
"Juan, kenapa kau terlihat sama sekali tidak bersemangat pagi ini? Apa kau sakit?" tanya Bram yang saat ini sedang duduk di kursi meja makan.
"Hanya mengantuk saja."
"Tidak tidur semalaman?"
"Aku hanya tidur selama 1 jam saja. Dan kau tahu sendiri beberapa hari ini aku terlalu sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk beristirahat."
"Kalau begitu beristirahatlah saja setelah serapan pagi nanti."
"Tidak! Aku masih memiliki urusan yang begitu penting di luar sana."
"Tapi keadaan mu terlihat tidak baik-baik saja."
"Mungkin aku akan merasa kembali segar setelah selesai serapan pagi ini."
"Urusan apa? Bisakah aku ikut?"
"Memang nya kau tidak sibuk?"
Bram menatap sebentar ke arah istri nya dan ia melihat istri nya sama sekali tidak keberatan jika ia pergi keluar sebentar bersama dengan Juan. Karena melihat keadaan Juan, membuat nya merasa kasihan sehingga ia berniat membantu laki-laki itu menyelesaikan semua urusannya walaupun ia sendiri tidak tahu urusan apa yang akan dilakukan nantinya.
"Baiklah, jika kau tidak sibuk. Kau boleh ikut dengan ku."
Para pembantu yang melihat para majikan di rumah itu sudah berkumpul di meja makan langsung saja menyajikan makanan yang sebelumnya sudah matang. Awalnya para pembantu itu sudah ingin menghidangkan nya sebelum orang-orang di rumah itu duduk di kursi di meja makan namun, tuan Bisma melarang para pembantu nya untuk tidak menghidangkan makanannya sebelum semuanya sudah berkumpul karena biasanya ia dan anak menantunya sangat jarang untuk serapan pagi bersama, sehingga dengan cara itu mereka bisa serapan bersama walaupun hanya hari ini saja.
Setelah satu jam lama nya, kini semua orang sudah bersantai di sofa tamu. Sedangkan Bram dan Juan sudah bersiap-siap ingin pergi, tapi sebelum itu tuan Bisma memberikan beberapa senjata yang dapat di andalkan. Senjata tersebut berharap bisa membantu kedua menantunya disaat sedang dalam keadaan bahaya.
Sekarang Bram dan Juan berpamitan pergi. Kedua laki-laki itu menaiki mobil milik tuan Bisma dan itu semua atas permintaan tuan Bisma sendiri.
"Kita berdua akan pergi kemana?" tanya Bram penasaran.
"Sebenarnya, aku ingin mencari kedua orangtua Desta."
"Orangtua kandung nya?"
"Hem, aku merasa sangat kasihan pada nya."
"Dia beruntung mendapatkan mu."
"Dan nona Serena juga beruntung mendapatkan mu."
"Tidak perlu memanggilnya dengan sebutan nona lagi. Sekarang kau sudah menjadi adik ipar nya, bukan?"
"Aku hanya merasa tidak nyaman saja dan benar-benar kurang pantas."
"Justru kau memanggilnya seperti itu terdengar sama sekali tidak pantas."
Juan tak menyangka sosok Bram adalah sosok laki-laki yang begitu baik. Ia berharap pernikahan nya dengan Serena akan bahagia selalu.
Beberapa jam berada di perjalanan, Juan dan Bram telah tiba di sebuah desa yang cukup terpencil. Kedua laki-laki itu turun dari dalam mobil dan melihat di sekitar sekeliling tampak begitu ramai penduduk desa yang sedang melakukan aktivitas nya masing-masing.
"Kau yakin mereka tinggal disini?"
"Sebenarnya aku tidak yakin, tapi aku telah mendapatkan informasi bahwa kedua orang itu tinggal disini."
"Alamat rumah nya, apa kau tahu?"
"Tidak!"
"Jadi kita berdua harus mencarinya?"
"Maaf aku merepotkan mu akan hal ini."
"Tidak masalah, tapi jika tidak ketemu. Aku harap kau tidak akan kecewa."
"Aku berharap kedua orang itu berhasil ditemukan. Dengan begitu Desta tidak sampai bermimpi buruk lagi."
