Mendadak Menikahi Gadis Cacat

Mendadak Menikahi Gadis Cacat
Kehidupan Bahagia


__ADS_3

"Jangan lupa minum obat nya juga, supaya rasa nyeri nya hilang," tegur Serena kepada suami nya yang selalu memegang tangan nya dari tadi.


Mereka berdua pagi-pagi datang ke rumah ke rumah sakit demi mendapatkan segera perawatan dari dokter. Dan itu semua karena Serena benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan suami nya, ia tidak ingin luka suami nya semakin parah dan tersiksa menahan rasa sakit itu. Maka dari situlah ia lebih baik bangun lebih awal demi mengajak suami nya ke rumah sakit setelah janjian kepada dokter yang cukup akrab dengan nya. Dan sekarang semuanya sudah beres, Serena dan Bram kini sudah berada di rumah namun ketika tiba di rumah Serena sama sekali tidak melihat keberadaan adik nya. Ia begitu penasaran kemana adik nya saat ini, ia pun mencari seisi rumah itu tapi tetap saja ia tidak menemukan adik nya.


"Kemana Desta pergi, ya?" gumam Serena, padahal ia sebenarnya ingin memberikan sebuah vitamin yang di minta oleh adik nya sebelum nya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Bram ketika melihat Serena mondar-mandir tidak karuan dari tadi.


"Aku tidak melihat keberadaan Desta, Mas."


"Mungkin di kamar nya atau di kamar mandi?"


"Aku sudah memeriksa nya. Tapi dia sama sekali tidak ada disana."


"Di kolam renang?"


"Sudah."


Bram pun seketika terdiam sebentar, tapi tiba-tiba pikiran nya tertuju ke arah ibu mertua nya.


"Dan papi juga tidak ada di rumah," ucap Serena lagi. Ia tiba-tiba menyadari bahwa ayah nya memang tidak ada di rumah sejak ia berkeliling mencari keberadaan Desta. Serena tidak ingin terlalu menunda waktunya sehingga ia langsung saja menelpon ayah nya dan ternyata nomor ayah nya sama sekali tidak aktif.


"Mungkin Desta bisa di hubungi," gumam Serena lalu ia dengan cepat mencari nomor ponsel Desta dan mengubungi nya.


"Kenapa semuanya tidak aktif, sih?" gumam Serena yang sedikit panik sekarang.


"Sayang, kenapa terlihat begitu gugup seperti itu? Mungkin mereka sedang jalan-jalan keluar," ucap Bram mencoba untuk menenangkan istri nya, padahal ia sendiri malah berpikir bahwa ayah mertua dan adik ipar nya itu menemui ibu mertua nya di kamar hotel tempat dimana ia dan Juan menguncinya.


"Sebaiknya kau ikuti ku saja!" ucap Bram yang langsung saja menarik tangan Serena. Ia tidak ingin melihat istri nya semakin terlihat khawatir dari tadi sehingga ia memutuskan untuk membawa Serena pergi ke hotel dan memastikan bahwa apa yang ia pikirkan memang benar.


Serena kebingungan kemana Bram telah membawa nya pergi, tapi wanita itu sama sekali tidak bertanya sedikitpun kepada suami nya. Melihat wajah suami nya yang terlihat begitu serius seperti itu membuat nya perlahan-lahan menenangkan diri nya. Ia tahu Bram sama sekali tidak suka jika ia terlalu khawatir berlebihan seperti itu.


"Maafkan aku, Mas Bram."


"Untuk?"


"Aku telah membuat mu khawatir."


"Mereka pasti baik-baik saja, kau tidak perlu khawatirkan mereka sampai seperti itu. Kau harus ingat, khawatir terlalu berlebihan seperti itu hanya akan membahayakan diri mu sendiri. Setiap ada masalah kau harus berusaha untuk tetap menenangkan diri mu," jelas Bram dengan cukup panjang lebar. Ia terlalu takut jika melihat istri nya sampai khawatir berlebihan seperti itu malah akan melangkah ke jalan yang salah.


Setelah tiba di hotel, Bram langsung saja mengajak Serena ke kamar hotel dimana nyonya Jesika saat ini di kurung. Bram yang melihat kedua pengawal yang di tugaskan untuk berjaga di depan pintu segera menyambut ia dan istri nya.


