
"Serena, berkat bantuan mu kini aku tidak harus di berangkatkan ke luar negeri oleh, papi."
"Hem, syukurlah."
"Kau menginginkan apa? Aku akan mengabulkan nya?"
"Untuk apa?"
"Katakan saja! Kau tidak perlu bertel-tele dan berpura-pura tidak tahu apa maksud ku!"
"Aku tidak ingin apa-apa."
"Baiklah, aku akan membelikan mu tas yang bermerk itu saja."
"Aku tidak membutuhkan nya. Sebaiknya tidak perlu membuang-buang uang mu."
"Aku tidak ingin memiliki hutang budi dengan mu. Sebaiknya kau harus menerima nya."
"Aku sama sekali tidak menganggap nya sebagai hutang budi. Jadi, jangan terlalu berlebihan."
"Cih! Apakah kau menginginkan sesuatu hal yang mahal? Baiklah, aku akan membelikan berlian untuk mu."
"Sudah ku katakan tidak perlu!"
Desta merasa sangat kesal dengan Serena yang sangat sulit untuk dibujuk, padahal ia hanya ingin membayar hutang budi nya karena Serena telah membantu dirinya keluar dari masalah itu.
"Kalau begitu kau berhentilah mencari masalah dengan ku. Apa kau bisa melakukan nya?"
"Maksud ... kamu?"
"Aku tidak perlu menjelaskan nya sejelas mungkin! Karena aku tahu kau bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa."
Desta pada akhirnya mengerti apa yang dikatakan oleh Serena. Ia pikir Serena akan meminta sebuah imbalan yang sangat besar dari nya, tapi ternyata saudara nya itu malah meminta sesuatu hal yang diluar dari nalar nya. Tapi, menurut Desta permintaan Serena sama sekali tidak buruk untuk dilakukan sehingga ia pun menyetujui permintaan tersebut.
Serena pergi meninggalkan Desta sendirian di pinggir kolam renang. Wanita itu terlihat tersenyum senang ketika melihat Desta sudah tahu diri membalas kebaikan orang lain terhadap nya dan ia berharap Desta bisa sadar tidak melakukan sesuatu kesalahan yang begitu fatal lagi seperti sebelumnya.
"Papi, terimakasih kau sudah memberikan nya kesempatan lagi. Aku harap dia benar-benar bisa berubah."
"Papi, sebenarnya tidak tega. Tapi, melihat sikap nya yang terlalu kurang ajar selama ini membuat Papi sudah kehilangan kesabaran. Dan untungnya kau bisa menenangkan hati Papi kembali, Serena."
Melihat istri dan mertua nya yang sedang mengobrol, Bram langsung saja ikut bergabung untuk duduk di depan teras rumah.
"Bram, sore nanti aku ingin mengajak mu bertemu dengan klien ku di salah satu restoran terkenal di kota ini. Apa kau bisa ikut?"
"Bisa, kira-kira jam berapa?"
"Jam 3 sore, kamu harus sudah siap."
"Aku ingin ikut, Pi!" sahut Serena dengan penuh semangat, ia merasa tidak sabar melihat pemandangan yang di luar sana sambil berjalan menggunakan kedua kaki nya itu.
"Kau baru saja sembuh, Nak. Sebaiknya di rumah saja."
"Aku sangat bosan berada di rumah."
"Saat ini terlalu bahaya jika kau keluar rumah, apa kau tidak ingat orang-orang itu masih belum berhasil di tangkap sampai saat ini. Jadi, Papi benar-benar sangat mengkhawatirkan keselamatan mu."
"Apa yang dikatakan oleh Papi mu benar, Serena. Ini semua demi kebaikan mu."
Serena pada akhirnya menyerah untuk membujuk kedua laki-laki di depan nya. Lalu ia pun memilih untuk mengundurkan diri nya saja dari perbincangan kedua laki-laki itu ketimbang ia malah menjadi obat nyamuk saja, ia lebih baik meminum obat nya yang masih belum habis dari dokter. Tapi, ketika Serena sedang meminum obat nya ia malah tiba-tiba mengingat sesuatu hal hingga membuat wanita itu terlihat seketika menjadi senang, padahal awalnya wajah Serena benar-benar cemberut karena tidak di perbolehkan ikut keluar oleh ayah dan suami nya. Tapi, sekarang Serena memiliki sebuah ide dan kedua laki-laki itu sama sekali tidak bisa menolak apa yang ia katakan nanti nya.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, Bram dan tuan Bisma tampak kebingungan melihat penampilan Serena yang begitu rapi saat ini.