"Kau benar-benar perduli pada wanita itu. Padahal ia sendiri sama sekali tidak memperdulikan mu."
"Aku tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh ayah kepada kedua orang itu!"
"Sayang, memang nya kenapa? Bukankah itu lebih baik?"
__ADS_1
"Bagaimana jika ada yang menolong mereka berdua lalu membalaskan dendam nya kepada kita lagi?"
"Pulau itu sama sekali tidak di ketahui oleh siapapun, jadi kamu tenanglah saja."
Bram terus berusaha menenangkan istri nya yang sedang merasa khawatir itu. Ia tahu apa yang dikatakan oleh istri nya barusan memang benar, tapi ia percaya dengan ayah mertua nya bahwa kedua orang itu tidak akan bisa selamat dengan waktu yang begitu lama. Terutama di pulau itu memiliki banyak binatang buas yang kelaparan dan jelas kedua orang itu akan menjadi santapan mereka semua. Tuan Bisma juga seringkali mengirimkan para tawanan nya ke pulau tersebut, tapi sampai sekarang tidak ada yang hidup di pulau itu.
"Ayah mertua juga sudah memasangkan CCTV di setiap pulau itu jadi dia bisa memantau orang-orang itu apakah masih hidup atau berhasil kabur dari tempat itu," jelas Brama lagi hingga Serena yang mendengar nya menjadi lebih tenang sekarang.
"Lalu bagaimana dengan mantan istri mu? Apakah kau akan menangkap nya juga?"
"Tidak sekarang, aku ingin tahu apakah dia telah menjalin kerjasama dengan orang lain atau hanya diri nya sendiri melakukan hal itu? Dan itu saran dari ayah mertua sendiri."
"Sepertinya apa yang kau katakan memang benar, Mas."
"Bersabarlah, aku akan tetap menangkap nya jika dia benar-benar melakukan hal itu kepada mu."
"Entah kenapa orang-orang sangat suka melakukan kejahatan seperti itu? Padahal resikonya sangat menakutkan bagi hidup mereka sendiri."
"Sayang, sebaiknya kita berdua serapan pagi saja. Aku sudah lapar sekarang," ucap Bram yang sudah tidak ingin membahas kejadian itu lagi.
"Baiklah, ayo!"
Serena dan Bram langsung saja turun kebawah untuk berkumpul bersama di meja makan. Tatapan Serena langsung saja tertuju kepada itu tiri nya yang saat ini sedang memalingkan muka dari nya, Serena hanya bisa berdecih saja ketika melihat sikap ibu nya yang berpura-pura perhatian kepada nya. Tapi, ia tiba-tiba memiliki sebuah ide yang jelas akan membuat ibu tiri nya merasa sangat kesal jika ia membahas nya.
"Desta, barang-barang yang sebelumnya dimasukkan ke koper mu sudah kau keluarkan?"
"Hem, sudah. Ada apa?" tanya Desta yang begitu penasaran dengan pertanyaan Serena yang begitu aneh seperti itu.
"Kenapa kau mengeluarkan barang-barang mu, Desta? Bukankah besok kau akan berangkat ke luar negeri?" Seketika nyonya Jesika langsung saja memotong percakapan Serena dan Desta karena sebenarnya tujuan Serena memang seperti itu.
"Papi, telah membatalkan penerbangan ku, Mi. Jadi, aku tidak jadi berangkat ke luar negeri!" ucap Desta dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
Sedangkan nyonya Jesika sendiri seketika menatap ke arah tuan Bisma, ia bingung kenapa suami nya tiba-tiba membatalkan penerbangan anak nya ke luar negeri. Padahal mereka berdua sebelum nya sudah sepakat untuk mengirimkan Desta keluar negeri saja, tapi sekarang ia malah mendengar sesuatu yang tak menyenangkan.
"Kenapa Papi membatalkan nya?"
"Setelah mendengar saran dari Serena anak mu. Aku rasa apa yang dia katakan tidak ada salahnya jika memberikan nya kesempatan sekali lagi," jelas tuan Bisma. Tatapan mata nyonya Jesika langsung saja tertuju ke arah Serena yang saat ini sedang tersenyum mengejek ke arah nya.
