Mendadak Menikahi Gadis Cacat

Mendadak Menikahi Gadis Cacat
Salah Bicara


__ADS_3

"Dok, apa kau tidak salah bicara?" tanya tuan Bisma yang sama sekali tidak mempercayai omongan dokter Davin.


"Benar, Tuan Bisma. Saya sama sekali tidak salah bicara dan Nona Serena tidak lagi harus duduk di kursi roda itu lagi."


"Sebaiknya Dokter pergi beristirahat lah saja. Mungkin dokter sedang kelelahan menangani pasien yang cukup banyak hari ini!"


Saking merasa masih tidak mempercayai omongan dokter, tuan Bisma malah berbicara ngawur hingga dokter Davin menjadi bingung mendengar ucapan nya. Bahkan Davin menatap ke arah Bram berharap menantu tuan Bisma bisa menjelaskan semuanya. Sedangkan Bram sendiri hanya mengangkat kedua bahu nya saja seolah-olah tidak tahu apa-apa, padahal Bram sendiri mengerti apa yang dikatakan oleh mertua nya itu.


Bram merasa sangat senang mendengar kabar bahwa istri nya bisa pulih kembali seperti dulu lagi. Ia sama sekali tidak sabar menantikan momen itu, terutama ia juga tidak sabar melihat senyuman bahagia istri nya saat mengetahui dirinya bisa kembali berjalan seperti dulu lagi.


"Sayang, cepatlah sadar. Aku tidak sabar mengatakan kabar bahagia ini untuk mu," gumam Bram dalam hati nya sambil memeluk punggung tangan Serena dengan begitu erat dan sesekali dirinya juga mencium dengan lembut tangan istri nya itu.


Hari sudah malam, Bram terlihat senantiasa berada di samping Serena tapi wanita itu masih belum juga sadarkan diri. Namun, ketika Bram berniat ingin pergi ke kamar mandi tiba-tiba ia melihat kedua mata Serena tampak berkedip. Bram langsung saja terdiam sebentar menatap ke arah istri nya dan memastikan bahwa apa yang ia lihat barusan tidak salah, ia bahkan tanpa sadar menahan nafas nya serta kedua matanya cukup lama tidak berkedip demi memastikan semuanya.


"Serena, bangunlah!" ucap Bram yang masih belum juga melihat Serena mengedipkan mata nya lagi, tapi setelah dirinya memegang erat kedua tangan wanita itu seketika ia merasakan tangannya di genggam oleh istri nya. Bram langsung saja tampak bersemangat menantikan istri nya bangun membuka kedua mata nya.


"Bram ..." Walaupun belum sepenuhnya sadar, tapi Serena spontan menyebutkan nama suami nya. Bram yang mendengar nya merasa sangat terharu, ia pun mengelus rambut Serena dengan lembut sambil mencium punggung tangan istri nya dengan penuh kasih sayang.


"Serena Sayang, bangunlah. Aku sangat menantikan mu."


Serena kini perlahan-lahan membuka kedua kelopak mata nya. Penglihatan nya masih terlihat masih samar-samar, tapi ia sama sekali tidak ingin putus asa dan tetap mencoba membuka kedua matanya walaupun rasanya terasa begitu berat, tapi Serena sama sekali tidak ingin menyerah apa lagi ketika mendengar suara Bram yang terdengar begitu nyaring di telinga nya membuat Serena pada akhirnya sudah benar-benar kembali sadar. Melihat Bram ada di samping nya, Serena merasa sangat bahagia walaupun ia sama sekali masih belum bisa mengekspresikan senyuman nya tapi dihatinya ia bisa merasakan kebahagiaan itu.


"Mas Bram, kau baik-baik saja, kan?"


"Hem, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan mu?"


"Tubuh ku entah kenapa terasa begitu ringan sekali bahkan kedua kak—" ucap Serena terpotong, saat ia tanpa sengaja mengerakan kedua kaki nya dan ia merasa bahwa kedua kakinya benar-benar terasa begitu aneh.


Serena terus berulang kali mengerakan kedua kakinya, ia merasa apa yang terjadi pada nya saat ini terasa seperti mimpi bagi nya.


"Kedua ... kaki ku?"


"Tidak! Ini tidak mungkin! Sepertinya ini hanyalah mimpi ku saja!"


