
"Jangan lupa minum obat nya juga, supaya rasa nyeri nya hilang," tegur Serena kepada suami nya yang selalu memegang tangan nya dari tadi.
Mereka berdua pagi-pagi datang ke rumah ke rumah sakit demi mendapatkan segera perawatan dari dokter. Dan itu semua karena Serena benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan suami nya, ia tidak ingin luka suami nya semakin parah dan tersiksa menahan rasa sakit itu. Maka dari situlah ia lebih baik bangun lebih awal demi mengajak suami nya ke rumah sakit setelah janjian kepada dokter yang cukup akrab dengan nya. Dan sekarang semuanya sudah beres, Serena dan Bram kini sudah berada di rumah namun ketika tiba di rumah Serena sama sekali tidak melihat keberadaan adik nya. Ia begitu penasaran kemana adik nya saat ini, ia pun mencari seisi rumah itu tapi tetap saja ia tidak menemukan adik nya.
"Kemana Desta pergi, ya?" gumam Serena, padahal ia sebenarnya ingin memberikan sebuah vitamin yang di minta oleh adik nya sebelum nya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Bram ketika melihat Serena mondar-mandir tidak karuan dari tadi.
"Aku tidak melihat keberadaan Desta, Mas."
"Mungkin di kamar nya atau di kamar mandi?"
"Aku sudah memeriksa nya. Tapi dia sama sekali tidak ada disana."
"Di kolam renang?"
"Sudah."
Bram pun seketika terdiam sebentar, tapi tiba-tiba pikiran nya tertuju ke arah ibu mertua nya.
"Dan papi juga tidak ada di rumah," ucap Serena lagi. Ia tiba-tiba menyadari bahwa ayah nya memang tidak ada di rumah sejak ia berkeliling mencari keberadaan Desta. Serena tidak ingin terlalu menunda waktunya sehingga ia langsung saja menelpon ayah nya dan ternyata nomor ayah nya sama sekali tidak aktif.
"Mungkin Desta bisa di hubungi," gumam Serena lalu ia dengan cepat mencari nomor ponsel Desta dan mengubungi nya.
"Kenapa semuanya tidak aktif, sih?" gumam Serena yang sedikit panik sekarang.
__ADS_1
"Sayang, kenapa terlihat begitu gugup seperti itu? Mungkin mereka sedang jalan-jalan keluar," ucap Bram mencoba untuk menenangkan istri nya, padahal ia sendiri malah berpikir bahwa ayah mertua dan adik ipar nya itu menemui ibu mertua nya di kamar hotel tempat dimana ia dan Juan menguncinya.
"Sebaiknya kau ikuti ku saja!" ucap Bram yang langsung saja menarik tangan Serena. Ia tidak ingin melihat istri nya semakin terlihat khawatir dari tadi sehingga ia memutuskan untuk membawa Serena pergi ke hotel dan memastikan bahwa apa yang ia pikirkan memang benar.
Serena kebingungan kemana Bram telah membawa nya pergi, tapi wanita itu sama sekali tidak bertanya sedikitpun kepada suami nya. Melihat wajah suami nya yang terlihat begitu serius seperti itu membuat nya perlahan-lahan menenangkan diri nya. Ia tahu Bram sama sekali tidak suka jika ia terlalu khawatir berlebihan seperti itu.
"Maafkan aku, Mas Bram."
"Untuk?"
"Aku telah membuat mu khawatir."
"Mereka pasti baik-baik saja, kau tidak perlu khawatirkan mereka sampai seperti itu. Kau harus ingat, khawatir terlalu berlebihan seperti itu hanya akan membahayakan diri mu sendiri. Setiap ada masalah kau harus berusaha untuk tetap menenangkan diri mu," jelas Bram dengan cukup panjang lebar. Ia terlalu takut jika melihat istri nya sampai khawatir berlebihan seperti itu malah akan melangkah ke jalan yang salah.
Setelah tiba di hotel, Bram langsung saja mengajak Serena ke kamar hotel dimana nyonya Jesika saat ini di kurung. Bram yang melihat kedua pengawal yang di tugaskan untuk berjaga di depan pintu segera menyambut ia dan istri nya.
"Buka pintu nya!" ucap Bram dengan cepat memotong ucapan pengawalnya karena ia tahu pengawal nya itu ingin mengatakan sesuatu yang jelas ia sudah tahu jawabannya.
