Mendadak Menikahi Gadis Cacat

Mendadak Menikahi Gadis Cacat
Tak Berharap


__ADS_3

Sudah 3 hari ini Bram tinggal di rumah mewah dan selalu di perlakukan dengan sangat baik oleh ayah mertua nya. Namun, tidak berlaku bagi semua pembantu di rumah itu ada beberapa orang yang juga tidak menyukai kehadiran Bram di rumah itu karena mereka merasa kehadiran Bram semakin membuat pekerjaan mereka menjadi bertambah dan itu semua bukan karena kemauan Bram sendiri, melainkan kemauan ayah mertua nya yang sangat ingin membuat menantu tinggal lebih nyaman di rumah nya. Ia ingin para pembantunya memperlakukan Bram layaknya seperti memperlakukan dirinya yang selama ini selalu di layani dengan sangat baik.


Pagi ini, Bram berniat ingin mengambil serapan pagi di atas meja untuk istri nya karena saat ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan seharusnya makanan tersebut sudah di antarkan di jam 7 pagi. Tapi, jam serapan pagi istri nya malah sudah melewati 1 jam lama nya.


Namun, saat melangkah turun kebawah. Bram malah melihat para pembantu di rumah itu malah asik berbincang sedangkan makanan untuk istri nya sama sekali belum di siapkan. Rasanya Bram begitu geram dengan sikap pembantu nya yang sama sekali tidak patuh pada aturan.


"Apakah ini pekerjaan kalian?!" tanya Bram dengan nada sinis hingga para pembantu itu seketika terkejut mendengar nya. Tapi, tatapan mereka semua malah sama sekali tidak ada rasa takut sedikitpun, justru mereka malah cuek dan seolah-olah Tristan bukanlah majikan mereka.


Bram tentu saja sadar bahwa para pembantu itu sama sekali tidak menganggap dirinya. Tapi, ia tidak ingin membuat masalah sehingga ia hanya bisa menahan rasa sabarnya saja karena ia sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa lagi seperti dulu yang selalu berkuasa atas segalanya.


"Tuan, kenapa Anda yang memasak?" tanya salah satu pembantu yang baru saja datang habis berbelanja di pasar.


"Tidak ada makanan yang tersedia untuk nyonya Serena dan semua pembantu disini sama sekali tidak melakukan apapun!"


"Maaf Tuan ... mereka memang seperti itu!" ucap Resti seorang gadis cantik sebagai salah satu pembantu di rumah itu yang menjadi kepercayaan tuan Bisma.


"Kenapa tuan Bisma mau memperkerjakan mereka jika bersikap seperti itu?!"


"Ada sesuatu hal yang harus tuan Bisma selidiki dari antara mereka, Tuan."


Bram pun menjadi penasaran, apa yang sebenarnya ingin diselidiki oleh mertua nya terhadap para pembantu yang bekerja di rumah saat ini. Apa lagi sikap para pembantu di rumah itu saat ini memang perlu di waspadai karena ada beberapa pembantu yang selalu bersikap sinis secara terang-terangan terhadap nya, padahal ketika tuan Bisma datang para pembantu itu seketika bermuka dua dan menjadi baik terhadap nya.


"Tuan, sebaiknya Anda beristirahat saja. Biarkan saya yang memasak untuk nyonya Serena," ucap Resti dengan segera mengambil alih pekerjaan yang dilakukan oleh Bram karena ia sendiri merasa tidak pantas jika membiarkan majikannya bekerja di dapur sedangkan pekerjaan tersebut adalah pekerjaan nya yang seharusnya ia kerjakan.


"Baiklah, segera antarkan ke dalam kamar dan masalah yang praktis saja supaya nyonya Serena serapan pagi."


"Baik, Tuan."


Setelah itu Bram masuk kedalam kamar dan melihat istri nya sedang duduk melamun di atas kasur. Bram dengan ragu menghampiri nya karena sampai saat ini dirinya masih belum terbiasa hidup bersama dengan seorang wanita yang sama sekali tidak pernah ia temui, begitu juga dengan Serena sendiri ia jelas merasa sangat segan dan malu untuk saling bertatap muka kepada suami nya.


"Kenapa hanya membawa tangan kosong? Makanannya dimana? "


"Mereka belum memasak sama sekali dan sekarang nona Resti baru memasak untuk mu."


