
"Serena, berkat bantuan mu kini aku tidak harus di berangkatkan ke luar negeri oleh, papi."
"Hem, syukurlah."
"Kau menginginkan apa? Aku akan mengabulkan nya?"
"Untuk apa?"
"Katakan saja! Kau tidak perlu bertel-tele dan berpura-pura tidak tahu apa maksud ku!"
"Aku tidak ingin apa-apa."
"Baiklah, aku akan membelikan mu tas yang bermerk itu saja."
"Aku tidak membutuhkan nya. Sebaiknya tidak perlu membuang-buang uang mu."
"Aku tidak ingin memiliki hutang budi dengan mu. Sebaiknya kau harus menerima nya."
"Aku sama sekali tidak menganggap nya sebagai hutang budi. Jadi, jangan terlalu berlebihan."
"Cih! Apakah kau menginginkan sesuatu hal yang mahal? Baiklah, aku akan membelikan berlian untuk mu."
"Sudah ku katakan tidak perlu!"
Desta merasa sangat kesal dengan Serena yang sangat sulit untuk dibujuk, padahal ia hanya ingin membayar hutang budi nya karena Serena telah membantu dirinya keluar dari masalah itu.
"Kalau begitu kau berhentilah mencari masalah dengan ku. Apa kau bisa melakukan nya?"
"Maksud ... kamu?"
"Aku tidak perlu menjelaskan nya sejelas mungkin! Karena aku tahu kau bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa."
Desta pada akhirnya mengerti apa yang dikatakan oleh Serena. Ia pikir Serena akan meminta sebuah imbalan yang sangat besar dari nya, tapi ternyata saudara nya itu malah meminta sesuatu hal yang diluar dari nalar nya. Tapi, menurut Desta permintaan Serena sama sekali tidak buruk untuk dilakukan sehingga ia pun menyetujui permintaan tersebut.
__ADS_1
Serena pergi meninggalkan Desta sendirian di pinggir kolam renang. Wanita itu terlihat tersenyum senang ketika melihat Desta sudah tahu diri membalas kebaikan orang lain terhadap nya dan ia berharap Desta bisa sadar tidak melakukan sesuatu kesalahan yang begitu fatal lagi seperti sebelumnya.
"Papi, terimakasih kau sudah memberikan nya kesempatan lagi. Aku harap dia benar-benar bisa berubah."
"Papi, sebenarnya tidak tega. Tapi, melihat sikap nya yang terlalu kurang ajar selama ini membuat Papi sudah kehilangan kesabaran. Dan untungnya kau bisa menenangkan hati Papi kembali, Serena."
Melihat istri dan mertua nya yang sedang mengobrol, Bram langsung saja ikut bergabung untuk duduk di depan teras rumah.
"Bram, sore nanti aku ingin mengajak mu bertemu dengan klien ku di salah satu restoran terkenal di kota ini. Apa kau bisa ikut?"
"Bisa, kira-kira jam berapa?"
"Jam 3 sore, kamu harus sudah siap."
"Aku ingin ikut, Pi!" sahut Serena dengan penuh semangat, ia merasa tidak sabar melihat pemandangan yang di luar sana sambil berjalan menggunakan kedua kaki nya itu.
"Kau baru saja sembuh, Nak. Sebaiknya di rumah saja."
"Aku sangat bosan berada di rumah."
"Apa yang dikatakan oleh Papi mu benar, Serena. Ini semua demi kebaikan mu."
Serena pada akhirnya menyerah untuk membujuk kedua laki-laki di depan nya. Lalu ia pun memilih untuk mengundurkan diri nya saja dari perbincangan kedua laki-laki itu ketimbang ia malah menjadi obat nyamuk saja, ia lebih baik meminum obat nya yang masih belum habis dari dokter. Tapi, ketika Serena sedang meminum obat nya ia malah tiba-tiba mengingat sesuatu hal hingga membuat wanita itu terlihat seketika menjadi senang, padahal awalnya wajah Serena benar-benar cemberut karena tidak di perbolehkan ikut keluar oleh ayah dan suami nya. Tapi, sekarang Serena memiliki sebuah ide dan kedua laki-laki itu sama sekali tidak bisa menolak apa yang ia katakan nanti nya.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, Bram dan tuan Bisma tampak kebingungan melihat penampilan Serena yang begitu rapi saat ini.