Setelah pintu terbuka, Bram melihat sendiri ayah mertua nya dan adik ipar nya sedang berdebat dengan ibu mertua nya di sofa. Serena yang awalnya hanya diam saja melihat hal itu semua dengan cepat menghentikan ketiga orang itu berdebat.
"Ini dia orang yang telah mengurung ku disini! Akhirnya kau telah tiba laki-laki berandal tidak tahu diri!" ucap nyonya Jesika yang begitu kesal melihat kehadiran Bram.
"Papi, kenapa kalian berdua berada disini?" tanya Serena yang bingung dengan ayah nya tiba-tiba menemui ibu tiri nya itu bersama dengan Desta.
"Candra, telah berhasil kabur. Dan sekarang Juan telah menghilang, aku rasa dia tau tempat dimana laki-laki itu menyembunyikan Candra saat ini!" ucap tuan Bisma.
__ADS_1
Serena mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan ayah nya seperti itu. Ia melihat bahwa tatapan ayah nya benar-benar terlihat sangat marah besar kepada ibu tiri nya. Ia pun menjadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya sehingga membuat ayah nya seolah-olah ingin menghajar ibu tiri nya.
"Papi, coba jelaskan apa yang terjadi?" tanya Serena mencoba menenangkan ayah nya.
"Serena, kau dan Bram tidak perlu menyembunyikan apapun dari Papi. Dari dulu Papi sudah jelas tahu bagaimana sikap Mami kamu!"
"Maksud ... Papi?!"
"Papi, tahu kalau dia telah menjalani hubungan dengan laki-laki berondong itu!" Tuan Bisma seketika menahan dada nya yang terasa begitu sesak itu, pada akhirnya ia bisa mengungkapkan rasa sakit itu yang sudah ia tahan dengan cukup lama selama ini.
"Bahkan laki-laki itu telah membuat ku seperti ini ..." sahut Desta yang juga baru mengetahui tentang ibu nya. Ia benar-benar sangat syok dan hampir tidak mempercayai nya namun ketika melihat sebuah rekaman video yang di berikan Juan sebelum ia di culik mungkin ia akan selalu merasa dihantui karena merasa penasaran dengan sikap ibu nya yang begitu aneh akhir-akhir ini. Desta sangat jelas membenci ibu nya, sekarang ia tidak lagi harus patuh kepada ibu nya karena ia tahu sendiri bahwa nyonya Jesika bukanlah ibu kandung nya.
Semua rahasia nyonya Jesika telah dibongkar oleh Juan. Namun, laki-laki itu sampai sekarang entah dimana keberadaan nya, sekarang semua orang mencari keberadaan Juan tapi mereka sama sekali belum tahu jejak nya sedikitpun. Dan satu-satu nya mencari petunjuk hanyalah nyonya Jesika sendiri, maka dari situlah Desta dan tuan Bisma menemui nyonya Jesika supaya mau mengatakan keberadaan Juan saat ini.
"Katakan dimana Juan dibawa oleh laki-laki itu?!" tanya tuan Bisma dengan dingin.
Namun nyonya Jesika tetap saja memilih untuk tutup mulut. Semua orang rasanya sangat ingin membuka mulut nyonya Jesika supaya mengatakan semuanya saking merasa gregetan melihat nya hanya diam begitu saja.
"Katakan sekarang!" Tuan Bisma sama sekali tidak bisa menahan rasa amarah nya lagi sehingga dengan spontan tangan nya langsung meraih leher istri nya itu lalu mencekik nya dengan cukup kuat hingga nyonya Jesika sampai merasa kesakitan dengan apa yang dilakukan oleh tuan Bisma.
Serena mencoba menghentikan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Ia rasa sebaiknya mereka harus mencari jalan keluar yang lainnya saja dan Bram dengan cepat menyetujui apa yang dikatakan oleh istri nya.
"Apa kalian berdua yakin bisa mencari jalan keluar nya?" tanya tuan Bisma yang masih belum melepaskan tangannya dari leher nyonya Jesika.
"Benar, Pi. Sekarang lepaskan tangan Papi!"
__ADS_1
Serena benar-benar merasa sangat lega ketika melihat ayah nya telah berhasil di bujuk. Tapi, tuan Bisma jelas tidak akan melepaskan istri nya begitu saja dan sekarang sudah waktunya bagi nya untuk bertindak dengan tegas. Terutama dengan Desta sendiri, ia begitu penasaran Desta anak siapa selama ini.