"Jika tidak ada ayah di rumah, mereka memang selalu berbuat semaunya. Bahkan mereka sama sekali tidak menganggap ku sebagai majikan di rumah ini!"


"Apa kau ingin aku memberikan mereka sedikit pelajaran?"


"Memangnya, kau bisa melakukan hal itu?"


"Kamu hanya tinggal menunggu kabarnya seperti apa nantinya!" ucap Bram dengan tersenyum licik.


Kedua orang itu sama sekali tidak sadar, bahwa mereka berdua telah berbicara cukup panjang lebar untuk pertama kalinya. Sebelumnya mereka berdua hanya akan berbicara sepatah kata atau dua kata saja setelah itu kembali saling mengacuhkan. Bahkan Bram tanpa sadar tersenyum saat melihat wajah Serena yang tanpa sengaja menatap ke arah dirinya. Kedua orang itu saling berpandangan hingga perlahan-lahan bibir mereka berdua semakin mendekat untuk menyatukan cinta yang perlahan-lahan tumbuh.


Namun, sayangnya tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar cukup nyaring dari luar dan ternyata itu adalah Resti ingin mengantarkan serapan pagi untuk Serena. Sedangkan Bram akan serapan saat jam 9 nanti karena ia sendiri juga masih belum terbiasa untuk makan terlalu pagi.


"Nyonya, ini serapan paginya. Maaf sudah membuat Nyonya telat serapan pagi ini," ucap Resti dengan wajah yang terlihat seolah-olah merasa sangat bersalah kepada Serena.


"Hem, tidak apa-apa," jawab Serena dengan singkat, ia pun mulai menikmati serapan pagi nya sedangkan Resti langsung saja pergi keluar dari kamar tersebut.


Setelah kejadian beberapa menit yang lalu, Bram tentunya begitu malu sehingga ia memilih untuk duduk di sofa melihat pemandangan dari jendela. Ia tidak menyangka dirinya bisa secepat itu terbuai oleh seorang gadis yang cacat. Bahkan ia merasakan sendiri hati nya terus berdebar-debar dari tadi, Bram pun kembali menatap ke arah Serena secara diam-diam dan ia kembali merasakan hati nya semakin berdebar. Hati nya yang terluka kini Bram merasa sudah terobati saat kehadiran Serena di dalam hidupnya, bahkan mantan istri nya yang pernah hidup bersama dengan nya selama bertahun-tahun sama sekali tidak membuat nya rindu sedikitpun, justru ia merasa sangat membenci wanita itu yang telah meninggalkan dirinya disaat ia merasa kehilangan semuanya.


"Mas Bram ... aku sudah selesai makan. Bisakah kau membantu ku untuk mengambil tissu kering itu?!" tunjuk Serena ke arah tissu yang berada di dekat Bram.


"Hem." Bram segera bangkit berdiri untuk mengantarkan tissu tersebut.


"Aku akan mandi lebih dulu."


"Baiklah, aku akan membopong mu ke kamar mandi." Serena langsung menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Jika sudah selesai, kamu bisa memanggil ku."


"Hem, maaf sudah merepotkan mu untuk melakukan hal ini semua."


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Justru jika kamu menginginkan sesuatu dan hanya diam tanpa mengatakan apapun kepada ku, aku akan merasa sangat bersalah!"


"Kau serius mau melakukan hal apa saja yang aku perintahkan?!"


"Selagi itu dapat membantu mu, aku akan melakukan nya."


Serena tersenyum, ia tidak menyangka ayah nya menjodohkan dirinya dengan seorang laki-laki yang begitu patuh dan mengerti keadaan nya yang saat ini sama sekali tidak berdaya untuk melakukan apapun.


"Jika aku harus setiap hari atau setiap saat untuk melakukan apa yang kamu mau. Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya yang terpenting di hati mu hanya ada aku," gumam Bram dalam hati nya.


"Setelah mandi, aku ingin pergi ke taman belakang."


"Baiklah, aku akan siap mengantarkan mu."


"Serena! Serena!" Seseorang terus berusaha membangun wanita itu yang sedang berada di dalam mobil, mendengar suara memanggil namanya akhirnya wanita itu perlahan-lahan membuka kedua mata nya. Ia melihat disekitar sekeliling nya terlihat seperti baik-baik saja, bahkan Serena melibatkan Bram duduk di samping nya sambil menatap nya.