"Nak, kamu ingin kemana?" tanya tuan Bisma.
"Apa Papi lupa bahwa sore ini Serena memiliki jadwal untuk kontrol kembali dengan dokter, ya?"
Bram dan tuan Bisma saling menatap satu sama lain, mereka berdua benar-benar sangat lupa dengan jadwal yang begitu penting bagi Serena hari ini. Sekarang tuan Bisma melarang Bram untuk ikut dengan nya dan ia meminta menantu nya lebih baik menemani anak nya ke rumah sakit saja. Sedangkan klien itu, ia akan menemui nya sendiri karena Serena sangat membutuhkan Bram di samping nya apa lagi anak nya itu baru saja sembuh dari lumpuh nya sehingga tuan Bisma tidak ingin anak nya melewati jadwal kontrol nya yang begitu penting itu.
"Ayo, masuklah kedalam mobil!" ajak Bram sambil membuka pintu mobil untuk istri nya, Bram benar-benar memperlakukan Serena layaknya seorang tuan putri. Apapun yang Serena inginkan, Bram selalu berusaha untuk memenuhi permintaan wanita itu dan Bram sama sekali tidak keberatan melakukan hal itu.
__ADS_1
"Mas Bram, setelah pulang dari rumah sakit. Aku ingin berhenti di restoran itu! Apakah boleh?"
"Boleh, tapi makan di rumah saja. Itu akan lebih baik."
"Yang penting bisa makan makanan dari restoran itu, kok."
"Mas, Bram! Bukankah itu ibu tiri ku?" tunjuk Serena begitu jelas melihat sosok nyonya Jesika yang sedang berada di dalam mobil bersama dengan seseorang.
"Hem, benar. Tapi, mobil nya bukan milik nya, kan?"
"Benar, tapi siapa orang yang bersama dengan nya, ya?"
Bram dan Serena sangat penasaran dengan seseorang yang ada di samping nyonya Jesika. Bahkan mereka berdua sendiri melihat orang itu malah hampir saja menyerempet seorang tukang becak yang juga berada di jalan itu. Bram dan Serena rasanya senam jantung ketika melihat paman beca itu hampir saja terjatuh.
"Aku akan berhenti sebentar," ucap Bram yang merasa sangat kasihan dengan paman becak yang kini memilih berhenti di pinggir jalan karena ia sendiri juga sangat terkejut dengan sebuah mobil yang tiba-tiba saja mendekati diri nya, padahal ia sudah melalui jalan yang benar dan ia sama sekali tidak terlalu melewati jalan tengah tapi tetap saja mobil itu hampir menabrak nya.
"Bapak, baik-baik saja?" tanya Bram.
"Iya, baik-baik saja."
"Ini untuk, Bapak."
"Uang ini untuk apa? Kenapa kau memberikan nya untuk ku?"
"Hanya ingin berbagi kepada Bapak saja. Tolong terimalah," ucap Bram yang langsung saja pergi masuk kedalam mobil nya, ia tentunya tidak bisa terlalu beelama karena Serena akan bertemu dengan dokter jam 4 sore nanti sedangkan jam sudah menunjukkan setengah 4 sore.
Kini Bram dan Serena kembali melanjutkan perjalanan mereka berdua lagi, tapi di sepanjang perjalanan Serena tiba-tiba saja kembali kepikiran tentang orang yang bersama dengan ibu nya sebelum nya. Terutama dengan tato yang di miliki oleh orang itu, terlihat sama sekali tidak asing di mata nya.
"Kenapa aku begitu kesulitan mengingat siapa yang memiliki tato itu, ya?!" gumam Serena dalam hatinya yang begitu kesal kepada diri nya sendiri.
"Sayang, kita sudah sampai. Ayo, turunlah!" tegur Bram hingga seketika menyadarkan lamunan Serena.
"Itukan orang yang memiliki tato yang ada di dalam mobil ibu sebelum nya?" gumam Serena yang semakin penasaran dengan sosok orang itu. Tapi, disamping orang itu ia sama sekali tidak melihat kebarada ibu nya.
__ADS_1
"Mungkinkah ada beberapa orang yang sama memiliki tato itu?" Serena terus bergumam di dalam hatinya.
Sedangkan Bram terlihat begitu asik berbincang dengan seorang dokter yang sebelumnya menangani Serena operasi.