"Nak, kamu ingin kemana?" tanya tuan Bisma.
"Apa Papi lupa bahwa sore ini Serena memiliki jadwal untuk kontrol kembali dengan dokter, ya?"
Bram dan tuan Bisma saling menatap satu sama lain, mereka berdua benar-benar sangat lupa dengan jadwal yang begitu penting bagi Serena hari ini. Sekarang tuan Bisma melarang Bram untuk ikut dengan nya dan ia meminta menantu nya lebih baik menemani anak nya ke rumah sakit saja. Sedangkan klien itu, ia akan menemui nya sendiri karena Serena sangat membutuhkan Bram di samping nya apa lagi anak nya itu baru saja sembuh dari lumpuh nya sehingga tuan Bisma tidak ingin anak nya melewati jadwal kontrol nya yang begitu penting itu.
"Ayo, masuklah kedalam mobil!" ajak Bram sambil membuka pintu mobil untuk istri nya, Bram benar-benar memperlakukan Serena layaknya seorang tuan putri. Apapun yang Serena inginkan, Bram selalu berusaha untuk memenuhi permintaan wanita itu dan Bram sama sekali tidak keberatan melakukan hal itu.
"Mas Bram, setelah pulang dari rumah sakit. Aku ingin berhenti di restoran itu! Apakah boleh?"
"Boleh, tapi makan di rumah saja. Itu akan lebih baik."
"Yang penting bisa makan makanan dari restoran itu, kok."
"Mas, Bram! Bukankah itu ibu tiri ku?" tunjuk Serena begitu jelas melihat sosok nyonya Jesika yang sedang berada di dalam mobil bersama dengan seseorang.
"Hem, benar. Tapi, mobil nya bukan milik nya, kan?"
"Benar, tapi siapa orang yang bersama dengan nya, ya?"
Bram dan Serena sangat penasaran dengan seseorang yang ada di samping nyonya Jesika. Bahkan mereka berdua sendiri melihat orang itu malah hampir saja menyerempet seorang tukang becak yang juga berada di jalan itu. Bram dan Serena rasanya senam jantung ketika melihat paman beca itu hampir saja terjatuh.
"Aku akan berhenti sebentar," ucap Bram yang merasa sangat kasihan dengan paman becak yang kini memilih berhenti di pinggir jalan karena ia sendiri juga sangat terkejut dengan sebuah mobil yang tiba-tiba saja mendekati diri nya, padahal ia sudah melalui jalan yang benar dan ia sama sekali tidak terlalu melewati jalan tengah tapi tetap saja mobil itu hampir menabrak nya.
__ADS_1
"Bapak, baik-baik saja?" tanya Bram.
"Iya, baik-baik saja."
"Ini untuk, Bapak."
"Uang ini untuk apa? Kenapa kau memberikan nya untuk ku?"
"Hanya ingin berbagi kepada Bapak saja. Tolong terimalah," ucap Bram yang langsung saja pergi masuk kedalam mobil nya, ia tentunya tidak bisa terlalu beelama karena Serena akan bertemu dengan dokter jam 4 sore nanti sedangkan jam sudah menunjukkan setengah 4 sore.
Kini Bram dan Serena kembali melanjutkan perjalanan mereka berdua lagi, tapi di sepanjang perjalanan Serena tiba-tiba saja kembali kepikiran tentang orang yang bersama dengan ibu nya sebelum nya. Terutama dengan tato yang di miliki oleh orang itu, terlihat sama sekali tidak asing di mata nya.
"Kenapa aku begitu kesulitan mengingat siapa yang memiliki tato itu, ya?!" gumam Serena dalam hatinya yang begitu kesal kepada diri nya sendiri.
"Sayang, kita sudah sampai. Ayo, turunlah!" tegur Bram hingga seketika menyadarkan lamunan Serena.
"Itukan orang yang memiliki tato yang ada di dalam mobil ibu sebelum nya?" gumam Serena yang semakin penasaran dengan sosok orang itu. Tapi, disamping orang itu ia sama sekali tidak melihat kebarada ibu nya.
"Mungkinkah ada beberapa orang yang sama memiliki tato itu?" Serena terus bergumam di dalam hatinya.
Sedangkan Bram terlihat begitu asik berbincang dengan seorang dokter yang sebelumnya menangani Serena operasi.
