Mendadak Menikahi Gadis Cacat

Mendadak Menikahi Gadis Cacat
Berulang Kali


__ADS_3

"Desta, telah bersedia menikah dengan mu. Lalu sekarang jawaban mu apa, Juan?"


"Bersedia? Semudah itu?"


Akhir-akhir ini Juan sering merasa dihantui oleh perkataan majikannya supaya ia menikah dengan Desta yang tentunya gadis itu tidak akan bisa menerima dirinya.


"Kami berdua sudah membicarakan nya dengan baik-baik. Dan Desta sama sekali tidak menolaknya jika kau memang bersedia menikah dengan nya lalu menerima anak di dalam kandungan nya saat ini dengan baik."


"Tuan, sebenarnya apa yang telah Tuan bicarakan kepada nona Desta sehingga ia sampai mau menikah dengan saya?"


Tuan Bisma tidak menjawab pertanyaan Juan, tapi ia malah mengeluarkan sesuatu benda yang ada di kantong celananya dan ternyata itu adalah sebuah foto kecil yang berisikan sebuah foto tentang dua orang saling bermesraan namun salah satu wajah dari kedua orang itu sama sekali tidak terlihat dan hanya memperlihatkan wajah seorang laki-laki saja yang sedang mencumbu kekasih nya dengan kemesraan.


"Maksud Tuan?" tanya Juan yang masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh tuan Bisma.


"Kekasih nya itu telah menduakan nya jadi sekarang Desta lebih baik menikah dengan mu saja ketimbang ia melahirkan seorang anak tanpa seorang ayah. Sekarang apa kau bersedia?"


Tuan Bisma sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang ada di foto tersebut adalah istri nya sendiri, sehingga ia terlihat biasa-biasa dan menganggap wanita itu bukanlah istri nya. Sedangkan foto tersebut sebenarnya memang di sengaja di ambil hanya sebagian nya saja dan itu semua adalah rencana Serena sendiri karena ia sama sekali belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya kepada ayah nya. Dan tentunya ayah nya pasti akan sangat terpukul jika sampai mengetahui kebenarannya.


"Juan, kenapa begong saja? Aku sedang menantikan jawaban mu sekarang, apa kau bersedia?" tanya tuan Bisma dengan penuh harap, jika Juan mau menikah dengan Desta nasib anaknya tidak akan benar-benar berakhir begitu buruk dan masa depan Desta tetap seperti biasanya serta anaknya tidak akan melalui kehidupan yang semakin sulit walaupun pada akhirnya Desta tidak memilih seorang laki-laki sosok ayah dari anak nya sendiri.


"Baik, Tuan. Saya bersedia," ucap Juan, rasanya ia benar-benar tidak mempercayai apa yang ia katakan barusan. Ucapan nya itu tentu saja akan merubah semua hidup nya karena sebentar lagi ia akan memiliki sosok seorang gadis yang selalu ada di samping nya.


Tuan Bisma langsung saja meminta salah satu pengawal nya yang lain supaya segera mengurus surat menyurat untuk persyaratan pernikahan anak nya nanti. Ia sendiri ingin menikahkan Desta dan Juan dengan sebuah pesta pernikahan secara besar-besaran. Padahal Desta sendiri sama sekali tidak menginginkan itu, ia lebih baik menikah dengan sederhana saja dengan begitu tidak terlalu merepotkan untuk nya namun sebagai ungkapan kasih sayangnya kepada anaknya itu tuan Bisma rela melakukan apa saja demi anak nya itu. Tidak hanya itu, ia juga ingin Serena dan Bram ikut berdandan layaknya seorang pengantin juga saat di pesta pernikahan Desta nanti, sehingga kedua anaknya juga bisa merasakan bahwa mereka berdua telah menjalani pernikahan mewah.


Desta yang telah dirawat beberapa hari di rumah sakit kini telah di perbolehkan untuk pulang ke rumah dan untungnya keadaan janin yang ada di dalam kandungan nya sudah kembali sehat. Tapi, Desta tetap tidak di perbolehkan untuk terlalu banyak bergerak dan harus terus berada di atas kasur saja hingga sampai keadaan janinnya benar-benar kuat.