__ADS_1


"Mas Bram!" ucap Serena tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Ini benar-benar, Mas Bram?"


Bram terlihat kebingungan melihat sikap istri nya yang terlihat begitu aneh, bahkan wanita itu sampai membuka baju nya seolah-olah sedang memeriksa sesuatu dari nya.


"Serena, ada apa?"


"Apa Mas Bram tidak apa-apa?!"


"Hem, aku tidak apa-apa. Justru aku yang bertanya seperti itu kepada mu, memangnya kau kenapa?"


"Sepertinya aku hanya bermimpi saja."


"Bermimpi apa?"


Bram yang penasaran langsung bertanya kepada istri nya dan Serena pun menceritakan semua yang terjadi di dalam mimpi nya. Bram yang mendengar hal itu turut bersedih, ia tidak menyangka istri nya sampai bermimpi buruk seperti itu dan ia pun berusaha menghibur Serena dengan kalimat yang menenangkan wanita itu.


"Kita sudah sampai, aku akan membopong mu terlebih dahulu," ucap Bram, ia pun mengangkat tubuh Serena untuk masuk kedalam vila terlebih dahulu dan selanjutnya baru ia akan mengangkat barang-barang masuk.


Sedangkan Serena hanya bisa duduk di sofa saja, ia melihat Bram menyangkut barang mereka berdua dengan sendirian. Seharusnya ia membantu suami nya tapi sayangnya ia tidak bisa melakukan hal itu sehingga Serena merasa sangat bersedih karena tidak dapat melakukan apapun.


"Ada apa? Kenapa wajah mu cemberut seperti itu?"


"Maaf ... aku tidak bisa membantu mu dan hanya duduk melihat mu saja ..." ucap Serena dengan nada sedih.


"Ini semua sudah kewajiban seorang Suami untuk meratukan Istri nya."


Serena terdiam tapi didalam hati nya ia merasa sangat bahagia memiliki seorang suami yang begitu tulus menikahi nya. Ia pikir laki-laki itu terpaksa menikahi nya hanya karena ayah nya membantu laki-laki itu keluar dari penjara.


"Apa kau sudah lapar?" tanya Bram.


"Hem, aku sedikit lapar sekarang. Apakah ada makanan?"


"Tunggulah, aku akan memasak."


"Bisakah aku ikut melihat mu?"


"Tentu saja," ucap Bram dengan penuh semangat. Ia pun mendorong kursi roda istri nya menuju ke arah dapur.


Sedangkan Serena sendiri merasa sangat bahagia ketika dibawa ke dapur oleh suami nya karena selama ini ia tidak pernah diijinkan untuk kedapur oleh ayah nya. Terutama tidak ada yang mau mengawasi dirinya padahal Serena sangat ingin melihat pekerjaan yang ada di dapur.


"Apa tidak apa-apa? Bagaimana jika kamu melukai tangan mu?" tanya Bram yang sedikit khawatir.


"Bisa kok, serahkan saja padaku. Aku akan melakukan nya dengan sangat hati-hati."


Bram bukan bermaksud membuat istri nya berkerja, hanya saja ketika melihat wajah istri nya yang terlihat ingin melakukan nya membuat Bram tidak enak jika menolak nya. Mungkin dengan cara itu Serena bisa merasa bahagia walaupun dengan cara yang sederhana tapi setidaknya tidak membuat wanita bersedih.


"Mas Bram, sayur nya sudah selesai di potong. Aku akan mencucinya."


"Hem, berhati-hatilah," ucap Bram yang tak henti-henti nya memperhatikan Serena melakukan pekerjaan nya.


Bram sangat bahagia ketika melihat istri nya sangat menyukai pekerjaan yang ia buat saat ini. Tidak seperti di rumah istri nya banyak diam tanpa ekspresi dan ini adalah pertama kalinya bagi Bram melihat wajah istri nya yang tidak lagi begitu dingin.


Setelah memasak dengan waktu yang cukup lama, kini masakan yang dibuat oleh Bram dan Serena telah matang. Kedua orang itu pun sama-sama menikmati makan siang dengan penuh romantis. Dulunya Serena sosok wanita yang pendiam, kini menjadi sering berbicara dan itu semua saat kehadiran Bram berada di dalam hidup nya.


