Mendadak Menikahi Gadis Cacat

Mendadak Menikahi Gadis Cacat
S2. Liam dan Kenzo


__ADS_3

Tidak terasa hari berganti hari, kini 24 tahun kemudian. Liam dan Kenzo yang dulu nya masih kecil dan masih sangat mengemaskan kini sudah menjadi laki-laki yang tampan dan mempesona.


"Liam, hari ini kita berangkat camping kan di salah satu gunung yang tinggi itu?" tanya Kenzo yang saat ini sedang menikmati serapan pagi nya bersama dengan orang-orang di rumah.


"Hem, memang nya kenapa, Kenzo?"


"Kau tahukan aku pobia dengan sesuatu hal yang tinggi? Aku rasa tidak perlu ikut."


"Jadilah seorang laki-laki sejati yang tidak takut dengan apapun. Jadi kau harus ikut, aku tidak ingin mendengar alasan mu!" jelas Liam dengan tegas.


"Yang dikatakan oleh Liam benar, Kenzo! Ayah mu seorang pengawal sejati dan tidak mungkin memiliki seorang anak yang penakut, itu jelas sangat memalukan bagi, Ayah!" sahut Juan yang tak ingin anaknya selalu dihantui dengan ketakutan. Walaupun ia tahu, dimasa lalu anaknya pernah mengalami tragedi yang sangat menakutkan tapi ia tidak ingin karena kejadian itu Kenzo selalu takut dengan ketinggian dan ia berharap Kenzo bisa melawan rasa takut itu.


Melihat semua orang sama sekali tidak berada di pihaknya membuat Kenzo pada akhirnya memilih untuk ikut. Sebenarnya ia sangat membenci acara camping yang di adakan oleh kampus nya dan alasannya sudah jelas karena takut dengan ketinggian.


"Kenzo! Ayo, berangkat sekarang!" ajak Liam dengan sedikit terburu-buru. Melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi, sedangkan mereka semua harus berkumpul di jam 7 pagi di kampus. Jika telat, tentu saja ia tidak akan bisa ikut pergi camping.


Sedangkan Kenzo sendiri, terlihat begitu lamban untuk melangkah masuk kedalam mobil. Karena ia sendiri sangat berharap bus yang akan membawa mereka ke tempat bukit itu sudah berangkat dengan begitu ia tidak harus pergi ke tempat yang sama sekali tidak ia inginkan di hidup nya.


"Kenzo! Ayo, cepat!" tegur Liam ketika melihat saudara nya malah berjalan dengan begitu santai sedangkan dirinya dari tadi terburu-buru.


"Sudahlah, santai saja."


"Santai jidad mu! Waktu kita berdua hanya setengah jam saja, nanti kita berdua bisa telat!"


"Itulah yang aku cari-cari!" Rasanya Kenzo sangat ingin mengatakan hal itu namun ia tidak ingin mendengar ocehan Liam sehingga ia hanya bisa bergumam di dalam hati nya saja.


Setelah memasuki mobil, Liam segera meminta supir untuk berangkat dengan kecepatan yang cukup laju. Sedangkan supir itu hanya menganggukkan kepala nya dengan patuh lalu menyetir mobilnya dengan cukup laju sesuai dengan permintaan Liam sendiri. Di sepanjang perjalanan, kedua laki-laki yang saat ini sedang duduk di kursi mobil, masing-masing memainkan ponsel nya dengan begitu asik hingga tidak terasa mobil pun telah berhenti di depan gerbang kampus. Ternyata bus yang akan mengantarkan para mahasiswa untuk melakukan camping kini sudah bersiap-siap ingin berangkat dan Liam pun segera menyeret Kenzo untuk segera masuk kedalam bus. Sedangkan supir mengangkat barang-barang milik kedua laki-laki itu masuk.


"Kalian berdua hampir saja terlambat!" ucap salah satu dosen yang menjadi pembimbing dalam camping itu.


