
"Serena! Serena!" Seseorang terus berusaha membangun wanita itu yang sedang berada di dalam mobil, mendengar suara memanggil namanya akhirnya wanita itu perlahan-lahan membuka kedua mata nya. Ia melihat disekitar sekeliling nya terlihat seperti baik-baik saja, bahkan Serena melibatkan Bram duduk di samping nya sambil menatap nya.
"Mas Bram!" ucap Serena tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Ini benar-benar, Mas Bram?"
Bram terlihat kebingungan melihat sikap istri nya yang terlihat begitu aneh, bahkan wanita itu sampai membuka baju nya seolah-olah sedang memeriksa sesuatu dari nya.
"Serena, ada apa?"
"Apa Mas Bram tidak apa-apa?!"
"Hem, aku tidak apa-apa. Justru aku yang bertanya seperti itu kepada mu, memangnya kau kenapa?"
"Sepertinya aku hanya bermimpi saja."
"Bermimpi apa?"
Bram yang penasaran langsung bertanya kepada istri nya dan Serena pun menceritakan semua yang terjadi di dalam mimpi nya. Bram yang mendengar hal itu turut bersedih, ia tidak menyangka istri nya sampai bermimpi buruk seperti itu dan ia pun berusaha menghibur Serena dengan kalimat yang menenangkan wanita itu.
"Kita sudah sampai, aku akan membopong mu terlebih dahulu," ucap Bram, ia pun mengangkat tubuh Serena untuk masuk kedalam vila terlebih dahulu dan selanjutnya baru ia akan mengangkat barang-barang masuk.
Sedangkan Serena hanya bisa duduk di sofa saja, ia melihat Bram menyangkut barang mereka berdua dengan sendirian. Seharusnya ia membantu suami nya tapi sayangnya ia tidak bisa melakukan hal itu sehingga Serena merasa sangat bersedih karena tidak dapat melakukan apapun.
"Ada apa? Kenapa wajah mu cemberut seperti itu?"
"Maaf ... aku tidak bisa membantu mu dan hanya duduk melihat mu saja ..." ucap Serena dengan nada sedih.
__ADS_1
"Ini semua sudah kewajiban seorang Suami untuk meratukan Istri nya."
Serena terdiam tapi didalam hati nya ia merasa sangat bahagia memiliki seorang suami yang begitu tulus menikahi nya. Ia pikir laki-laki itu terpaksa menikahi nya hanya karena ayah nya membantu laki-laki itu keluar dari penjara.
"Apa kau sudah lapar?" tanya Bram.
"Hem, aku sedikit lapar sekarang. Apakah ada makanan?"
"Tunggulah, aku akan memasak."
"Bisakah aku ikut melihat mu?"
"Tentu saja," ucap Bram dengan penuh semangat. Ia pun mendorong kursi roda istri nya menuju ke arah dapur.
Sedangkan Serena sendiri merasa sangat bahagia ketika dibawa ke dapur oleh suami nya karena selama ini ia tidak pernah diijinkan untuk kedapur oleh ayah nya. Terutama tidak ada yang mau mengawasi dirinya padahal Serena sangat ingin melihat pekerjaan yang ada di dapur.
"Mas Bram, biarkan aku saja yang memotong sayur nya."
"Bisa kok, serahkan saja padaku. Aku akan melakukan nya dengan sangat hati-hati."
Bram bukan bermaksud membuat istri nya berkerja, hanya saja ketika melihat wajah istri nya yang terlihat ingin melakukan nya membuat Bram tidak enak jika menolak nya. Mungkin dengan cara itu Serena bisa merasa bahagia walaupun dengan cara yang sederhana tapi setidaknya tidak membuat wanita bersedih.
"Mas Bram, sayur nya sudah selesai di potong. Aku akan mencucinya."
"Hem, berhati-hatilah," ucap Bram yang tak henti-henti nya memperhatikan Serena melakukan pekerjaan nya.
Bram sangat bahagia ketika melihat istri nya sangat menyukai pekerjaan yang ia buat saat ini. Tidak seperti di rumah istri nya banyak diam tanpa ekspresi dan ini adalah pertama kalinya bagi Bram melihat wajah istri nya yang tidak lagi begitu dingin.
