
Selama beberapa minggu menikah dengan Serena. Bram merasa dirinya seperti orang yang tidak bisa mengendalikan perasaan nya, ia berulangkali memperlihatkan sikap nya yang selalu membuat istri nya tersipu malu. Laki-laki itu bahkan berniat mengajak Serena untuk pergi berbulan madu di sebuah vila yang sebelumnya diberikan ayah mertua untuk nya secara diam-diam tanpa di ketahui istri kedua dari ayah mertua nya. Namun, Bram merasa ragu karena ia sendiri takut jika Serena menolak ajakannya dan tentunya ia akan merasa malu jika ditolak secara terang-terangan sedangkan dirinya sangat berharap bisa pergi berbulan madu secepatnya.
Sampai saat ini Bram masih belum juga keluar dari kamar mandi karena masih mempertimbangkan bahwa dirinya harus mengatakan nya atau tidak kepada istri nya itu.
"Sebaiknya aku mengatakan nya saja," gumam Bram, ia pun dengan ragu untuk membuka pintu lalu perlahan-lahan menarik nafas nya dalam-dalam sambil berdoa semoga apa yang ia inginkan sesuai keinginannya.
"Mas Bram, kau kenapa? Sakit perut?" tanya Serena penasaran, suami nya hampir 1 jam lamanya berada di dalam kamar mandi sehingga ia berpikir perut suami nya sedang bermasalah.
"Hem, tidak apa-apa, kok. Hanya saja ..."
"Ada apa, Mas?"
"Serena ... sebenarnya aku ingin ... mengajak mu ke suatu tempat. Tapi, aku tidak yakin kau mau ikut pergi bersama ku ..." ucap Bram yang terlihat putus asa mengatakan hal itu.
"Memangnya pergi kemana?" tanya Serena penasaran.
"Pe—pergi bulan madu ..." Setelah mengatakan hal itu dengan terbata-bata, Bram semakin merasa kehilangan wajah saat ini sedangkan Serena sendiri seketika tersipu malu dan tidak menyangka Bram benar-benar serius menjalani kehidupan pernikahan yang mereka jalani selama ini.
"Tapi Mas pasti akan kerepotan membawa ku ..." ucap Serena dengan lemah, ia jelas tahu bahwa dirinya tidak akan bisa melakukan apapun selain hanya bisa duduk di kursi roda dan merepotkan orang yang berada di sekitar nya untuk melakukan sesuatu hal.
Bram menatap Serena dengan lembut, ia turut prihatin dengan apa yang di alami istri nya. Tapi, ia sama sekali tidak keberatan jika harus merawat istrinya dengan keadaan yang seperti itu karena ia sendiri merasa sangat bersyukur ada seorang wanita yang begitu baik berada di samping nya. Bram berusaha menenangkan Serena yang tampak begitu sedih, hingga perlahan-lahan wanita itu kini tidak lagi merasa dirinya tidak berguna hidup di dunia ini. Sekarang Bram dan Serena sudah sepakat untuk pergi berbulan madu di tempat yang sudah di tentu kan, Bram senantiasa meminta pengawal ayah mertua nya untuk menyediakan berbagai macam keperluan yang sangat di butuhkan terutama makanan serta kendaraan yang sangat aman saat melakukan perjalanan nanti.
Namun, dari balik pintu itu kedua orang itu tanpa sadar ada sosok seseorang yang diam-diam memperhatikan mereka berdua dari tadi. Orang itu jelas merasa sangat bahagia mendengar Bram dan Serena akan melakukan perjalanan yang cukup jauh dengan begitu ia bisa menjalankan sebuah rencana jahat nya.
"Apa tidak sebaiknya kita berdua pergi hari ini saja?"
"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan nya dan aku akan mengikuti apa yang Mas katakan saja."
"Baiklah, kita berdua berangkat sekarang saja setelah semua keperluan sudah siap."
Sebelum berangkat untuk melakukan perjalanan, Bram akan membicarakan hal ini terlebih dahulu kepada ayah mertua nya dengan begitu ayah mertua nya tidak akan merasa khawatir. Saat keluar dari kamar, Bram melihat pembantu di rumah itu sedang bekerja membersihkan debu di atas meja dekat dengan kamar nya. Tapi Bran mengabaikan nya dan memilih untuk bertemu ayah mertua nya karena ia sendiri merasa pembantu itu sama sekali tidak begitu penting. Seandainya para pembantu di rumah itu tidak bersikap kurang ajar kepada istri nya, mungkin Bram akan menghormati dan saling menghargai walaupun status mereka berbeda.