"Tuan, mere—"


"Buka pintu nya!" ucap Bram dengan cepat memotong ucapan pengawalnya karena ia tahu pengawal nya itu ingin mengatakan sesuatu yang jelas ia sudah tahu jawabannya.


Setelah pintu terbuka, Bram melihat sendiri ayah mertua nya dan adik ipar nya sedang berdebat dengan ibu mertua nya di sofa. Serena yang awalnya hanya diam saja melihat hal itu semua dengan cepat menghentikan ketiga orang itu berdebat.


"Ini dia orang yang telah mengurung ku disini! Akhirnya kau telah tiba laki-laki berandal tidak tahu diri!" ucap nyonya Jesika yang begitu kesal melihat kehadiran Bram.


"Papi, kenapa kalian berdua berada disini?" tanya Serena yang bingung dengan ayah nya tiba-tiba menemui ibu tiri nya itu bersama dengan Desta.


"Candra, telah berhasil kabur. Dan sekarang Juan telah menghilang, aku rasa dia tau tempat dimana laki-laki itu menyembunyikan Candra saat ini!" ucap tuan Bisma.


Serena mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan ayah nya seperti itu. Ia melihat bahwa tatapan ayah nya benar-benar terlihat sangat marah besar kepada ibu tiri nya. Ia pun menjadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya sehingga membuat ayah nya seolah-olah ingin menghajar ibu tiri nya.


"Papi, coba jelaskan apa yang terjadi?" tanya Serena mencoba menenangkan ayah nya.


"Serena, kau dan Bram tidak perlu menyembunyikan apapun dari Papi. Dari dulu Papi sudah jelas tahu bagaimana sikap Mami kamu!"


"Maksud ... Papi?!"


"Papi, tahu kalau dia telah menjalani hubungan dengan laki-laki berondong itu!" Tuan Bisma seketika menahan dada nya yang terasa begitu sesak itu, pada akhirnya ia bisa mengungkapkan rasa sakit itu yang sudah ia tahan dengan cukup lama selama ini.


"Bahkan laki-laki itu telah membuat ku seperti ini ..." sahut Desta yang juga baru mengetahui tentang ibu nya. Ia benar-benar sangat syok dan hampir tidak mempercayai nya namun ketika melihat sebuah rekaman video yang di berikan Juan sebelum ia di culik mungkin ia akan selalu merasa dihantui karena merasa penasaran dengan sikap ibu nya yang begitu aneh akhir-akhir ini. Desta sangat jelas membenci ibu nya, sekarang ia tidak lagi harus patuh kepada ibu nya karena ia tahu sendiri bahwa nyonya Jesika bukanlah ibu kandung nya.


Semua rahasia nyonya Jesika telah dibongkar oleh Juan. Namun, laki-laki itu sampai sekarang entah dimana keberadaan nya, sekarang semua orang mencari keberadaan Juan tapi mereka sama sekali belum tahu jejak nya sedikitpun. Dan satu-satu nya mencari petunjuk hanyalah nyonya Jesika sendiri, maka dari situlah Desta dan tuan Bisma menemui nyonya Jesika supaya mau mengatakan keberadaan Juan saat ini.


"Katakan dimana Juan dibawa oleh laki-laki itu?!" tanya tuan Bisma dengan dingin.


Namun nyonya Jesika tetap saja memilih untuk tutup mulut. Semua orang rasanya sangat ingin membuka mulut nyonya Jesika supaya mengatakan semuanya saking merasa gregetan melihat nya hanya diam begitu saja.


"Sudah 1 minggu ini Juan masih belum berhasil di temukan, kita berdua harus segera menemukan Candra sebelum ia benar-benar melakukan sesuatu hal yang tak diinginkan!" ucap tuan Bisma, padahal Juan baru saja menjadi menantu nya tapi sekarang malah diculik oleh Candra. Ia semakin kesal dengan laki-laki itu, apa lagi sudah menghancurkan rumah tangga nya membuat tuan Bisma tidak akan mau memberikan belas kasihan lagi. Begitu juga dengan Bram, ia akui sifat Candra memang begitu licik. Laki-laki itu sama sekali tidak ingin menyerah untuk menghancurkan hidup nya kembali, setelah ia dipenjara sebelum nya.