"Dasar wanita sialan! Berani nya dia menghancurkan semua rencana ku!" gumam nyonya Jesika dalam hati nya. Ia pun sudah mulai gelisah tidak karuan, tapi ia tetap berusaha untuk tetap tenang dan memikirkan caranya supaya suami nya itu kembali memberangkatkan Desta ke luar negeri lagi. Jika tidak impian dan harapannya selama ini hilang begitu saja.
Desta seketika menatap ibu nya terlihat begitu berbeda. Entah kenapa ibu nya sangat bersih keras untuk mengirimkan diri nya ke luar negeri, ia tahu diri nya memang sangat memalukan karena telah hamil di luar nikah. Tapi, menurutnya ibu nya tidak seharusnya mengirim diri nya keluar negeri disaat ia dalam masalah besar seperti itu, padahal sebelum nya Desta sangat berharap ibu nya memberikan ia dukungan dan menyemangati nya supaya ia tetap kuat menghadapi tekanan yang cukup membuat dirinya stres, belum lagi ketika mendengar kekasihnya malah meminta ia mengugurkan kandungan nya membuat Desta merasa sangat terpukul. Walaupun ia sempat setuju untuk mengugurkan kandungan nya, tapi ketika ia melihat sebuah momen yang sangat mengharukan di salah satu acara televisi membuat Desta tiba-tiba merasa bahwa ia tidak seharusnya membuang janin yang ada di kandungan nya.
"Mami, aku tidak mau ke luar negeri. Dan Papi juga sudah menyetujui untuk membatalkan keberangkatan ku kesana, kok!" sahut Desta, entah kenapa ia sama sekali tidak menyukai ucapan ibu nya sekarang.
"Kau harus pergi kesana, Desta!"
"Ibu tidak perlu memaksanya! Lagian Papi juga sudah memaafkan Desta, kenapa Ibu bersih keras ingin memberangkatkan Desta? Apakah ada sesuatu?" Serena dengan sengaja memancing ibu nya, ia ingin melihat ekspresi wajahnya ibu tiri nya itu saat menjawab ucapan nya.
"Karena perbuatan nya yang memalukan itu membuat keluarga ini kehilangan muka! Kau mengerti?!"
Desta sangat kecewa kepada ibu nya. Ia bingung kenapa ibu nya sangat menginginkan dirinya pergi ke luar negeri. Jika ia benar-benar di anggap memalukan di keluarga itu, ia bisa saja mengurung diri di dalam rumah supaya aib nya yang memalukan itu tidak di ketahui oleh siapapun. Bahkan, ia juga bisa pergi ke apartemen nya yang sebelumnya diberikan ayah nya untuk nya dan akan menutup diri dari orang-orang diluar sana supaya tidak di kenal siapapun asalkan ia tidak di kirim ke luar negeri.
"Sepertinya benar-benar tidak ada yang beres dengan, Mami," gumam Desta dalam hati nya.
Melihat keluarga nya sangat sibuk dengan masalah yang terjadi pada nya membuat Desta sama sekali tidak nafsu makan lagi. Sehingga ia memilih untuk pergi saja dan duduk di pinggir kolam renang, sedangkan Serena yang melihat kepergian Desta langsung menghentikan perdebatan dengan ibu tiri nya. Ia berharap Desta segera mengetahui kebusukan ibu nya sendiri dengan begitu Desta tidak harus patuh lagi kepada ibu nya itu.
"Aku benar-benar miris melihat nya," gumam Serena yang cukup prihatin dengan apa yang di alami oleh adik tiri nya itu.
"Sayang, makanlah segera makanan mu. Ini saja sudah mulai dingin, nanti sudah tidak enak jika dibiarkan begitu lama," tegur Bram, dari tadi ia lebih baik memilih diam saja dan membiarkan istri nya berdebat dengan ibu mertua nya yang sama sekali tidak ia sukai dari awal.
"Kau sudah makan?"
"Sudah, aku baru saja selesai menghabiskan makanan ku."
"Secepat itu?"
"Hanya perasaan mu saja, kau terlalu sibuk berbincang hingga tidak menyadari nya. Ayo, makanlah sekarang."