"Ada apa, Nak Bram?" tanya tuan Bisma yang saat ini sedang berhadapan dengan laptop nya.
"Om, aku dan Serena akan melakukan perjalanan hari ini."
"Kemana? Melakukan apa?"
"Kami berdua akan pergi ke vila untuk berbulan madu, Om," ucap Bram dengan wajah memerah padam karena malu mengatakan hal itu kepada ayah mertua nya.
"Aku tidak mempermasalahkan, asalkan kau menjaga nya dengan sangat baik. Dia anak ku satu-satu nya yang hidup nya terlalu menyedihkan dan aku berharap kau tidak akan membuat dirinya kecewa!" peringat tuan Bisma.
"Baik, Om. Aku akan pasti menjaga nya dengan sangat baik."
Setelah berbincang selama setengah jam lamanya, kini Bram kembali ke dalam kamar lagi untuk menemui istri nya dan membawa nya segera berangkat sebelum hari semakin siang. Terutama keperluan yang diperlukan semuanya sudah siap dan hanya tinggal berangkat saja.
Bram dan Serena berangkat hanya berduaan saja. Mereka berdua sama sekali tidak membawa siapapun karena Bram sendiri juga ingin menikmati bulan madu yang begitu berharga baginya tanpa gangguan siapapun. Namun, setelah perjalanan setengah jam lama nya tiba-tiba Brama merasa ada sebuah mobil yang dari tadi mengikuti mereka berdua istri nya, awalnya ia pikir mobil itu kesulitan untuk melewati mobil mereka tapi saat Bram memberikan jalan mobil itu sama sekali tidak lewat dan justru tetap berada di belakang.
Bram pun semakin penasaran, apa yang sebenarnya diinginkan oleh orang yang berada di dalam mobil tersebut. Bram terus menyetir dan berusaha untuk menghindari mobil yang sudah berniat menyerempet mobil milik nya.
"Mas Bram, berhati-hati lah!" tegur Serena yang sedikit takut saat merasakan Bram menyetir sudah tidak terkendali lagi.
"Penganglah yang erat, aku ak—" ucap Bram terpotong.
Bram pada akhirnya sudah tidak bisa mengendalikan mobil itu lagi dan akibatnya ia manabrak pohon besar berada di pinggir jalan. Mobil terlihat rusak cukup parah, lalu Bram merasakan kepalanya terasa sakit akibat terbentur dengan cukup keras tapi ia tidak terlalu perdulikan hal itu. Ia ingin memastikan keadaan Serena yang saat ini terluka parah di samping nya dan ia mendengar sendiri istri nya menjerit kesakitan.
Namun, saat Bram berusaha untuk membebaskan Serena dari kursi yang menjepit tubuh nya. Ia tiba-tiba melihat orang yang berada di dalam mobil itu keluar dengan wajah tertutup, Bram meloloskan kedua mata nya saat melihat orang itu membawa senjata di tangannya dan perlahan-lahan mendekati dirinya. Laki-laki itu berusaha untuk menyelamatkan istri nya tapi sayangnya, ia terlambat orang itu lebih dulu menghantam lehernya dengan sebuah besi yang berat dan membuat nya sampai pingsan.
"Kenapa ... kau melakukan hal ini pada kami?" tanya Serena dengan nada lemah, penglihatan nya sudah mulai kabur karena luka dibagian bahu nya terlalu banyak mengeluarkan darah belum lagi kepalanya terasa begitu sakit akibat terbentur.
"Tentu saja aku tidak ingin melihat mu dan laki-laki ini hidup bersama!" ucap orang itu dengan dingin.
"Tolong ... lepaskan dia ..." Serena sangat memohon kepada orang itu supaya tidak menyakiti suami nya yang saat ini tidak sadarkan diri.
Orang itu justru malah tertawa mengejek mendengar permintaan Serena, tapi Serena tidak perduli ia tidak kehilangan orang yang ia cintai.
