
"Mami, sebenarnya apa alasan Mami terus memaksa ku untuk pergi ke Luar Negeri?"
"Tentu saja karena kau sangat memalukan bagi keluarga ini!"
"Tapi, Mi. Bukankah Mami sebelumnya sama sekali tidak pernah bersikap seperti ini apapun yang Desta lakukan Mami sama sekali tidak mempermasalahkannya! Tapi, sekarang kenapa Mami malah seolah-olah jijik terhadap Desta? Apakah Desta benar-benar sangat menjijikkan bagi Mami?"
"Diamlah! Berhentilah berbicara omong kosong, Desta!"
"Desta, hanya ingin meminta penjelasan saja. Apa salahnya?!"
Nyonya Jesika sudah kebingungan menjawab pertanyaan Desta yang berulang kali menanyakan alasannya. Ia tentunya tidak mungkin mengatakan kebenarannya karena hal itu jelas akan menghancurkan semua rencana nya, sehingga nyonya Jesika memilih untuk menghindari saja ketimbang ia berhadapan dengan anaknya yang begitu keras kepala itu.
Namun, Desta sama sekali tidak mau menyerah begitu saja. Ia berusaha menghentikan ibu nya dan meminta penjelasan atas semua yang ibu lakukan kepada nya selama ini.
"Mami, tolong jelaskan pada, Desta!" Tanpa rasa takut lagi, Desta langsung saja menarik tangan ibu nya hingga nyonya Jesika dengan kasar menepis tangan anak nya.
"Akh!" Desta seketika terdorong ke arah kolam renang lalu tercebur ke dalam air yang terasa cukup dingin itu. Desta berusaha untuk berenang ke pinggir kolam tapi sayang nya kaki dan tangannya tiba-tiba terasa begitu kaku.
"To—tolong!" Desta hanya bisa mengucapakan sebuah kalimat itu saja, setelah itu ia hanya berusaha berjuang sendiri di tengah kolam renang. Bahkan nafas nya sudah hampir terasa habis saking tidak tahan berada di dalam air dengan waktu yang cukup lama. Seluruh tubuh nya benar-benar terasa mati rasa dan Desta sangat berharap ibu nya bisa segera membantu dirinya untuk keluar dari kolam renang itu.
"Ma—Mami ..." Desta tak menyangka ia melihat ibu nya malah pergi meninggalkan nya di kolam renang itu sedangkan ia benar-benar sangat membutuhkan pertolongan ibu nya saat ini. Desta sudah merasa sangat pasrah, ia berpikir mungkin hidup sudah di takdirkan untuk pergi selamanya. Sehingga sekarang, Desta perlahan-lahan memejamkan kedua mata nya serta menyerahkan seluruh hidup nya, tapi Desta tiba-tiba merasakan seperti ada sebuah gelombang besar mendekatinya. Ia tampak samar-samar melihat wajah seorang laki-laki yang tak asing di mata nya.
"Desta! Desta!"
Serena sangat syok melihat adik tirinya sama sekali tidak berdaya di tengah kolam renang. Ia pun dengan cepat meminta suami nya Bram untuk segera menolong wanita itu sebelum semuanya terlambat. Dan sekarang Desta telah berhasil di selamatkan walaupun keadaan wanita itu terlihat sangat lemah saat ini tapi setidaknya mereka masih memiliki harapan untuk menyelamatkan nya.
"Bawa saja ke rumah sakit!" ucap Bram yang juga sedikit panik melihat keadaan Desta sudah mulai membiru.
"Baiklah, Mas." Serena langsung saja berteriak memanggil ayah nya dan mengatakan nya supaya ikut pergi ke rumah sakit bersama dengan mereka. Kebetulan tuan Bisma juga sedang berbincang dengan salah satu pengawal nya di teras rumah sehingga Serena tidak terlalu pusing mencari keberadaan ayah nya itu.
"Ada apa, Serena?"
"Desta! Tenggelam di kolam renang dan sekarang keadaan nya sangat buruk, Pi!" ucap Desta yang terlihat sangat mengkhawatirkan adik tiri nya itu.
