Mendadak Menikahi Gadis Cacat

Mendadak Menikahi Gadis Cacat
Lebih Sempurna


__ADS_3

"Dok, apa kau tidak salah bicara?" tanya tuan Bisma yang sama sekali tidak mempercayai omongan dokter Davin.


"Benar, Tuan Bisma. Saya sama sekali tidak salah bicara dan Nona Serena tidak lagi harus duduk di kursi roda itu lagi."


"Sebaiknya Dokter pergi beristirahat lah saja. Mungkin dokter sedang kelelahan menangani pasien yang cukup banyak hari ini!"


Saking merasa masih tidak mempercayai omongan dokter, tuan Bisma malah berbicara ngawur hingga dokter Davin menjadi bingung mendengar ucapan nya. Bahkan Davin menatap ke arah Bram berharap menantu tuan Bisma bisa menjelaskan semuanya. Sedangkan Bram sendiri hanya mengangkat kedua bahu nya saja seolah-olah tidak tahu apa-apa, padahal Bram sendiri mengerti apa yang dikatakan oleh mertua nya itu.


Bram merasa sangat senang mendengar kabar bahwa istri nya bisa pulih kembali seperti dulu lagi. Ia sama sekali tidak sabar menantikan momen itu, terutama ia juga tidak sabar melihat senyuman bahagia istri nya saat mengetahui dirinya bisa kembali berjalan seperti dulu lagi.


"Sayang, cepatlah sadar. Aku tidak sabar mengatakan kabar bahagia ini untuk mu," gumam Bram dalam hati nya sambil memeluk punggung tangan Serena dengan begitu erat dan sesekali dirinya juga mencium dengan lembut tangan istri nya itu.


Hari sudah malam, Bram terlihat senantiasa berada di samping Serena tapi wanita itu masih belum juga sadarkan diri. Namun, ketika Bram berniat ingin pergi ke kamar mandi tiba-tiba ia melihat kedua mata Serena tampak berkedip. Bram langsung saja terdiam sebentar menatap ke arah istri nya dan memastikan bahwa apa yang ia lihat barusan tidak salah, ia bahkan tanpa sadar menahan nafas nya serta kedua matanya cukup lama tidak berkedip demi memastikan semuanya.


"Serena, bangunlah!" ucap Bram yang masih belum juga melihat Serena mengedipkan mata nya lagi, tapi setelah dirinya memegang erat kedua tangan wanita itu seketika ia merasakan tangannya di genggam oleh istri nya. Bram langsung saja tampak bersemangat menantikan istri nya bangun membuka kedua mata nya.


"Bram ..." Walaupun belum sepenuhnya sadar, tapi Serena spontan menyebutkan nama suami nya. Bram yang mendengar nya merasa sangat terharu, ia pun mengelus rambut Serena dengan lembut sambil mencium punggung tangan istri nya dengan penuh kasih sayang.


"Serena Sayang, bangunlah. Aku sangat menantikan mu."


Serena kini perlahan-lahan membuka kedua kelopak mata nya. Penglihatan nya masih terlihat masih samar-samar, tapi ia sama sekali tidak ingin putus asa dan tetap mencoba membuka kedua matanya walaupun rasanya terasa begitu berat, tapi Serena sama sekali tidak ingin menyerah apa lagi ketika mendengar suara Bram yang terdengar begitu nyaring di telinga nya membuat Serena pada akhirnya sudah benar-benar kembali sadar. Melihat Bram ada di samping nya, Serena merasa sangat bahagia walaupun ia sama sekali masih belum bisa mengekspresikan senyuman nya tapi dihatinya ia bisa merasakan kebahagiaan itu.


"Mas Bram, kau baik-baik saja, kan?"


"Hem, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan mu?"


"Tubuh ku entah kenapa terasa begitu ringan sekali bahkan kedua kak—" ucap Serena terpotong, saat ia tanpa sengaja mengerakan kedua kaki nya dan ia merasa bahwa kedua kakinya benar-benar terasa begitu aneh.


Serena terus berulang kali mengerakan kedua kakinya, ia merasa apa yang terjadi pada nya saat ini terasa seperti mimpi bagi nya.


"Kedua ... kaki ku?"


"Tidak! Ini tidak mungkin! Sepertinya ini hanyalah mimpi ku saja!"