"Serena! Serena!" Seseorang terus berusaha membangun wanita itu yang sedang berada di dalam mobil, mendengar suara memanggil namanya akhirnya wanita itu perlahan-lahan membuka kedua mata nya. Ia melihat disekitar sekeliling nya terlihat seperti baik-baik saja, bahkan Serena melibatkan Bram duduk di samping nya sambil menatap nya.
"Mas Bram!" ucap Serena tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Ini benar-benar, Mas Bram?"
Bram terlihat kebingungan melihat sikap istri nya yang terlihat begitu aneh, bahkan wanita itu sampai membuka baju nya seolah-olah sedang memeriksa sesuatu dari nya.
"Serena, ada apa?"
"Apa Mas Bram tidak apa-apa?!"
"Hem, aku tidak apa-apa. Justru aku yang bertanya seperti itu kepada mu, memangnya kau kenapa?"
"Sepertinya aku hanya bermimpi saja."
"Bermimpi apa?"
Bram yang penasaran langsung bertanya kepada istri nya dan Serena pun menceritakan semua yang terjadi di dalam mimpi nya. Bram yang mendengar hal itu turut bersedih, ia tidak menyangka istri nya sampai bermimpi buruk seperti itu dan ia pun berusaha menghibur Serena dengan kalimat yang menenangkan wanita itu.
"Kita sudah sampai, aku akan membopong mu terlebih dahulu," ucap Bram, ia pun mengangkat tubuh Serena untuk masuk kedalam vila terlebih dahulu dan selanjutnya baru ia akan mengangkat barang-barang masuk.
Sedangkan Serena hanya bisa duduk di sofa saja, ia melihat Bram menyangkut barang mereka berdua dengan sendirian. Seharusnya ia membantu suami nya tapi sayangnya ia tidak bisa melakukan hal itu sehingga Serena merasa sangat bersedih karena tidak dapat melakukan apapun.
"Ada apa? Kenapa wajah mu cemberut seperti itu?"
"Maaf ... aku tidak bisa membantu mu dan hanya duduk melihat mu saja ..." ucap Serena dengan nada sedih.
"Ini semua sudah kewajiban seorang Suami untuk meratukan Istri nya."
Serena terdiam tapi didalam hati nya ia merasa sangat bahagia memiliki seorang suami yang begitu tulus menikahi nya. Ia pikir laki-laki itu terpaksa menikahi nya hanya karena ayah nya membantu laki-laki itu keluar dari penjara.
"Apa kau sudah lapar?" tanya Bram.
"Hem, aku sedikit lapar sekarang. Apakah ada makanan?"
"Tunggulah, aku akan memasak."
"Bisakah aku ikut melihat mu?"
"Tentu saja," ucap Bram dengan penuh semangat. Ia pun mendorong kursi roda istri nya menuju ke arah dapur.
Sedangkan Serena sendiri merasa sangat bahagia ketika dibawa ke dapur oleh suami nya karena selama ini ia tidak pernah diijinkan untuk kedapur oleh ayah nya. Terutama tidak ada yang mau mengawasi dirinya padahal Serena sangat ingin melihat pekerjaan yang ada di dapur.
"Mas Bram, biarkan aku saja yang memotong sayur nya."
"Apa tidak apa-apa? Bagaimana jika kamu melukai tangan mu?" tanya Bram yang sedikit khawatir.
__ADS_1
"Bisa kok, serahkan saja padaku. Aku akan melakukan nya dengan sangat hati-hati."
Bram bukan bermaksud membuat istri nya berkerja, hanya saja ketika melihat wajah istri nya yang terlihat ingin melakukan nya membuat Bram tidak enak jika menolak nya. Mungkin dengan cara itu Serena bisa merasa bahagia walaupun dengan cara yang sederhana tapi setidaknya tidak membuat wanita bersedih.
"Mas Bram, sayur nya sudah selesai di potong. Aku akan mencucinya."
"Hem, berhati-hatilah," ucap Bram yang tak henti-henti nya memperhatikan Serena melakukan pekerjaan nya.
Bram sangat bahagia ketika melihat istri nya sangat menyukai pekerjaan yang ia buat saat ini. Tidak seperti di rumah istri nya banyak diam tanpa ekspresi dan ini adalah pertama kalinya bagi Bram melihat wajah istri nya yang tidak lagi begitu dingin.