***


Pesta pernikahan pun sedang berlangsung, banyak para pengusaha yang datang ke tempat pesta tersebut. Termasuk Candra sendiri, laki-laki itu benar-benar tidak tahu malu untuk datang ke pesta pernikahan Desta. Tapi, sebenarnya tujuannya ke pesta tersebut bukanlah mengucapkan selamat kepada mantan kekasih nya melainkan ia memiliki sebuah tujuan.


Namun, apa yang dilakukan oleh Candra di pesta tersebut sudah jelas di pantau oleh seseorang yang tak lain Bram sendiri. Ia sama sekali tidak ingin pesta pernikahan adik ipar nya malah di hancurkan begitu saja hanya karena seseorang yang sama sekali tidak berguna di pesta itu.


"Mas Bram, siapa mengundang nya kemari?"


"Tentu saja bukan ayah, melainkan dia adalah ibu mu."


"Sepertinya memang begitu, Mas. Tapi, apa yang sedang ia cari-cari itu?"


"Mungkin ibu mu."


"Tapi dimana ibu ku, ya? Kenapa aku sama sekali belum melihat kehadiran nya?"


"Aku dan Juan telah mengunci nya di dalam kamar nya. Karena kami berdua merasa curiga bahwa ibu akan berulah lagi."


"Kalian berdua menguncinya?!" Seketika Serena terkikik geli mendengar nya, ia tak menyangka suami dan adik ipar nya itu telah melakukan sesuatu hal yang begitu konyol seperti itu.


"Kenapa? Apakah selucu itu?"


"Sangat lucu, Mas Bram. Kalian berdua benar-benar keterlaluan."


"Biarkan saja, lagian kami berdua telah mengancamnya dengan sesuatu."


"Sesuatu?"


"Hem. Apa kau ingin tahu?"


"Katakan, Mas."


"Sebentar."


Bram langsung saja memperlihatkan sebuah rekaman video tentang Candra dan nyonya Jesika saling bercumbu di kamar hotel. Dengan adanya video tersebut tentunya nyonya Jesika sama sekali tak berdaya, ia jelas merasa takut jika video tersebut sampai di lihat oleh suami nya dan hidup nya akan benar-benar berakhir.


"Oh, ternyata video itu," ucap Serena yang sudah tahu.


Serena dan Bram memutuskan untuk tidak berbincang lagi takutnya mereka berdua malah lengah lalu Candra akan berkesempatan untuk melakukan aksi nya di pesta tersebut. Sesekali Candra melihat di sekitar sekeliling nya, lalu ia seketika menyadari bahwa Serena dan Bram telah memperhatikan dirinya saat ini.


"Sialan! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kedua orang itu harus aku singkirkan terlebih dahulu," gumam Candra, ia pun memilih untuk pergi keluar terlebih dahulu demi menghindari Serena dan Bram yang terus memperhatikan dirinya.


"Sayang, aku akan mengikuti nya!" ucap Bram yang terlihat begitu serius saat ini dan Serena hanya menganggukkan kepala nya saja.


Bram terus mengikuti kemana arah Candra pergi saat ini namun ia malah tidak sengaja menabrak seseorang yang tak lain salah satu suruhan nyonya Jesika yang selama ini telah bekerja sama dengan Candra sebelum nya. Bram yang begitu kesal dengan orang itu rasanya hampir membunuh nya saja. Sekarang ia malah kehilangan jejak Candra dan ia bingung kemana dirinya harus mencari keberadaan Candra saat ini. Sedangkan orang yang baru saja di tabrak oleh Bram, kini malah pergi begitu saja dan Bram pun mulai merasakan ada sebuah kejanggalan dengan orang tersebut.


"Sialan! Kemana pergi nya orang itu?" gumam Bram dan ia pun mulai merasakan bahwa saat ini Candra dan orang barusan akan mulai menjalankan aksi nya. Bram pun dengan cepat menyampaikan kepada ayah mertua nya serta Juan supaya mereka semua tetap berwaspada saat ini. Tidak lupa, Bram juga memanggil beberapa pengawal yang telah berjaga di depan pintu dimana nyonya Jesika di kurung saat ini supaya mereka semua tidak lengah.


"Mas Bram, ada apa?"


"Kau jangan pergi kemana-mana, tetap disini dan jangan sampai keluar dari kerumunan orang banyak!" peringat Bram.


"Nak Bram, kamu tunggulah di ruangan ku lebih dulu. Aku akan pergi meeting sebentar," ucap tuan Bisma.