Serena terus bergumam dalam jati hati nya. Karena ia sendiri masih belum mempercayai bahwa kedua kakinya bisa digerakkan bahkan ia berpikir mungkin ia masih belum bangun dari tidur nya.Tapi, melihat Bram tersenyum menatap ke arah diri nya Serena merasa ia sama sekali tidak bermimpi dan kedua kakinya sudah benar-benar dapat digerakkan kembali seperti dulu lagi.


"Mas Bram, apa yang terjadi pada ku?"


"Sekarang kau tak perlu duduk dikursi roda lagi. Karena kau sudah bisa berjalan kembali normal lagi seperti dulu," ucap Bram dengan penuh semangat.


"Be—benarkah?"


"Hem, buktinya kau sudah bisa mengerakan kedua kaki mu, kan?"


"Ini bukan mimpi kan, Mas?"


"Tidak! Ini benar-benar nyata."


Serena langsung saja memeluk Bram sambil menangis sesegukan. Berjalan normal seperti yang lainnya tentu saja itu adalah harapan besar di hidup Serena selama ini. Apa lagi sekarang ia telah memiliki seorang suami membuat Serena sudah tidak sabar lagi menikmati kebersamaan dengan orang yang ia cintai.


Tuan Bisma yang baru saja kembali dari luar tanpa sengaja melihat pemandangan yang begitu mengharukan. Ia berharap anak dan menantu nya bisa hidup bahagia untuk selama nya, bahkan tuan Bisma tiba-tiba berharap mendapatkan cucu secepatnya dengan begitu rumah nya akan semakin ramai dengan kehadiran seorang anak kecil. Tapi, ia kembali teringat dengan keadaan Serena yang baru saja pulih dari lumpuh nya yang sudah bertahun-tahun lama nya itu, sehingga ia lebih baik membiarkan kedua orang itu menikmati kebersamaan terlebih dahulu dengan sepuasnya.


"Ehem!" Tuan Bisma langsung saja berdehem dengan cukup nyaring, lalu ia pun mendekati kedua orang itu dan membicarakan masalah kecelakaan yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu.


"Aku sudah mendapatkan rekaman CCTV-nya serta plat truk yang menabrak kalian berdua sebelumnya," jelas tuan Bisma.


"Ayah, sudah mendapatkan nya secepat itu?"


"Kau tidak perlu ikut membahas hal ini. Sebaiknya kamu lebih banyak beristirahat saja," ucap tuan Bisma yang tak ingin membuat anaknya kelelahan hanya karena memikirkan semua masalah yang terjadi. Apa lagi Serena baru saja menjalani operasi di bagian kepala nya karena telah mengalami sedikit robekan sehingga harus ada sedikit perbaikan oleh dokter.


"Kau dengar apa yang dikatakan Ayah barusan? Sebaiknya kamu tidurlah lagi, jangan terlalu banyak bergerak," sahut Bram.


Serena pun akhirnya terpaksa melakukan apa yang telah dikatakan oleh ayah dan suami nya itu. Tapi, ia sama sekali tidak ingin tidur dan tetap terjaga karena ia sendiri sudah merasa sangat bosan jika terus menerus tidur dan rasanya Serena sudah tidak sabar untuk menggunakan kedua kaki nya berjalan kembali seperti dulu lagi.


"Aku tidak mengenal siapa orang nya, hanya saja kendaraan yang di pakai oleh orang ini malah di temukan di dalam jurang. Tapi, pengemudinya sama sekali tidak di temukan berada di sekitar tempat itu," jelas tuan Bisma yang baru saja mendapatkan laporan dari salah satu pengawalnya beberapa waktu yang lalu.


"Sebelumnya, aku telah melihat seorang laki-laki ingin menikam Mas Bram dari arah belakang saat Mas Bram asik membeli bunga. Dan semua yang terjadi berawal dari situ!" sahut Serena yang masih saja teringat dengan jelas kejadian itu.


"Orang itu bukanlah pelaku yang sebenarnya. Dia hanya suruhan orang saja."


"Apa Mas Bram ingat sosok gadis yang ada di restoran sebelumnya?" tanya Serena.


"Memang nya kenapa? Aku kan tidak melihat wajah nya."


"Sesudah kecelakaan itu, aku melihat sendiri dia tersenyum senang menatap ke arah ku. Dan dimana ponsel ku?"


"Ini."

__ADS_1


"Kau lihatlah foto gadis itu di ponsel ku! Siapa tahu kau mengenalnya."