Setelah memasak dengan waktu yang cukup lama, kini masakan yang dibuat oleh Bram dan Serena telah matang. Kedua orang itu pun sama-sama menikmati makan siang dengan penuh romantis. Dulunya Serena sosok wanita yang pendiam, kini menjadi sering berbicara dan itu semua saat kehadiran Bram berada di dalam hidup nya.
"Mas Bram, aku ingin mengatakan sesuatu untuk mu," ucap wanita itu yang baru saja selesai menikmati makan siang nya. Dan entah kenapa ia sangat ingin mengatakan sesuatu hal yang ia sembunyikan selama ini.
"Sesuatu?" tanya Bram sambil menuangkan es segar kedalam gelas milik Serena.
"Hem, sebenarnya ak—"
"Serena, maaf aku tidak sengaja!" ucap Bram yang tak sengaja menumpah kan minuman tersebut ke arah istri nya akibat terkejut mendengar suara tembakan yang begitu nyaring dari luar villa.
Sedangkan Serena yang berniat mengatakan rahasia nya, seketika membatalkan niatnya untuk mengatakannya. Apa lagi ketika mendengar suara tembakan itu, membuat dirinya ketakutan dan bahkan ia juga tidak perduli dengan kemeja yang ia pakai basah akibat minuman yang tumpah.
"Bram, siapa yang melakukan hal itu di sekitar tempat ini?" tanya Serena yang terlihat tidak tenang sama sekali.
"Aku akan memeriksa nya terlebih dahulu, kau tunggulah disini!" ucap Bram.
Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Serena sendirian di dalam rumah. Tapi, ia juga takut jika membawa Serena pergi keluar bersama dengannya. Sehingga ia tidak punya pilihan lain selain pergi sendiri tanpa membawa wanita itu bersama nya. Sebelum pergi keluar, Bram tidak lupa memastikan semua pintu terkunci dengan sangat rapat setelah itu ia pun memutuskan untuk mengecek suara tembakan itu berada di arah mana. Saat pergi keluar, Bram tidak lupa membawa sebuah senjata untuk melindungi diri dari serangan musuh.
Bram melangkah dengan sangat hati-hati, sambil melihat disekitar sekelilingnya untuk memastikan tidak ada bahaya yang mendekati dirinya. Namun, setelah melangkah cukup jauh ia sama sekali tidak melihat satu orang pun dan rasanya Bram merasakan suatu perasaan yang tidak nyaman saat ini, ia pun memutuskan untuk segera kembali ke villa.
"Akh! Sialan!" pekik Bram saat tidak sengaja tersandung batu hingga membuat kedua tangannya terluka. Tapi, saat ia berusaha untuk bangkit berdiri tiba-tiba ia melihat beberapa orang memakai pakaian hitam serta memakai topeng dan Bram segera membungkuk ke tanah kembali supaya orang-orang itu tidak melihat dirinya.
"Apa yang ingin orang-orang itu lakukan?!" gumam Bram, ia begitu penasaran saat melihat orang-orang itu membawa sebuah karung yang terlihat sangat berat dan tiba-tiba salah satu dari keempat orang itu membuka sebuah tumpukan rerumputan yang ternyata itu adalah sebuah terowongan yang tersembunyi.
"Aku harus mengikuti mereka!" gumam Bram saat keempat orang itu sudah masuk kedalam terowongan tersebut. Tapi, ia tiba-tiba teringat dengan istri nya yang saat ini sedang sendirian di dalam villa dan ia pun membatalkan niatnya untuk mengikuti orang-orang itu karena keselamatan istri nya lebih penting ketimbang terlalu penasaran dengan urusan orang yang tak jelas apa yang telah mereka lakukan.
Tiba di depan villa, Bram melihat sebuah pintu terbuka lebar. Padahal sebelum nya ia meminta Serena untuk menguncinya dan bahkan ia juga sudah memperingati Serena untuk tidak membuka pintu sebelum dirinya pulang ke rumah. Bram pun seketika menjadi panik dan ia segera berlari masik kedalam villa.
"Serena!" panggil Bram dengan sedikit nyaring, tapi ia tidak mendengar wanita itu menyahuti panggilan nya. Pikiran Bram semakin tidak karuan, bahkan laki-laki itu berulang kali menahan nafas nya saking merasa takut jika apa yang ia bayangkan benar-benar terjadi.