Melihat Bram sedang membopong tubuh Desta dengan keadaan yang basah kuyup, tuan Bisma pun dengan cepat meminta pengawalnya untuk membantu menantu nya itu membawa Desta masuk kedalam mobil. Sedangkan Serena sendiri berlari ke arah kamar untuk mengambil pakai suami nya serta milik Desta sendiri dengan keadaan yang sangat terburu-buru. Hanya membutuhkan 3 menit saja, Serena langsung berlari keluar dari dalam rumah menuju ke arah mobil yang kini sudah siap ingin berangkat ke rumah sakit.
Mobil pun melaju dengan sangat cepat, Juan salah satu pengawal tuan Bisma berusaha untuk menyelematkan Desta untuk sementara waktu. Tapi sayangnya, apa yang telah Juan lakukan sama sekali tidak berguna karena Desta sudah terlalu banyak meminum air, belum lagi ia begitu kesulitan melakukan nya di dalam mobil yang cukup sempit sehingga ia tidak bisa lebih leluasa untuk melakukan nya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit lamanya, akhirnya Desta telah berhasil ditangani oleh dokter. Tuan Bisma bingung kenapa anaknya malah tenggelam di kolam renang, padahal yang ia tahu Desta bisa berenang dan sangat lihai.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?"
"Keadaan nya masih kritis, terutama janin dalam kandungan nya benar-benar sangat lemah," jelas dokter itu.
Juan yang mendengar penjelasan dokter barusan sedikit mengerutkan kening nya bingung. Karena selama ini Juan merasa Desta masih belum menikah dan ia begitu penasaran dengan siapa wanita itu menikah hingga ia sendiri tidak di undang ke pernikahan anak majikannya itu. Bahkan ia lebih terkejut lagi ketika melihat Serena sudah bisa berjalan mengunakan kedua kakinya tapi Juan turut bahagia atas kesembuhan anak majikannya itu. Ia juga tidak tega melihat Serena harus duduk di kursi roda dengan wajah yang sama sekali tidak bersemangat untuk menjalani kehidupan nya.
"Mungkin aku terlalu lama bekerja di tempat yang jauh sehingga aku tidak tahu kabar apapun tentang nona Desta menikah," gumam Juan dalam hati nya.
"Nona Serena, apa tidak sebaiknya menelpon suami nya nona Desta saja? Itu akan lebih baik jika suami nya berada di samping nya," jelas Juan dengan begitu polos nya mengatakan kalimat itu kepada Serena.
"Adik ku belum menikah!" bisik Serena takutnya malah ada yang mendengar nya.
"Be—benarkah?" tanya Juan yang tak percaya akan hal itu.
"Hem."
"Lalu laki-laki nya?"
"Juan, berhentilah terlalu kepo! Sebaiknya kau bawa barang-barang yang ada di dalam mobil, Bram sudah kedinginan sekarang," perintah Serena yang sudah lupa membawa barang-barang tersebut.
"Baik, Nona." Juan pun langsung saja ke arah mobil untuk melakukan perintah Serena.
"Sayang, sebaiknya kau tenangkan ayah mu terlebih dahulu. Sepertinya dia benar-benar masih sangat syok saat ini," ucap Bram, melihat raut wajah mertua nya saja ia sudah tahu bahwa mertua nya itu sangat stress memikirkan Desta yang sedang kritis serta di penuhi alat-alat kesehatan di mulut serta di hidungnya.
"Papi, Desta pasti akan baik-baik saja. Papi jangan terlalu khawatir, aku yakin Desta pasti kuat melewati semuanya."
"Walaupun Desta bukan anak kandung Papi, tapi dia seolah-olah ku anggap sebagai anak kandung ku. Aku memang sering memarahinya atau memperlakukan nya dengan kasar tapi itu semua demi kebaikan nya. Papi hanya terlalu takut ia terlalu terjerumus ke jalan yang salah dan malah menghancur hidup nya sendiri. Kau lihat sendiri kan, akhirnya dia mendapatkan apa yang ia cari-cari selama ini dan malah mengandung dari laki-laki brengsek itu!" jelas tuan Bisma dengan panjang lebar.
"Papi, Desta sudah menyesali perbuatannya. Aku yakin, dia pasti akan menjalani kehidupan nya lebih baik lagi setelah itu."
"Papi, juga sangat berharap dia bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Papi, tidak bermaksud menuntut nya untuk menjalani kehidupan yang lebih sempurna hanya saja Papi ingin dia benar-benar menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya di dalam hidup nya itu saja."
