
Selama 2 jam berkeliling di desa itu, Juan dan Bram masih belum menemukan dimana alamat kedua orang yang saat ini mereka cari dari tadi. Bram pun mulai merasa haus dan ia berusaha mencari sebuah warung namun sayangnya di desa itu sangat sulit untuk mencari warung, saat ini ia bingung bagaimana caranya ia bisa minum sedangkan ia sendiri tidak mengenal siapapun di desa itu sehingga Bram hanya bisa menahan rasa hausnya saja.
"Cuaca nya sangat panas dan bikin gerah, sebaiknya kita berdua segera pergi ke mobil saja dan mencari tempat untuk minum," ajak Juan yang jelas mengerti keadaan Bram saat ini.
Sekarang kedua orang itu segera masuk kedalam mobil, kedua laki-laki itu sangat berharap bisa menemukan sebuah warung yang menjual minuman seger serta beberapa makanan untuk mengisi perut yang sudah mulai kosong itu. Selama 1 jam lamanya berada di dalam perjalanan mencari warung, Bram dan Juan akhirnya menemukan sebuah warung kecil yang ada di pinggir jalan, kedua laki-laki itu segera turun untuk membeli minuman serta makanan.
Namun, ketika baru saja turun dari dalam mobil. Juan seketika menghentikan langkah nya sedangkan Bram terus melangkah mendekati warung tersebut, laki-laki itu sama sekali tidak sabaran sedikitpun bahkan ia sampai tidak tahu Juan masih terdiam di tempat dan seolah-olah melihat sesuatu hal yang mengejutkan nya.
"Akhirnya bisa menemukan warung kecil ini," gumam Bram yang merasa lega, ia pun mengambil beberapa botol minum air putih serta minuman segar yang lainnya untuk simpanan. Tapi, ketika ingin mengambil beberapa kue Bram menyadari bahwa Juan sedang tidak bersama dengan diri nya. Bram pun langsung saja melihat ke arah belakang nya dan ternyata Juan masih berdirin terdiam di dekat mobil.
"Ada apa dengan nya?" gumam Bram penasaran, ia pun melambaikan tangannya ke arah Juan dan meminta laki-laki itu segera menemuinya tapi Juan sama sekali tidak merespon apa yang ia lakukan.
"Apakah ada sesuatu yang salah?" Tanpa berpikir panjang lagi, Bram langsung saja mendekati Juan untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sehingga laki-laki itu sampai seperti itu saat ini.
"Juan, ada apa?"
"Orang yang kita cari itu orang nya!" tunjuk Juan ke arah pemilik warung yang baru saja di datangi Bram.
"Apa kau serius?"
"Aku serius! Ayo, segera temui mereka!" ajak Juan yang seketika tersadar.
__ADS_1
Juan dan Bram langsung saja mendekati seorang ibu-ibu yang begitu asik menyusun minuman segar ke dalam kulkas. Ia masih belum menyadari kedatangan Juan yang saat ini ingin bertemu dengan diri nya.
"Ibu Dina, kan?" tanya Juan yang langsung saja bertanya.
"Tu—Tuan Juan?" Ibu Dina jelas merasa sangat terkejut dengan kehadiran Juan yang sebelumnya pernah sekali bertemu dengan nya dan tentunya ia tahu apa tujuan Juan datang menemuinya saat ini. Sehingga ibu Dina sama sekali tidak terlalu banyak berbicara dan tinggal mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Juan kepada nya.
"Ibu Dina, kenapa Anda pindah kemari?"
Ibu Dina terlihat begitu ragu untuk membuka mulutnya menjawab pertanyaan Juan. Sedangkan Juan sendiri sangat berharap ibu Dina bisa mengatakan nya dengan jujur tanpa harus menyembunyikan apapun kepada nya. Karena ia merasa kunci semua masalah saat ini hanya pada ibu Dina sendiri.