Serena terus bergumam dalam jati hati nya. Karena ia sendiri masih belum mempercayai bahwa kedua kakinya bisa digerakkan bahkan ia berpikir mungkin ia masih belum bangun dari tidur nya.Tapi, melihat Bram tersenyum menatap ke arah diri nya Serena merasa ia sama sekali tidak bermimpi dan kedua kakinya sudah benar-benar dapat digerakkan kembali seperti dulu lagi.


"Mas Bram, apa yang terjadi pada ku?"


"Sekarang kau tak perlu duduk dikursi roda lagi. Karena kau sudah bisa berjalan kembali normal lagi seperti dulu," ucap Bram dengan penuh semangat.


"Be—benarkah?"


"Hem, buktinya kau sudah bisa mengerakan kedua kaki mu, kan?"


"Ini bukan mimpi kan, Mas?"


"Tidak! Ini benar-benar nyata."


Serena langsung saja memeluk Bram sambil menangis sesegukan. Berjalan normal seperti yang lainnya tentu saja itu adalah harapan besar di hidup Serena selama ini. Apa lagi sekarang ia telah memiliki seorang suami membuat Serena sudah tidak sabar lagi menikmati kebersamaan dengan orang yang ia cintai.


Tuan Bisma yang baru saja kembali dari luar tanpa sengaja melihat pemandangan yang begitu mengharukan. Ia berharap anak dan menantu nya bisa hidup bahagia untuk selama nya, bahkan tuan Bisma tiba-tiba berharap mendapatkan cucu secepatnya dengan begitu rumah nya akan semakin ramai dengan kehadiran seorang anak kecil. Tapi, ia kembali teringat dengan keadaan Serena yang baru saja pulih dari lumpuh nya yang sudah bertahun-tahun lama nya itu, sehingga ia lebih baik membiarkan kedua orang itu menikmati kebersamaan terlebih dahulu dengan sepuasnya.


"Ehem!" Tuan Bisma langsung saja berdehem dengan cukup nyaring, lalu ia pun mendekati kedua orang itu dan membicarakan masalah kecelakaan yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu.


"Aku sudah mendapatkan rekaman CCTV-nya serta plat truk yang menabrak kalian berdua sebelumnya," jelas tuan Bisma.


"Ayah, sudah mendapatkan nya secepat itu?"


"Kau tidak perlu ikut membahas hal ini. Sebaiknya kamu lebih banyak beristirahat saja," ucap tuan Bisma yang tak ingin membuat anaknya kelelahan hanya karena memikirkan semua masalah yang terjadi. Apa lagi Serena baru saja menjalani operasi di bagian kepala nya karena telah mengalami sedikit robekan sehingga harus ada sedikit perbaikan oleh dokter.


"Kau dengar apa yang dikatakan Ayah barusan? Sebaiknya kamu tidurlah lagi, jangan terlalu banyak bergerak," sahut Bram.


Serena pun akhirnya terpaksa melakukan apa yang telah dikatakan oleh ayah dan suami nya itu. Tapi, ia sama sekali tidak ingin tidur dan tetap terjaga karena ia sendiri sudah merasa sangat bosan jika terus menerus tidur dan rasanya Serena sudah tidak sabar untuk menggunakan kedua kaki nya berjalan kembali seperti dulu lagi.


"Aku tidak mengenal siapa orang nya, hanya saja kendaraan yang di pakai oleh orang ini malah di temukan di dalam jurang. Tapi, pengemudinya sama sekali tidak di temukan berada di sekitar tempat itu," jelas tuan Bisma yang baru saja mendapatkan laporan dari salah satu pengawalnya beberapa waktu yang lalu.


"Sebelumnya, aku telah melihat seorang laki-laki ingin menikam Mas Bram dari arah belakang saat Mas Bram asik membeli bunga. Dan semua yang terjadi berawal dari situ!" sahut Serena yang masih saja teringat dengan jelas kejadian itu.


"Orang itu bukanlah pelaku yang sebenarnya. Dia hanya suruhan orang saja."


"Apa Mas Bram ingat sosok gadis yang ada di restoran sebelumnya?" tanya Serena.


"Memang nya kenapa? Aku kan tidak melihat wajah nya."


"Sesudah kecelakaan itu, aku melihat sendiri dia tersenyum senang menatap ke arah ku. Dan dimana ponsel ku?"


"Ini."


"Kau lihatlah foto gadis itu di ponsel ku! Siapa tahu kau mengenalnya."