"Kau tenang saja! Minggu depan dia akan berangkat ke luar negeri dan masalah kehamilan nya, aku masih belum memikirkan apa yang harus dilakukan. Tapi, yang pastinya aku tidak akan membiarkan nya di tinggal di Indonesia lagi dengan begitu kau tidak akan pernah berhubungan dengan nya lagi."
Nyonya Jesika terlihat begitu asik saja berbincang dengan seseorang yang ada di telepon. Ia tidak sadar, dari tadi Desta telah memperhatikan dirinya diam-diam di balik pintu. Wajah gadis itu terlihat benar-benar tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh ibu nya saat ini yang pastinya Desta sudah mengerti bahwa sikap ibu nya tiba-tiba berubah seperti itu akhir-akhir ini sudah perlahan-lahan terjawab. Untuk memastikan apa yang ia curigai, Desta akan mencoba mencari alasan supaya ayah nya membatalkan dirinya untuk berangkat ke luar negeri dengan begitu ia bisa mencari tahu apa yang sebenarnya direncanakan ibu nya kepada nya selama ini.
Desta juga penasaran kenapa ibu nya bertindak seperti itu kepada nya, padahal ia sama sekali tidak melakukan sebuah kesalahan apapun kepada nya. Masalah dirinya yang sering gonta-ganti pasangan, sebelum nya ibu nya malah mendukung nya dan tidak pernah sedikitpun melarangnya untuk melakukan hal itu. Ia rasa itu bukanlah suatu alasan kenapa ibu nya bersikap seperti itu, Desta rada ibu nya telah menyimpan sesuatu hal yang tak ia ketahui selama ini dan harus benar-benar mencari tahu semuanya.
"Mami, rahasia apa yang kau simpan dari ku selama ini? Dan siapa orang yang menemani mu berbincang saat ini?"
Desta semakin penasaran dengan ibu nya, tapi ia tidak bisa terlalu berlama-lama di menguping takutnya ibu nya malah menyadari apa yang telah ia lakukan saat ini. Sekarang Desta memilih untuk pergi saja dan ia malah bertemu dengan Serena yang baru saja mengembalikan gelas air minum ke dapur.
__ADS_1
"Serena, aku ingin berbicara kepada mu!"
"Bacalah!"
"Tidak disini!"
"Lalu?"
"Ikutlah dengan ku."
Serena pun mengikuti Desta dari arah belakang, sebenarnya ia begitu malas untuk berbincang dengan adik nya itu. Tapi, melihat Desta yang terlihat begitu serius ingin berbicara kepada nya akhirnya Serena mencoba untuk memaksakan diri untuk mendengar apa yang ingin dikatakan oleh adik nya itu. Terutama, ia juga cukup merasa kasihan dengan kehidupan yang dijalani Desta saat ini, ia tak menyangka adik nya itu malah hamil diluar nikah dan sekarang kedua orangtua nya sama sekali tidak mau menerima laki-laki itu di keluarga mereka. Entah seperti apa nasib kandungan yang ada di perut Desta nantinya, Serena sangat berharap ada jalan keluar nya sehingga janin yang ada di dalam kandungan Desta malah menjadi korban nya.
"Aku ingin kau membujuk papi untuk membatalkan penerbangan ku ke luar negeri."
"Urusan dengan ku apa?"
"Apa kau sama sekali tidak punya hati sedikitpun melihat saudara mu sedang mengalami musibah seperti ini, hah?!"
"Apa kau pernah mengasihani ku selama ini? Tidak, kan?!"
"Serena! Aku sedang serius meminta mu untuk membujuk papi! Aku tahu, papi pasti akan memenuhi permintaan mu."
"Kenapa tidak kau saja?"
"Ngapain aku meminta mu jika aku sendiri bisa?!"
"Tidak! Aku malas!"
"Serena, aku sudah meminta mu baik-baik. Bisakah kau melakukan nya untuk ku, sekali ini saja?!"
