
Sebuah ketukan pintu kembali membuat Ainisha kaget. Pekerjaan sebagai pelakor ini, memang benar-benar sulit untuk dilakukan dan banyak sekali halangan. Dengan hati cemas, Ainisha membuka pintu rumahnya.
Ainisha sangat terkejut ketika mengetahui siapa yang datang.
Dia adalah Haikal. Untung saja, selama Ainisha menempati rumah ini, dia selalu bersikap dan berpenampilan sebagai Alisha.
"Haikal, bagaimana kamu bisa tahu alamat rumahku?" tanya Ainisha kaget.
"Alisha. Kamu tidak menyuruhku masuk?" tanya Haikal.
"Masuklah, dan silahkan duduk," kata Ainisha mencoba bersikap biasa saja.
Ainisha mempersilahkan Haikal duduk walupun Ainisha ingin agar Haikal secepatnya pergi. Karena, setelah nanti mereka melihat foto-foto Resia bersama teman pria, Ainisha yakin, mereka tidak akan membiarkan Haikal menikah dengan Resia.
"Alisha, maaf. Kemarin aku mengikutimu," ucap Haikal merasa bersalah.
Dasar laki-laki penguntit, batin Ainisha kesal.
"Tidak apa-apa. Mau minum apa?" tanya Ainisha.
"Air putih saja, lebih sehat."
Ainisha mengambil air minum untuk Haikal. Dalam hatinya, Ainisha kesal pada Haikal. Kenapa dia mesti tahu alamat rumah ini. Tetapi, semua sudah terlanjut terjadi, jadi Ainisha harus pintar-pintar menjaga rahasianya.
"Ini, silahkan diminum," kata Ainisha sambil tersenyum manis.
"Hmm. Manis," kata Haikal menikmati minumannya.
"Hah, manis? Itu hanya air putih, kok bisa manis?" tanya Ainisha bingung.
"Saat minum, aku melihatmu. Jadi, rasanya berubah manis sepertimu," kaya Haikal merayu.
Hah, siapa yang kamu rayu, aku? Dasar laki-laki penggoda, batin Ainisha.
"Benarkah, aku manis?" ucap Ainisha berpura-pura senang.
Haikal mendekati Ainisha, lalu duduk di dekatnya. Haikal menggenggam tangan Ainisha yang terasa dingin karena ketakutan. Ainisha belum pernah berpacaran, apalagi berpegangan tangan dengan seorang laki-laki.
"Tangan kamu dingin. Kamu sakit?" tanya Haikal cemas.
"Tidak, aku hanya sedikit tidak enak badan," jawab Ainisha bingung, sekenanya saja dia mencari jawaban.
"Jangan-jangan, kamu hamil?" tanya Haikal panik.
"Tidak. Mana mungkin aku hamil. Aku tidak ... pokoknya tidak mungkin," jawab Ainisha ikut panik.
__ADS_1
Mana mungkin aku hamil, kami tidak pernah tidur bersama, batin Ainisha.
"Alisha, kalau hamil kenapa? Kamu tidak suka hamil anakku?" tanya Haikal agak kesal.
Aduh, Haikal mulai kesal karena merasa aku tidak mengharapkan anak darinya, batin Ainisha.
"Bukan. Maksud aku, mana mungkin bisa secepat itu hamil?" jawab Ainisha sambil tersenyum manja.
"Tentu saja bisa. Bukankah kejadian itu, sudah sebulan yang lalu? Alisha, aku akan segera menikahimu. Tidak peduli kamu hamil atau tidak," ucap Haikal tulus.
Haikal memeluk tubuh Ainisha lembut. Ainisha merasakan detak jantung Haikal begitu kencang. Demikian juga dirinya.
Apakah Haikal benar-benar jatuh cinta padaku? Apa yang akan aku lakukan jika Haikal benar-benar ingin menikah denganku? batin Ainisha.
"Alisha, kamu akan menungguku, bukan?" tanya Haikal.
Haikal mencium aroma wangi tubuh Ainisha. Perasaan tenang mulai merasuk kedalam tubuhnya. Haikal tidak ingin melepaskan pelukannya dan ingin terus menikmati aroma tubuh yang membuatnya semakin di mabuk cinta.
"Tergantung, karena jika kamu tidak segera meninggalkan Resia, aku lebih baik pergi dan kamu tidak perlu bersusah payah untuk bertanggungjawab terhadapku. Aku akan menyerah," ancam Ainisha sambil berbisik.
Padahal, jika Haikal tidak berpisah dengan Resia, maka tugas Ainisha belum berakhir. Semoga dengan ancaman ini, Haikal akan secepatnya meninggalkan Resia.
"Alisha, kamu tinggal sendirian di rumah ini, dimana orangtuamu?" tanya Haikal setelah melepaskan pelukannya.