Bram pun langsung saja membuka galeri yang ada di ponsel Serena dan melihat apa yang dikatakan oleh istri nya barusan. Setelah melihat foto itu, Bram seketika terdiam lalu menatap ke arah mertua nya yang saat ini begitu penasaran kenapa menantu nya menatap nya seperti itu kepada nya.


"Lepaskan, Istri ku brengsek!"


Bram dengan segera menghampiri Marvel yang saat ini sedang memegang kedua bahu Serena lalu Bram langsung memberikan sebuah pukulan beberapa kali ke arah wajah Marvel.


Desta yang baru saja datang dari dapur sangat terkejut saat melihat kekasih nya di pukul oleh Bram. Gadis itu benar-benar sangat marah sehingga Desta langsung saja menampar wajah Bram tanpa mengetahui kebenaran yang telah dilakukan Marvel kepada istri nya itu.


"Jika kau ingin hidup mu lebih baik! Segera akhiri hubungan mu dengan laki-laki brengsek ini!" peringat Bram kepada Desta.


Namun, gadis itu sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang Bram katakan, justru Desta semakin membenci Bram dan ia bahkan akan membalaskan perbuatan Bram terhadap kekasih nya barusan.

__ADS_1


"Sayang, kau tidak apa-apa, kan?" tanya Desta yang begitu perduli terhadap Marvel.


"Wajah ku terasa sakit sekali."


"Baiklah, aku akan segera mengoleskan salep supaya rasa sakit nya segera hilang." Desta pun langsung membawa kekasih nya pergi dari hadapan Bram. Tapi, kejadian barusan ia sama sekali tidak akan melupakan nya dan ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa Bram akan segera mendapatkan pelajaran dari nya.


"Gadis itu sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan ku!"


"Biarkan saja! Suatu saat dia akan menyesalinya! Gadis yang seperti itu memang harus mendapatkan pelajaran terlebih dahulu, baru menangisi menyesalinya!" sahut Serena yang sudah tidak terlalu perduli dengan adik tiri nya itu.


"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Bram yang baru saja sadar tentang istri nya.


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan ku."


"Jika laki-laki itu terus datang ke rumah ini, aku tidak yakin kau akan baik-baik saja karena nya."


"Lalu apa rencana mu sekarang?"


"Sebenarnya aku ingin segera menghabisi nya tapi aku akan membalaskan perbuatan mereka semua terhadap ku di masa lalu terlebih dahulu. Aku harap kau tidak akan keberatan."


"Selama kau baik-baik saja, aku tidak akan mempermasalahkan nya."


"Begini saja, disaat aku pergi keluar. Aku akan meminta beberapa pengawal ayah mu untuk menjaga mu sementara aku datang, bagaimana?"


"Ide yang bagus, aku setuju, Mas."


Bram berpikir membahas masalah hal itu tidak perlu penting lagi karena ia sendiri akan menyelesaikan masalah tersebut tanpa melibatkan istri nya, ia pun mengajak Serena untuk masuk kedalam kamar dan ingin mengajak gadis itu mandi bersama dengan dirinya.


***


Selang beberapa minggu setelah kejadian dimana Marvel ingin membuat Serena menderita pada akhirnya laki-laki itu mendapatkan sebuah karma yang setimpal atas perbuatan nya, dimana saat ini Marvel sedang menjalankan operasi nya karena ia tidak sengaja mengalami kecelakaan tunggal akibat menyetir terlalu laju, sehingga mobilnya pun tidak bisa dikendalikan lagi dan pada akhirnya ia masuk kedalam sungai kecil yang berada di pinggir jalan.


"Mami, aku harus bagaimana? Apakah aku harus mempertahankan Marvel? Sekarang dia sudah tidak seperti dulu lagi! Aku tidak mungkin hidup bersama dengan seorang laki-laki cacat seperti nya," jelas Desta dengan jujur walaupun sebenarnya ia turut prihatin dengan keadaan laki-laki itu, tapi ia lebih mementingkan masa depan nya dan tidak ingin hidup menderita bersama orang cacat seperti Marvel yang tak bisa berbuat apa-apa selain berada di atas kasur nya.


"Tinggalkan dia!" ucap ibu Jesika yang jelas tidak ingin membiarkan putri satu-satunya itu harus menjalani kehidupan yang begitu pahit.


"Apakah semuanya akan baik-baik saja, Mi?"


"Tentu saja! Laki-laki itu jelas tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi!"