Namun, Bram tiba-tiba ingin mengajak mertua nya ke suatu tempat. Karena ia merasa curiga bahwa Candra telah membawa Juan ke tempat itu dimana ia dulu pernah dikurung oleh paman dan keluarga nya yang lain. Bram langsung saja membawa mertua nya pergi menuju ke arah tempat itu, sedangkan Serena dan Desta akan tinggal di rumah saja. Ia tidak ingin kedua wanita itu ikut karena tentunya sangat berbahaya.


"Kita berdua ingin kemana, Bram?" tanya tuan Bisma yang masih sangat penasaran dengan tujuan menantunya itu.


"Kita akan pergi ke arah bukit. Yang tak jauh dari sini, tempat tersebut memiliki sebuah gubuk tua tempat dimana aku pernah dikurung oleh keluarga itu!" jelas Bram, tuan Bisma seketika menatap ke arah menantunya. Ia turut bersedih dengan apa yang di alami oleh menantunya di masalalu, tapi ia berjanji akan membalaskan perbuatan orang-orang itu dan tidak akan pernah sedikitpun memaafkan mereka semua.


Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam lamanya, kini Bram dan tuan Bisma telah tiba di sebuah bukit yang cukup tinggi serta banyak pepohonan yang rimbun tumbuh di sekitar tempat itu hingga tuan Bisma sendiri sedikit merinding melihat disekitar sekeliling nya layaknya tempat penghuni setan.


"Kau serius pernah dikurung di tempat ini?" tanya tuan Bisma yang benar-benar tak mempercayai apa yang ia lihat saat ini.


"Hem, aku serius, Ayah."


"Hidup mu benar-benar menyedihkan, Bram!" ucap tuan Bisma yang kembali merasa prihatin. Tapi, Bram sudah tidak lagi bersedih karena sekarang ia sudah menemukan keluarga yang sesungguhnya dan ia sangat bersyukur tuan Bisma serta Serena istri nya memperlakukan ia dengan baik selama ini. Bram sangat berharap ia mertua dan istri nya selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang dengan begitu mereka tetap bersama untuk selama nya.

__ADS_1


Sekarang Bram dan tuan Bisma perlahan-lahan melangkah memasuki sebuah gubuk tua yang tampak begitu sepi itu. Terlihat dari luar tempat tersebut sama sekali tidak terlihat mencurigakan namun mereka berdua sama sekali tidak menyadari ada beberapa orang telah memperhatikan mereka berdua dari tadi.


"Bram, sebaiknya kau saja yang membuka pintu!" ucap tuan Bisma yang sangat berhati-hati sambil memperhatikan di sekitar nya. Tapi, ketika Bram ingin membuka pintu gubuk tua itu, tuan Bisma dengan cepat menghentikan menantunya untuk segera berwaspada karena ia tiba-tiba saja merasakan bahwa bahaya sedang mendekat.


"Ada apa, Ayah?" tanya Bram yang masih belum menyadari nya.


"Sepertinya kita berdua sudah dari awal telah di pantau!" ucap tuan Bisma dengan pelan.


Bram pun mulai melihat disekitar sekelilingnya dan ternyata apa yang dikatakan oleh mertua nya itu memang benar. Sekarang ia harus berwaspada dan menyiapkan senjatanya dengan begitu ia bisa menangkis serangan musuh nya.


"Keluarlah! Kalian tidak perlu lagi bersembunyi!" ucap Bram yang kini sudah siap untuk melawan musuh nya.


Beberapa detik semuanya terasa begitu sunyi, saat ini hanya terdengar suara angin yang menghembuskan dedaunan di atas tanah. Namun, beberapa detik berikutnya orang-orang yang sebelumnya bersembunyi perlahan-lahan keluar dari persembunyian. Bram melihat sendiri ada lima orang yang sedang menuju ke arah dirinya dan ayah mertua nya.