Selama 4 hari ini, Desta sudah kebingungan bagaimana caranya supaya kedua orangtua nya merestui hubungan nya dengan Candra. Padahal ia sudah memberikan sebuah bukti bahwa dirinya memang telah mengandung anak dari kekasih nya, tapi tetap saja kedua orangtua nya sama sekali tidak memberikan respon dengan apa yang ia lakukan itu.
"Candra, apa kau memiliki solusi untuk masalah ini?"
"Saat ini aku juga sedang pusing. Dan tolong berhentilah membahas hal ini lagi."
"Bagaimana bisa aku berhenti membahasnya? Sedangkan aku sedang hamil anak kamu, Candra! Dan kita berdmengugurkbu, rus menikah sesegera mungkin!"
"Aku sudah memperingati mu untuk mengugurkan nya saja! Tapi, kau begitu keras kepala untuk mempertahankan nya! Dan sekarang kau malah membuat diri mu pusing sendiri memikirkan cara untuk membuat kedua orangtua mu merestui hubungan kita berdua!"
"Itu semua karena aku ingin kamu tetap bersama ku!"
"Jika kedua orangtua mu tidak merestui hubungan kita berdua! Tidak masalah dan kau akan tetap bersama ku."
"Dengan bayi ini?"
"Tentu saja tidak! Untuk apa mempertahankan nya jika bayi ini sama sekali tidak berguna untuk membujuk kedua orangtua mu? Sebaiknya gugurkan saja!"
"Apa kau benar-benar tidak menginginkan bayi ini?"
"Umur ku masih terlalu muda untuk memiliki seorang anak! Ya, jelas kau harus mengugurkan nya saja."
Ketika kedua orang itu begitu asik saja membahas hal itu, tiba-tiba saja Desta mendapatkan sebuah panggilan masuk dari ayah nya. Ia pun dengan cepat mengangkat panggilan tersebut karena dari awal ia memang sudah sangat menantikan ayah nya untuk menelpon dirinya dan membujuk nya pulang ke rumah. Beberapa hari ini, Desta memang tidak pulang ke rumah dan memilih untuk tinggal di apartemen kekasih nya saja, ia sangat berharap kedua orangtua nya segera mencari nya lalu merestui ia dan Candra untuk segera menikah.
"Hei! Ada apa, Sayang? Katakan pada ku? Kenapa kau terburu-buru seperti ini?"
"Intinya aku harus pulang!"
"Iya, aku tahu. Tapi, alasannya kamu tiba-tiba ingin pulang kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
Desta terlihat sama sekali tidak fokus mendengar kekasih nya yang terus bertanya kepada nya saat ini, sedangkan ia begitu sibuk mengurus pakainya untuk dimasukkan kedalam koper. Apa lagi ketika mengingat perkataan ayah nya barusan, membuat pikiran Desta sama sekali tidak bisa tenang. Setelah mengemasi semua barang-barang nya, Desta langsung saja pergi keluar dari apartemen Candra tanpa berpamitan lagi kepada laki-laki itu.
"Ada apa dengan gadis itu?" gumam Candra yang begitu penasaran.
Candra berpikir bahwa ia lebih baik pergi menyusul Desta saja ketimbang ia terus merasa penasaran dengan apa yang terjadi kepada gadis itu. Ia sama sekali tidak memikirkan tentang keluarga kekasih nya yang sama sekali tidak menginginkan dirinya ada di rumah itu, saat ini ia hanya ingin Desta menjelaskan sesuatu hal hingga gadis itu sama sekali tidak memperdulikan diri nya.
Namun, ketika Candra ingin keluar dari gerbang apartemen tiba-tiba ia malah di hadang oleh beberapa orang dan melarang nya untuk keluar dari halaman apartemen tersebut. Candra kebingungan kenapa orang-orang itu melakukan hal itu kepada nya. Tapi, ia tidak tahu bahwa orang-orang yang menghadang nya saat ini adalah suruhan tuan Bisma sendiri. Ia ingin laki-laki itu berhenti mengejar Desta dan tidak ikut campur dengan semua urusan mereka.
Desta yang sebelumnya pulang terburu-buru kerumah kini sudah tiba di rumah. Gadis itu langsung saja membungkuk di bawah kaki kedua orangtua nya dan terlihat memohon supaya tidak melakukan hal itu kepada nya.
"Kenapa Papi dan Mami ingin aku ke luar negeri? Desta, sudah dari awal tidak ingin pergi kesana!" ucap Desta yang terlihat begitu panik ketika mendengar keputusan ayah nya dari panggilan telepon sebelumnya.