"Serena, kau harus baik-baik saja!" gumam Bram berusaha untuk tetap berpikir positif.
"Nak Bram, kamu tunggulah di ruangan ku lebih dulu. Aku akan pergi meeting sebentar," ucap tuan Bisma.
"Baik, Ayah."
Bram pun duduk di sofa yang sudah disediakan untuk tamu. Ia melihat di sekitar sekeliling ruang kerja mertua nya yang tampak begitu mewah, ia pun seketika kembali teringat dengan masa lalu nya tapi Bram sama sekali tidak menginginkan kehidupan yang seperti dulu karena ia rasa kehidupan yang dulu benar-benar sangat menyakitkan untuk dirinya. Namun, saat Bram begitu asik melamun tiba-tiba saja ia mendengar sebuah ketukan pintu dari luar, ia pun segera membuka pintu nya. Tapi, beberapa saat kemudian laki-laki itu terdiam kaku di tempat.
"Mas Bram?!" Seorang gadis cantik berdiri di depan Bram dengan raut wajah yang terkejut dan sekaligus berubah menjadi dingin.
"Apa yang kau lakukan kemari?!" tanya Bram dengan dingin.
"Aku menjadi sekertaris di perusahaan ini. Lalu, Mas Bram?"
"Kau tidak perlu tahu!"
Bram melihat raut wajah mantan istri nya saat melihat kehadiran nya benar-benar terlihat biasa-biasa saja. Bram yakin, mantan istri nya itu sudah mengetahui dirinya telah keluar dari penjara. Sifat istri nya yang selalu ingin tahu, jelas membuat Bram tidak perlu dipertanyakan lagi sehingga Bram juga tidak perlu bingung lagi akan hal itu.
"Mas Bram, bagaimana kabar mu sekarang? Aku sangat merindukan mu!" ucap Melisa yang berniat ingin memeluk laki-laki itu. Tapi, sayangnya, Bram dengan cepat menghindar bahkan laki-laki itu memperlihatkan sikap tidak suka terhadap mantan istri nya itu secara terang-terangan.
"Bram, ak—" ucap Melisa terpotong saat tidak sengaja melihat tuan Bisma datang menghampiri mereka berdua.
"Nak Bram, apa kau mengenal nya?" tanya tuan Bisma.
"Hem, benar, Ayah."
"Ayah?!"
Melisa terlihat kebingungan saat mendengar Bram memanggil bos nya dengan sebutan 'ayah'. Ia pun semakin penasaran hubungan yang seperti apa dimiliki antar bos nya dengan mantan suami nya itu.
Tuan Bisma berniat menjelaskan nya kepada Melisa. Tapi, Bram malah menghentikan nya dan malah mengajak mertua nya untuk segera masuk kedalam, sedangkan Melisa tentunya tidak bisa masuk dengan semaunya terkecuali atas permintaan atasan nya sehingga rasa penasaran nya sama sekali tidak dapat ia temukan jawabannya.
"Nak, apakah ada sesuatu?"
"Wanita itu terlalu penasaran, aku tidak terlalu menyukai nya!"
"Mantan istri mu, aku tahu sosok wanita itu seperti apa?!"
"Ayah, tahu tentang dia dan aku?"
"Tentu saja!" jawab tuan Bisma dengan begitu santai, saat melihat menantu dan sekertaris nya terlihat begitu serius ketika berbincang tuan Bisma sama sekali tidak terkejut akan hal itu karena ia sendiri tentunya telah menyelidiki semuanya sebelum Bram telah sah menjadi suami anak nya.
"Kenapa Ayah memberikan nya pekerjaan? Bukankah Ayah tahu juga bagaimana hubungan kami sebelum nya seperti?!"
"Wanita itu datang melamar di perusahaan ini. Dia pikir aku tidak tahu apa-apa tentang nya, bahkan ia jelas memiliki cukup banyak uang tapi malah bekerja sebagai sekertaris ku dan itu sudah jelas bahwa wanita itu memiliki sebuah tujuan, bukan hanya kepada mu melainkan kepada ku juga!" jelas tuan Bisma.
"Apa Ayah memiliki suatu rencana?!" tanya Bram.