"Mas Bram, aku ingin mengatakan sesuatu untuk mu," ucap wanita itu yang baru saja selesai menikmati makan siang nya. Dan entah kenapa ia sangat ingin mengatakan sesuatu hal yang ia sembunyikan selama ini.


"Sesuatu?" tanya Bram sambil menuangkan es segar kedalam gelas milik Serena.


"Hem, sebenarnya ak—"


"Serena, maaf aku tidak sengaja!" ucap Bram yang tak sengaja menumpah kan minuman tersebut ke arah istri nya akibat terkejut mendengar suara tembakan yang begitu nyaring dari luar villa.


Sedangkan Serena yang berniat mengatakan rahasia nya, seketika membatalkan niatnya untuk mengatakannya. Apa lagi ketika mendengar suara tembakan itu, membuat dirinya ketakutan dan bahkan ia juga tidak perduli dengan kemeja yang ia pakai basah akibat minuman yang tumpah.


"Bram, siapa yang melakukan hal itu di sekitar tempat ini?" tanya Serena yang terlihat tidak tenang sama sekali.


"Aku akan memeriksa nya terlebih dahulu, kau tunggulah disini!" ucap Bram.


Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Serena sendirian di dalam rumah. Tapi, ia juga takut jika membawa Serena pergi keluar bersama dengannya. Sehingga ia tidak punya pilihan lain selain pergi sendiri tanpa membawa wanita itu bersama nya. Sebelum pergi keluar, Bram tidak lupa memastikan semua pintu terkunci dengan sangat rapat setelah itu ia pun memutuskan untuk mengecek suara tembakan itu berada di arah mana. Saat pergi keluar, Bram tidak lupa membawa sebuah senjata untuk melindungi diri dari serangan musuh.


Bram melangkah dengan sangat hati-hati, sambil melihat disekitar sekelilingnya untuk memastikan tidak ada bahaya yang mendekati dirinya. Namun, setelah melangkah cukup jauh ia sama sekali tidak melihat satu orang pun dan rasanya Bram merasakan suatu perasaan yang tidak nyaman saat ini, ia pun memutuskan untuk segera kembali ke villa.


"Akh! Sialan!" pekik Bram saat tidak sengaja tersandung batu hingga membuat kedua tangannya terluka. Tapi, saat ia berusaha untuk bangkit berdiri tiba-tiba ia melihat beberapa orang memakai pakaian hitam serta memakai topeng dan Bram segera membungkuk ke tanah kembali supaya orang-orang itu tidak melihat dirinya.


"Apa yang ingin orang-orang itu lakukan?!" gumam Bram, ia begitu penasaran saat melihat orang-orang itu membawa sebuah karung yang terlihat sangat berat dan tiba-tiba salah satu dari keempat orang itu membuka sebuah tumpukan rerumputan yang ternyata itu adalah sebuah terowongan yang tersembunyi.


"Aku harus mengikuti mereka!" gumam Bram saat keempat orang itu sudah masuk kedalam terowongan tersebut. Tapi, ia tiba-tiba teringat dengan istri nya yang saat ini sedang sendirian di dalam villa dan ia pun membatalkan niatnya untuk mengikuti orang-orang itu karena keselamatan istri nya lebih penting ketimbang terlalu penasaran dengan urusan orang yang tak jelas apa yang telah mereka lakukan.

__ADS_1


Tiba di depan villa, Bram melihat sebuah pintu terbuka lebar. Padahal sebelum nya ia meminta Serena untuk menguncinya dan bahkan ia juga sudah memperingati Serena untuk tidak membuka pintu sebelum dirinya pulang ke rumah. Bram pun seketika menjadi panik dan ia segera berlari masik kedalam villa.


"Serena!" panggil Bram dengan sedikit nyaring, tapi ia tidak mendengar wanita itu menyahuti panggilan nya. Pikiran Bram semakin tidak karuan, bahkan laki-laki itu berulang kali menahan nafas nya saking merasa takut jika apa yang ia bayangkan benar-benar terjadi.


"Serena, kau harus baik-baik saja!" gumam Bram berusaha untuk tetap berpikir positif.