"Baik, Ayah."


Bram pun duduk di sofa yang sudah disediakan untuk tamu. Ia melihat di sekitar sekeliling ruang kerja mertua nya yang tampak begitu mewah, ia pun seketika kembali teringat dengan masa lalu nya tapi Bram sama sekali tidak menginginkan kehidupan yang seperti dulu karena ia rasa kehidupan yang dulu benar-benar sangat menyakitkan untuk dirinya. Namun, saat Bram begitu asik melamun tiba-tiba saja ia mendengar sebuah ketukan pintu dari luar, ia pun segera membuka pintu nya. Tapi, beberapa saat kemudian laki-laki itu terdiam kaku di tempat.


"Mas Bram?!" Seorang gadis cantik berdiri di depan Bram dengan raut wajah yang terkejut dan sekaligus berubah menjadi dingin.


"Apa yang kau lakukan kemari?!" tanya Bram dengan dingin.

__ADS_1


"Aku menjadi sekertaris di perusahaan ini. Lalu, Mas Bram?"


"Kau tidak perlu tahu!"


Bram melihat raut wajah mantan istri nya saat melihat kehadiran nya benar-benar terlihat biasa-biasa saja. Bram yakin, mantan istri nya itu sudah mengetahui dirinya telah keluar dari penjara. Sifat istri nya yang selalu ingin tahu, jelas membuat Bram tidak perlu dipertanyakan lagi sehingga Bram juga tidak perlu bingung lagi akan hal itu.


"Mas Bram, bagaimana kabar mu sekarang? Aku sangat merindukan mu!" ucap Melisa yang berniat ingin memeluk laki-laki itu. Tapi, sayangnya, Bram dengan cepat menghindar bahkan laki-laki itu memperlihatkan sikap tidak suka terhadap mantan istri nya itu secara terang-terangan.


"Kau pikir aku bodoh? Tentu saja tidak! Melisa!" gumam Bram dalam hati nya, sikap Melisa yang terlihat ingin mendekati nya membuat Bram curiga bahwa mantan istri nya itu memiliki sebuah tujuan lain lagi terhadap nya.


"Bram, ak—" ucap Melisa terpotong saat tidak sengaja melihat tuan Bisma datang menghampiri mereka berdua.


"Nak Bram, apa kau mengenal nya?" tanya tuan Bisma.


"Hem, benar, Ayah."


"Ayah?!"


Melisa terlihat kebingungan saat mendengar Bram memanggil bos nya dengan sebutan 'ayah'. Ia pun semakin penasaran hubungan yang seperti apa dimiliki antar bos nya dengan mantan suami nya itu.


Tuan Bisma berniat menjelaskan nya kepada Melisa. Tapi, Bram malah menghentikan nya dan malah mengajak mertua nya untuk segera masuk kedalam, sedangkan Melisa tentunya tidak bisa masuk dengan semaunya terkecuali atas permintaan atasan nya sehingga rasa penasaran nya sama sekali tidak dapat ia temukan jawabannya.


"Nak, apakah ada sesuatu?"


"Wanita itu terlalu penasaran, aku tidak terlalu menyukai nya!"


"Mantan istri mu, aku tahu sosok wanita itu seperti apa?!"


"Ayah, tahu tentang dia dan aku?"


"Tentu saja!" jawab tuan Bisma dengan begitu santai, saat melihat menantu dan sekertaris nya terlihat begitu serius ketika berbincang tuan Bisma sama sekali tidak terkejut akan hal itu karena ia sendiri tentunya telah menyelidiki semuanya sebelum Bram telah sah menjadi suami anak nya.


"Kenapa Ayah memberikan nya pekerjaan? Bukankah Ayah tahu juga bagaimana hubungan kami sebelum nya seperti?!"


"Wanita itu datang melamar di perusahaan ini. Dia pikir aku tidak tahu apa-apa tentang nya, bahkan ia jelas memiliki cukup banyak uang tapi malah bekerja sebagai sekertaris ku dan itu sudah jelas bahwa wanita itu memiliki sebuah tujuan, bukan hanya kepada mu melainkan kepada ku juga!" jelas tuan Bisma.


"Apa Ayah memiliki suatu rencana?!" tanya Bram.


"Ten—" ucap tuan Bisma terpotong saat melihat menantu nya memberikan sebuah kode untuk segera menutup mulutnya supaya berhenti berbicara.