"Ten—" ucap tuan Bisma terpotong saat melihat menantu nya memberikan sebuah kode untuk segera menutup mulutnya supaya berhenti berbicara.
"Ada apa?"
Bram masih belum menjawab pertanyaan mertua nya. Ia malah menuju ke arah tanaman bunga yang terlihat begitu mencurigakan di mata nya, sedangkan tuan Bisma sendiri semakin penasaran apa yang sedang dilakukan oleh menantu nya saat ini. Dan tiba-tiba, tuan Bisma dikejutkan dengan sebuah benda yang di perlihatkan oleh Bram untuk nya, benda tersebut jelas tuan Bisma tahu.
"Penyadap suara!?" gumam tuan Bisma yang tak percaya akan hal itu.
"Sialan! Siapa yang melakukan hal ini?!" ucap tuan Bisma dengan kesal.
"Aku rasa alat ini telah rusak di makan tikus!" jelas Bisma memperlihatkan kerusakan alat tersebut kepada ayah mertua nya.
"Benarkah?!" Tuan Bisma terlihat bersemangat saat mendengar ucapan menantu nya itu untuk memastikan nya, ia sampai meminta Bram memberikan alat itu kepada nya dan ia ingin melihat sendiri apakah alat itu benar-benar rusak atau tidak karena jika alat itu telah bekerja dengan sangat baik selama ini mungkin semua rahasia yang telah ia bicarakan kepada kepercayaan nya jelas sudah diketahui para musuh nya.
"Aku ingin tahu sejak kapan alat ini berada disini?!"
"Ayah, bisa mengecek nya di rekaman CCTV saja dan melihat siapa yang telah memasang alat ini!"
"Kau benar, Nak. Aku akan mengecek nya dan kau juga harus ikut melihat nya!" ajak Tuan Bisma.
Bram yang juga penasaran, tentunya dengan cepat mengikuti apa yang diperintahkan oleh mertua nya itu. Kedua orang itu pun langsung saja membuka laptop untuk melihat hasil rekaman CCTV. Dan kedua laki-laki itu tidak bisa membayangkan bahwa yang melakukan hal itu adalah Melisa mantan istri Bram sendiri. Rupanya wanita itu benar-benar sudah menjalankan rencana nya lebih dulu dari mereka tapi untung mereka dengan cepat menyadari hal itu semua.
"Untung saja hari kemarin aku tidak ada di kantor," jelas tuan Bisma merasa lega karena alat itu telah rusak saat tidak berhasil mendapatkan informasi dari nya.
"Ayah Martua, setelah ini apa yang ingin Ayah lakukan kepada wanita itu?"
__ADS_1
"Tentu saja Ayah akan memberikan nya sedikit pelajaran!" jelas tuan Bisma.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, terlihat Serena sangat menantikan kehadiran suami nya pulang dari kantor. Dari tadi gadis itu tidak sabar suami nya tiba di rumah karena saat ini dirinya benar-benar merasa sangat kesepian. Sedangkan Desta bersama dengan kekasihnya terus bermesraan di ruang tamu, hingga Serena yang melihat nya merasa sangat jijik. Apa lagi ibu tiri nya sama sekali tidak menegur adik nya itu dan hanya acuh saja, padahal apa yang dilakukan oleh Desta bersama kekasih nya itu benar-benar sangat tidak pantas apa lagi di tempat terbuka seperti itu akan sangat memalukan.
"Sayang, kenapa kau tidak mengajaknya untuk berkumpul bersama dengan kita disini?!" tanya Marvel.
"Untuk apa? Aku rasa itu tidak penting!"
"Baiklah, bagaimana jika kamu membutuhkan ku minuman terlebih dahulu. Rasanya aku sangat ingin minum yang segar-segar dan manis."
"Emh, memangnya Sayang ingin minum apa?"
"Jus jeruk saja, lebih praktis."
"Baiklah, aku akan membuat nya terlebih dahulu," jelas Desta yang langsung saja pergi ke dapur.
Sedangkan Marvel terlihat tersenyum licik ke arah Serena. Wanita itu yang menyadari bahwa Marvel ingin menghampiri dirinya, seketika langsung saja pergi menuju ke kamar nya namun sayangnya Marvel dengan cepat mengejar wanita itu.
"Kau ingin kemana? Ingin kabur?"