Mendengar ibu nya yang sangat mendukung semua keputusan nya, Desta benar-benar merasa sangat lega sekarang. Kini keputusan nya sudah bulat untuk mengakhiri hubungan nya dengan Marvel. Mulai sekarang dirinya akan melupakan laki-laki itu serta ia akan menghapus semua foto kenangan yang ada di ponsel nya.


"Sepertinya kita berdua tidak di takdirkan untuk bersama, Marvel!" gumam Desta yang terlihat sama sekali tidak bersedih.


Melihat Desta yang begitu asik duduk di sofa tamu. Tuan Bisma pun segera menghampiri anak nya dan sekaligus ingin mengatakan sesuatu kepada Desta.


"Papi, ada apa?"


"Bukankah itu yang Papi inginkan?"


"Kenapa kau begitu mudah meninggalkan seorang laki-laki seperti itu? Cintailah satu laki-laki bukan mencintai semua laki-laki, Desta! Berhentilah bermain-main kepada laki-laki kau justru bisa saja mendapatkan karma atas perbuatan mu ini!"


"Seharusnya Papi mendoakan yang baik-baik saja untuk Desta! Bukan malah mengutuk seperti itu!" kesal Desta.


"Karena sikap mu ini benar-benar sudah keterlaluan! Pergilah menemui laki-laki itu setidaknya temani dia sampai dia benar-benar sudah sembuh dan setelah itu baru kamu mengambil sebuah keputusan untuk mengakhiri hubungan kalian berdua!"


"Tidak! Aku tidak akan pernah menemuinya!"


Tuan Bisma rasanya sangat ingin menampar wajah anak nya yang begitu keras kepala tidak mau mendengarkan ucapan sama sekali. Tapi, ia berusaha untuk menenangkan hati nya dan berharap anaknya mau mendengarkan apa yang ia katakan walaupun ia tahu itu semua sangat mustahil.


Desta merasa muak dengan ayah nya, sehingga ia memilih untuk pergi saja dengan hati yang begitu kesal karena ayah nya sama sekali tidak pernah mau mendukung apa yang ia mau selama ini.


"Ayah, Desta sangat keras kepala dan sangat sulit untuk dinasehati. Sebaiknya Ayah tidak perlu terbawa emosi seperti ini, itu tidak baik untuk kesehatan, Ayah!" ucap Serena yang tiba-tiba berada di belakang tuan Bisma.


"Sekarang Ayah juga sudah lepas tangan, biarkan dia sendiri yang mengatur hidup nya. Dan Ayah berharap dia tidak akan menyesalinya."


"Baiklah, tapi ngomong-ngomong Marvel kenapa bisa kecelakaan seperti itu?" tanya Serena yang begitu penasaran.


"Dari infromasi yang Ayah dapatkan, laki-laki itu mabuk dan menyetir terlalu laju sehingga tidak bisa mengendalikan mobilnya dengan baik lagi."


"Mungkin itu sudah karma karena perbuatannya yang keji itu!" ucap Serena, ia tentu saja masih teringat dengan jelas apa yang telah Marvel lakukan kepadanya seminggu yang lalu.


"Hem, kau benar, Nak. Kalian berdua mau kemana?"


"Mau pergi jalan-jalan terlebih dahulu. Rasanya sangat membosankan jika terus berada di rumah."


"Baiklah, kalian berdua hati-hatilah."


Sekarang Bram mendorong kursi roda Serena menuju ke arah mobil yang sudah terpakir di depan rumah. Sebelumnya ia telah berjanji akan membawa istri nya pergi jalan-jalan menghirup udara yang segar diluar sana dan tidak lupa ia akan membawa Serena untuk makan siang di salah satu restoran mewah di kota tersebut.


"Katakan jika kamu ingin pergi ke suatu tempat, aku akan bersedia mengantar mu."


"Pergi ke mall saja, Mas. Aku sudah lama tidak berbelanja pakain dan aku ingin sekaligus berbelanja pakain Mas juga."


"Ini pertama kali nya kan kita pergi berbelanja ke, Mall?" lanjut Serena lagi.


"Hem, kau benar. Aku jadi tidak sabar tiba disana sekarang."


"Apa yang ingin Mas beli disana?"


"Aku ingin membelikan pakain untuk mu serta ingin membeli beberapa barang yang aku rasa kau sangat membutuhkan nya," jelas Bram.

__ADS_1


"Benarkah Mas Bram ingin membelikan nya untuk ku? Memang nya Mas Brama tahu apa yang aku suka dan yang tidak?"