"Bram, berhati-hatilah. Mereka semua telah membawa senjata!" peringat tuan Bisma dan Bram hanya menganggukkan kepala nya paham.


Para musuh pun mulai menyerang, Bram dan tuan Bisma dengan cepat menangis serangan musuh yang mencoba untuk melukai mereka berdua. Dan untung nya kekuatan yang dimiliki para musuh itu tidaklah seberapa sehingga tuan Bisma dan Bram dengan begitu mudah mengalahkan mereka semua.


"Sebaiknya kita berdua segera memeriksa Juan di dalam!" ucap tuan Bisma yang tak ingin menunda waktu terlalu lama, ia takutnya para musuh akan lebih banyak dari itu lagi. Ketika masuk kedalam, Bram tentunya melihat dengan jelas bahwa Juan sedang diikat di kursi dengan keadaan tak berdaya.


"Sudah ku duga, dia pasti akan membuat mu seperti ini!" ucap Bram yang melihat keadaan tubuh Juan penuh dengan luka sama seperti yang ia alami di masa lalu.


"Juan! Juan!" Bram berusaha menyadarkan Juan dan berharap laki-laki itu masih bisa sadarkan diri.


"Bram ..." ucap Juan yang ternyata masih sadarkan diri. Walaupun keadaan nya masih begitu lemah, tapi Juan sama sekali tidak pingsan.


"Dimana dia sekarang?" tanya Bram.


"Keluar ..." ucap Juan dengan singkat.


"Ayah Mertua, sebaiknya kita bertiga harus secepatnya pergi dari sini! Aku rasa Candra sedang kemari," ucap Bram, ia sama sekali tidak bermaksud untuk takut melawan Candra hanya saja ia takut jika laki-laki itu malah membawa para pengawal nya dengan begitu banyak sedangkan ia dan mertua nya hanya berdua saja. Mereka berdua jelas tidak akan mampu melawan mereka semua, Bram jelas sudah paham bagaimana sifat dari Candra maka dari situlah ia menyarankan supaya lebih baik segera pergi.


Tuan Bisma jelas setuju, apa lagi ketika melihat keadaan Juan yang seharusnya segera mendapatkan perawatan lebih baik mereka segera pergi saja dan akan kembali datang lagi untuk memberikan pelajaran kepada Candra dengan beberapa pengawal nya.


Setelah tiba di mobil, Bram melihat sendiri mobil Candra baru saja datang dengan beberapa mobil kendaraan lainnya yang ada dibelakang. Sebelum orang-orang itu melihat keberadaan mereka, Bram dengan cepat memutar mobilnya ke arah jalan lain dan untungnya ia sangat hapal dengan jalan tersebut sehingga ia tahu seluk-beluk nya.


"Bram, aku tidak menyesal memiliki menantu cerdas seperti mu," ucap tuan Bisma karena ia merasa mereka saat ini telah berhasil bebas dari orang-orang itu namun sayangnya salah satu pengawal Candra telah melihat mereka sehingga sekarang mereka telah dikejar dan Bram sama sekali belum menyadari nya.


"Bram, apakah jalan yang kau tuju ini sangat dekat menuju ke rumah?"


"Cukup jauh dari sebelumnya, Ayah."


"Benarkah?"


"Tapi ini adalah jalan-jalan satunya selain dari jalan sebelum nya."


"Bram! Lihatlah!" ucap tuan Bisma.


Bram dengan cepat melihat ke arah belakang dan ternyata orang-orang itu telah mengejar mereka sambil membawa beberapa senjata tajam. Melihatlah hal itu, Bram dengan cepat menginjak gas mobil nya semakin cepat berharap orang-orang itu tidak akan bisa mengejar mereka lagi.


"Pelan-pelan lah, Bram!"


"Jika pelan-pelan, kita jelas akan di tangkap oleh mereka. Penganlah kuat-kuat!" ucap Bram saat melihat jalan di depan mereka saat ini cukup rusak.


"Ayah Mertua, ide mu benar-benar membuat ku kagum!" ucap Bram dengan jujur, ia tak menyangka mertua nya telah mempersiapkan nya dengan begitu matang untuk menghadapi para musuh disaat keadaan yang begitu mendesak.