"Lepaskan!" ucap Serena dengan kesal tapi Marvel malah tertawa mengejek.
"Mas Bram, ini terlalu banyak. Kenapa Mas Brama membelinya sebanyak ini?"
"Istri ku selama ini tidak pernah lagi menikmati dunia luar, jadi sekarang kau tidak perlu protes dengan apa yang aku lakukan. Ini semua demi menyenangkan hati istri ku sendiri."
"Terimakasih. Mas Bram benar-benar sangat perduli terhadap ku," ucap Serena yang merasa sangat terharu dengan apa yang telah suami nya lakukan kepada nya.
Sekarang Serena benar-benar menemukan kebahagiaan nya seperti dulu lagi. Ia tak menyangka dirinya mendapatkan sosok laki-laki yang begitu mengerti keadaan nya dan mau menerima apanya dirinya yang cacat. Ia berharap Brama akan terus bersikap tulus kepada nya dengan begitu ia tidak merasa dirinya dikhianati.
"Sayang, kenapa kau melamun?" tanya Bram yang sebelumnya begitu asik berbelanja tapi ketika dirinya berbalik melihat istri nya, ia malah melihat Serena seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak apa-apa, Mas. Apa tidak sebaiknya kita berdua makan siang saja? Aku sudah lapar sekarang."
"Baiklah, aku akan membayar beberapa barang ini terlebih dahulu. Kau tunggulah disini saja."
"Hem, baik, Mas."
Serena pun menunggu Brama di kursi roda nya. Lalu kedua mata nya melihat ke arah di sekitar sekeliling nya dan entah kenapa ia tiba-tiba saja merasa sangat minder saat melihat orang-orang bisa berjalan dengan kedua kakinya dengan begitu normal. Rasanya Serena benar-benar merindukan hal itu semua, ia berharap dirinya bisa sembuh dan berjalan mengunakan kedua kaki nya.
"Kenapa aku harus hidup seperti ini?" Pikiran Serena pun seketika menjadi putus asa hingga kedua bola mata wanita itu berkaca-kacw ingin menangis.
"Padahal aku sama sekali tidak melakukan suatu kejahatan yang begitu fatal. Aku hanya ingin kedua kaki ku bisa berjalan seperti dulu lagi dan bisa hidup bersama dengan laki-laki itu!" gumam Serena berusaha untuk menahan air matanya, Bram yang sudah selesai membayar barang belanjaan nya segera menghampiri Serena sedangkan wanita itu berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis. Ia takut jika Bram melihat nya dan laki-laki itu jelas merasa sangat khawatir serta selalu bertanya kenapa dirinya bisa sampai seperti. Serena tak ingin membuat semuanya menjadi rumit sehingga sekarang ia telah berhasil memenangkan hatinya yang terluka.
"Mas Bram."
"Hem, ada apa?"
"Apa Mas Bram tidak malu bersama dengan ku?"
Bram seketika berhenti mendorong kursi roda istri nya lalu ia mengatakan beberapa kalimat yang membuat hati Serena kembali tenang. Padahal wanita itu sebelum nya merasa sangat putus asa dengan keadaan nya tapi ketika Brama mengatakan kalimat yang terkena menyakinkan diri nya sekarang Serena sama sekali tidak takut lagi jika Bram hanya menfaatkan dirinya.
"Untuk apa aku membawa mu kemari jika aku malu dengan mu? Kau adalah Istri ku dan aku menerima mu dengan tulus dan penuh cinta. Seandainya aku tidak mencintai mu, aku akan sangat mudah pergi meninggalkan mu. Tapi, sampai saat ini kita berdua tetap bersama dan aku berharap kau tidak merasa diri ku akan meninggalkan mu. Yakinlah, aku tetap milik mu untuk selamanya."
"Sekarang kita berdua tidak perlu membahas hal itu. Karena aku juga sudah benar-benar lapar sekarang."
Serena yang mendengar ucapan suami nya tersenyum senang, ia tak menyangka suami nya malah dengan begitu cepat menenangkan hati nya.
"Terimakasih, Mas Bram."
Kedua orang itu pun langsung saja pergi ke restoran yang ada di mall. Setelah tiba disana, Bram langsung memesan makanan kesukaan Serena dan ia juga tidak lupa meminta jus nya tidak terlalu manis karena Serena sendiri sama sekali tidak suka minuman yang manis-manis.
