"Tidak! Ini benar-benar nyata."


Serena langsung saja memeluk Bram sambil menangis sesegukan. Berjalan normal seperti yang lainnya tentu saja itu adalah harapan besar di hidup Serena selama ini. Apa lagi sekarang ia telah memiliki seorang suami membuat Serena sudah tidak sabar lagi menikmati kebersamaan dengan orang yang ia cintai.


Tuan Bisma yang baru saja kembali dari luar tanpa sengaja melihat pemandangan yang begitu mengharukan. Ia berharap anak dan menantu nya bisa hidup bahagia untuk selama nya, bahkan tuan Bisma tiba-tiba berharap mendapatkan cucu secepatnya dengan begitu rumah nya akan semakin ramai dengan kehadiran seorang anak kecil. Tapi, ia kembali teringat dengan keadaan Serena yang baru saja pulih dari lumpuh nya yang sudah bertahun-tahun lama nya itu, sehingga ia lebih baik membiarkan kedua orang itu menikmati kebersamaan terlebih dahulu dengan sepuasnya.


"Ehem!" Tuan Bisma langsung saja berdehem dengan cukup nyaring, lalu ia pun mendekati kedua orang itu dan membicarakan masalah kecelakaan yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu.


"Aku sudah mendapatkan rekaman CCTV-nya serta plat truk yang menabrak kalian berdua sebelumnya," jelas tuan Bisma.


"Ayah, sudah mendapatkan nya secepat itu?"


"Kau tidak perlu ikut membahas hal ini. Sebaiknya kamu lebih banyak beristirahat saja," ucap tuan Bisma yang tak ingin membuat anaknya kelelahan hanya karena memikirkan semua masalah yang terjadi. Apa lagi Serena baru saja menjalani operasi di bagian kepala nya karena telah mengalami sedikit robekan sehingga harus ada sedikit perbaikan oleh dokter.


"Kau dengar apa yang dikatakan Ayah barusan? Sebaiknya kamu tidurlah lagi, jangan terlalu banyak bergerak," sahut Bram.


Serena pun akhirnya terpaksa melakukan apa yang telah dikatakan oleh ayah dan suami nya itu. Tapi, ia sama sekali tidak ingin tidur dan tetap terjaga karena ia sendiri sudah merasa sangat bosan jika terus menerus tidur dan rasanya Serena sudah tidak sabar untuk menggunakan kedua kaki nya berjalan kembali seperti dulu lagi.


"Aku tidak mengenal siapa orang nya, hanya saja kendaraan yang di pakai oleh orang ini malah di temukan di dalam jurang. Tapi, pengemudinya sama sekali tidak di temukan berada di sekitar tempat itu," jelas tuan Bisma yang baru saja mendapatkan laporan dari salah satu pengawalnya beberapa waktu yang lalu.


"Sebelumnya, aku telah melihat seorang laki-laki ingin menikam Mas Bram dari arah belakang saat Mas Bram asik membeli bunga. Dan semua yang terjadi berawal dari situ!" sahut Serena yang masih saja teringat dengan jelas kejadian itu.


"Orang itu bukanlah pelaku yang sebenarnya. Dia hanya suruhan orang saja."


"Apa Mas Bram ingat sosok gadis yang ada di restoran sebelumnya?" tanya Serena.

__ADS_1


"Memang nya kenapa? Aku kan tidak melihat wajah nya."


"Sesudah kecelakaan itu, aku melihat sendiri dia tersenyum senang menatap ke arah ku. Dan dimana ponsel ku?"


"Ini."


"Kau lihatlah foto gadis itu di ponsel ku! Siapa tahu kau mengenalnya."


Bram pun langsung saja membuka galeri yang ada di ponsel Serena dan melihat apa yang dikatakan oleh istri nya barusan. Setelah melihat foto itu, Bram seketika terdiam lalu menatap ke arah mertua nya yang saat ini begitu penasaran kenapa menantu nya menatap nya seperti itu kepada nya.


