Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 8. Mengetahui rahasia


__ADS_3

Sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan gedung perusahaan milik Haikal. Sesuai permintaan Haikal dan Tama, Ainisha siang itu mengirimkan 20 pizza ke perusahaan Haikal untuk makan siang para karyawannya.


Beberapa saat, Ainisha melihat kesana-kemari untuk mencari keberadaan Tama. Akan tetapi, Tama sama sekali belum terlihat. Lalu bagaimana dia bisa masuk membawa semua pesanan ini sendirian?


Setelah agak lama menunggu, Ainisha membawa beberapa bungkus Pizza ke dalam kantor untuk menemui Tama. Baru beberapa langkah, sebuah suara mengejutkannya.


"Ainisha."


"Mas Tama, aku pikir Mas Tama lupa," kata Ainisha bernafas lega.


"Nggak, lah. Ayo aku bantu membawa beberapa, nanti biar aku suruh beberapa karyawan lain untuk membantu membawa ke dalam," ucap Tama sambil membawa beberapa bungkus.


Ainisha tersenyum riang berjalan dibelakang Tama. Di dalam hatinya ada perasaan takut jika nanti dia bertemu Haikal. Dan bagaimana jika Haikal mengenalinya sebagai Alisha?


Mata Ainisha menyapu seluruh ruangan kantor yang sangat luas. Ada banyak karyawan di sana. Tama menyuruh beberapa karyawan membantunya mengambil pesanan yang masih ada di luar. Dengan senyum manisnya, Ainisha membantu Tama membagi-bagikan satu persatu pada para karyawan.


Setelah semua karyawan mendapatkan bagiannya, Ainisha bisa bernafas lega dan berniat untuk meminta bayaran pada Tama.


"Mas Tama, karena semua sudah beres, aku minta bayarannya sekarang agar aku bisa cepat kembali," ucap Ainisha.


"Tunggu sebentar. Aku minta bantuan kamu sebentar, tolong kamu antar satu untuk bos," kata Tama sambil mengangkat panggilan telepon yang sejak tadi berdering.


"Kemana?" tanya Ainisha, tapi Tama sudah terlanjur pergi.


Ainisha bingung, kemana mesti mengantar makanan ini. Mana dia tidak tahu dimana kantor Haikal. Niat mau menghindari, malah sekarang dia harus menemuinya untuk mengantarkan makanan ini.


"Mbak, ruang kerja CEO sebelah mana ya?" tanya Ainisha pada salah satu karyawan disana.


"Lurus saja, terus belok kiri. Nanti ada tulisan ruang CEO."

__ADS_1


"Terimakasih, Mbak," kata Ainisha sambil tersenyum.


Ainisha berjalan pelan dan dengan hati cemas. Di depan ruang CEO, dia berhenti saat mendengar sebuah suara yang sangat dia kenal. Suara Resia dan Haikal sedang berdebat. Ainisha tidak jadi mengetuk pintu dan dia berniat menguping pembicaraan mereka dari luar.


Sementara di dalam ruangan, Haikal tampak emosi saat berbicara dengan Resia.


"Haikal, jika kamu tidak menghentikan hubunganmu dengan wanita itu, aku akan mengadukan apa yang kamu lakukan pada orangtuamu. Dan kamu akan menanggung akibatnya," kata Resia mengancam Haikal.


"Resia, aku tidak menyangka sama sekali, jika ternyata kamu lebih licik dari apa yang aku bayangkan. Dari awal, hubungan kita hanyalah sebuah kesepakatan. Tidak ada cinta diantara kita," ucap Haikal emosi.


"Terus terang saja. Aku sudah jatuh cinta padamu, sejak pandangan pertama. Sangat sulit untuk mendekati kamu. Jalan satu-satunya adalah dengan mendekati Orangtuaku," kata Resia.


"Dengan kata lain, kamu memanfaatkan kebaikan orangtuaku untuk mendekatiku?"


"Benar. Sangat mudah membuat orangtuamu menyukaiku. Dan mereka berharap aku bisa menjadi menantunya. Tapi aku tidak menyangka jika kamu masih tidak menerimaku, bahkan meski dengan paksaan dari orangtuamu," jawab Resia.


"Menikah denganmu. Itu yang aku inginkan. Dengan cinta ataupun tidak. Aku tidak peduli asalkan aku bisa memilikimu," ucap Resia.