"Sementara menunggu makanan nya datang. Cobalah kau lihat ini, apa kau menyukai nya?"
Bram pun memperlihatkan sebuah kalung yang sebelumnya ia beli secara diam-diam saat Serena termenung. Lalu dirinya memberikan kalung tersebut yang ia rasa sangat cocok untuk di pakai oleh Serena.
"Kapan Mas Bram membeli nya?"
"Kau terlalu asik melamun sampai tidak sadar Suami mu mendatangi toko sebelah," goda Bram hingga Serena sendiri tersenyum malu mendengar nya.
"Ini untuk ku?"
"Hem, maaf harganya tidak seberapa. Aku berjanji akan membeli nya lebih mahal dari ini lagi setelah aku mendapatkan kembali semua yang telah hilang selama ini. Sekarang pakai ini saja lebih dulu." Bram langsung saja memakaikan kalung tersebut ke leher Serena yang terlihat begitu putih bersih itu. Serena menatap kalung yang di berikan oleh Bram untuk dirinya dan ia merasa kalung yang diberikan oleh suami nya itu benar-benar sangat indah. Serena tentu saja sangat menyukai nya dan menjadikan barang tersebut sangat berharga di hidupnya.
"Terimakasih, Mas. Ini barang yang paling berharga untuk ku! Tapi, aku rasa ini tidak adil."
"Kenapa?"
"Aku harus membelikan sesuatu untuk mu, Mas. Setelah ini antarkan aku ke suatu tempat."
"Padahal aku sama sekali tidak mengharapkan hal itu."
"Aku tidak ingin menerima penolakan mu, Mas. Lagian, aku sendiri sama sekali tidak menolak pemberian, Mas, kok."
"Baiklah, aku akan menuruti permintaan, Istri ku."
Saat Serena dan Bram begitu asik berbincang, pelayan pun sudah datang lalu menghidangkan makanan yang sebelumnya sudah di pesan. Melihat makanan yang ada di atas meja, Serena seketika tersenyum karena ia merasa semua makanan yang di pesan itu semuanya adalah makanan kesukaan nya. Apa lagi ketika merasakan rasa jus nya sesuai yang diinginkan membuat Serena semakin merasa Bram benar-benar memperhatikan dirinya dengan sangat baik.
"Mas, kau benar-benar memesan makanan ini semua?"
"Tentu saja, kenapa?"
"Lalu makanan Mas sendiri, dimana?"
"Apa yang kau suka, aku juga menyukai nya. Jadi, aku tidak perlu memesan makanan lain."
Serena pun langsung saja mengambil beberapa makanan lalu menyimpan nya kedalam piring Bram. Dan entah kenapa ketika melakukan hal itu, Serena begitu bahagia padahal yang ia lakukan sangatlah sederhana.
"Ini sudah banyak."
"Mas Bram, memang harus makan lebih banyak. Jadi, tidak perlu protes."
"Istri ku, juga harus makan banyak."
Bram juga tidak lupa mengambil beberapa makanan lalu menyimpan nya di dalam piring Serena. Serta ia tidak lupa menyuapi istri nya dengan penuh kasih sayang. Begitu juga dengan Serena sendiri, ia juga menyuapi Bram dengan tulus. Namun, kedua orang itu sama sekali tidak menyadari bahwa ada sosok seseorang yang diam-diam memperhatikan kedua orang itu.
"Aku harus menghancurkan hubungan mereka berdua!" gumam orang itu yang sama sekali tidak suka melihat kehidupan rumah tangga Serena dan Bram yang begitu bahagia.
"Tunggu saja permainan nya, aku jelas tidak akan membuat kalian berdua bersama lagi!" gumam orang itu. Lalu ia pun tersenyum begitu sinis dan dalam hatinya ia sudah menyimpan rencana jahatnya.
"Bram, kenapa wanita itu terus menatap kita berdua dengan sinis seperti itu?!" tanya Serena yang merasa sangat risih di tatap seperti itu.
__ADS_1
"Wanita yang mana?" tanya Bram sambil menoleh ke arah belakang nya namun ia sama sekali tidak melihat keberadaan orang yang dikatakan oleh istri nya itu.