"Mereka sudah meninggal. Aku sebenarnya sangat takut tinggal sendirian di rumah ini. Tetapi, harus bagaimana lagi," jawab Ainisha berbohong untuk yang kesekian kalinya.
"Tanya apa?"
"Pernahkah kamu menolong korban kecelakaan di sekitar Jalan Karyana? Kejadiannya sudah 2 tahun yang lalu," tanya Haikal penuh harap.
Flashback on.
Dua tahun lalu, di Jalan Karyana.
Ainisha dan ayahnya, berboncengan naik sepeda motor. Saat itu jalanan cukup sepi, karena hari sudah mulai larut malam. Jalanan juga sudah mulai gelap. Hanya ada lampu jalan yang remang-remang, menerangi kendaraan yang lewat.
Ainisha dan ayahnya kaget saat melihat sebuah mobil di depannya berjalan tanpa arah. Sepertinya mobil itu kehilangan kendali, atau mungkin remnya blong.
Brakkkk.
Tidak lama kemudian, terdengar suara tabrakan. Mobil itu ternyata menabrak pembatas jalan. Mobil itu berhenti dan mengeluarkan asap. Ainisha dan ayahnya tampak panik melihat hal itu. Tanpa pikir panjang, mereka segera mendekati mobil tersebut. Mereka berharap masih bisa menyelamatkan penumpang mobil itu.
"Ainisha, ternyata hanya ada satu orang di dalam mobil itu. Tapi bagaimana kita bisa membuka pintu mobilnya?" tanya ayahnya.
"Bagaimana kalau kita pake batu saja, Ayah. Atau, tunggu sebentar," jawab Ainisha.
__ADS_1
Ainisha mengambil peralatan bengkel dari dalam jok motornya. Sebuah kunci yang ukurannya tidak terlalu besar, tetapi Ainisha yakin dengan kekuatannya, dia akan mampu memecahkan kaca mobil tersebut.
Beberapa kali pukulan, masih belum ada hasil, hanya menimbulkan retakan pada kaca. Ainisha berhenti sebentar untuk mengumpulkan kekuatannya.
"Bagaimana, bisa tidak?" tanya ayahnya.
"Bentar lagi ayah. Ainisha keluarkan dulu jurus membelah bumi," jawab Ainisha.
Ayahnya hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala. Mana ada jurus membelah bumi. Ada-ada saja, Ainisha ini.
"Jurus membelah bumi ...," teriak Ainisha sambil memukul-mukul kaca mobil dan akhirnya, kaca mobil itupun pecah juga.
Ainisha tampak lemah dan lelah. Sementara sang ayah segera membuka pintu mobil dan mengeluarkan seseorang dalam keadaan setengah sadar. Masih terdengar suara minta tolong dari mulutnya, meskipun tidak jelas terdengar.
Ainisha membantu ayahnya membawa orang itu ke rumah sakit. Ainisha duduk di depan mengendarai sepeda motor. Sedangkan ayahnya mengapit orang itu di belakangnya. Meski dalam keadaan setengah sadar, orang itu bersandar di pundak Ainisha dan masih sempat bergumam di telinga Ainisha. Sebuah ucapan yang hanya pria itu sendiri yang tahu. Tetapi Ainisha tidak mempedulikannya.
Sampai di rumah sakit, mereka segera menyerahkan korban pada petugas medis.
"Kalian keluarga korban?" tanya salah satu petugas.
"Bukan. Kami hanya kebetulan menemukannya di jalan. Tolong selamatkan dia," jawab Ainisha.
"Baiklah. Kami akan berusaha, yang terbaik. Kalian tunggu di luar saja," jawab petugas itu lagi.
Orang itu sudah masuk kedalam ruangan dan segera ditangani dokter.
"Aini, kita tidak memiliki uang. Lagi pula ini korban kecelakaan, ayah tidak mau berurusan dengan polisi," kata ayah Ainisha.
"Kalau begitu, kita tinggalkan saja dia di sini. Sebentar lagi pasti keluarganya akan datang. Ayo ayah, cepat."
Mereka bergegas pulang dan mereka senang karena sejak itu tidak ada yang mencurigai mereka.
Flashback off.
"Alisha, kenapa kamu diam saja," tanya Haikal penasaran.
"Maaf, aku ... tidak pernah menyelamatkan orang. Kamu tahu sendiri, rumahku ini cukup jauh dari sana," jawab Ainisha gugup bercampur kaget.
"Oh, ya sudah. Aku rasa, memang kamu tidak tahu. Bagaimana kondisimu sekarang?"
"Aku baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir," jawab Ainisha.
Haikal pamit pulang setelah memastikan kondisi Ainisha baik-baik saja. Akhirnya, Ainisha bisa bernafas lega setelah lelah berpura-pura.
Ainisha penasaran, ada hubungan apa, antara Haikal dan korban kecelakaan dulu.
__ADS_1
bersambung