Kekhawatiran Bram membuat nya hampir begitu gila. Ia tidak menyangka dirinya sampai terlalu berlebihan mengkhawatirkan istri nya yang saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Ia pikir Serena telah di bawa beberapa orang yang memakai pakaian serba hitam itu dan ia hampir saja berangkat menemui orang yang masuk kedalam terowongan sebelum nya, tapi untungnya ia masuk ke dalam kamar terlebih dahulu dan memeriksa ke dalam kamar mandi yang ternyata istri nya sedang mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terlihat kotor akibat minuman jus yang tak sengaja Bram tumpahkan sebelum nya.


"Kenapa kau membuka pintu nya? Bukankah, aku sudah jelas melarang mu membuka nya?"


"Takutnya ketika Mas Bram kembali, aku tidak mendengar nya. Jadi, aku biarkan saja pintu nya terbuka," jelas Serena.


"Serena, kau benar-benar wanita pertama yang membuat ku khawatir seperti ini," gumam Bram dalam hati nya.


Hari sudah mulai sore, Bram dan Serena pun akhirnya memutuskan untuk pergi menikmati pantai di sore hari. Kedua orang itu benar-benar sangat menikmati pemandangan yang begitu indah di pantai itu, air yang terlihat biru dan jernih membuat Serena sangat ingin pergi mandi tapi ia sadar diri nya sama sekali tidak dapat melakukan hal itu semua.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba melamun seperti itu?" tanya Bram, padahal sebelum nya Serena terlihat sangat bahagia tapi sekarang raut wajah istri nya tiba-tiba saja berubah hingga membuat nya menjadi bingung sendiri.


"Tidak apa-apa, Mas," ucap Serena, ia tidak ingin mengatakan kepada suami nya tentang keinginan nya karena ia tahu sendiri ia akan malah merepotkan Bram.


"Apa kau bosan?"


"Tidak, kok."


Bram jelas melihat bahwa istri nya sedang bosan, ia pun memiliki suatu ide untuk menyenangkan Serena.


"Mas Bram! Apa yang kau lakukan?!"


Serena begitu terkejut saat suami nya tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya dari kursi roda. Tapi, beberapa detik kemudian, ia malah melihat Bram membawa diri nya mencebur ke air. Serena tak menyangka suami nya benar-benar begitu peka terhadap nya, padahal ia sama sekali tidak mengatakan apapun kepada laki-laki itu.


"Bagaimana? Apa kau senang sekarang?!"


"Sudah lama aku tidak mandi menikmati air pantai dan ini pertama kali nya sejak aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Terimakasih, Mas Bram," jelas Serena tanpa sadar meneteskan air mata nya. Ia sangat terharu dengan apa yang telah Bram lakukan kepada nya.


"Serena, jika menginginkan sesuatu bicaralah. Itu sudah kewajiban ku untuk memenuhi keinginan mu, tapi aku harap kamu jangan kecewa jika suatu saat aku benar-benar tidak bisa melakukan nya," jelas Bram. Ia pun memeluk istri nya dengan erat, sedangkan Serena terus berada di pangkuan Bram. Hingga kedua orang itu pada akhirnya terhanyut dalam sebuah permainan yang mengairahkan.


Sekarang Serena benar-benar sepenuhnya memberikan seluruh hidup nya untuk Bram. Kini, ia telah yakin bahwa laki-laki yang sedang bersama nya saat ini adalah laki-laki yang terakhir ada di hati nya. Kedua orang itu saling berpelukan dengan begitu erat, matahari pun perlahan-lahan tengelam air laut pun sudah terasa mulai berubah menjadi dingin. Bram dan Serena pun akhirnya naik ke pinggir pantai lalu berbaring di atas pasir yang terasa begitu hangat.


Cinta yang tulus didapatkan Serena membuat hidup wanita itu sekarang menjadi berarti. Tidak seperti sebelumnya, ia selalu merasa putus asa dan bosan dengan keadaan yang ia alami.


***


Hari sudah pagi, terlihat Bram begitu sibuk mengurus pekerjaan di dapur. Laki-laki itu pagi-pagi sekali membuat serapan untuk dirinya dan istri nya. Sebuah senyuman manis terukir diwajah Bram, ia terlihat begitu semangat melakukan semua pekerjaan nya. Apa lagi ketika mengingat kejadian semalam membuat Bram tak henti-henti nya mengingat nya, kenangan itu sangat berharga dihidup nya dan kini Bram benar-benar menemukan kebahagiaan di pernikahan nya.


