
"Apa, kamu hamil?" tanya Haikal sambil menatap Ainisha penuh curiga.
"Kenapa ekspresi kamu seperti itu?" Pertanyaan Haikal dijawab oleh Ainisha dengan pertanyaan pula.
Ainisha merasa jika Haikal mencurigai kehadiran bayi dalam kandungannya bukan milik Haikal. Walaupun Ainisha berharap, suaminya akan menepati janjinya untuk saling percaya.
"Ainisha, aku sangat senang mendengarnya. Berarti aku beruntung. Karena jika hari ini aku tidak datang, aku tidak akan tahu jika aku akan memiliki anak lagi," ucap Haikal sambil tersenyum.
Aneh, padahal tadi Haikal terlihat tidak senang, tetapi sekarang, kenapa dalam hitungan detik, bisa secepat itu berubah, batin Ainisha.
Ainisha hanya diam saja menanggapi sikap dan ucapan Haikal. Hatinya masih tidak mengerti dan ingin agar Haikal bisa meyakinkan hatinya bahwa Haikal benar-benar mempercayainya. Ainisha tidak ingin ada keraguan di hati Haikal.
"Ainisha, kamu kenapa diam saja. Aku janji, aku akan menjagamu dan akan selalu ada untuk kamu dan anak-anakku," ucap Haikal berusaha meyakinkan Ainisha yang terlihat ragu-ragu.
"Haikal, jika kamu ingin bertanya, jika di hatimu ada keraguan tanyakan saja padaku sekarang. Karena aku tidak akan memberi kesempatan untukmu bertanya setelah hari ini," ucap Ainisha sambil menatap wajah suaminya yang terlihat serius.
"Aku percaya padamu, Istriku. Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk kesekian kali karena aku meragukan dirimu. Apa yang kamu katakan, aku akan mempercayainya," ucap Haikal.
"Aku ingin kita memiliki satu prinsip yang sama. Kepercayaan itu penting dan menjaga kepercayaan itu lebih penting. Dan kejujuran adalah kuncinya," ucap Ainisha.
"Aku bersedia dan sependapat denganmu. Karena itu hari ini, aku akan jujur padamu tentang suatu hal. Aku masih memiliki suatu ganjalan, tentang keberadaan seorang wanita yang dulu pernah menolongku. Jika tidak ada dia, mungkin hari ini tidak akan ada aku. Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya," kata Haikal panjang lebar.
Ainisha tersenyum manis mendengar kejujuran Haikal. Masih ada satu hal juga yang Ainisha sembunyikan dari Haikal.
__ADS_1
"Hanya ucapan terima kasih?" tanya Ainisha penasaran.
"Tentu saja bukan. Aku akan memberinya apa yang dia inginkan selain cinta dan tubuhku, karena itu sudah menjadi milik kamu," jawab Haikal sambil menatap Ainisha genit.
"Jangan menatap aku seperti itu. Tatapan itu seperti bukan kamu. Genit amat," ucap Ainisha malu.
"Ainisha, aku ingat saat kamu menjadi Alisha dulu, kamu memiliki aroma parfum yang sama dengannya. Parfum itu sangat spesial. Darimana kamu mendapatkan parfum itu?" tanya Haikal penuh selidik.
"Aku pikir, kamu sudah melupakan semua itu. Itu sudah lama banget. Tadinya aku tidak ingin cerita. Tapi, sekarang karena kita berkomitmen untuk jujur, aku akan menjelaskan padamu."
Haikal membenarkan duduknya sambil tetap menggenggam tangan Ainisha, seolah tidak ingin dilepaskan untuk selamanya.
"Parfum itu, sebenarnya hanya parfum biasa saja. Aku memakainya sejak masih SMA. Aku mendapat hadiah ulang tahun dari temanku di kampung, saat dirumah nenekku. Terakhir aku memakainya saat menjadi Alisha," jawab Ainisha panjang lebar.
"Benar, akulah gadis yang kamu cari selama ini. Maafkan aku. Sejak kamu bercerita waktu itu, aku sudah tahu jika orang yang kamu cari adalah aku. Tapi saat itu aku juga ada kesulitanku sendiri. Jadi aku tidak pernah mengatakan padamu," ucap Ainisha sendu.