Desta benar-benar terlihat memohon kepada Serena. Karena Desta sendiri sudah kebingungan meminta pertolongan dari siapa lagi selain kepada saudara nya yang sebelumnya sering ia musuhi. Sebenarnya Desta juga tidak ingin meminta pertolongan dari Serena, tapi ia tak punya pilihan lain lagi dan ia pun berusaha menghilangkan rasa malu nya kepada Serena
"Aku akan mencoba nya!" Walaupun Serena berbicara dengan nada sedikit ketus, tapi ia akan tetap membantu Desta untuk membujuk ayah nya itu. Ia berharap ayah nya bisa memenuhi permintaan Desta, apa lagi Serena tahu saudara nya itu terlihat begitu engan untuk pergi ke luar negeri.
Mendengar Serena menyetujui nya, sekarang Desta langsung saja pergi tapi di dalam hati nya ia tak menyangka Serena masih mau membantu nya walaupun sebenarnya ia sempat memohon untuk melakukan hal itu semua. Dan setidaknya ia memiliki harapan untuk tidak pergi ke luar negeri.
"Dia berbicara apa dengan mu?"
"Dia hanya ingin aku membantunya."
"Membantunya? Tumben."
"Dan kau mau?"
"Aku tidak tega melihat nya, apa lagi sekarang dia sedang menghadapi masalah besar. "
"Istri ku memang terlalu baik."
"Aku berharap dia segera sadar dan berhenti melakukan sesuatu hal konyol."
"Aku juga berharap nya seperti itu dengan begitu dia berhenti memusuhi mu secara tidak jelas."
Serena hanya tersenyum tipis saja mendengar ucapan suami nya. Tapi, ia kembali teringat dengan pembahasan ayah nya dan suami nya sebelumnya.
"Mas Bram, bagaimana dengan orang itu? Apa kalian berdua papi sudah menemukan ide untuk menangkap orang itu?"
"Papi sudah mengirimkan beberapa orang untuk menangkap nya. Dan kita hanya tinggal menunggu kabar nya saja."
"Bagaimana jika mereka gagal?"
"Kita akan mencoba mencari jalan lain dan aku berjanji tidak akan membiarkan orang-orang itu menyakiti mu lagi."
"Terimakasih, Mas Bram!"
***
Pagi hari Serena bangun dengan wajah yang terlihat berseri-seri, wanita itu langsung saja turun dari kasur setelah merasa puas menatap wajah suami nya yang sedang tidur. Serena keluar dari kamar dan melihat ayah nya sedang menikmati kopi di ruang tamu, wanita pun berpikir bahwa itu adalah kesempatan untuk dirinya berbincang kepada ayah nya membahas masalah Desta yang akan di berangkatkan ke luar negeri.
"Kau sudah bangun, Nak? Dimana, Bram?"
"Hem, Mas Bram masih tidur, Pi."
"Mungkin dia terlalu kelelahan setelah semalaman mengurus berkas itu!" ucap tuan Bisma yang begitu mengerti keadaan menantu nya itu dan ia jelas merasa sangat bersyukur karena menantu nya benar-benar dapat di andalkan.
Sejak kedatangan Bram, semua pekerjaan di kantor lebih sedikit ringan dan itu semua berkat Bram yang sangat pandai mengurus segala urusan di kantor sehingga ia tidak terlalu begitu pusing mengurus berkas itu sendirian di rumah.
"Aku merasa juga begitu, Pi."
"Jangan menganggu nya, biarkan sana dia tidur sepuasnya."
"Baik, Pi."
__ADS_1
Saat ini Serena terlihat kebingungan bagaimana caranya ia membahas masalah Desta dengan nyaman sehingga ayah nya tidak seketika emosi mendengar ucapan nya.
"Papi, aku ingin membicarakan sesuatu hal kepada, Papi. Apakah Papi bersedia mendengar nya?"
"Tentu saja. Katakan, Papi akan mendengar nya dengan sangat baik."
"Tapi, Papi tidak boleh emosi dan harus bisa mengendalikan diri."
"Ada apa dengan mu, Serena? Kenapa kau terlihat begitu serius seperti ini?"
"Serena, memang ingin berbicara serius kepada, Papi. Maka dari situlah Papi harus bisa menahan diri untuk tidak emosi langsung saat aku mengatakan nya."
"Baiklah, segera katakan."
Serena menarik nafas nya dalam-dalam lalu mengeluarkan nya dengan pelan. Ia berharap diri nya bisa membuat ayah nya berubah pikiran untuk tidak memberangkatkan Desta ke luar negeri, apa lagi saudara nya saat ini sedang hamil muda dan jelas harus membutuhkan banyak beristirahat.
