
"Juan, selamat atas kelahiran putra mu. Sekarang kau sudah menjadi seorang Ayah dari bayi kecil itu," ucap Bram sambil melihat ke arah ruangan bayi dari sebuah kaca sebagai pembatas nya.
"Terimakasih, aku berharap bisa menjadi Ayah yang baik untuk nya."
"Itu pasti, walaupun sampai saat ini Desta masih belum bisa menerima mu dengan tulus di hati nya. Tapi, percayalah suatu saat nanti semua yang kau lakukan selama ini pasti bisa kau dapatkan."
"Aku sangat berharap seperti itu, Bram," ucap Juan, selama ini Desta memang tidak pernah menganggap dirinya ada tapi Juan tetap selalu bersabar menghadapi sikap cuek dari wanita itu. Ia tahu, Desta pasti merasa sangat trauma dengan masa lalu nya apa lagi sekarang wanita itu baru saja melahirkan, sudah jelas mental nya sangat mudah terluka dan ia harus benar-benar menjaga perasaan wanita itu supaya tetap merasa nyaman serta tidak akan membuat dirinya merasa stress hingga pada akhir nya malah menjadi baby blues.
Baby blues tentunya sangat berbahaya bagi seorang wanita yang baru saja melahirkan, apa lagi ketika pertama kalinya menjadi seorang ibu dan sudah jelas mental serta fisik nya harus benar-benar terjaga dengan sangat baik. Pikiran seorang ibu yang baru saja melahirkan jelas sangat sensitif, sehingga orang-orang terdekat nya harus benar-benar memberikan suport serta selalu ada di samping nya.
__ADS_1
Sekarang Bram dan Juan sudah kembali menuju ke ruangan dimana Desta saat ini sedang di rawat. Setelah berjuang cukup lama untuk menahan rasa sakit kontraksi, kini keadaan wanita itu saat ini sudah terlihat baik-baik saja, walaupun wajahnya terlihat sedikit pucat karena terlalu banyak mengeluarkan darah tapi Desta sudah bisa berbincang serta bisa duduk dengan nyaman.
"Desta, apakah melahirkan itu sakit?" tanya Serena terlihat begitu gugup.
"Sakit! Tapi, setelah keluar rasanya benar-benar lega," ucap Desta sambil tersenyum, ia tahu kakak nya itu pasti sudah mulai takut. Apa lagi ketika ia menahan rasa sakit kontraksi sebelum nya, Serena selalu berada di samping nya dan sudah jelas Serena sudah mulai melihat semuanya.
"Sudah! Tidak perlu takut, namanya juga melahirkan tidak seenak saat kau membuat nya!" ucap Desta sambil bercanda hingga membuat Serena tersipu malu mendengar ucapan adik nya yang sedikit vulgar itu. Untungnya orang-orang terlihat asik berbincang dengan dokter, sehingga mereka semua tidak mendengar apa yang mereka berdua bincangkan dari tadi.
"Sayang, sebaiknya kau beristirahatlah, seharian ini kau terus mondar-mandir. Apa tidak capek?"
__ADS_1
"Sudah sedikit capek, Mas."
"Kalau begitu beristirahatlah. Ingat sekarang kau tidak sendiri, ada calon anak kita di dalam sini."
"Baiklah, Mas. Dan tolong berhentilah mengomel!"
"Baik, baik. Aku akan berhenti, asalkan kau menuruti apa yang aku katakan barusan. Okey?"
"Hem, aku akan melakukan nya dan Mas harus menemani Juan. Tapi, jangan lupa untuk makan."
__ADS_1
Bram tentu nya mendengar ucapan istri nya dengan sangat baik, melihat istri nya yang kini sudah hamil besar. Ia juga harus ekstra memperhatikan keselamatan serta kesehatan Serena. Ia tidak ingin Serena sampai kelelahan, apa lagi ketika sudah hamil besar tentunya tubuh Serena mudah sakit serta terasa pegal.