
"Desta, telah bersedia menikah dengan mu. Lalu sekarang jawaban mu apa, Juan?"
"Bersedia? Semudah itu?"
Akhir-akhir ini Juan sering merasa dihantui oleh perkataan majikannya supaya ia menikah dengan Desta yang tentunya gadis itu tidak akan bisa menerima dirinya.
"Kami berdua sudah membicarakan nya dengan baik-baik. Dan Desta sama sekali tidak menolaknya jika kau memang bersedia menikah dengan nya lalu menerima anak di dalam kandungan nya saat ini dengan baik."
"Tuan, sebenarnya apa yang telah Tuan bicarakan kepada nona Desta sehingga ia sampai mau menikah dengan saya?"
Tuan Bisma tidak menjawab pertanyaan Juan, tapi ia malah mengeluarkan sesuatu benda yang ada di kantong celananya dan ternyata itu adalah sebuah foto kecil yang berisikan sebuah foto tentang dua orang saling bermesraan namun salah satu wajah dari kedua orang itu sama sekali tidak terlihat dan hanya memperlihatkan wajah seorang laki-laki saja yang sedang mencumbu kekasih nya dengan kemesraan.
"Maksud Tuan?" tanya Juan yang masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh tuan Bisma.
"Kekasih nya itu telah menduakan nya jadi sekarang Desta lebih baik menikah dengan mu saja ketimbang ia melahirkan seorang anak tanpa seorang ayah. Sekarang apa kau bersedia?"
Tuan Bisma sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang ada di foto tersebut adalah istri nya sendiri, sehingga ia terlihat biasa-biasa dan menganggap wanita itu bukanlah istri nya. Sedangkan foto tersebut sebenarnya memang di sengaja di ambil hanya sebagian nya saja dan itu semua adalah rencana Serena sendiri karena ia sama sekali belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya kepada ayah nya. Dan tentunya ayah nya pasti akan sangat terpukul jika sampai mengetahui kebenarannya.
"Juan, kenapa begong saja? Aku sedang menantikan jawaban mu sekarang, apa kau bersedia?" tanya tuan Bisma dengan penuh harap, jika Juan mau menikah dengan Desta nasib anaknya tidak akan benar-benar berakhir begitu buruk dan masa depan Desta tetap seperti biasanya serta anaknya tidak akan melalui kehidupan yang semakin sulit walaupun pada akhirnya Desta tidak memilih seorang laki-laki sosok ayah dari anak nya sendiri.
"Baik, Tuan. Saya bersedia," ucap Juan, rasanya ia benar-benar tidak mempercayai apa yang ia katakan barusan. Ucapan nya itu tentu saja akan merubah semua hidup nya karena sebentar lagi ia akan memiliki sosok seorang gadis yang selalu ada di samping nya.
Tuan Bisma langsung saja meminta salah satu pengawal nya yang lain supaya segera mengurus surat menyurat untuk persyaratan pernikahan anak nya nanti. Ia sendiri ingin menikahkan Desta dan Juan dengan sebuah pesta pernikahan secara besar-besaran. Padahal Desta sendiri sama sekali tidak menginginkan itu, ia lebih baik menikah dengan sederhana saja dengan begitu tidak terlalu merepotkan untuk nya namun sebagai ungkapan kasih sayangnya kepada anaknya itu tuan Bisma rela melakukan apa saja demi anak nya itu. Tidak hanya itu, ia juga ingin Serena dan Bram ikut berdandan layaknya seorang pengantin juga saat di pesta pernikahan Desta nanti, sehingga kedua anaknya juga bisa merasakan bahwa mereka berdua telah menjalani pernikahan mewah.
Desta yang telah dirawat beberapa hari di rumah sakit kini telah di perbolehkan untuk pulang ke rumah dan untungnya keadaan janin yang ada di dalam kandungan nya sudah kembali sehat. Tapi, Desta tetap tidak di perbolehkan untuk terlalu banyak bergerak dan harus terus berada di atas kasur saja hingga sampai keadaan janinnya benar-benar kuat.
