Mendadak Menikahi Gadis Cacat

Mendadak Menikahi Gadis Cacat
Seseorang Di Telepon


__ADS_3

"Kau tenang saja! Minggu depan dia akan berangkat ke luar negeri dan masalah kehamilan nya, aku masih belum memikirkan apa yang harus dilakukan. Tapi, yang pastinya aku tidak akan membiarkan nya di tinggal di Indonesia lagi dengan begitu kau tidak akan pernah berhubungan dengan nya lagi."


Nyonya Jesika terlihat begitu asik saja berbincang dengan seseorang yang ada di telepon. Ia tidak sadar, dari tadi Desta telah memperhatikan dirinya diam-diam di balik pintu. Wajah gadis itu terlihat benar-benar tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh ibu nya saat ini yang pastinya Desta sudah mengerti bahwa sikap ibu nya tiba-tiba berubah seperti itu akhir-akhir ini sudah perlahan-lahan terjawab. Untuk memastikan apa yang ia curigai, Desta akan mencoba mencari alasan supaya ayah nya membatalkan dirinya untuk berangkat ke luar negeri dengan begitu ia bisa mencari tahu apa yang sebenarnya direncanakan ibu nya kepada nya selama ini.


Desta juga penasaran kenapa ibu nya bertindak seperti itu kepada nya, padahal ia sama sekali tidak melakukan sebuah kesalahan apapun kepada nya. Masalah dirinya yang sering gonta-ganti pasangan, sebelum nya ibu nya malah mendukung nya dan tidak pernah sedikitpun melarangnya untuk melakukan hal itu. Ia rasa itu bukanlah suatu alasan kenapa ibu nya bersikap seperti itu, Desta rasa ibu nya telah menyimpan sesuatu hal yang tak ia ketahui selama ini dan harus benar-benar mencari tahu semuanya.


"Mami, rahasia apa yang kau simpan dari ku selama ini? Dan siapa orang yang menemani mu berbincang saat ini?"


Desta semakin penasaran dengan ibu nya, tapi ia tidak bisa terlalu berlama-lama di menguping takutnya ibu nya malah menyadari apa yang telah ia lakukan saat ini. Sekarang Desta memilih untuk pergi saja dan ia malah bertemu dengan Serena yang baru saja mengembalikan gelas air minum ke dapur.


"Serena, aku ingin berbicara kepada mu!"


"Bicaralah!"


"Tidak disini!"


"Lalu?"


"Ikutlah dengan ku."


Serena pun mengikuti Desta dari arah belakang, sebenarnya ia begitu malas untuk berbincang dengan adik nya itu. Tapi, melihat Desta yang terlihat begitu serius ingin berbicara kepada nya akhirnya Serena mencoba untuk memaksakan diri untuk mendengar apa yang ingin dikatakan oleh adik nya itu. Terutama, ia juga cukup merasa kasihan dengan kehidupan yang dijalani Desta saat ini, ia tak menyangka adik nya itu malah hamil diluar nikah dan sekarang kedua orangtua nya sama sekali tidak mau menerima laki-laki itu di keluarga mereka. Entah seperti apa nasib kandungan yang ada di perut Desta nantinya, Serena sangat berharap ada jalan keluar nya sehingga janin yang ada di dalam kandungan Desta malah menjadi korban nya.


"Aku ingin kau membujuk papi untuk membatalkan penerbangan ku ke luar negeri."


"Urusan dengan ku apa?"


"Apa kau sama sekali tidak punya hati sedikitpun melihat saudara mu sedang mengalami musibah seperti ini, hah?!"


"Apa kau pernah mengasihani ku selama ini? Tidak, kan?!"


"Serena! Aku sedang serius meminta mu untuk membujuk papi! Aku tahu, papi pasti akan memenuhi permintaan mu."


"Kenapa tidak kau saja?"


"Ngapain aku meminta mu jika aku sendiri bisa?!"

__ADS_1


"Tidak! Aku malas!"


"Serena, aku sudah meminta mu baik-baik. Bisakah kau melakukan nya untuk ku, sekali ini saja?!"