Bram pun langsung saja membuka galeri yang ada di ponsel Serena dan melihat apa yang dikatakan oleh istri nya barusan. Setelah melihat foto itu, Bram seketika terdiam lalu menatap ke arah mertua nya yang saat ini begitu penasaran kenapa menantu nya menatap nya seperti itu kepada nya.


Selama 4 hari ini, Desta sudah kebingungan bagaimana caranya supaya kedua orangtua nya merestui hubungan nya dengan Candra. Padahal ia sudah memberikan sebuah bukti bahwa dirinya memang telah mengandung anak dari kekasih nya, tapi tetap saja kedua orangtua nya sama sekali tidak memberikan respon dengan apa yang ia lakukan itu.


"Candra, apa kau memiliki solusi untuk masalah ini?"


"Saat ini aku juga sedang pusing. Dan tolong berhentilah membahas hal ini lagi."


"Bagaimana bisa aku berhenti membahasnya? Sedangkan aku sedang hamil anak kamu, Candra! Dan kita berdmengugurkbu, rus menikah sesegera mungkin!"


"Aku sudah memperingati mu untuk mengugurkan nya saja! Tapi, kau begitu keras kepala untuk mempertahankan nya! Dan sekarang kau malah membuat diri mu pusing sendiri memikirkan cara untuk membuat kedua orangtua mu merestui hubungan kita berdua!"


"Itu semua karena aku ingin kamu tetap bersama ku!"


"Jika kedua orangtua mu tidak merestui hubungan kita berdua! Tidak masalah dan kau akan tetap bersama ku."


"Dengan bayi ini?"


"Tentu saja tidak! Untuk apa mempertahankan nya jika bayi ini sama sekali tidak berguna untuk membujuk kedua orangtua mu? Sebaiknya gugurkan saja!"


"Apa kau benar-benar tidak menginginkan bayi ini?"


"Umur ku masih terlalu muda untuk memiliki seorang anak! Ya, jelas kau harus mengugurkan nya saja."


Ketika kedua orang itu begitu asik saja membahas hal itu, tiba-tiba saja Desta mendapatkan sebuah panggilan masuk dari ayah nya. Ia pun dengan cepat mengangkat panggilan tersebut karena dari awal ia memang sudah sangat menantikan ayah nya untuk menelpon dirinya dan membujuk nya pulang ke rumah. Beberapa hari ini, Desta memang tidak pulang ke rumah dan memilih untuk tinggal di apartemen kekasih nya saja, ia sangat berharap kedua orangtua nya segera mencari nya lalu merestui ia dan Candra untuk segera menikah.


"Candra! Sepertinya aku harus pulang sekarang!" ucap Desta yang langsung saja menyiapkan barang-barang nya dengan sangat tergesa-gesa, hingga Candra sendiri merasa sangat kebingungan melihat sikap kekasih nya yang tiba-tiba seperti itu dan ia rasa kedua orangtua Desta sudah mengatakan sesuatu hal kepada gadis itu.


"Hei! Ada apa, Sayang? Katakan pada ku? Kenapa kau terburu-buru seperti ini?"


"Intinya aku harus pulang!"


"Iya, aku tahu. Tapi, alasannya kamu tiba-tiba ingin pulang kenapa? Apa terjadi sesuatu?"


Desta terlihat sama sekali tidak fokus mendengar kekasih nya yang terus bertanya kepada nya saat ini, sedangkan ia begitu sibuk mengurus pakainya untuk dimasukkan kedalam koper. Apa lagi ketika mengingat perkataan ayah nya barusan, membuat pikiran Desta sama sekali tidak bisa tenang. Setelah mengemasi semua barang-barang nya, Desta langsung saja pergi keluar dari apartemen Candra tanpa berpamitan lagi kepada laki-laki itu.


"Ada apa dengan gadis itu?" gumam Candra yang begitu penasaran.


Namun, ketika Candra ingin keluar dari gerbang apartemen tiba-tiba ia malah di hadang oleh beberapa orang dan melarang nya untuk keluar dari halaman apartemen tersebut. Candra kebingungan kenapa orang-orang itu melakukan hal itu kepada nya. Tapi, ia tidak tahu bahwa orang-orang yang menghadang nya saat ini adalah suruhan tuan Bisma sendiri. Ia ingin laki-laki itu berhenti mengejar Desta dan tidak ikut campur dengan semua urusan mereka.