"Kita tidak boleh senang dulu, Bram! Para musuh masih belum di bantai habis dan masih banyak yang tersisa saat ini. Dan kau tidak boleh lengah karena di antara mereka jelas ada yang bisa diam-diam mencari kesempatan untuk menyerang kita!" peringat tuan Bisma dan Bram pun tentunya dengan cepat kembali fokus.


"Ayah Mertua, sepertinya mereka sedang bersembunyi!" ucap Bram, saat ini ia sudah tidak melihat keberadaan Candra, Melisa serta Marsel yang sebelumnya berdiri di dekat mobil.


"Inilah yang aku khawatirkan, Bram!" ucap tuan Bisma sambil memberikan kode kepada para pengawal nya supaya berwaspada.


Bram mencoba melihat ke arah lain, tapi ia sama sekali tidak melihat keberadaan ketiga orang itu. Ia begitu penasaran kemana arah ketiga orang itu bersembunyi saat ini.


"Bram! Kau ingin kemana?"


"Aku akan mencari ketiga orang itu terlebih dahulu."


"Tunggu! Ambilah ini!"


Tuan Bisma langsung saja memberikan sebuah senjata yang dapat di gunakan oleh menantu nya di saat keadaan mendesak nantinya. Bram yang melihat senjata kecil yang diberikan oleh mertua nya langsung saja menyimpan di dalam kantong jaket nya dan ia juga tidak lupa mengucapkan terimakasih karena sudah perduli kepada nya. Sedangkan tuan Bisma hanya tersenyum saja, ia berharap menantunya bisa melindungi diri dari orang-orang yang ingin melukai nya. Terutama ia tidak ingin melihat anaknya bersedih karena telah kehilangan orang yang di di cintai maka dari situlah ia sangat mengharapkan Bram kembali dengan keadaan baik-baik saja.


Bram sudah melangkah cukup jauh memasuki hutan, tapi ia sama sekali belum menemukan keberadaan ketiga orang itu. Namun, ketika Bram ingin memutuskan untuk kembali, tanpa sengaja ia mendengar sebuah ranting patah seolah-olah karena diinjak oleh seseorang.


"Keluarlah!" ucap Bram sambil melihat disekitar sekelilingnya, tapi ia hanya mendengar suara angin saja serta melihat pepohonan bergerak karena angin ribut yang cukup kencang.


"Kalian bertiga tidak perlu bersembunyi! Hadapi saja aku!"


Selama 5 menit berdiam diri di tempat. Bram sama sekali tidak melihat ada tanda-tanda ketiga orang itu keluar dari tempat persembunyian, sehingga ia pun perlahan-lahan memutuskan untuk pergi saja namun ketika dirinya membalikkan tubuh nya tiba-tiba saja ia kejutkan dengan kehadiran seseorang, rasanya jantung nya hampir saja copot ketika melihat sosok seseorang berdiri tepat di depan nya.


"Ka—kau hampir membuat ku mati jatungan!" ucap Bram sambil mengelus dada nya yang masih berdegup dengan cepat. Sambil bibir nya juga terlihat sedikit pucat saat ini dan Bram masih benar-benar tidak menyangka akan melihat kehadiran istri nya.


"Mas Bram! Kenapa kau pergi sendirian disini?"


"Hei! Seharusnya aku yang bertanya kepada mu, kenapa kau berada disini sendirian? Bukankah seharusnya kau berada di rumah sakit saat ini?"


"Aku sama sekali tidak tenang jika membiarkan kalian berdua papi ku pergi berduaan saja. Maka, dari situlah aku lebih pergi menyusul saja."

__ADS_1


"Justru kehadiran mu disini yang akan membuat kami tidak tenang, Serena! Disini terlalu berbahaya untuk mu! Sekarang kau kembalilah, aku akan meminta beberapa pengawal untuk mengantarkan mu pulang!" Bram langsung memeluk punggung Serena dan mencoba membawa istri nya pulang tapi Serena dengan bersih keras menolak permintaan Bram.


"Aku akan tetap berada disini saja, bersama kalian! Jangan memaksa ku untuk pulang, Mas."


"Tapi disini terlalu berbahaya, Sayang."