"Kau terlalu keras kepala dan sangat sulit untuk di atur! Sebaiknya tinggal lah saja di luar negeri, disana kau bisa dengan bebas melakukan apa yang kau mau. Karena tidak akan membuat Papi menjadi malu dengan sikap mu yang memalukan itu!" ucap tuan Bisma dengan panjang lebar, hingga Desta sendiri sampai semakin merasa sangat panik mendengar ucapan ayah nya itu.
"Papi, Desta mohon jangan memaksa ku untuk pergi keluar negeri!"
"Kau harus tinggal disana! Itulah yang terbaik!" sahut nyonya Jesika yang juga setuju dengan ide suami nya.
Desta pun semakin kebingungan dengan sifat ibu nya yang sama sekali tidak berpihak lagi kepada nya. Begitu juga dengan tuan Bisma, ia tak biasanya mendengar istri nya yang telah mendukung keputusan nya karena biasanya istri nya itu selalu protes dan tidak pernah setuju ketika berurusan dengan Desta. Tapi, sekarang semuanya terlihat benar-benar berbeda dari istri nya itu.
"Apa yang terjadi pada nya?!" gumam tuan Bisma dalam hati nya.
Serena dan Bram yang baru saja keluar dari kamar. Tampak kebingungan dengan suasana yang terjadi, kedua orang itu sama sekali masih belum tahu apa yang terjadi saat ini tapi mereka berdua tetap memilih untuk bergabung di sofa tamu saja karena kebetulan Brama juga ingin membicarakan sesuatu hal yang begitu penting tentang kecelakaan itu.
"Papi, sudah membelikan tiket untuk penerbangan mu. Dan kau harus mempersiapkan diri mu!"
"Lalu bagaimana dengan janin yang aku kandung, Pi?"
"Bukankah kekasih mu sebelumnya tidak menginginkan janin itu, kan? Jadi, Papi juga tidak punya pilihan lain!"
Desta terdiam, ia pun seketika berpikir bahwa ayah nya sebelum nya telah mendengar perbincangan nya dengan Candra saat di rumah sakit itu.
"Apa alasan Papi tidak merestui hubungan kita berdua?!"
__ADS_1
"Laki-laki itu sama sekali tidak jelas statusnya! Takut nya kau malah menikah dengan seorang laki-laki yang tak bertangungjawab kepada mu lalu meninggalkan mu setelah mendapatkan apa yang ia mau, Desta! Apa kau masih belum paham jiga, hah?!" Nyonya Jesika tampak greget dengan anaknya yang terlihat begitu bodoh itu.
"Tapi aku mencintai nya, Mi."
"Mulut mu itu selalu saja mengatakan bahwa kau mencintai laki-laki yang kau bawa pulang ke rumah ini. Apa kau benar-benar mengerti apa itu 'cinta' Desta? Mami, rasa tidak! Kau sama sekali belum mengerti dengan semua hal itu, jadi sebaiknya kau turuti saja keputusan Papi mu sebelum nya supaya kau bisa lebih dewasa sedikit dan tidak bertindak sesuka hati mu hingga membuat keluarga ini menanggung malu karena ulah mu itu!" jelas nyonya Jesika dengan pangjang lebar.
"Mami! Mami kenapa seperti ini?!"
"Memang nya, ada apa dengan, Mami?"
"Mami, terlihat sangat berbeda! Tidak seperti yang Desta kenal sebelum nya! Biasanya Mami selalu mendukung keputusan Desta, tapi sekarang kenapa Mami malah menyetujui keputusan, Papi?!"
"Desta! Segera pergi ke kamar mu dan kemas barang-barang mu kedala cover!" sahut tuan Bisma yang tak ingin merasa pusing lagi membahas masalah Desta.
"Desta, itu adalah jalan satu-satu nya untuk mu! Jika kau terus berada di disini! Lama-lama kau akan tahu kebenarannya dan Mami tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" gumam nyonya Jesika dalam hati nya.
"Bukankah dia mantan istri mu?" tanya tuan Bisma yang jelas mengenal sosok wanita yang dikatakan oleh anak nya barusan.
"Tapi, apakah memang benar-benar dia melakukan semua ini, Ayah?" tanya Serena yang merasa tidak yakin bahwa wanita itu yang telah melakukan hal ini semua kepada nya dan Bram.