"Dasar gila. Kamu wanita yang sangat menakutkan," kata Haikal sinis.


"Tapi dimata orangtuamu, aku adalah gadis paling baik, yang pernah mereka kenal. Akulah yang paling cocok menjadi istrimu," ucap Resia sambil tersenyum licik. "Jika kamu tidak menerimaku menjadi istrimu, maka kamu tidak akan mendapatkan warisan apapun dari mereka."


"Katakan padaku, apakah yang membuat orangtuaku mengancam aku seperti itu, juga karena ulahmu?" tanya Haikal sambil menatap tajam Resia.


Haikal semakin bertambah kesal, karena merasa dibohongi dan dipermainkan oleh Resia. Haikal merasa seperti orang bodoh yang mudah terperangkap oleh wanita licik seperti Resia. Haikal terlalu menganggap Resia sebagai wanita lemah yang tidak akan bisa berbuat jahat.


"Tentu saja benar. Bagaimana aku mengendalikan dirimu jika bukan karena bantuan dari orangtuamu. Sekarang, kamu sudah tahu semuanya, aku tidak akan lagi menutup-nutupi perasaan cintaku ini. Maka kamu harus menerimaku sebagai istrimu atau aku akan membuatmu menjadi gelandangan," ancam Resia.


"Kamu sangat percaya diri sekali, Resia. Selama ini aku diam dan enggan berurusan denganmu, karena aku menganggap kamu adalah wanita yang lemah. Tapi sekarang, karena kamu sudah menunjukan siapa kamu sebenarnya, aku tidak akan segan lagi. Kita lihat siap yang akan memenangkan pertarungan ini. Kamu atau aku," ucap Haikal keras.

__ADS_1


"Oke, kita lihat, apakah kamu bisa melepaskan diri dariku. Aku tidak akan membiarkan kamu bersama wanita ja-lang itu."


"Jangan hina Alisha dengan mulut jahatmu!" bentak Haikal.


"Oh, jadi namanya Alisha. Dan kamu membelanya karena kalian sudah tidur bersama?"


"Diam kamu Resia!"


"Kenapa, takut orang-orang tahu dan kamu akan kehilangan seluruh harta warisanmu tanpa aku turun tangan. Haikal, aku tidak peduli apakah kamu sudah tidur dengan dia. Yang aku mau adalah, aku ingin menjadi istrimu."


"Dasar wanita psiko," gumam Haikal. "Kenapa kamu begitu terobsesi denganku?"


"Karena, tidak pernah ada seorangpun yang bisa menolak pesonaku. Dan kau lelaki pertama yang menolakku. Haikal, aku tidak bisa menerima penghinaan ini. Jadi pikirkan baik-baik apa yang akan kamu putuskan. Selamat siang," ucapan Resia lalu melangkah pergi meniggalkan Haikal yang masih menahan kekesalan pada Resia.


Menyadari Resia segera keluar, Ainisha bergegas berbalik badan dan menyembunyikan wajahnya. Ainisha tidak bisa masuk sekarang, di saat suasana hati Haikal sedang buruk.


"Aini, kenapa belum masuk?" tanya Tama mengejutkannya.


"Aku takut. Tadi sepertinya bos kamu sedang bertengkar dengan seorang wanita. Aku tidak berani masuk," jawab Ainisha.


"Ya sudah, biar aku saja yang membawanya masuk. Ini uang pesanan hari ini. Dan besok, jangan lupa," kata Tama sambil menyerahkan uang pada Ainisha.


"Terima kasih, Mas Tama. Ainisha pergi dulu."


Ainisha bergegas pergi meninggalkan perusahaan Haikal. Tetapi, pikirannya masih tertuju pada pertengkaran Haikal dan Resia. Hubungan diantara keduanya memang terlihat tidak beres dari awal. Dan ternyata itu memang benar.


Setelah mengetahui semuanya, Ainisha berniat membuat Resia buruk dimata keluarga Haikal. Setidaknya Ainisha ingin mencari kesalahan Resia yang bisa membuat Resia berpisah dengan Haikal. Ainisha tidak peduli, jika dia tidak bisa membuat Haikal meninggalkan Resia, maka dia bisa mencari jalan lain. Yang penting, mereka harus berpisah. Dengan begitu tugasnya akan segera berakhir.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2