"Ibu Dina, saya harap Anda tidak menyembunyikan sesuatu hal kepada saya. Saat ini seseorang sangat membutuhkan kehadiran kedua orangtua nya. Jadi Ibu Dina segera katakan yang sebenarnya, apakah Ibu benar-benar ibu dari orang ini?!" tanya Juan sambil memperlihatkan sebuah foto kepada seorang ibu yang sudah berusia 50 tahun itu.
"Dia sedang berbicara pada mu. Segera katakan jawaban mu!" ucap Bram berusaha membuat ibu Dina membuka mulut nya.
"Sebaiknya aku membawa nya ikut dengan ku saja!" gumam Juan yang berpikir bahwa ia lebih baik melakukan tes DNA saja kepada ibu Dina dengan begitu semua nya akan jelas ketika hasilnya sudah keluar.
"Dimana suami nya?" tanya Bram yang tak melihat kehadiran suami dari ibu Dina.
"Aku akan mencarinya, kau tunggu lah disini bersama dengan nya. Jangan biarkan Ibu nya pergi!" ucap Juan dan Bram langsung saja menganggukkan kepala nya.
Sementara Juan kembali, Bram langsung saja melahap roti yang sebelumnya sudah ia buka. Karena saat ini perutnya sudah lapar tapi tetap saja ia akan tetap memastikan bahwa ibu Dina tidak bisa pergi diam-diam dari nya.
__ADS_1
Selama 10 menit mencari keberadaan suami ibu Dina, Juan akhirnya telah menemukan keberadaan seorang bapak-bapak yang sudah berusia 55 tahun itu. Tapi, ternyata bapak Dermawan sedang mengambil air di sungai dan untungnya tidak bersembunyi dari nya.
"Sekarang kalian berdua ikutlah dengan kami pergi ke kota!" ajak Juan dengan baik-baik karena kebetulan kedua orang itu sama sekali tidak melawan sehingga ia tidak harus memakai kekerasan untuk memaksa kedua orang ikut bersama dengan nya dan Bram.
Namun, sebelum itu ibu Dina ingin menutup warung serta mengunci rumah mereka dengan begitu semuanya aman saat di tinggal.
"Apa kau yakin kedua orang ini kedua orangtua Desta sendiri?"
"Mereka berdua sebelum nya telah mengakuinya. Dan aku masih ingat jelas kata-kata yang di ucapkan oleh kedua orang ini!" ucap Juan sambil menyetir mobil dengan cukup laju, ia ingin segera sampai di rumah sakit apa lagi perjalanan mereka cukup jauh sehingga harus menyetir mobil dengan cukup laju.
Bram yang masih merasa lapar, memilih untuk membuka kembali roti yang ia beli beberapa waktu yang lalu. Dan sebagian nya ia akan memberikan nya untuk Juan, ia tahu sendiri Juan juga pasti sedang lapar dan haus saat ini hanya saja karena masalah itu laki-laki itu sama sekali tidak sadar akan kondisi nya sendiri.
"Dari tadi kau makan dengan cukup banyak, apa masih belum kenyang juga?"
"Aku rasa ini terbilang sedikit untuk perut ku dan aku benar-benar sangat lapar," ucap Bram yang melihat ada lima bungkus yang sudah ia kupas dan dimakan habis oleh nya.
Bram yang sudah merasa kenyang, terlihat begitu mengantuk akhirnya ia memutuskan untuk tidur saja. Sedangkan Juan yang melihat tingkah aneh Bram hanya mengeleng-gelengkan kepala nya saja, padahal biasanya sikap Bram sama sekali tidak pernah seperti itu namun hari ini Bram malah makan begitu banyak roti.
"Yah, mungkin memang dia benar-benar lapar," gumam Juan sambil menikmati roti yang diberikan oleh Bram sambil kedua matanya sesekali melihat ke arah kaca untuk memastikan kedua orang yang sedang duduk di belakang tidak melakukan sesuatu hal yang berbahaya.
"Apa kalian berdua lapar?" tanya Juan ketika melihat kedua orang itu malah menatap nya dari tadi.
__ADS_1
"Tidak, Tuan," jawab ibu Dina dengan singkat.
"Baiklah, saya akan memakan semua nya."