"Ada apa?"


Bram masih belum menjawab pertanyaan mertua nya. Ia malah menuju ke arah tanaman bunga yang terlihat begitu mencurigakan di mata nya, sedangkan tuan Bisma sendiri semakin penasaran apa yang sedang dilakukan oleh menantu nya saat ini. Dan tiba-tiba, tuan Bisma dikejutkan dengan sebuah benda yang di perlihatkan oleh Bram untuk nya, benda tersebut jelas tuan Bisma tahu.


"Penyadap suara!?" gumam tuan Bisma yang tak percaya akan hal itu.


"Aku rasa alat ini telah rusak di makan tikus!" jelas Bisma memperlihatkan kerusakan alat tersebut kepada ayah mertua nya.


"Benarkah?!" Tuan Bisma terlihat bersemangat saat mendengar ucapan menantu nya itu untuk memastikan nya, ia sampai meminta Bram memberikan alat itu kepada nya dan ia ingin melihat sendiri apakah alat itu benar-benar rusak atau tidak karena jika alat itu telah bekerja dengan sangat baik selama ini mungkin semua rahasia yang telah ia bicarakan kepada kepercayaan nya jelas sudah diketahui para musuh nya.


"Aku ingin tahu sejak kapan alat ini berada disini?!"


"Ayah, bisa mengecek nya di rekaman CCTV saja dan melihat siapa yang telah memasang alat ini!"


"Kau benar, Nak. Aku akan mengecek nya dan kau juga harus ikut melihat nya!" ajak Tuan Bisma.


Bram yang juga penasaran, tentunya dengan cepat mengikuti apa yang diperintahkan oleh mertua nya itu. Kedua orang itu pun langsung saja membuka laptop untuk melihat hasil rekaman CCTV. Dan kedua laki-laki itu tidak bisa membayangkan bahwa yang melakukan hal itu adalah Melisa mantan istri Bram sendiri. Rupanya wanita itu benar-benar sudah menjalankan rencana nya lebih dulu dari mereka tapi untung mereka dengan cepat menyadari hal itu semua.


"Untung saja hari kemarin aku tidak ada di kantor," jelas tuan Bisma merasa lega karena alat itu telah rusak saat tidak berhasil mendapatkan informasi dari nya.


"Ayah Martua, setelah ini apa yang ingin Ayah lakukan kepada wanita itu?"


"Tentu saja Ayah akan memberikan nya sedikit pelajaran!" jelas tuan Bisma.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, terlihat Serena sangat menantikan kehadiran suami nya pulang dari kantor. Dari tadi gadis itu tidak sabar suami nya tiba di rumah karena saat ini dirinya benar-benar merasa sangat kesepian. Sedangkan Desta bersama dengan kekasihnya terus bermesraan di ruang tamu, hingga Serena yang melihat nya merasa sangat jijik. Apa lagi ibu tiri nya sama sekali tidak menegur adik nya itu dan hanya acuh saja, padahal apa yang dilakukan oleh Desta bersama kekasih nya itu benar-benar sangat tidak pantas apa lagi di tempat terbuka seperti itu akan sangat memalukan.


"Sayang, kenapa kau tidak mengajaknya untuk berkumpul bersama dengan kita disini?!" tanya Marvel.


"Untuk apa? Aku rasa itu tidak penting!"


"Baiklah, bagaimana jika kamu membutuhkan ku minuman terlebih dahulu. Rasanya aku sangat ingin minum yang segar-segar dan manis."


"Emh, memangnya Sayang ingin minum apa?"


"Jus jeruk saja, lebih praktis."


"Baiklah, aku akan membuat nya terlebih dahulu," jelas Desta yang langsung saja pergi ke dapur.


Sedangkan Marvel terlihat tersenyum licik ke arah Serena. Wanita itu yang menyadari bahwa Marvel ingin menghampiri dirinya, seketika langsung saja pergi menuju ke kamar nya namun sayangnya Marvel dengan cepat mengejar wanita itu.


"Kau ingin kemana? Ingin kabur?"


"Lepaskan!" ucap Serena dengan kesal tapi Marvel malah tertawa mengejek.


