
"Mas Bram!" teriak Serena dengan begitu nyaring, saat semua lampu di gedung itu semuanya padam secara mendadak. Semua orang terlihat panik bahkan berusaha mencari ponsel nya masing-masing untuk menghidupkan senters supaya suasana di dalam gedung itu sedikit lebih terang.
Namun, ketika orang-orang begitu asik mencari ponsel nya. Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang begitu nyaring di dalam gedung itu, semua orang seketika berteriak sambil berlarian mereka semua berlari tanpa memperdulikan siapapun lagi. Suara tangisan, serta suara meminta tolong terdengar begitu nyaring di telinga tuan Bisma padahal ia sangat berharap para tamu undangan tetap tenang namun mereka lebih mementingkan untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu ketimbang mendengar perkataan nya.
"Papi!" teriak Serena dari kejauhan, tuan Bisma langsung saja menuju ke arah suara itu dan segera mendekati anaknya karena Bram sebelum nya telah pergi lagi untuk mencari keberadaan Candra yang sempat bersembunyi dari nya.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja."
"Papi, pasti orang-orang itu ingin melakukan sesuatu hal yang tidak baik lagi."
"Tidak apa-apa, Papi akan selalu melindungi mu.
Sampai saat ini, Bram masih belum menemukan keberadaan Candra. Ia sebelumnya telah pergi ke arah kamar dimana nyonya Jesika sedang di kunci. Ia rasa laki-laki itu mungkin berusaha untuk mengeluarkan nyonya Jesika dari kamar nya namun sayangnya, Bram telah meminta beberapa pengawal untuk menjaga di sekitar tempat itu. Sehingga Candra tidak akan mudah untuk menjalankan rencana nya dan Bram sangat berharap para pengawal itu tidak lengah begitu saja.
"Kalian berdua tetaplah disini, jangan sampai membiarkan orang-orang menipu kalian berdua dengan cara apapun! Jika ada orang datang, segera laporkan pada ku dan tidak ada yang bisa masuk ke dalam kamar ini terkecuali aku!" ucap Bram dengan tegas.
Mengurung nyonya Jesika di dalam kamar adalah salah satu-satunya cara supaya nyonya Jesika berhenti untuk melakukan sesuatu hal yang konyol lagi. Terutama Bram tidak ingin nyonya Jesika malah kabur begitu saja ketika semua kejahatan yang telah ia lakukan selama ini di belakang keluarga Bisma. Ia ingin ibu mertua nya itu bertangungjawab dengan semuanya dan menerima semua resiko yang telah terjadi.
Setelah memastikan bahwa nyonya Jesika masih berada di dalam kamar. Bram langsung saja turun menuruni tangga untuk kembali ke lantai bawah menemui Serena serta yang lainnya. Namun, tiba-tiba saja ia malah di dorong oleh seseorang secara mendadak saat ia tiba di depan pintu lantai lima. Bram langsung saja berguling-guling menuruni tangga dan berusaha sekuat tenaga untuk mencari tempat diri berpegangan tapi sayangnya tidak ada benda yang dapat ia tahan sehingga ia pun terus berguling-guling ke bawah. Kepala Bram pun seketika terbentur mengenai tembok, penglihatan terasa begitu kabur saking sakit menahan rasa sakit di bagian kepala nya.
"Akh! Sialan!" Bram berusaha bangkit berdiri karena ia yakin orang itu sedang mendekati dirinya untuk menghajar nya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan nya dengan mudah mengalahkan ku!" gumam Bram dalam hati nya. Walaupun kepala nya terasa berdenyut sakit tapi Bram masih mampu untuk bangkit berdiri dengan keadaan terhuyung-hayang.
"Candra, apa kau sama sekali tidak takut bahwa hidup mu akan segera berakhir oleh ku?" ucap Bram yang sudah cukup lama untuk menahan diri supaya tidak memberikan pelajaran kepada Bram.
Selama ini Bram selalu diam-diam memberikan peringatan saja dan berharap Candra tidak terlalu bertindak jauh. Tapi, sayangnya Candra sekali tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Bram dan justru malah membuat masalah besar kedalam keluarga istri nya.