"Kau jangan tertipu dengan wajahnya! Dia seorang wanita yang memiliki hati jahat seperti ular!" ucap Bram, selama menikah dengan Melisa sebelum nya ia tentu saja tahu seperti apa sifat Melisa selama ini.
"Tenanglah! Aku akan menyelidiki nya terlebih dahulu. Jika benar-benar dia dalang dibalik kecelakaan itu, Ayah pasti tidak akan membiarkan bebas berkeliaran begitu saja!"
"Sepertinya aku sudah yakin bahwa dia pelaku nya."
"Bram! Selama ini kau telah dimusuhi orang-orang terdekat mu, jadi aku rasa wanita itu belum tentu pelaku yang sebenarnya."
Bram terdiam sebentar karena menurutnya apa yang dikatakan oleh mertua nya itu memang benar. Selama ini, bukan hanya mantan istri nya saja yang tak menyukai diri nya, melainkan ia memang di benci serta dikhianati oleh keluarga nya sendiri serta orang-orang terdekat nya.
"Kalau begitu, kita harus bagaimana?"
"Saat ini kita perlu fokus membantu Serena untuk bisa berjalan kembali seperti dulu lagi. Karena tidak mungkin jika ia sendirian melakukan hal itu semua dan tentu saja butuh perjuangan untuk kembali seperti dulu."
"Ayah Mertua memang benar. Tapi, kita harus tetap berwaspada."
"Hem, itu tentu saja."
Setelah membahas perbincangan itu, kini tuan Bisma meminta Bram dan Serena untuk beristirahat saja. Sedangkan ia akan pulang ke rumah terlebih dahulu meminta istri nya menyiapkan pakain Serena serta Bram untuk dibawa ke rumah sakit. Tuan Bram telah tiba di dalam mobil, ia meminta supir nya langsung saja menyetir mobil menuju ke rumah.
Namun, ketika tuan Bisma sedang asik melamun. Ia tiba-tiba melihat sebuah mobil milik anak nya berhenti ke parkiran rumah sakit, tuan Bisma berpikir bahwa anaknya itu ingin menjenguk Serena sehingga tuan Bisma menjadi tersenyum senang.
"Aku berharap dia setidaknya memiliki sedikit menyimpan rasa iba kepada saudara nya," gumam tuan Bisma.
Selama ini ia sangat berharap kedua anak nya itu bisa akur dan menjadi saudara yang saling menyanyangi. Ia tak ingin kedua anaknya selalu bermusuhan seperti itu, apa lagi kedua anaknya sudah sama-sama dewasa dan seharusnya tidak lagi seperti anak kecil yang merebutkan mainan. Selama ini tuan Bisma juga tidak pernah memperlakukan kedua putri nya secara tidak adil, ia selalu membeli apa yang Desta mau begitu juga dengan Serena namun sayangnya sifat kedua putri nya benar-benar sangat berbeda.
Sekarang tuan Bisma telah tiba di rumah dan ia melihat istri nya sedang menonton televisi sambil menikmati cemilan di sofa dengan begitu santai. Ia tak habis pikir dengan istri nya itu yang sama sekali tidak terlihat bersedih saat mengetahui Serena masuk kedalam rumah sakit. Nyonya Jesika benar-benar sangat berbeda dari mendiang istri nya dulu, mungkin karena Serena bukanlah anak kandung nya sehingga nyonya Jesika sama sekali tidak terlihat merasa iba kepada putri nya yang sebenarnya sangat membutuhkan seorang ibu di samping nya. Tapi, untungnya Serena memiliki Bram yang senantiasa berada di samping nya sehingga Serena sama sekali tidak terlihat bersedih jika ia pergi untuk mengurus sesuatu hal yang begitu penting.
Sebelum nya Serena pernah tidak ingin sama sekali di tinggalkan ayah nya. Dan wanita itu selalu ingin ayah nya terus berada di samping nya dan ini adalah pertama kalinya Serena tidak lagi memohon untuk tidak meminta dirinya pergi, mungkin itu semua karena kehadiran Bram di hidup nya.
"Mami, siapkan pakain Bram dan Serena untuk dibawa ke rumah sakit!" perintah tuan Bisma sambil duduk di samping istri nya untuk menghilangkan rasa sakit kepala nya karena tidak tidur semalaman.
"Papi, tidak melihat aku sedang menonton?"
"Nanti dilanjutkan lagi setelah menyiapkan pakain Bram dan Serena."