"Aku tidak perduli!"


"Tapi aku sangat perduli pada mu. Jadi menurutlah saja."


"Mas Bram, aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku!"


Sudah 3 hari ini Bram tinggal di rumah mewah dan selalu di perlakukan dengan sangat baik oleh ayah mertua nya. Namun, tidak berlaku bagi semua pembantu di rumah itu ada beberapa orang yang juga tidak menyukai kehadiran Bram di rumah itu karena mereka merasa kehadiran Bram semakin membuat pekerjaan mereka menjadi bertambah dan itu semua bukan karena kemauan Bram sendiri, melainkan kemauan ayah mertua nya yang sangat ingin membuat menantu tinggal lebih nyaman di rumah nya. Ia ingin para pembantunya memperlakukan Bram layaknya seperti memperlakukan dirinya yang selama ini selalu di layani dengan sangat baik.


Pagi ini, Bram berniat ingin mengambil serapan pagi di atas meja untuk istri nya karena saat ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan seharusnya makanan tersebut sudah di antarkan di jam 7 pagi. Tapi, jam serapan pagi istri nya malah sudah melewati 1 jam lama nya.


Namun, saat melangkah turun kebawah. Bram malah melihat para pembantu di rumah itu malah asik berbincang sedangkan makanan untuk istri nya sama sekali belum di siapkan. Rasanya Bram begitu geram dengan sikap pembantu nya yang sama sekali tidak patuh pada aturan.


"Apakah ini pekerjaan kalian?!" tanya Bram dengan nada sinis hingga para pembantu itu seketika terkejut mendengar nya. Tapi, tatapan mereka semua malah sama sekali tidak ada rasa takut sedikitpun, justru mereka malah cuek dan seolah-olah Tristan bukanlah majikan mereka.


Bram tentu saja sadar bahwa para pembantu itu sama sekali tidak menganggap dirinya. Tapi, ia tidak ingin membuat masalah sehingga ia hanya bisa menahan rasa sabarnya saja karena ia sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa lagi seperti dulu yang selalu berkuasa atas segalanya.


"Tuan, kenapa Anda yang memasak?" tanya salah satu pembantu yang baru saja datang habis berbelanja di pasar.


"Tidak ada makanan yang tersedia untuk nyonya Serena dan semua pembantu disini sama sekali tidak melakukan apapun!"


"Maaf Tuan ... mereka memang seperti itu!" ucap Resti seorang gadis cantik sebagai salah satu pembantu di rumah itu yang menjadi kepercayaan tuan Bisma.


"Kenapa tuan Bisma mau memperkerjakan mereka jika bersikap seperti itu?!"


"Ada sesuatu hal yang harus tuan Bisma selidiki dari antara mereka, Tuan."


Bram pun menjadi penasaran, apa yang sebenarnya ingin diselidiki oleh mertua nya terhadap para pembantu yang bekerja di rumah saat ini. Apa lagi sikap para pembantu di rumah itu saat ini memang perlu di waspadai karena ada beberapa pembantu yang selalu bersikap sinis secara terang-terangan terhadap nya, padahal ketika tuan Bisma datang para pembantu itu seketika bermuka dua dan menjadi baik terhadap nya.


"Tuan, sebaiknya Anda beristirahat saja. Biarkan saya yang memasak untuk nyonya Serena," ucap Resti dengan segera mengambil alih pekerjaan yang dilakukan oleh Bram karena ia sendiri merasa tidak pantas jika membiarkan majikannya bekerja di dapur sedangkan pekerjaan tersebut adalah pekerjaan nya yang seharusnya ia kerjakan.


"Baiklah, segera antarkan ke dalam kamar dan masalah yang praktis saja supaya nyonya Serena serapan pagi."


"Baik, Tuan."


Setelah itu Bram masuk kedalam kamar dan melihat istri nya sedang duduk melamun di atas kasur. Bram dengan ragu menghampiri nya karena sampai saat ini dirinya masih belum terbiasa hidup bersama dengan seorang wanita yang sama sekali tidak pernah ia temui, begitu juga dengan Serena sendiri ia jelas merasa sangat segan dan malu untuk saling bertatap muka kepada suami nya.