Selama beberapa minggu menikah dengan Serena. Bram merasa dirinya seperti orang yang tidak bisa mengendalikan perasaan nya, ia berulangkali memperlihatkan sikap nya yang selalu membuat istri nya tersipu malu. Laki-laki itu bahkan berniat mengajak Serena untuk pergi berbulan madu di sebuah vila yang sebelumnya diberikan ayah mertua untuk nya secara diam-diam tanpa di ketahui istri kedua dari ayah mertua nya. Namun, Bram merasa ragu karena ia sendiri takut jika Serena menolak ajakannya dan tentunya ia akan merasa malu jika ditolak secara terang-terangan sedangkan dirinya sangat berharap bisa pergi berbulan madu secepatnya.
Sampai saat ini Bram masih belum juga keluar dari kamar mandi karena masih mempertimbangkan bahwa dirinya harus mengatakan nya atau tidak kepada istri nya itu.
"Sebaiknya aku mengatakan nya saja," gumam Bram, ia pun dengan ragu untuk membuka pintu lalu perlahan-lahan menarik nafas nya dalam-dalam sambil berdoa semoga apa yang ia inginkan sesuai keinginannya.
"Mas Bram, kau kenapa? Sakit perut?" tanya Serena penasaran, suami nya hampir 1 jam lamanya berada di dalam kamar mandi sehingga ia berpikir perut suami nya sedang bermasalah.
"Hem, tidak apa-apa, kok. Hanya saja ..."
"Ada apa, Mas?"
"Serena ... sebenarnya aku ingin ... mengajak mu ke suatu tempat. Tapi, aku tidak yakin kau mau ikut pergi bersama ku ..." ucap Bram yang terlihat putus asa mengatakan hal itu.
"Memangnya pergi kemana?" tanya Serena penasaran.
"Pe—pergi bulan madu ..." Setelah mengatakan hal itu dengan terbata-bata, Bram semakin merasa kehilangan wajah saat ini sedangkan Serena sendiri seketika tersipu malu dan tidak menyangka Bram benar-benar serius menjalani kehidupan pernikahan yang mereka jalani selama ini.
"Tapi Mas pasti akan kerepotan membawa ku ..." ucap Serena dengan lemah, ia jelas tahu bahwa dirinya tidak akan bisa melakukan apapun selain hanya bisa duduk di kursi roda dan merepotkan orang yang berada di sekitar nya untuk melakukan sesuatu hal.
Bram menatap Serena dengan lembut, ia turut prihatin dengan apa yang di alami istri nya. Tapi, ia sama sekali tidak keberatan jika harus merawat istrinya dengan keadaan yang seperti itu karena ia sendiri merasa sangat bersyukur ada seorang wanita yang begitu baik berada di samping nya. Bram berusaha menenangkan Serena yang tampak begitu sedih, hingga perlahan-lahan wanita itu kini tidak lagi merasa dirinya tidak berguna hidup di dunia ini. Sekarang Bram dan Serena sudah sepakat untuk pergi berbulan madu di tempat yang sudah di tentu kan, Bram senantiasa meminta pengawal ayah mertua nya untuk menyediakan berbagai macam keperluan yang sangat di butuhkan terutama makanan serta kendaraan yang sangat aman saat melakukan perjalanan nanti.
Namun, dari balik pintu itu kedua orang itu tanpa sadar ada sosok seseorang yang diam-diam memperhatikan mereka berdua dari tadi. Orang itu jelas merasa sangat bahagia mendengar Bram dan Serena akan melakukan perjalanan yang cukup jauh dengan begitu ia bisa menjalankan sebuah rencana jahat nya.
"Apa tidak sebaiknya kita berdua pergi hari ini saja?"
"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan nya dan aku akan mengikuti apa yang Mas katakan saja."
"Baiklah, kita berdua berangkat sekarang saja setelah semua keperluan sudah siap."