"Istri ku sangat menyukai pakain yang sangat simple yang penting kain nya sangat nyaman di pakai saja."


"Benar, Mas. Kenapa Mas tahu?"


"Walaupun kita berdua baru saja tinggal bersama, tapi aku sangat mudah mengetahui sifat dan karakter istri ku. Apa lagi makanan kesukaan istri ku sendiri, aku tentu saja tahu apa yang Istri ku suka!" jelas Bram hingga membuat Serena merasa sangat terharu mendengar ucapan suami nya barusan.


Kekhawatiran Bram membuat nya hampir begitu gila. Ia tidak menyangka dirinya sampai terlalu berlebihan mengkhawatirkan istri nya yang saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Ia pikir Serena telah di bawa beberapa orang yang memakai pakaian serba hitam itu dan ia hampir saja berangkat menemui orang yang masuk kedalam terowongan sebelum nya, tapi untungnya ia masuk ke dalam kamar terlebih dahulu dan memeriksa ke dalam kamar mandi yang ternyata istri nya sedang mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terlihat kotor akibat minuman jus yang tak sengaja Bram tumpahkan sebelum nya.


"Kenapa kau membuka pintu nya? Bukankah, aku sudah jelas melarang mu membuka nya?"


"Takutnya ketika Mas Bram kembali, aku tidak mendengar nya. Jadi, aku biarkan saja pintu nya terbuka," jelas Serena.


"Serena, kau benar-benar wanita pertama yang membuat ku khawatir seperti ini," gumam Bram dalam hati nya.


Hari sudah mulai sore, Bram dan Serena pun akhirnya memutuskan untuk pergi menikmati pantai di sore hari. Kedua orang itu benar-benar sangat menikmati pemandangan yang begitu indah di pantai itu, air yang terlihat biru dan jernih membuat Serena sangat ingin pergi mandi tapi ia sadar diri nya sama sekali tidak dapat melakukan hal itu semua.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba melamun seperti itu?" tanya Bram, padahal sebelum nya Serena terlihat sangat bahagia tapi sekarang raut wajah istri nya tiba-tiba saja berubah hingga membuat nya menjadi bingung sendiri.


"Tidak apa-apa, Mas," ucap Serena, ia tidak ingin mengatakan kepada suami nya tentang keinginan nya karena ia tahu sendiri ia akan malah merepotkan Bram.


"Apa kau bosan?"


"Tidak, kok."


Bram jelas melihat bahwa istri nya sedang bosan, ia pun memiliki suatu ide untuk menyenangkan Serena.


"Mas Bram! Apa yang kau lakukan?!"


Serena begitu terkejut saat suami nya tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya dari kursi roda. Tapi, beberapa detik kemudian, ia malah melihat Bram membawa diri nya mencebur ke air. Serena tak menyangka suami nya benar-benar begitu peka terhadap nya, padahal ia sama sekali tidak mengatakan apapun kepada laki-laki itu.


"Bagaimana? Apa kau senang sekarang?!"


"Sudah lama aku tidak mandi menikmati air pantai dan ini pertama kali nya sejak aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Terimakasih, Mas Bram," jelas Serena tanpa sadar meneteskan air mata nya. Ia sangat terharu dengan apa yang telah Bram lakukan kepada nya.


"Serena, jika menginginkan sesuatu bicaralah. Itu sudah kewajiban ku untuk memenuhi keinginan mu, tapi aku harap kamu jangan kecewa jika suatu saat aku benar-benar tidak bisa melakukan nya," jelas Bram. Ia pun memeluk istri nya dengan erat, sedangkan Serena terus berada di pangkuan Bram. Hingga kedua orang itu pada akhirnya terhanyut dalam sebuah permainan yang mengairahkan.


Sekarang Serena benar-benar sepenuhnya memberikan seluruh hidup nya untuk Bram. Kini, ia telah yakin bahwa laki-laki yang sedang bersama nya saat ini adalah laki-laki yang terakhir ada di hati nya. Kedua orang itu saling berpelukan dengan begitu erat, matahari pun perlahan-lahan tengelam air laut pun sudah terasa mulai berubah menjadi dingin. Bram dan Serena pun akhirnya naik ke pinggir pantai lalu berbaring di atas pasir yang terasa begitu hangat.


Cinta yang tulus didapatkan Serena membuat hidup wanita itu sekarang menjadi berarti. Tidak seperti sebelumnya, ia selalu merasa putus asa dan bosan dengan keadaan yang ia alami.