"Serena! Serena!" Seseorang terus berusaha membangun wanita itu yang sedang berada di dalam mobil, mendengar suara memanggil namanya akhirnya wanita itu perlahan-lahan membuka kedua mata nya. Ia melihat disekitar sekeliling nya terlihat seperti baik-baik saja, bahkan Serena melibatkan Bram duduk di samping nya sambil menatap nya.

__ADS_1


"Mas Bram!" ucap Serena tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Ini benar-benar, Mas Bram?"


Bram terlihat kebingungan melihat sikap istri nya yang terlihat begitu aneh, bahkan wanita itu sampai membuka baju nya seolah-olah sedang memeriksa sesuatu dari nya.


"Serena, ada apa?"


"Apa Mas Bram tidak apa-apa?!"


"Hem, aku tidak apa-apa. Justru aku yang bertanya seperti itu kepada mu, memangnya kau kenapa?"


"Sepertinya aku hanya bermimpi saja."


"Bermimpi apa?"


Bram yang penasaran langsung bertanya kepada istri nya dan Serena pun menceritakan semua yang terjadi di dalam mimpi nya. Bram yang mendengar hal itu turut bersedih, ia tidak menyangka istri nya sampai bermimpi buruk seperti itu dan ia pun berusaha menghibur Serena dengan kalimat yang menenangkan wanita itu.


"Kita sudah sampai, aku akan membopong mu terlebih dahulu," ucap Bram, ia pun mengangkat tubuh Serena untuk masuk kedalam vila terlebih dahulu dan selanjutnya baru ia akan mengangkat barang-barang masuk.


Sedangkan Serena hanya bisa duduk di sofa saja, ia melihat Bram menyangkut barang mereka berdua dengan sendirian. Seharusnya ia membantu suami nya tapi sayangnya ia tidak bisa melakukan hal itu sehingga Serena merasa sangat bersedih karena tidak dapat melakukan apapun.


"Ada apa? Kenapa wajah mu cemberut seperti itu?"


"Maaf ... aku tidak bisa membantu mu dan hanya duduk melihat mu saja ..." ucap Serena dengan nada sedih.


"Ini semua sudah kewajiban seorang Suami untuk meratukan Istri nya."


Serena terdiam tapi didalam hati nya ia merasa sangat bahagia memiliki seorang suami yang begitu tulus menikahi nya. Ia pikir laki-laki itu terpaksa menikahi nya hanya karena ayah nya membantu laki-laki itu keluar dari penjara.


"Apa kau sudah lapar?" tanya Bram.


"Hem, aku sedikit lapar sekarang. Apakah ada makanan?"


"Tunggulah, aku akan memasak."


"Bisakah aku ikut melihat mu?"


"Tentu saja," ucap Bram dengan penuh semangat. Ia pun mendorong kursi roda istri nya menuju ke arah dapur.


Sedangkan Serena sendiri merasa sangat bahagia ketika dibawa ke dapur oleh suami nya karena selama ini ia tidak pernah diijinkan untuk kedapur oleh ayah nya. Terutama tidak ada yang mau mengawasi dirinya padahal Serena sangat ingin melihat pekerjaan yang ada di dapur.


"Mas Bram, biarkan aku saja yang memotong sayur nya."


"Apa tidak apa-apa? Bagaimana jika kamu melukai tangan mu?" tanya Bram yang sedikit khawatir.


"Bisa kok, serahkan saja padaku. Aku akan melakukan nya dengan sangat hati-hati."


Bram bukan bermaksud membuat istri nya berkerja, hanya saja ketika melihat wajah istri nya yang terlihat ingin melakukan nya membuat Bram tidak enak jika menolak nya. Mungkin dengan cara itu Serena bisa merasa bahagia walaupun dengan cara yang sederhana tapi setidaknya tidak membuat wanita bersedih.


"Mas Bram, sayur nya sudah selesai di potong. Aku akan mencucinya."


"Hem, berhati-hatilah," ucap Bram yang tak henti-henti nya memperhatikan Serena melakukan pekerjaan nya.


Bram sangat bahagia ketika melihat istri nya sangat menyukai pekerjaan yang ia buat saat ini. Tidak seperti di rumah istri nya banyak diam tanpa ekspresi dan ini adalah pertama kalinya bagi Bram melihat wajah istri nya yang tidak lagi begitu dingin.