Kekhawatiran Bram membuat nya hampir begitu gila. Ia tidak menyangka dirinya sampai terlalu berlebihan mengkhawatirkan istri nya yang saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Ia pikir Serena telah di bawa beberapa orang yang memakai pakaian serba hitam itu dan ia hampir saja berangkat menemui orang yang masuk kedalam terowongan sebelum nya, tapi untungnya ia masuk ke dalam kamar terlebih dahulu dan memeriksa ke dalam kamar mandi yang ternyata istri nya sedang mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terlihat kotor akibat minuman jus yang tak sengaja Bram tumpahkan sebelum nya.
"Kenapa kau membuka pintu nya? Bukankah, aku sudah jelas melarang mu membuka nya?"
"Takutnya ketika Mas Bram kembali, aku tidak mendengar nya. Jadi, aku biarkan saja pintu nya terbuka," jelas Serena.
__ADS_1
"Serena, kau benar-benar wanita pertama yang membuat ku khawatir seperti ini," gumam Bram dalam hati nya.
Hari sudah mulai sore, Bram dan Serena pun akhirnya memutuskan untuk pergi menikmati pantai di sore hari. Kedua orang itu benar-benar sangat menikmati pemandangan yang begitu indah di pantai itu, air yang terlihat biru dan jernih membuat Serena sangat ingin pergi mandi tapi ia sadar diri nya sama sekali tidak dapat melakukan hal itu semua.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba melamun seperti itu?" tanya Bram, padahal sebelum nya Serena terlihat sangat bahagia tapi sekarang raut wajah istri nya tiba-tiba saja berubah hingga membuat nya menjadi bingung sendiri.
"Tidak apa-apa, Mas," ucap Serena, ia tidak ingin mengatakan kepada suami nya tentang keinginan nya karena ia tahu sendiri ia akan malah merepotkan Bram.
"Apa kau bosan?"
"Tidak, kok."
Bram jelas melihat bahwa istri nya sedang bosan, ia pun memiliki suatu ide untuk menyenangkan Serena.
"Mas Bram! Apa yang kau lakukan?!"
Serena begitu terkejut saat suami nya tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya dari kursi roda. Tapi, beberapa detik kemudian, ia malah melihat Bram membawa diri nya mencebur ke air. Serena tak menyangka suami nya benar-benar begitu peka terhadap nya, padahal ia sama sekali tidak mengatakan apapun kepada laki-laki itu.
"Bagaimana? Apa kau senang sekarang?!"
"Sudah lama aku tidak mandi menikmati air pantai dan ini pertama kali nya sejak aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Terimakasih, Mas Bram," jelas Serena tanpa sadar meneteskan air mata nya. Ia sangat terharu dengan apa yang telah Bram lakukan kepada nya.
"Serena, jika menginginkan sesuatu bicaralah. Itu sudah kewajiban ku untuk memenuhi keinginan mu, tapi aku harap kamu jangan kecewa jika suatu saat aku benar-benar tidak bisa melakukan nya," jelas Bram. Ia pun memeluk istri nya dengan erat, sedangkan Serena terus berada di pangkuan Bram. Hingga kedua orang itu pada akhirnya terhanyut dalam sebuah permainan yang mengairahkan.
Sekarang Serena benar-benar sepenuhnya memberikan seluruh hidup nya untuk Bram. Kini, ia telah yakin bahwa laki-laki yang sedang bersama nya saat ini adalah laki-laki yang terakhir ada di hati nya. Kedua orang itu saling berpelukan dengan begitu erat, matahari pun perlahan-lahan tengelam air laut pun sudah terasa mulai berubah menjadi dingin. Bram dan Serena pun akhirnya naik ke pinggir pantai lalu berbaring di atas pasir yang terasa begitu hangat.
Cinta yang tulus didapatkan Serena membuat hidup wanita itu sekarang menjadi berarti. Tidak seperti sebelumnya, ia selalu merasa putus asa dan bosan dengan keadaan yang ia alami.
***
Hari sudah pagi, terlihat Bram begitu sibuk mengurus pekerjaan di dapur. Laki-laki itu pagi-pagi sekali membuat serapan untuk dirinya dan istri nya. Sebuah senyuman manis terukir diwajah Bram, ia terlihat begitu semangat melakukan semua pekerjaan nya. Apa lagi ketika mengingat kejadian semalam membuat Bram tak henti-henti nya mengingat nya, kenangan itu sangat berharga dihidup nya dan kini Bram benar-benar menemukan kebahagiaan di pernikahan nya.