Sebelum berangkat untuk melakukan perjalanan, Bram akan membicarakan hal ini terlebih dahulu kepada ayah mertua nya dengan begitu ayah mertua nya tidak akan merasa khawatir. Saat keluar dari kamar, Bram melihat pembantu di rumah itu sedang bekerja membersihkan debu di atas meja dekat dengan kamar nya. Tapi Bran mengabaikan nya dan memilih untuk bertemu ayah mertua nya karena ia sendiri merasa pembantu itu sama sekali tidak begitu penting. Seandainya para pembantu di rumah itu tidak bersikap kurang ajar kepada istri nya, mungkin Bram akan menghormati dan saling menghargai walaupun status mereka berbeda.
"Ada apa, Nak Bram?" tanya tuan Bisma yang saat ini sedang berhadapan dengan laptop nya.
"Om, aku dan Serena akan melakukan perjalanan hari ini."
"Kemana? Melakukan apa?"
"Kami berdua akan pergi ke vila untuk berbulan madu, Om," ucap Bram dengan wajah memerah padam karena malu mengatakan hal itu kepada ayah mertua nya.
"Aku tidak mempermasalahkan, asalkan kau menjaga nya dengan sangat baik. Dia anak ku satu-satu nya yang hidup nya terlalu menyedihkan dan aku berharap kau tidak akan membuat dirinya kecewa!" peringat tuan Bisma.
"Baik, Om. Aku akan pasti menjaga nya dengan sangat baik."
Setelah berbincang selama setengah jam lamanya, kini Bram kembali ke dalam kamar lagi untuk menemui istri nya dan membawa nya segera berangkat sebelum hari semakin siang. Terutama keperluan yang diperlukan semuanya sudah siap dan hanya tinggal berangkat saja.
Bram dan Serena berangkat hanya berduaan saja. Mereka berdua sama sekali tidak membawa siapapun karena Bram sendiri juga ingin menikmati bulan madu yang begitu berharga baginya tanpa gangguan siapapun. Namun, setelah perjalanan setengah jam lama nya tiba-tiba Brama merasa ada sebuah mobil yang dari tadi mengikuti mereka berdua istri nya, awalnya ia pikir mobil itu kesulitan untuk melewati mobil mereka tapi saat Bram memberikan jalan mobil itu sama sekali tidak lewat dan justru tetap berada di belakang.
Bram pun semakin penasaran, apa yang sebenarnya diinginkan oleh orang yang berada di dalam mobil tersebut. Bram terus menyetir dan berusaha untuk menghindari mobil yang sudah berniat menyerempet mobil milik nya.
"Mas Bram, berhati-hati lah!" tegur Serena yang sedikit takut saat merasakan Bram menyetir sudah tidak terkendali lagi.
"Penganglah yang erat, aku ak—" ucap Bram terpotong.
Bram pada akhirnya sudah tidak bisa mengendalikan mobil itu lagi dan akibatnya ia manabrak pohon besar berada di pinggir jalan. Mobil terlihat rusak cukup parah, lalu Bram merasakan kepalanya terasa sakit akibat terbentur dengan cukup keras tapi ia tidak terlalu perdulikan hal itu. Ia ingin memastikan keadaan Serena yang saat ini terluka parah di samping nya dan ia mendengar sendiri istri nya menjerit kesakitan.
Namun, saat Bram berusaha untuk membebaskan Serena dari kursi yang menjepit tubuh nya. Ia tiba-tiba melihat orang yang berada di dalam mobil itu keluar dengan wajah tertutup, Bram meloloskan kedua mata nya saat melihat orang itu membawa senjata di tangannya dan perlahan-lahan mendekati dirinya. Laki-laki itu berusaha untuk menyelamatkan istri nya tapi sayangnya, ia terlambat orang itu lebih dulu menghantam lehernya dengan sebuah besi yang berat dan membuat nya sampai pingsan.
"Kenapa ... kau melakukan hal ini pada kami?" tanya Serena dengan nada lemah, penglihatan nya sudah mulai kabur karena luka dibagian bahu nya terlalu banyak mengeluarkan darah belum lagi kepalanya terasa begitu sakit akibat terbentur.
"Tentu saja aku tidak ingin melihat mu dan laki-laki ini hidup bersama!" ucap orang itu dengan dingin.
"Tolong ... lepaskan dia ..." Serena sangat memohon kepada orang itu supaya tidak menyakiti suami nya yang saat ini tidak sadarkan diri.
Orang itu justru malah tertawa mengejek mendengar permintaan Serena, tapi Serena tidak perduli ia tidak kehilangan orang yang ia cintai.
__ADS_1