"Mas Bram, apa yang sedang kau lakukan itu?"


"Aku membuat puding untuk mu. Apa kau menyukai nya?"


"Hem, semua makanan yang Mas Bram buat pasti aku akan sangat menyukai nya."


"Sekarang Istri ku sudah mulai mengombal," goda Bram sambil mengcubit pipi Serena dengan lembut.


"Selagi itu tidak akan meracuni ku, tentu nya aku akan memakan nya, Mas"


"Baiklah, Istri ku."


Serena melihat Bram yang sedang memasak, ia terus memperhatikan wajah laki-laki itu sehingga Bram yang menyadari tatapan Serena membuat nya menjadi salah tingkah. Bahkan saat Bram bekerja, laki-laki itu malah tidak sengaja menjatuhkan spatula. Tidak hanya itu, Bram juga sampai lupa menghidupkan kompor nya saking merasa malu dengan tatapan Serena yang begitu menggoda.


"Serena, berhentilah menatap ku seperti itu!"


Akhirnya Bram sudah tidak tahan lagi membiarkan istri nya untuk memperhatikan dirinya. Karena ia sendiri sama sekali tidak bisa fokus untuk memasak dan takutnya malah membuat masakan yang tak enak hingga Serena tidak menyukai masakannya lagi.


"Kenapa? Kamu kan Suami ku, jadi tidak masalah jika aku melakukan hal itu."


"Masalah nya, tatapan mu itu tidak bisa membuat ku fo—fokus!" ucap Bram dengan jujur. Bahkan ia sampai berbicara terbata-bata sekarang.


Serena mendengar penjelasan Bram, membuat nya terkikik geli. Tapi, ia tidak ingin membuat Bram merasa terganggu karena dirinya sehingga Serena pun memilih untuk pergi ke ruang tamu menonton televisi saja.


Saat menonton, Serena tiba-tiba kembali dikejutkan dengan suara tembakan nyaring seperti sebelumnya. Bram yang juga mendengar nya dengan cepat menghampiri istri nya karena ia takut jika terjadi sesuatu hal yang berbahaya.


"Mas Bram, apa yang sedang terjadi? Kenapa suara tembakan itu terdengar lagi?"


"Entahlah, sebelumnya aku melihat ada tiga orang laki-laki asing masuk kedalam sebuah terowongan dan entah apa yang mereka lakukan. Mungkin suara tembakan itu berasal dari sana."


"Sepertinya ada sesuatu hal yang tak beres, Mas."


"Kalau begitu kita berdua sebaiknya pulang saja," ucap Bram yang sangat mengkhawatirkan istri nya. Demi keselamatan istri nya, ia lebih baik mempersingkat bulan madu mereka walaupun sebenarnya ia menginginkan bulan madu berduaan dengan waktu yang begitu lama namun keadaan tidak akan memungkinkan.


Setelah serapan pagi bersama, Bram memutuskan untuk membawa Serena untuk segera pulang ke rumah. Sedangkan suara tembakan itu kembali terdengar lagi, hingga membuat Serena semakin ketakutan dan tidak sabar untuk pulang ke rumah. Bahkan ia meminta Bram untuk memasukkan semua makanan itu kedalam kotak makan saja.


"Sialan! Mereka benar-benar sangat menganggu ketenangan ku bersama Istri!" gumam Bram dalam hati nya dengan kesal.


Sekarang Bram dan Serena sudah berada di dalam mobil untuk bersiap-siap pulang ke rumah. Namun, tiba-tiba saja ban mobil bocor hingga membuat Bram dan Serena tidak dapat pulang ke rumah dengan waktu yang cepat.


"Aku akan menganti ban nya terlebih dahulu."

__ADS_1


"Apakah lama?"


"Lumayan, kamu tenanglah. Aku akan menjaga mu dan tidak akan membiarkan mu terluka," ucap Bram berusaha untuk menenangkan istri nya yang saat ini sedang ketakutan. .


__ADS_2