"Kakak sepupu, sebaiknya kau kembalilah ke tempat asal mu di penjara dan tempat itu benar-benar sangat pantas untuk mu. Jika kau bebas seperti ini, ibu ku akan terus memarahi ku setiap dan kau tahu, aku sangat bosan mendengar nya."
"Dasar bodoh! Jika kau tidak ingin mendengar nya maka pergilah dari kehidupan nya!"
"Dia seorang perempuan yang melahirkan ku. Aku tidak mungkin pergi dari nya."
"Kalian hidup di dunia ini hanya untuk menghancurkan kehidupan orang-orang saja. Apakah kalian tidak bisa tenang sedikit, hah?" kesal Bram, ia kembali teringat kejadian dimana dirinya tinggal serumah dengan keluarga itu, ia selalu di perlakukan dengan sangat baik ketika berada di hadapan nya tapi ketika berada di belakang nya orang-orang itu berusaha menyingkirkan diri nya. Dan mengambil semua harta yang telah ia miliki hingga ia akhirnya malah di cap sebagai seorang pembunuh serta telah melakukan korupsi.
Candra membawa sebuah palu yang cukup besar di tangannya. Palu tersebut jelas di gunakan untuk menghajar Bram sendiri, sedangkan Bram yang melihat hal itu sama sekali tidak takut ia akan menghadapi Candra dengan tangan kosong saja.
"Bram!" teriak Serena yang seketika mengejutkan kedua laki-laki yang sudah ingin mulai bertarung tapi untungnya Serena dengan cepat datang hingga membuat kedua orang itu tidak melakukan pertumpahan darah di tempat tersebut.
"Juan! Kau tangkap lah laki-laki itu!" perintah Serena yang jelas tidak ingin pergi sendirian menemui Bram karena ia tahu sendiri resikonya sangat besar.
Candra yang melihat Juan datang ingin membantu dengan cepat mencari kesempatan untuk kabur. Bram yang ingin menghentikan Candra seketika dihentikan oleh Serena.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang? Kenapa kau menghentikan ku?"
"Mas Bram, di Aula ada yang telah membunyikan sebuah senjata nya. Aku rasa itu bukan Candra!" ucap Serena.
"Dia kemari sudah jelas datang dengan beberapa orang. Hanya saja kita belum melihat wajah nya siapa saja orang-orang yang telah berkerjasama dengan nya," jelas Bram.
"Sebaiknya kita berdua kembali menemui ayah ku ku dan Desta yang masih saja berada Aula."
"Hem, ayo!" Bram langsung saja menarik tangan Serena dan mencoba mengajak istri nya berlari supaya segera tiba di tempat itu. Tapi sayangnya, kepala nya masih saja sakit dan ternyata ia telah mengalami luka robekan hingga menyebabkan darah keluar begitu saja tanpa di sadari Bram.
Serena sangat panik melihat suami nya terluka seperti itu, belum lagi saat ini suasana terasa menakutkan dan jelas membuat pikirannya terasa begitu kacua.
"Mas Bram, apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, ayo!" Bram berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlalu terlihat kesakitan di hadapan Serena. Padahal sebenarnya ia rasanya hampir pingsan menahan rasa sakit ituntali is tidak ingin semakin membuat istri nya terlalu panik serta ketakutan berada di samping nya.
"Mas Bram, serius?"
"Hem, aku serius. Lihatlah aku bisa jalan sendiri, kan?"
Setelah melihat Bram yang terlihat baik-baik saja, kini Serena sudah mulai kembali tenang. Ia sangat berharap bisa segera membawa suami nya untuk ke rumah sakit mengobati luka tersebut. Sekarang Serena dan Bram telah tiba Aula tempat dimana tuan Bisma dan Desta berada sebelumnya. Namun, ketika tiba di tempat tersebut Serena dan Bram sama sekali tidak melihat keberadaan kedua orang itu.
__ADS_1
"Bukankah kau bilang mereka berdua masih berada disini?"
"Benar, tapi kemana mereka berdua pergi, ya? Apa mungkin sudah masuk kedalam kamar?"