"Nanti saja kalau begitu, film nya sedang seru."
Tuan Bisma rasanya sangat geram dengan sifat istri nya yang seperti itu. Bukannya malah menghibur diri nya untuk menghilangkan rasa sedihnya itu, justru istri nya malah membuat nya begitu muak. Padahal tuan Bisma sendiri merasa sangat lelah dan butuh istirahat tapi istri nya sama sekali tidak pengertian sedikitpun terhadap nya.
"Bibi! Kau siapkan beberapa pakain untuk putri ku dan menantu ku di rumah sakit," ucap tuan Bisma yang kebetulan melihat pembantu nya mengantarkan minuman untuk istri nya.
"Baik, Tuan."
Sejam kemudian, pembantu yang sebelumnya menyiapkan pakain untuk Serena dan Bram kini sudah selesai. Sekarang tuan Bisma akan kembali ke rumah sakit lagi untuk mengantarkan beberapa keperluan yang diperlukan anak dan menantu nya. Hanya membutuhkan beberapa menit saja, kini tuan Bisma telah tiba parkiran rumah sakit lalu kedua mata nya melihat ke arah mobil Desta yang masih saja terparkir di halaman rumah sakit. Ia pun sudah tidak sabar lagi melihat Serena dan Desta untuk saling berbincang di ruangan tersebut.
Namun, ketika membuka pintu ruangan dimana Serena dirawat. Tuan Bisma sama sekali tidak melihat keberadaan Desta di ruangan itu, ia pun menjadi penasaran untuk apa putri nya itu ke rumah sakit kalau tidak menjenguk Serena.
"Bukankah itu nona Desta, Tuan?" tanya sang supir yang sedang membantu tuan Bisma membawa beberapa barang masuk kedalam ruangan.
"Benar!" Tuan Bisma pun langsung saja pergi menuju ke arah putri nya dan ia ingin tahu apa yang dilakukan oleh anak nya itu saat ini.
"Candra! Apa kau serius tidak menginginkan anak di dalam rahim ku? Apa kau benar-benar ingin mengugurkan nya?" tanya Desta yang sedikit merasa khawatir jika melakukan aborsi kepada kandungan nya yang baru saja berumur 4 minggu itu.
Sejak melupakan kehadiran Marvel di hidup nya, kini Desta menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang selama ini berteman baik dengan Marvel. Bahkan sekarang ia telah mengandung anak dari laki-laki itu dengan begitu cepat, padahal hubungan kedua nya baru saja terjalin tapi Desta sama sekali tidak takut menyerahkan seluruh hidup nya untuk Candra.
"Lakukan saja! Kau tahu sendiri aku masih belum siap untuk menjadi seorang Ayah!"
"Tapi jika kita berdua mempertahankan janin ini, ayah mungkin akan merestui hubungan kita berdua!" jelas Desta.
"Apa yang dikatakan Desta memang benar, jika aku satu rumah dengan Bram. Mungkin aku bisa dengan bebas membalaskan dendam ku kepada laki-laki brengsek itu!" gumam Candra dalam hati nya. Entah kenapa laki-laki itu sampai memiliki dendam kepada Bram, seperti Marvel sebelum nya yang menginginkan hidup Bram segera berakhir.
"Apa kau serius ayah mu akan merestui hubungan kita berdua? Sebelumnya aku tidak pernah bertemu dengan kedua orangtua mu, apa tidak masalah jika kita berdua langsung meminta untuk dinikahkan dengan alasan kau sedang mengandung anak ku?"
Kedua orang itu begitu asik saja berbincang, mereka berdua tidak tahu bahwa tuan Bisma dari tadi mendengar jelas apa yang dikatakan oleh kedua orang itu.
__ADS_1
"Desta! Aku tidak habis pikir kau telah membuat diri mu menjadi gadis murahan seperti ini!" gumam tuan Bisma dalam hati nya, padahal Marvel saat ini sedang melakukan perawatan, tapi anaknya malah berhubungan dengan laki-laki lain lagi. Ia pikir Desta akan berhenti mencari laki-laki lain untuk menjadi kekasihnya tapi ternyata anaknya malah semakin bertingkah hingga sampai mengandung seorang anak dari laki-laki itu.
"Desta! Kau tunggu saja di rumah!" gumam tuan Bisma dalam hati nya, entah apa yang dilakukan oleh tuan Bisma nantinya kepada anak nya itu yang jelas ia telah menahan rasa amarah nya saat ini.