__ADS_1
***
Pesta pernikahan pun sedang berlangsung, banyak para pengusaha yang datang ke tempat pesta tersebut. Termasuk Candra sendiri, laki-laki itu benar-benar tidak tahu malu untuk datang ke pesta pernikahan Desta. Tapi, sebenarnya tujuannya ke pesta tersebut bukanlah mengucapkan selamat kepada mantan kekasih nya melainkan ia memiliki sebuah tujuan.
Namun, apa yang dilakukan oleh Candra di pesta tersebut sudah jelas di pantau oleh seseorang yang tak lain Bram sendiri. Ia sama sekali tidak ingin pesta pernikahan adik ipar nya malah di hancurkan begitu saja hanya karena seseorang yang sama sekali tidak berguna di pesta itu.
"Mas Bram, siapa mengundang nya kemari?"
"Tentu saja bukan ayah, melainkan dia adalah ibu mu."
"Sepertinya memang begitu, Mas. Tapi, apa yang sedang ia cari-cari itu?"
"Mungkin ibu mu."
"Aku dan Juan telah mengunci nya di dalam kamar nya. Karena kami berdua merasa curiga bahwa ibu akan berulah lagi."
"Kalian berdua menguncinya?!" Seketika Serena terkikik geli mendengar nya, ia tak menyangka suami dan adik ipar nya itu telah melakukan sesuatu hal yang begitu konyol seperti itu.
"Kenapa? Apakah selucu itu?"
"Sangat lucu, Mas Bram. Kalian berdua benar-benar keterlaluan."
"Biarkan saja, lagian kami berdua telah mengancamnya dengan sesuatu."
"Sesuatu?"
__ADS_1
"Hem. Apa kau ingin tahu?"
"Katakan, Mas."
"Sebentar."
Bram langsung saja memperlihatkan sebuah rekaman video tentang Candra dan nyonya Jesika saling bercumbu di kamar hotel. Dengan adanya video tersebut tentunya nyonya Jesika sama sekali tak berdaya, ia jelas merasa takut jika video tersebut sampai di lihat oleh suami nya dan hidup nya akan benar-benar berakhir.
"Oh, ternyata video itu," ucap Serena yang sudah tahu.
Serena dan Bram memutuskan untuk tidak berbincang lagi takutnya mereka berdua malah lengah lalu Candra akan berkesempatan untuk melakukan aksi nya di pesta tersebut. Sesekali Candra melihat di sekitar sekeliling nya, lalu ia seketika menyadari bahwa Serena dan Bram telah memperhatikan dirinya saat ini.
"Sialan! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kedua orang itu harus aku singkirkan terlebih dahulu," gumam Candra, ia pun memilih untuk pergi keluar terlebih dahulu demi menghindari Serena dan Bram yang terus memperhatikan dirinya.
"Sayang, aku akan mengikuti nya!" ucap Bram yang terlihat begitu serius saat ini dan Serena hanya menganggukkan kepala nya saja.
Bram terus mengikuti kemana arah Candra pergi saat ini namun ia malah tidak sengaja menabrak seseorang yang tak lain salah satu suruhan nyonya Jesika yang selama ini telah bekerja sama dengan Candra sebelum nya. Bram yang begitu kesal dengan orang itu rasanya hampir membunuh nya saja. Sekarang ia malah kehilangan jejak Candra dan ia bingung kemana dirinya harus mencari keberadaan Candra saat ini. Sedangkan orang yang baru saja di tabrak oleh Bram, kini malah pergi begitu saja dan Bram pun mulai merasakan ada sebuah kejanggalan dengan orang tersebut.
"Sialan! Kemana pergi nya orang itu?" gumam Bram dan ia pun mulai merasakan bahwa saat ini Candra dan orang barusan akan mulai menjalankan aksi nya. Bram pun dengan cepat menyampaikan kepada ayah mertua nya serta Juan supaya mereka semua tetap berwaspada saat ini. Tidak lupa, Bram juga memanggil beberapa pengawal yang telah berjaga di depan pintu dimana nyonya Jesika di kurung saat ini supaya mereka semua tidak lengah.
"Mas Bram, ada apa?"
"Kau jangan pergi kemana-mana, tetap disini dan jangan sampai keluar dari kerumunan orang banyak!" peringat Bram.
Kalimat yang di ucapkan oleh Bram barusan membuat Serena tersadar bahwa musuh sedang mendekat untuk bersiap-siap menyerang mereka.
__ADS_1