Desta yang sebelumnya pulang terburu-buru kerumah kini sudah tiba di rumah. Gadis itu langsung saja membungkuk di bawah kaki kedua orangtua nya dan terlihat memohon supaya tidak melakukan hal itu kepada nya.


"Kenapa Papi dan Mami ingin aku ke luar negeri? Desta, sudah dari awal tidak ingin pergi kesana!" ucap Desta yang terlihat begitu panik ketika mendengar keputusan ayah nya dari panggilan telepon sebelumnya.


"Kau terlalu keras kepala dan sangat sulit untuk di atur! Sebaiknya tinggal lah saja di luar negeri, disana kau bisa dengan bebas melakukan apa yang kau mau. Karena tidak akan membuat Papi menjadi malu dengan sikap mu yang memalukan itu!" ucap tuan Bisma dengan panjang lebar, hingga Desta sendiri sampai semakin merasa sangat panik mendengar ucapan ayah nya itu.


"Papi, Desta mohon jangan memaksa ku untuk pergi keluar negeri!"


"Kau harus tinggal disana! Itulah yang terbaik!" sahut nyonya Jesika yang juga setuju dengan ide suami nya.


Desta pun semakin kebingungan dengan sifat ibu nya yang sama sekali tidak berpihak lagi kepada nya. Begitu juga dengan tuan Bisma, ia tak biasanya mendengar istri nya yang telah mendukung keputusan nya karena biasanya istri nya itu selalu protes dan tidak pernah setuju ketika berurusan dengan Desta. Tapi, sekarang semuanya terlihat benar-benar berbeda dari istri nya itu.


"Apa yang terjadi pada nya?!" gumam tuan Bisma dalam hati nya.


Serena dan Bram yang baru saja keluar dari kamar. Tampak kebingungan dengan suasana yang terjadi, kedua orang itu sama sekali masih belum tahu apa yang terjadi saat ini tapi mereka berdua tetap memilih untuk bergabung di sofa tamu saja karena kebetulan Brama juga ingin membicarakan sesuatu hal yang begitu penting tentang kecelakaan itu.


"Papi, sudah membelikan tiket untuk penerbangan mu. Dan kau harus mempersiapkan diri mu!"


"Lalu bagaimana dengan janin yang aku kandung, Pi?"


"Bukankah kekasih mu sebelumnya tidak menginginkan janin itu, kan? Jadi, Papi juga tidak punya pilihan lain!"


Desta terdiam, ia pun seketika berpikir bahwa ayah nya sebelum nya telah mendengar perbincangan nya dengan Candra saat di rumah sakit itu.


"Apa alasan Papi tidak merestui hubungan kita berdua?!"


"Laki-laki itu sama sekali tidak jelas statusnya! Takut nya kau malah menikah dengan seorang laki-laki yang tak bertangungjawab kepada mu lalu meninggalkan mu setelah mendapatkan apa yang ia mau, Desta! Apa kau masih belum paham jiga, hah?!" Nyonya Jesika tampak greget dengan anaknya yang terlihat begitu bodoh itu.


"Tapi aku mencintai nya, Mi."


"Mulut mu itu selalu saja mengatakan bahwa kau mencintai laki-laki yang kau bawa pulang ke rumah ini. Apa kau benar-benar mengerti apa itu 'cinta' Desta? Mami, rasa tidak! Kau sama sekali belum mengerti dengan semua hal itu, jadi sebaiknya kau turuti saja keputusan Papi mu sebelum nya supaya kau bisa lebih dewasa sedikit dan tidak bertindak sesuka hati mu hingga membuat keluarga ini menanggung malu karena ulah mu itu!" jelas nyonya Jesika dengan pangjang lebar.


"Mami! Mami kenapa seperti ini?!"


"Memang nya, ada apa dengan, Mami?"

__ADS_1


"Mami, terlihat sangat berbeda! Tidak seperti yang Desta kenal sebelum nya! Biasanya Mami selalu mendukung keputusan Desta, tapi sekarang kenapa Mami malah menyetujui keputusan, Papi?!"


"Desta! Segera pergi ke kamar mu dan kemas barang-barang mu kedala cover!" sahut tuan Bisma yang tak ingin merasa pusing lagi membahas masalah Desta.