"Kenapa hanya membawa tangan kosong? Makanannya dimana? "


"Mereka belum memasak sama sekali dan sekarang nona Resti baru memasak untuk mu."


"Jika tidak ada ayah di rumah, mereka memang selalu berbuat semaunya. Bahkan mereka sama sekali tidak menganggap ku sebagai majikan di rumah ini!"


"Apa kau ingin aku memberikan mereka sedikit pelajaran?"


"Memangnya, kau bisa melakukan hal itu?"


"Kamu hanya tinggal menunggu kabarnya seperti apa nantinya!" ucap Bram dengan tersenyum licik.


Kedua orang itu sama sekali tidak sadar, bahwa mereka berdua telah berbicara cukup panjang lebar untuk pertama kalinya. Sebelumnya mereka berdua hanya akan berbicara sepatah kata atau dua kata saja setelah itu kembali saling mengacuhkan. Bahkan Bram tanpa sadar tersenyum saat melihat wajah Serena yang tanpa sengaja menatap ke arah dirinya. Kedua orang itu saling berpandangan hingga perlahan-lahan bibir mereka berdua semakin mendekat untuk menyatukan cinta yang perlahan-lahan tumbuh.


Namun, sayangnya tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar cukup nyaring dari luar dan ternyata itu adalah Resti ingin mengantarkan serapan pagi untuk Serena. Sedangkan Bram akan serapan saat jam 9 nanti karena ia sendiri juga masih belum terbiasa untuk makan terlalu pagi.


"Nyonya, ini serapan paginya. Maaf sudah membuat Nyonya telat serapan pagi ini," ucap Resti dengan wajah yang terlihat seolah-olah merasa sangat bersalah kepada Serena.


"Hem, tidak apa-apa," jawab Serena dengan singkat, ia pun mulai menikmati serapan pagi nya sedangkan Resti langsung saja pergi keluar dari kamar tersebut.


Setelah kejadian beberapa menit yang lalu, Bram tentunya begitu malu sehingga ia memilih untuk duduk di sofa melihat pemandangan dari jendela. Ia tidak menyangka dirinya bisa secepat itu terbuai oleh seorang gadis yang cacat. Bahkan ia merasakan sendiri hati nya terus berdebar-debar dari tadi, Bram pun kembali menatap ke arah Serena secara diam-diam dan ia kembali merasakan hati nya semakin berdebar. Hati nya yang terluka kini Bram merasa sudah terobati saat kehadiran Serena di dalam hidupnya, bahkan mantan istri nya yang pernah hidup bersama dengan nya selama bertahun-tahun sama sekali tidak membuat nya rindu sedikitpun, justru ia merasa sangat membenci wanita itu yang telah meninggalkan dirinya disaat ia merasa kehilangan semuanya.


"Mas Bram ... aku sudah selesai makan. Bisakah kau membantu ku untuk mengambil tissu kering itu?!" tunjuk Serena ke arah tissu yang berada di dekat Bram.


"Hem." Bram segera bangkit berdiri untuk mengantarkan tissu tersebut.


"Aku akan mandi lebih dulu."


"Baiklah, aku akan membopong mu ke kamar mandi." Serena langsung menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Jika sudah selesai, kamu bisa memanggil ku."


"Hem, maaf sudah merepotkan mu untuk melakukan hal ini semua."


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Justru jika kamu menginginkan sesuatu dan hanya diam tanpa mengatakan apapun kepada ku, aku akan merasa sangat bersalah!"


"Kau serius mau melakukan hal apa saja yang aku perintahkan?!"


"Selagi itu dapat membantu mu, aku akan melakukan nya."


Serena tersenyum, ia tidak menyangka ayah nya menjodohkan dirinya dengan seorang laki-laki yang begitu patuh dan mengerti keadaan nya yang saat ini sama sekali tidak berdaya untuk melakukan apapun.


"Jika aku harus setiap hari atau setiap saat untuk melakukan apa yang kamu mau. Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya yang terpenting di hati mu hanya ada aku," gumam Bram dalam hati nya.


"Setelah mandi, aku ingin pergi ke taman belakang."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan siap mengantarkan mu."


__ADS_2