Namun, Liam sama sekali tidak terlalu perduli dengan apa yang dikatakan oleh ibu dosennya. Justru ia malah mengabaikan nya saja, sedangkan Kenzo segera meminta maaf dan kedua laki-laki itu jelas memiliki sifat yang sangat berbeda. Melihat Liam sama sekali tidak sopan kepada nya, ibu dosen itu hanya bisa bersabar saja menghadapi sikap mahasiswa nya yang terkenal cuek dan dingin itu.


Seandainya ia bukanlah seorang dosen, mungkin ia sudah mengajak Liam berdebat karena sebenarnya ia sama sekali tidak suka kepada orang yang tak memiliki sopan santun kepada nya maupun kepada orang lain.


Setelah memastikan semuanya sudah ada di dalam bus, kini salah satu dosen meminta sang supir untuk segera berangkat saja. Sekarang para mahasiswa berteriak dengan nyaring sambil bertepuk tangan karena merasa gembira.

__ADS_1


"Kau memiliki headset yang lain?" tanya Liam saat melihat Kenzo ingin memakai headset.


"Hem, kau mau juga?"


"Sangat berisik!"


Mendengar ucapan Liam, Kenzo hanya tersenyum kecil saja lalu mengambil headset di dalam tas nya dan untungnya ia membawa headset nya lebih dari satu sehingga ia dapat meminjamkan nya kepada Liam. Sepanjang perjalanan, Liam dan Kenzo hanya duduk diam di kursi sambil mendengarkan musik yang terasa begitu indah di dengar. Sedangkan mahasiswa yang lainnya, bernyanyi bersama sambil di iringi sebuah gitar serta suara tepuk tangan yang begitu serempak.


"Liam! Liam! Bangunlah! Kita sudah sampai!" ucap Kenzo yang sebelumnya cukup terkejut ketika melihat para mahasiswa ribut untuk turun dari bus.


"Sudah sampai?" tanya Liam sambil mengosok kedua mata nya untuk memperjelas penglihatan nya yang masih terasa kabur.


Selama 3 jam dalam perjalanan, Liam dan Kenzo malah begitu nyenyak tidur walaupun keadaan di dalam bus sangat berisik tapi kedua laki-laki itu sama sekali tidak terlalu perduli akan hal itu. Namun, ketika Liam dan Kenzo turun dari bus, kedua laki-laki itu tanpa sengaja melihat seorang ibu dosen muntah-muntah di dekat bus.


Awalnya Liam sama sekali tidak perduli dan berniat pergi saja. Tapi, Kenzo malah menarik baju nya dan meminta dirinya untuk membantu ibu dosen mereka yang terlihat cukup menyedihkan saat ini.


"Memang nya apa yang harus kita lakukan pada nya?!"


"Berikan dia minum!"


"Kau saja! Aku terlalu malas berhadapan dengan nya."


"Bukankah itu sudah menjadi tugas nya? Lalu apa urusan nya dengan ku? Jika dia tidak mau melaksanakan tugas nya dengan baik, sebaiknya tidak perlu menjadi dosen!"


"Liam, bisakah kau hilangkan sikap dingin mu kepada orang lain? Suatu saat nanti kau juga pasti akan membutuhkan pertolongan orang lain."


"Tentu saja, tapi tidak dengan nya!"


"Kau mana tahu dengan siapa kau akan meminta pertolongan, Liam! Siapa tahu kau akan meminta pertolongan darinya!"


"Berhentilah berbicara tidak jelas seperti itu dengan ku!" ucap Liam yang bersih keras tidak ingin membantu ibu dosen nya.


Namun, sayangnya, Kenzo sangat keras kepala untuk tetap memaksa Liam memberikan air minum untuk ibu dosen nya. Bahkan Kenzo sampai mendorong Liam ke arah ibu dosen nya hingga Liam tanpa sengaja menabrak tubuh ibu dosen yang saat ini berusaha menyadarkan dirinya karena terlalu mabuk didalam bus.


"Apa yang kau lakukan, Liam?"

__ADS_1


"Ini!" Liam pun pada akhirnya terpaksa memberikan air minum nya kepada ibu dosen nya yang masih begitu muda itu.