"Desta, itu adalah jalan satu-satu nya untuk mu! Jika kau terus berada di disini! Lama-lama kau akan tahu kebenarannya dan Mami tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" gumam nyonya Jesika dalam hati nya.


"Mami, sebenarnya apa alasan Mami terus memaksa ku untuk pergi ke Luar Negeri?"


"Tentu saja karena kau sangat memalukan bagi keluarga ini!"


"Tapi, Mi. Bukankah Mami sebelumnya sama sekali tidak pernah bersikap seperti ini apapun yang Desta lakukan Mami sama sekali tidak mempermasalahkannya! Tapi, sekarang kenapa Mami malah seolah-olah jijik terhadap Desta? Apakah Desta benar-benar sangat menjijikkan bagi Mami?"


"Diamlah! Berhentilah berbicara omong kosong, Desta!"


"Desta, hanya ingin meminta penjelasan saja. Apa salahnya?!"


Nyonya Jesika sudah kebingungan menjawab pertanyaan Desta yang berulang kali menanyakan alasannya. Ia tentunya tidak mungkin mengatakan kebenarannya karena hal itu jelas akan menghancurkan semua rencana nya, sehingga nyonya Jesika memilih untuk menghindari saja ketimbang ia berhadapan dengan anaknya yang begitu keras kepala itu.


Namun, Desta sama sekali tidak mau menyerah begitu saja. Ia berusaha menghentikan ibu nya dan meminta penjelasan atas semua yang ibu lakukan kepada nya selama ini.


"Mami, tolong jelaskan pada, Desta!" Tanpa rasa takut lagi, Desta langsung saja menarik tangan ibu nya hingga nyonya Jesika dengan kasar menepis tangan anak nya.


"Akh!" Desta seketika terdorong ke arah kolam renang lalu tercebur ke dalam air yang terasa cukup dingin itu. Desta berusaha untuk berenang ke pinggir kolam tapi sayang nya kaki dan tangannya tiba-tiba terasa begitu kaku.


"To—tolong!" Desta hanya bisa mengucapakan sebuah kalimat itu saja, setelah itu ia hanya berusaha berjuang sendiri di tengah kolam renang. Bahkan nafas nya sudah hampir terasa habis saking tidak tahan berada di dalam air dengan waktu yang cukup lama. Seluruh tubuh nya benar-benar terasa mati rasa dan Desta sangat berharap ibu nya bisa segera membantu dirinya untuk keluar dari kolam renang itu.


"Ma—Mami ..." Desta tak menyangka ia melihat ibu nya malah pergi meninggalkan nya di kolam renang itu sedangkan ia benar-benar sangat membutuhkan pertolongan ibu nya saat ini. Desta sudah merasa sangat pasrah, ia berpikir mungkin hidup sudah di takdirkan untuk pergi selamanya. Sehingga sekarang, Desta perlahan-lahan memejamkan kedua mata nya serta menyerahkan seluruh hidup nya, tapi Desta tiba-tiba merasakan seperti ada sebuah gelombang besar mendekatinya. Ia tampak samar-samar melihat wajah seorang laki-laki yang tak asing di mata nya.


"Desta! Desta!"


Serena sangat syok melihat adik tirinya sama sekali tidak berdaya di tengah kolam renang. Ia pun dengan cepat meminta suami nya Bram untuk segera menolong wanita itu sebelum semuanya terlambat. Dan sekarang Desta telah berhasil di selamatkan walaupun keadaan wanita itu terlihat sangat lemah saat ini tapi setidaknya mereka masih memiliki harapan untuk menyelamatkan nya.


"Bawa saja ke rumah sakit!" ucap Bram yang juga sedikit panik melihat keadaan Desta sudah mulai membiru.


"Baiklah, Mas." Serena langsung saja berteriak memanggil ayah nya dan mengatakan nya supaya ikut pergi ke rumah sakit bersama dengan mereka. Kebetulan tuan Bisma juga sedang berbincang dengan salah satu pengawal nya di teras rumah sehingga Serena tidak terlalu pusing mencari keberadaan ayah nya itu.


"Ada apa, Serena?"


"Desta! Tenggelam di kolam renang dan sekarang keadaan nya sangat buruk, Pi!" ucap Desta yang terlihat sangat mengkhawatirkan adik tiri nya itu.