"Mas Bram, apa yang sedang kau lakukan itu?"
"Aku membuat puding untuk mu. Apa kau menyukai nya?"
"Hem, semua makanan yang Mas Bram buat pasti aku akan sangat menyukai nya."
"Sekarang Istri ku sudah mulai mengombal," goda Bram sambil mengcubit pipi Serena dengan lembut.
"Selagi itu tidak akan meracuni ku, tentu nya aku akan memakan nya, Mas"
"Baiklah, Istri ku."
Serena melihat Bram yang sedang memasak, ia terus memperhatikan wajah laki-laki itu sehingga Bram yang menyadari tatapan Serena membuat nya menjadi salah tingkah. Bahkan saat Bram bekerja, laki-laki itu malah tidak sengaja menjatuhkan spatula. Tidak hanya itu, Bram juga sampai lupa menghidupkan kompor nya saking merasa malu dengan tatapan Serena yang begitu menggoda.
"Serena, berhentilah menatap ku seperti itu!"
Akhirnya Bram sudah tidak tahan lagi membiarkan istri nya untuk memperhatikan dirinya. Karena ia sendiri sama sekali tidak bisa fokus untuk memasak dan takutnya malah membuat masakan yang tak enak hingga Serena tidak menyukai masakannya lagi.
"Kenapa? Kamu kan Suami ku, jadi tidak masalah jika aku melakukan hal itu."
"Masalah nya, tatapan mu itu tidak bisa membuat ku fo—fokus!" ucap Bram dengan jujur. Bahkan ia sampai berbicara terbata-bata sekarang.
Serena mendengar penjelasan Bram, membuat nya terkikik geli. Tapi, ia tidak ingin membuat Bram merasa terganggu karena dirinya sehingga Serena pun memilih untuk pergi ke ruang tamu menonton televisi saja.
Saat menonton, Serena tiba-tiba kembali dikejutkan dengan suara tembakan nyaring seperti sebelumnya. Bram yang juga mendengar nya dengan cepat menghampiri istri nya karena ia takut jika terjadi sesuatu hal yang berbahaya.
"Mas Bram, apa yang sedang terjadi? Kenapa suara tembakan itu terdengar lagi?"
"Entahlah, sebelumnya aku melihat ada tiga orang laki-laki asing masuk kedalam sebuah terowongan dan entah apa yang mereka lakukan. Mungkin suara tembakan itu berasal dari sana."
"Sepertinya ada sesuatu hal yang tak beres, Mas."
"Kalau begitu kita berdua sebaiknya pulang saja," ucap Bram yang sangat mengkhawatirkan istri nya. Demi keselamatan istri nya, ia lebih baik mempersingkat bulan madu mereka walaupun sebenarnya ia menginginkan bulan madu berduaan dengan waktu yang begitu lama namun keadaan tidak akan memungkinkan.
Setelah serapan pagi bersama, Bram memutuskan untuk membawa Serena untuk segera pulang ke rumah. Sedangkan suara tembakan itu kembali terdengar lagi, hingga membuat Serena semakin ketakutan dan tidak sabar untuk pulang ke rumah. Bahkan ia meminta Bram untuk memasukkan semua makanan itu kedalam kotak makan saja.
"Sialan! Mereka benar-benar sangat menganggu ketenangan ku bersama Istri!" gumam Bram dalam hati nya dengan kesal.
Sekarang Bram dan Serena sudah berada di dalam mobil untuk bersiap-siap pulang ke rumah. Namun, tiba-tiba saja ban mobil bocor hingga membuat Bram dan Serena tidak dapat pulang ke rumah dengan waktu yang cepat.
"Aku akan menganti ban nya terlebih dahulu."
__ADS_1
"Apakah lama?"
"Lumayan, kamu tenanglah. Aku akan menjaga mu dan tidak akan membiarkan mu terluka," ucap Bram berusaha untuk menenangkan istri nya yang saat ini sedang ketakutan.