__ADS_1
Setelah memasak dengan waktu yang cukup lama, kini masakan yang dibuat oleh Bram dan Serena telah matang. Kedua orang itu pun sama-sama menikmati makan siang dengan penuh romantis. Dulunya Serena sosok wanita yang pendiam, kini menjadi sering berbicara dan itu semua saat kehadiran Bram berada di dalam hidup nya.
"Mas Bram, aku ingin mengatakan sesuatu untuk mu," ucap wanita itu yang baru saja selesai menikmati makan siang nya. Dan entah kenapa ia sangat ingin mengatakan sesuatu hal yang ia sembunyikan selama ini.
"Sesuatu?" tanya Bram sambil menuangkan es segar kedalam gelas milik Serena.
"Hem, sebenarnya ak—"
"Serena, maaf aku tidak sengaja!" ucap Bram yang tak sengaja menumpah kan minuman tersebut ke arah istri nya akibat terkejut mendengar suara tembakan yang begitu nyaring dari luar villa.
Sedangkan Serena yang berniat mengatakan rahasia nya, seketika membatalkan niatnya untuk mengatakannya. Apa lagi ketika mendengar suara tembakan itu, membuat dirinya ketakutan dan bahkan ia juga tidak perduli dengan kemeja yang ia pakai basah akibat minuman yang tumpah.
"Bram, siapa yang melakukan hal itu di sekitar tempat ini?" tanya Serena yang terlihat tidak tenang sama sekali.
"Aku akan memeriksa nya terlebih dahulu, kau tunggulah disini!" ucap Bram.
Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Serena sendirian di dalam rumah. Tapi, ia juga takut jika membawa Serena pergi keluar bersama dengannya. Sehingga ia tidak punya pilihan lain selain pergi sendiri tanpa membawa wanita itu bersama nya. Sebelum pergi keluar, Bram tidak lupa memastikan semua pintu terkunci dengan sangat rapat setelah itu ia pun memutuskan untuk mengecek suara tembakan itu berada di arah mana. Saat pergi keluar, Bram tidak lupa membawa sebuah senjata untuk melindungi diri dari serangan musuh.
Bram melangkah dengan sangat hati-hati, sambil melihat disekitar sekelilingnya untuk memastikan tidak ada bahaya yang mendekati dirinya. Namun, setelah melangkah cukup jauh ia sama sekali tidak melihat satu orang pun dan rasanya Bram merasakan suatu perasaan yang tidak nyaman saat ini, ia pun memutuskan untuk segera kembali ke villa.
"Akh! Sialan!" pekik Bram saat tidak sengaja tersandung batu hingga membuat kedua tangannya terluka. Tapi, saat ia berusaha untuk bangkit berdiri tiba-tiba ia melihat beberapa orang memakai pakaian hitam serta memakai topeng dan Bram segera membungkuk ke tanah kembali supaya orang-orang itu tidak melihat dirinya.
"Apa yang ingin orang-orang itu lakukan?!" gumam Bram, ia begitu penasaran saat melihat orang-orang itu membawa sebuah karung yang terlihat sangat berat dan tiba-tiba salah satu dari keempat orang itu membuka sebuah tumpukan rerumputan yang ternyata itu adalah sebuah terowongan yang tersembunyi.
"Aku harus mengikuti mereka!" gumam Bram saat keempat orang itu sudah masuk kedalam terowongan tersebut. Tapi, ia tiba-tiba teringat dengan istri nya yang saat ini sedang sendirian di dalam villa dan ia pun membatalkan niatnya untuk mengikuti orang-orang itu karena keselamatan istri nya lebih penting ketimbang terlalu penasaran dengan urusan orang yang tak jelas apa yang telah mereka lakukan.
Tiba di depan villa, Bram melihat sebuah pintu terbuka lebar. Padahal sebelum nya ia meminta Serena untuk menguncinya dan bahkan ia juga sudah memperingati Serena untuk tidak membuka pintu sebelum dirinya pulang ke rumah. Bram pun seketika menjadi panik dan ia segera berlari masik kedalam villa.
__ADS_1
"Serena!" panggil Bram dengan sedikit nyaring, tapi ia tidak mendengar wanita itu menyahuti panggilan nya. Pikiran Bram semakin tidak karuan, bahkan laki-laki itu berulang kali menahan nafas nya saking merasa takut jika apa yang ia bayangkan benar-benar terjadi.
"Serena, kau harus baik-baik saja!" gumam Bram berusaha untuk tetap berpikir positif.