Setengah jam menganti ban mobil, kini Bram baru saja menyelesaikan nya dengan sangat baik. Serena yang melihat suami nya sedikit kotor segera mengambilkan tisu kering serta tisu basah untuk membersihkan nya. Bram sangat bersyukur mendapatkan sebuah perhatian yang begitu tulus dari istri nya.


Sedangkan suara tembakan beberapa waktu yang lalu kini sudah tidak terdengar lagi, tapi Serena tetap saja merasa waspada. Takutnya ada orang berniat jahat kepada mereka berdua suami nya yang saat ini berada di tempat yang sepi.


"Mas Bram, kenapa bisa ada orang lain di tempat ini?"


"Kita bisa menanyakan hal ini kepada ayah mu saat tiba di rumah nanti," ucap Bram yang juga penasaran. Ia pun mulai menghidupkan mobil lalu segera berangkat menuju ke arah jalan pulang.


Serena merasakan perutnya sudah lapar, memilih untuk membuka kotak makan yang sebelumnya mereka bawa dari vila. Ia pun memakan makanan tersebut, sambil menyuapi Bram yang saat ini sedang menyetir mobil. Kedua orang itu kini terlihat sudah benar-benar sangat akrab sejak melakukan perjalanan bulan madu yang penuh dengan romantis walaupun sedikit ada masalah tapi kedua orang itu telah memiliki sebuah kenangan yang begitu indah saat bersama di vila.


Beberapa jam kemudian, kini Bram dan Serena telah tiba di rumah. Kedua orang itu langsung saja masuk kedalam kamar untuk membersihkan tubuh nya masing-masing. Setelah itu mereka berdua memilih untuk menemui Tuan Bisma yang sebelumnya berada di ruang tamu untuk menikmati kopi hitam nya.


"Ayah!" panggil Serena dengan nada manja, wanita itu terlihat sangat menyayangi ayah nya. Karena Serena merasa ayah nya adalah sosok ayah yang begitu baik dan perhatian terhadap nya selama ini.


"Bagaimana dengan perjalanan bulan madu kalian berdua? Apakah berjalan dengan baik?!"


"Ada sedikit masalah dan saat ini kami berdua ingin membahas hal itu kepada, Ayah," ucap Serena yang sudah tidak sabar lagi untuk menceritakan kejadian itu.


"Sedikit masalah? Memangnya, masalah apa?"


Serena pun menceritakan semua kejadian itu kepada ayah nya, bahkan ia juga menceritakan tentang beberapa orang memasuki sebuah terowongan sambil membawa sebuah karung yang cukup besar. Tuan Bisma yang mendengar nya sudah jelas ada sesuatu hal yang tidak beres, ia pun meminta salah satu pengawal nya untuk segera menyelidiki nya. Karena selama ini Tuan Bisma berpikir vila tersebut sama sekali tidak ada yang berani untuk datang ke tempat itu, tapi ternyata setelah sekian lama villa itu tidak dihuni ia malah mendengar sebuah kabar yang tak menyenangkan dari anak dan menantu nya. Tuan Bisma pun menjadi marah, ia akan segera menyelesaikan semua masalah yang terjadi.


"Bram, maaf sudah membuat perjalanan bulan madu kalian berdua kurang menyenangkan," ucap Tuan Bisma.


"Tidak apa-apa, Ayah tidak perlu merasa bersalah sama sekali," ucap Bram.


Namun, saat asik berbincang. Tiba-tiba saja istri tuan Bisma datang dengan wajah yang begitu sinis. Sejak kehadiran Bram, mereka berdua selalu disalahkan oleh tuan Bisma bahkan belanja bulanan harus di kurangin.


"Enak sekali baru pulang bulan madu, apakah ada berita yang menyenangkan?" tanya ibu Jesika sambil duduk dengan begitu angkuh.


Serena menatap ibu tiri nya menjadi kesal, dari awal ia sama sekali tidak setuju dengan ayah nya yang menikahi seorang perempuan yang hanya mementingkan harta. Tapi, ayah nya telah dibutakan oleh cinta sehingga tidak mendengarkan apa yang Serena katakan.


"Jika ingin membuat masalah! Sebaiknya masuklah kembali kedalam kamar!" ucap tuan Bisma kepada istri nya.