Desta benar-benar terlihat memohon kepada Serena. Karena Desta sendiri sudah kebingungan meminta pertolongan dari siapa lagi selain kepada saudara nya yang sebelumnya sering ia musuhi. Sebenarnya Desta juga tidak ingin meminta pertolongan dari Serena, tapi ia tak punya pilihan lain lagi dan ia pun berusaha menghilangkan rasa malu nya kepada Serena


"Aku akan mencoba nya!" Walaupun Serena berbicara dengan nada sedikit ketus, tapi ia akan tetap membantu Desta untuk membujuk ayah nya itu. Ia berharap ayah nya bisa memenuhi permintaan Desta, apa lagi Serena tahu saudara nya itu terlihat begitu engan untuk pergi ke luar negeri.


Mendengar Serena menyetujui nya, sekarang Desta langsung saja pergi tapi di dalam hati nya ia tak menyangka Serena masih mau membantu nya walaupun sebenarnya ia sempat memohon untuk melakukan hal itu semua. Dan setidaknya ia memiliki harapan untuk tidak pergi ke luar negeri.


"Dia berbicara apa dengan mu?"


"Dia hanya ingin aku membantunya."


"Membantunya? Tumben."


"Aku rasa tidak ada orang lain lagi yang dapat membantu nya sehingga memilih aku."


"Dan kau mau?"


"Istri ku memang terlalu baik."


"Aku berharap dia segera sadar dan berhenti melakukan sesuatu hal konyol."


"Aku juga berharap nya seperti itu dengan begitu dia berhenti memusuhi mu secara tidak jelas."


Serena hanya tersenyum tipis saja mendengar ucapan suami nya. Tapi, ia kembali teringat dengan pembahasan ayah nya dan suami nya sebelumnya.


"Mas Bram, bagaimana dengan orang itu? Apa kalian berdua papi sudah menemukan ide untuk menangkap orang itu?"


"Papi sudah mengirimkan beberapa orang untuk menangkap nya. Dan kita hanya tinggal menunggu kabar nya saja."


"Bagaimana jika mereka gagal?"


"Kita akan mencoba mencari jalan lain dan aku berjanji tidak akan membiarkan orang-orang itu menyakiti mu lagi."

__ADS_1


"Terimakasih, Mas Bram!"


***


Pagi hari Serena bangun dengan wajah yang terlihat berseri-seri, wanita itu langsung saja turun dari kasur setelah merasa puas menatap wajah suami nya yang sedang tidur. Serena keluar dari kamar dan melihat ayah nya sedang menikmati kopi di ruang tamu, wanita pun berpikir bahwa itu adalah kesempatan untuk dirinya berbincang kepada ayah nya membahas masalah Desta yang akan di berangkatkan ke luar negeri.


"Kau sudah bangun, Nak? Dimana, Bram?"


"Hem, Mas Bram masih tidur, Pi."


"Mungkin dia terlalu kelelahan setelah semalaman mengurus berkas itu!" ucap tuan Bisma yang begitu mengerti keadaan menantu nya itu dan ia jelas merasa sangat bersyukur karena menantu nya benar-benar dapat di andalkan.


Sejak kedatangan Bram, semua pekerjaan di kantor lebih sedikit ringan dan itu semua berkat Bram yang sangat pandai mengurus segala urusan di kantor sehingga ia tidak terlalu begitu pusing mengurus berkas itu sendirian di rumah.


"Aku merasa juga begitu, Pi."


"Jangan menganggu nya, biarkan sana dia tidur sepuasnya."


"Baik, Pi."


Saat ini Serena terlihat kebingungan bagaimana caranya ia membahas masalah Desta dengan nyaman sehingga ayah nya tidak seketika emosi mendengar ucapan nya.


"Papi, aku ingin membicarakan sesuatu hal kepada, Papi. Apakah Papi bersedia mendengar nya?"


"Tentu saja. Katakan, Papi akan mendengar nya dengan sangat baik."


"Tapi, Papi tidak boleh emosi dan harus bisa mengendalikan diri."


"Ada apa dengan mu, Serena? Kenapa kau terlihat begitu serius seperti ini?"


"Serena, memang ingin berbicara serius kepada, Papi. Maka dari situlah Papi harus bisa menahan diri untuk tidak emosi langsung saat aku mengatakan nya."


"Baiklah, segera katakan."


Serena menarik nafas nya dalam-dalam lalu mengeluarkan nya dengan pelan. Ia berharap diri nya bisa membuat ayah nya berubah pikiran untuk tidak memberangkatkan Desta ke luar negeri, apa lagi saudara nya saat ini sedang hamil muda dan jelas harus membutuhkan banyak beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2