Haikal terdiam dan hanya menatap Ainisha penuh haru. Tidak terasa airmata Haikal menetes beberapa butir. Ada rasa kebahagiaan di hati Haikal karena ternyata orang yang selama ini dia cari, selalu ada di dekatnya. Selalu menemaninya dan menjadi ibu dari anak-anaknya.
Seandainya orangtuanya tahu, bahwa Ainisha adalah orang yang menolongnya, mereka akan sangat bahagia seperti dirinya. Dan ibunya pasti akan sangat menyesal, telah membenci Ainisha.
"Ainisha ... terima kasih."
Haikal memeluk Ainisha erat. Dia bersyukur, jika orang yang dia cintai adalah orang pernah menyelamatkannya.
__ADS_1
"Seperti janjiku, aku akan mengabulkan permintaanmu. Katakan, apa kamu punya permintaan?" tanya Haikal sambil melepaskan pelukannya.
"Tidak ada. Aku membantumu karena rasa kemanusiaan. Jika aku ingin sesuatu, aku pasti sudah mengungkapkan hal itu saat kamu bertanya dulu. Aku ikhlas, Haikal," jawab Ainisha lembut.
"Ainisha, kenapa aku bodoh sekali. Seharusnya, saat aku mencium aroma wangi parfummu, aku bisa tahu kalau itu kamu," ucap Haikal kembali memeluk istrinya.
Beberapa menit berlalu, Haikal meminta Ainisha untuk beristirahat. Tetapi Ainisha ingin menemani Haikal, yang ingin memasak untuk makan malam. Haikal mempersilahkan Ainisha duduk sambil melihatnya mulai memasak. Haikal ingin ketika semua sudah kembali, makanan sudah siap di meja makan.
Benar saja, saat Baiklah selesai memasak, mereka sudah kembali dari healing. Lebih tepatnya, mereka ingin memberi kesempatan kepada Haikal dan Ainisha untuk berbaikan. Mereka terlihat sangat senang saat Haikal dan Ainisha sudah tampak harmonis kembali. Sementara Tama segera pamit pulang, setelah selesai menunaikan pekerjaannya.
Malamnya, mereka makan malam bersama keluarga kecil mereka. Tampak kebahagiaan terpancar dari seluruh anggota keluarga. Meskipun makan makanan yang sederhana dan tempat tinggal yang sederhana, mereka menikmatinya dengan penuh rasa syukur. Mereka berharap, hari esok akan ada harapan baru untuk mereka lebih maju.
Kamar tidur yang sempit, membuat Haidar tidur bersama kakek dan neneknya. Meski harus memberikan beberapa kata-kata menarik agar Haidar bersedia tidur bersama mereka. Kondisi Ainisha yang sedang hamil muda, membutuhkan tempat yang nyaman untuk bergerak dan takut terjatuh.
Mungkin juga mereka memberi kesempatan kepada Haikal dan Ainisha untuk berduaan karena sudah lama mereka tidak bertemu. Itulah yang saat ini, mereka rasakan. Kesempatan untuk memadu kasih sudah diberikan dan mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Keesokan harinya, Tama datang mengabarkan bahwa rumah yang diminta Haikal sudah siap untuk ditempati. Hal itu membuat Ainisha kaget. Dia tidak menyangka jika Haikal sudah menyiapkan rumah baru untuk mereka tempati.
Haikal juga meminta ayah dan ibu mertuanya untuk ikut pindah bersama mereka. Awalnya mereka menolak karena mereka tidak ingin merepotkan dan mengganggu kehidupan rumah tangga anaknya. Haikal dan Ainisha berusaha meyakinkan mereka.
Mereka menyiapkan semuanya dan segera berangkat menuju rumah baru. Rumah yang cukup besar meski tidak semewah rumahnya yang lama. Ada banyak kamar yang bisa di tempati.
Hari ini mereka membereskan semuanya dan berusaha beradaptasi dengan rumah baru. Haikal kembali mempekerjakan pembantunya yang dulu dan itu membuat Ainisha sangat senang. Suasana rumah ini kembali seperti dulu. Bahkan lebih meriah karena kehadiran ayah dan ibunya. Mereka bisa saling menjaga.
__ADS_1
Ainisha penasaran dengan apa yang terjadi, sehingga meminta penjelasan dari Haikal. Agar Ainisha tidak menerka-nerka apa yang terjadi, Haikal dengan sabar memberinya penjelasan.