"Pi! Aku tahu kau berusaha untuk membela anak dan menantu mu itu! Tapi, mereka sebentar lagi akan aku singkirkan dari kehidupan mu sesegera mungkin, Pi!" gumam ibu Jesika yang sudah sangat lama tidak menyukai kehadiran Serena.


Serena dan Bram hanya diam saja mendengar perkataan tuan Bisma. Mereka berdua rasa tidak perlu ikut campur dengan semua keributan yang terjadi.


Namun, saat mereka asik berbincang. Tiba-tiba saja dua orang datang sambil tersenyum menghampiri tuan Bisma serta yang lainnya sedang duduk di ruang tamu.


"Papi! Aku membawa seseorang untuk dikenalin sama, Papi!" ucap Desta dengan penuh semangat sambil memegang tangan seorang laki-laki di samping nya dengan penuh kemesraan.


"Hem," sahut tuan Bisma dengan cuek, ia tahu maksud dari ucapan anaknya itu barusan adalah memperkenalkan dirinya dengan kekasih anak nya. Padahal, tuan Bisma muak dengan Desta yang selalu bergonta-ganti pasangan, selama sebulan ini gadis itu sudah membawa 5 laki-laki berbeda ke rumahnya untuk berkenalan dengan nya.


"Papi, kenapa tidak mempersilahkan kekasih ku untuk duduk?!"


"Duduklah!" ucap Tuan Bisma dengan dingin.


Namun, semua orang tidak tahu dari tadi Bram menahan rasa amarah dan benci nya kepada laki-laki yang dibawa oleh Desta saat ini. Laki-laki itu jelas memiliki hubungan dengan masa lalunya termasuk menghancurkan dirinya hingga sampai masuk kedalam penjara.


"Rupanya keluarga ini yang telah membebaskan mu dari tempat itu!" gumam Marvel dalam hati nya, laki-laki itu terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu untuk kembali menghancurkan Bram serta orang yang telah mendukung laki-laki itu selama ini.


Bram dan Marvel saling bertatap mata dengan tajam. Tapi, Serena jelas mencurigai bahwa ada sesuatu hal yang tidak beres antar suami dan kekasih saudara tiri nya itu.


"Mas!" Serena perlahan-lahan memegang tangan suami nya supaya suami nya tetap tenang dan tidak gegabah melakukan sesuatu hal yang tak diinginkan. Ia tahu, dihati suami nya saat ini jelas dengan penuh amarah.


Merasakan sentuhan serta tatapan istri nya. Membuat Bram mengerti, ia pun berusaha untuk tetap menenangkan hati nya yang saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Sayang, kau belum berkenalan dengan Kakak ipar ku. Sebaiknya kalian berdua berkenalan lah!" ucap Desta yang semakin membuat keadaan memburuk, gadis itu jelas menyadari ada sesuatu hal yang begitu menarik di mata nya. Ia jelas melihat sendiri bahwa Bram dan kekasih nya seperti bermusuhan.


"Bram! Nama nya, Bram! Dia satu-satu nya menantu yang dapat aku andalkan!" sahut tuan Bisma, ia dengan sengaja memberikan kalimat sendirian terhadap Marvel dengan begitu laki-laki itu segera menyadari bahwa ia sama sekali tidak pantas menjadi menantu nya.


"Papi! Kenapa Papi berbicara seperti itu? Bukankah Marvel salah satu calon mantu yang dapat Papi andalkan juga?!"


"Belum tentu!" sahut tuan Bisma.


"Aku juga tidak berharap memiliki mertua seperti mu! Laki-laki tua bangkai!" gumam Marvel dalam hati nya, tapi ia memiliki sebuah tujuan yang lain dan akan tetep berusaha menjadikan Desta istri nya dengan begitu ia bisa masuk kedalam keluarga itu.


"Sayang, apa kau ingin minuman segar?!" tanya Desta.


"Tidak perlu, aku tidak ingin terlalu merepotkan mu."


"Tidak apa-apa, lagian bukan aku yang membuat nya. Pembantu di dapur masih nganggur!" ucap Desta. Ia pun langsung pergi ke dapur untuk meminta salah satu pembantu di rumah itu membuatkan minuman segar serta menyiapkan beberapa cemilan yang enak untuk kekasih nya itu.

__ADS_1


__ADS_2