Melihat Bram sedang membopong tubuh Desta dengan keadaan yang basah kuyup, tuan Bisma pun dengan cepat meminta pengawalnya untuk membantu menantu nya itu membawa Desta masuk kedalam mobil. Sedangkan Serena sendiri berlari ke arah kamar untuk mengambil pakai suami nya serta milik Desta sendiri dengan keadaan yang sangat terburu-buru. Hanya membutuhkan 3 menit saja, Serena langsung berlari keluar dari dalam rumah menuju ke arah mobil yang kini sudah siap ingin berangkat ke rumah sakit.


Mobil pun melaju dengan sangat cepat, Juan salah satu pengawal tuan Bisma berusaha untuk menyelematkan Desta untuk sementara waktu. Tapi sayangnya, apa yang telah Juan lakukan sama sekali tidak berguna karena Desta sudah terlalu banyak meminum air, belum lagi ia begitu kesulitan melakukan nya di dalam mobil yang cukup sempit sehingga ia tidak bisa lebih leluasa untuk melakukan nya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit lamanya, akhirnya Desta telah berhasil ditangani oleh dokter. Tuan Bisma bingung kenapa anaknya malah tenggelam di kolam renang, padahal yang ia tahu Desta bisa berenang dan sangat lihai.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?"


"Keadaan nya masih kritis, terutama janin dalam kandungan nya benar-benar sangat lemah," jelas dokter itu.


Juan yang mendengar penjelasan dokter barusan sedikit mengerutkan kening nya bingung. Karena selama ini Juan merasa Desta masih belum menikah dan ia begitu penasaran dengan siapa wanita itu menikah hingga ia sendiri tidak di undang ke pernikahan anak majikannya itu. Bahkan ia lebih terkejut lagi ketika melihat Serena sudah bisa berjalan mengunakan kedua kakinya tapi Juan turut bahagia atas kesembuhan anak majikannya itu. Ia juga tidak tega melihat Serena harus duduk di kursi roda dengan wajah yang sama sekali tidak bersemangat untuk menjalani kehidupan nya.


"Mungkin aku terlalu lama bekerja di tempat yang jauh sehingga aku tidak tahu kabar apapun tentang nona Desta menikah," gumam Juan dalam hati nya.


"Nona Serena, apa tidak sebaiknya menelpon suami nya nona Desta saja? Itu akan lebih baik jika suami nya berada di samping nya," jelas Juan dengan begitu polos nya mengatakan kalimat itu kepada Serena.


"Adik ku belum menikah!" bisik Serena takutnya malah ada yang mendengar nya.


"Be—benarkah?" tanya Juan yang tak percaya akan hal itu.


"Hem."


"Lalu laki-laki nya?"


"Juan, berhentilah terlalu kepo! Sebaiknya kau bawa barang-barang yang ada di dalam mobil, Bram sudah kedinginan sekarang," perintah Serena yang sudah lupa membawa barang-barang tersebut.


"Baik, Nona." Juan pun langsung saja ke arah mobil untuk melakukan perintah Serena.


"Sayang, sebaiknya kau tenangkan ayah mu terlebih dahulu. Sepertinya dia benar-benar masih sangat syok saat ini," ucap Bram, melihat raut wajah mertua nya saja ia sudah tahu bahwa mertua nya itu sangat stress memikirkan Desta yang sedang kritis serta di penuhi alat-alat kesehatan di mulut serta di hidungnya.


"Papi, Desta pasti akan baik-baik saja. Papi jangan terlalu khawatir, aku yakin Desta pasti kuat melewati semuanya."


"Walaupun Desta bukan anak kandung Papi, tapi dia seolah-olah ku anggap sebagai anak kandung ku. Aku memang sering memarahinya atau memperlakukan nya dengan kasar tapi itu semua demi kebaikan nya. Papi hanya terlalu takut ia terlalu terjerumus ke jalan yang salah dan malah menghancur hidup nya sendiri. Kau lihat sendiri kan, akhirnya dia mendapatkan apa yang ia cari-cari selama ini dan malah mengandung dari laki-laki brengsek itu!" jelas tuan Bisma dengan panjang lebar.


"Papi, Desta sudah menyesali perbuatannya. Aku yakin, dia pasti akan menjalani kehidupan nya lebih baik lagi setelah itu."


"Papi, juga sangat berharap dia bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Papi, tidak bermaksud menuntut nya untuk menjalani kehidupan yang lebih sempurna hanya saja Papi ingin dia benar-benar menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya di dalam hidup nya itu saja."

__ADS_1


__ADS_2