Melihat wajah dingin Liam, Alena tampak begitu engan untuk mengambil air minum dari mahasiswa nya itu. Tapi, ia sadar dirinya saat ini benar-benar membutuhkan air minum sehingga ia pun pada akhirnya terpaksa untuk mengambil nya lalu meneguk air minum itu dengan begitu lega.


"Terimakasih," ucap Alena tanpa melihat ke arah Liam.


Sedangkan Liam sendiri langsung saja pergi tanpa berbicara sepatah kata pun kepada ibu dosen nya.


"Kenzo! Aku tak berharap kau bersikap seperti itu lagi kepada ku! Dan kau tentu saja tahu aku benar-benar tidak menyukai seorang wanita seperti nya!"


"Aku tidak meminta mu menyukai nya, kan? Kau jangan terlalu percaya diri!"


"Kau ingin aku menonjok wajah mu, hah?!" kesal Liam.


"Aku hanya bercanda saja, kau jangan terlalu serius. Ayo, jalanlah. Mereka semua sudah terlalu jauh, nanti kita berdua bisa saja tersesat di jalan!" ucap Kenzo.


Liam dan Kenzo pun langsung saja melangkah menyusul para mahasiswa serta dosen yang lainnya ada di depan. Kedua laki-laki itu terlihat menikmati pemandangan hutan yang terasa begitu sejuk itu, walaupun itu adalah pertama kalinya bagi mereka berdua berada di dalam hutan tapi tetap saja kedua laki-laki itu sama sekali tidak merasa risih dengan suasana di dalam hutan itu.


"Katanya kita akan camping di gunung, tapi aku sama sekali tidak melihat gunung dari sini."


"Saat ini kita masih berada di bawah gunung saja, mungkin gunung nya tertutup karena pepohonan yang lebat ini sehingga kita tidak bisa melihat nya dari sini."


Kedua laki-laki itu begitu asik saja berbincang sambil berjalan. Mereka berdua tidak menyadari ada ular besar yang sedang menuju ke arah mereka berdua saat ini.


"Hei! Lari!" teriak seorang wanita dari arah belakang Kenzo dan Liam dengan begitu nyaring sehingga kedua laki-laki yang awalnya terlihat begitu asik menikmati pemandangan di hutan itu terkejut ketika mendengar teriakan itu.


Liam dan Kenzo tidak langsung berlari, kedua laki-laki itu justru menoleh ke arah suara itu yang ternyata itu adalah Alena ibu dosen mereka sendiri.


"Kalian berdua larilah! Ada ular!" teriak Alena.


"Ular?" ucap Liam dan Kenzo dengan serempak. Mereka berdua masih belum melihat ular yang dikatakan oleh Alena karena ular tersebut memiliki warna kulit yang sama persis dengan dedaunan yang ada di tanah, belum lagi dedaunan tersebut tampak begitu menumpuk sehingga ular tersebut tampak tidak terlihat.


"Larilah saja!" Alena terus berteriak, ia begitu kesal kepada kedua mahasiswa nya yang saat ini hanya diam saja seperti orang bodoh. Padahal ular tersebut sudah jelas ingin menyerang kedua laki-laki itu.


Melihat kedua mahasiswa nya yang sama sekali tidak lari, pada akhirnya Alena terpaksa untuk menyingkirkan ular tersebut. Ia pun mengambil sebuah kayu yang panjang lalu menghamburkan dedaunan yang saat ini sedang bersembunyi.

__ADS_1


"Ular!" teriak Kenzo yang langsung saja memundurkan langkah nya menjauhi ular yang saat ini sedang ingin mematuk kaki nya dan untung nya Alena dengan cepat memukul kepala ular tersebut sehingga Kenzo selamat dari maut yang hampir saja mengambil nyawa nya.


Alena yang melihat ular itu masih hidup tetap berusaha menyingkirkan ular tersebut menjauhi mereka semua. Sebenarnya, Alena sama sekali tidak berniat menyakiti ular tersebut tapi melihat keadaan yang begitu mendesak membuat nya terpaksa memukul kepada ular itu demi keselamatan mahasiswa nya yang sudah menjadi tanggungjawab nya untuk melindungi para mahasiswa nya selama masa camping.


__ADS_2