Setelah memasak dengan waktu yang cukup lama, kini masakan yang dibuat oleh Bram dan Serena telah matang. Kedua orang itu pun sama-sama menikmati makan siang dengan penuh romantis. Dulunya Serena sosok wanita yang pendiam, kini menjadi sering berbicara dan itu semua saat kehadiran Bram berada di dalam hidup nya.


"Mas Bram, aku ingin mengatakan sesuatu untuk mu," ucap wanita itu yang baru saja selesai menikmati makan siang nya. Dan entah kenapa ia sangat ingin mengatakan sesuatu hal yang ia sembunyikan selama ini.


"Sesuatu?" tanya Bram sambil menuangkan es segar kedalam gelas milik Serena.


"Hem, sebenarnya ak—"


"Serena, maaf aku tidak sengaja!" ucap Bram yang tak sengaja menumpah kan minuman tersebut ke arah istri nya akibat terkejut mendengar suara tembakan yang begitu nyaring dari luar villa.


Sedangkan Serena yang berniat mengatakan rahasia nya, seketika membatalkan niatnya untuk mengatakannya. Apa lagi ketika mendengar suara tembakan itu, membuat dirinya ketakutan dan bahkan ia juga tidak perduli dengan kemeja yang ia pakai basah akibat minuman yang tumpah.


"Bram, siapa yang melakukan hal itu di sekitar tempat ini?" tanya Serena yang terlihat tidak tenang sama sekali.


"Aku akan memeriksa nya terlebih dahulu, kau tunggulah disini!" ucap Bram.


Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Serena sendirian di dalam rumah. Tapi, ia juga takut jika membawa Serena pergi keluar bersama dengannya. Sehingga ia tidak punya pilihan lain selain pergi sendiri tanpa membawa wanita itu bersama nya. Sebelum pergi keluar, Bram tidak lupa memastikan semua pintu terkunci dengan sangat rapat setelah itu ia pun memutuskan untuk mengecek suara tembakan itu berada di arah mana. Saat pergi keluar, Bram tidak lupa membawa sebuah senjata untuk melindungi diri dari serangan musuh.


Bram melangkah dengan sangat hati-hati, sambil melihat disekitar sekelilingnya untuk memastikan tidak ada bahaya yang mendekati dirinya. Namun, setelah melangkah cukup jauh ia sama sekali tidak melihat satu orang pun dan rasanya Bram merasakan suatu perasaan yang tidak nyaman saat ini, ia pun memutuskan untuk segera kembali ke villa.


"Akh! Sialan!" pekik Bram saat tidak sengaja tersandung batu hingga membuat kedua tangannya terluka. Tapi, saat ia berusaha untuk bangkit berdiri tiba-tiba ia melihat beberapa orang memakai pakaian hitam serta memakai topeng dan Bram segera membungkuk ke tanah kembali supaya orang-orang itu tidak melihat dirinya.


"Apa yang ingin orang-orang itu lakukan?!" gumam Bram, ia begitu penasaran saat melihat orang-orang itu membawa sebuah karung yang terlihat sangat berat dan tiba-tiba salah satu dari keempat orang itu membuka sebuah tumpukan rerumputan yang ternyata itu adalah sebuah terowongan yang tersembunyi.


"Aku harus mengikuti mereka!" gumam Bram saat keempat orang itu sudah masuk kedalam terowongan tersebut. Tapi, ia tiba-tiba teringat dengan istri nya yang saat ini sedang sendirian di dalam villa dan ia pun membatalkan niatnya untuk mengikuti orang-orang itu karena keselamatan istri nya lebih penting ketimbang terlalu penasaran dengan urusan orang yang tak jelas apa yang telah mereka lakukan.


Tiba di depan villa, Bram melihat sebuah pintu terbuka lebar. Padahal sebelum nya ia meminta Serena untuk menguncinya dan bahkan ia juga sudah memperingati Serena untuk tidak membuka pintu sebelum dirinya pulang ke rumah. Bram pun seketika menjadi panik dan ia segera berlari masik kedalam villa.


"Serena!" panggil Bram dengan sedikit nyaring, tapi ia tidak mendengar wanita itu menyahuti panggilan nya. Pikiran Bram semakin tidak karuan, bahkan laki-laki itu berulang kali menahan nafas nya saking merasa takut jika apa yang ia bayangkan benar-benar terjadi.


"Serena, kau harus baik-baik saja!" gumam Bram berusaha untuk tetap berpikir positif.

__ADS_1


__ADS_2