***


Hari sudah pagi, terlihat Bram begitu sibuk mengurus pekerjaan di dapur. Laki-laki itu pagi-pagi sekali membuat serapan untuk dirinya dan istri nya. Sebuah senyuman manis terukir diwajah Bram, ia terlihat begitu semangat melakukan semua pekerjaan nya. Apa lagi ketika mengingat kejadian semalam membuat Bram tak henti-henti nya mengingat nya, kenangan itu sangat berharga dihidup nya dan kini Bram benar-benar menemukan kebahagiaan di pernikahan nya.


"Mas Bram, apa yang sedang kau lakukan itu?"


"Aku membuat puding untuk mu. Apa kau menyukai nya?"


"Hem, semua makanan yang Mas Bram buat pasti aku akan sangat menyukai nya."


"Sekarang Istri ku sudah mulai mengombal," goda Bram sambil mengcubit pipi Serena dengan lembut.


"Selagi itu tidak akan meracuni ku, tentu nya aku akan memakan nya, Mas"


"Baiklah, Istri ku."


Serena melihat Bram yang sedang memasak, ia terus memperhatikan wajah laki-laki itu sehingga Bram yang menyadari tatapan Serena membuat nya menjadi salah tingkah. Bahkan saat Bram bekerja, laki-laki itu malah tidak sengaja menjatuhkan spatula. Tidak hanya itu, Bram juga sampai lupa menghidupkan kompor nya saking merasa malu dengan tatapan Serena yang begitu menggoda.


"Serena, berhentilah menatap ku seperti itu!"


Akhirnya Bram sudah tidak tahan lagi membiarkan istri nya untuk memperhatikan dirinya. Karena ia sendiri sama sekali tidak bisa fokus untuk memasak dan takutnya malah membuat masakan yang tak enak hingga Serena tidak menyukai masakannya lagi.


"Kenapa? Kamu kan Suami ku, jadi tidak masalah jika aku melakukan hal itu."


"Masalah nya, tatapan mu itu tidak bisa membuat ku fo—fokus!" ucap Bram dengan jujur. Bahkan ia sampai berbicara terbata-bata sekarang.


Serena mendengar penjelasan Bram, membuat nya terkikik geli. Tapi, ia tidak ingin membuat Bram merasa terganggu karena dirinya sehingga Serena pun memilih untuk pergi ke ruang tamu menonton televisi saja.


Saat menonton, Serena tiba-tiba kembali dikejutkan dengan suara tembakan nyaring seperti sebelumnya. Bram yang juga mendengar nya dengan cepat menghampiri istri nya karena ia takut jika terjadi sesuatu hal yang berbahaya.


"Mas Bram, apa yang sedang terjadi? Kenapa suara tembakan itu terdengar lagi?"


"Entahlah, sebelumnya aku melihat ada tiga orang laki-laki asing masuk kedalam sebuah terowongan dan entah apa yang mereka lakukan. Mungkin suara tembakan itu berasal dari sana."


"Sepertinya ada sesuatu hal yang tak beres, Mas."


"Kalau begitu kita berdua sebaiknya pulang saja," ucap Bram yang sangat mengkhawatirkan istri nya. Demi keselamatan istri nya, ia lebih baik mempersingkat bulan madu mereka walaupun sebenarnya ia menginginkan bulan madu berduaan dengan waktu yang begitu lama namun keadaan tidak akan memungkinkan.


Setelah serapan pagi bersama, Bram memutuskan untuk membawa Serena untuk segera pulang ke rumah. Sedangkan suara tembakan itu kembali terdengar lagi, hingga membuat Serena semakin ketakutan dan tidak sabar untuk pulang ke rumah. Bahkan ia meminta Bram untuk memasukkan semua makanan itu kedalam kotak makan saja.


"Sialan! Mereka benar-benar sangat menganggu ketenangan ku bersama Istri!" gumam Bram dalam hati nya dengan kesal.


Sekarang Bram dan Serena sudah berada di dalam mobil untuk bersiap-siap pulang ke rumah. Namun, tiba-tiba saja ban mobil bocor hingga membuat Bram dan Serena tidak dapat pulang ke rumah dengan waktu yang cepat.


"Aku akan menganti ban nya terlebih dahulu."


"Apakah lama?"


"Lumayan, kamu tenanglah. Aku akan menjaga mu dan tidak akan membiarkan mu terluka," ucap Bram berusaha untuk menenangkan istri nya yang saat ini sedang ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2