
"Kami tidak akan pernah membiarkan kamu membawa Ainisha lagi," ucap Bu Semi.
Tidak hanya Bu Minarsih dan Haikal yang kaget mendengar suara Bu Semi. Tetapi juga Ainisha yang ternyata sejak tadi berpura-pura masih tertidur. Ainisha takut jika ibunya akan terkena serangan jantung.
"Haikal, bagaimana ini bisa terjadi pada Ainisha dan Haidar. Kami sudah memberimu kepercayaan besar, tapi kamu ternyata tidak bisa menjaga mereka dengan baik. Jangan harap ibu akan membiarkan anak ibu satu-satunya hidup menderita," ucap Bu Semi sedih.
Haikal merasa bersalah dan sangat ketakutan. Takut dia tidak akan diizinkan lagi bersama Ainisha dan Haidar.
"Bu Semi, duduklah," ucap Bu Minarsih memberi tempat duduk pada Bu Semi.
"Ibu, tenanglah. Ingat penyakitmu, jangan terlalu dipikirkan. Biar Bapak yang urus," ucap pak Harjo menenangkan istrinya.
"Ayah, Ibu, maafkan Haikal. Semua memang salahku. Aku tidak bisa menjaga kepercayaan kalian. Tapi, Haikal mohon, jangan pisahkan kami. Aku sangat mencintai Ainisha dan Haidar," ucap Haikal memohon pada kedua mertuanya.
"Haikal, kami bukan ingin memisahkan kalian. Kami hanya ingin, kamu bersikap lebih bertanggungjawab. Untuk sementara, kalian berpisah dulu. Biarkan Ainisha dan Haidar tinggal bersama kami," ucap pak Harjo jelas dan tegas.
"Tapi ...," ucap Haikal terhenti.
"Haikal, cukup. Instrospeksi dirimu dahulu. Kamu bisa pulang ke rumah orangtuamu. Biarkan Ainisha dan Haidar kami yang urus," ucapan Bu Minarsih bagai pisau yang menyayat hati Haikal.
"Haikal akan pergi setelah memberitahu Ainisha," ucap Haikal masih ingin menunggu Ainisha dan Haidar bangun.
"Tidak perlu. Nanti kami yang akan memberitahu Ainisha. Pergilah sekarang juga!" ucap Bu Semi yang tidak bisa lagi ditentang oleh Haikal.
Haikal pergi tanpa mengucap sepatah katapun pada Ainisha. Hatinya hancur mendapatkan penolakan dari keluarga Ainisha. Ini memang salah dia yang tidak bisa menjaga Ainisha dan Haidar dengan baik. Tetapi hukuman ini terlalu berat untuk dia.
Sementara Ainisha hanya bisa meneteskan airmata. Karena memang benar, meskipun dia sudah memaafkan Haikal, tetapi rasa sakit itu menyisakan luka dihatinya. Lagipula, Ainisha tidak ingin membuat orangtuanya sedih dan khawatir dengan keadaannya saat ini. Dan jika Haikal memang mencintainya, dia pasti akan berusaha mendapatkan kepercayaan dari orangtuanya kembali.
Beberapa hari kemudian, Ainisha sudah diizinkan pulang. Ainisha kini tinggal di rumah orang tuanya bersama Haidar.
Saat Bu Minarsih berkunjung, Beliau menceritakan tentang Resia yang ikut berperan sebagai penyelamat Ainisha. Ainisha bingung karena waktu itu Resia hanya peduli dengan hartanya saja.
"Sebenarnya, semua itu hanya sandiwara saja. Resia sudah taubat. Ibu tidak akan memaksamu untuk memaafkan dia," ucap Bu Minarsih sambil memangku Haidar.
__ADS_1
"Ainisha, bukan orang pendendam. Jika dia memang bersungguh-sungguh, Ainisha akan memaafkan dia. Lagipula ibu bilang dia juga memiliki andil dalam menyelamatkan. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih padanya," ucap Ainisha sambil tersenyum.
"Syukurlah, kamu bersedia memaafkan dia. Saat ini dia sedang sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Setelah mendengar kamu memaafkannya, dia pasti akan bahagia," ucap Bu Minarsih.
"Sakit apa?"
"Dia didiagnosa kanker otak. Temuilah sekali saja, untuk memberi semangat pada dia," jawab Bu Minarsih sedih.
"Baik, kapanpun ibu mengajakku, aku siap. Karena aku tidak bisa pergi sendiri," ucap Ainisha.
"Kenapa?" tanya Bu Minarsih kaget.
"Ainisha hamil," jawab Ainisha singkat.
"Ha--hamil? Ainisha, kenapa kamu tidak bilang dari kemarin. Ini semua salah kami. Kami membuat kamu berpisah dengan suamimu. Tujuan kami hanya ingin membuat Haikal menyadari jika kamu dan Haidar memiliki arti penting dalam hidup dia. Biar dia tidak menyia-nyiakan kalian," Bu Minarsih merasa bersalah. "Apa orangtuamu sudah tahu?"
"Sudah. Mereka juga sudah menjelaskan. Tidak apa-apa. Biarkan, jika memang dia jodohku, pasti dia akan datang pada kami," ucap Ainisha sambil tersenyum kecil.
Sorenya, Ainisha pergi menemui Resia bersama Bu Minarsih di rumah sakit. Ainisha merasa sedih melihat kondisi Resia yang terbaring lemah. Ainisha sampai meneteskan airmata saat melihatnya.
Terlihat, selang infus dan banyak selang yang terhubung dengan tubuhnya. Ada juga selang oksigen menutupi hidungnya sehingga dia tidak bisa berbicara. Ainisha menyentuh lembut tangan Resia dan Resia bereaksi dengan membuka matanya. Sorot mata yang sayu dan sebutir air menetes dari sudut matanya.
"Aku tahu, apa yang ingin kamu katakan. Aku memaafkan kamu Resia. Aku juga mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membantuku beban dari John. Cepatlah sembuh, agar kita bisa menjadi teman," ucap Ainisha sambil terisak.
Ainisha melihat air bening itu menetes semakin deras. Ainisha lalu mengusapnya dengan tisu yang ada didekatnya.
Ainisha akhirnya pamit, setelah Bu Minarsih masuk. Bu Minarsih meminta Ainisha menunggu diluar sebelum mereka pulang. Sepertinya ada hal yang ingin dikatakan Resia pada Bu Minarsih.
Sepanjang perjalanan pulang, Ainisha terus menangis. Airmatanya seolah tidak ingin berhenti.
"Ainisha, ingatlah kamu sedang hamil. Jangan sampai mempengaruhi kondisi bayimu," ucap Bu Minarsih saat Ainisha akan turun.
"Iya, Bu. Ainisha harus tegar, tidak boleh cengeng lagi. Sudah mau anak dua," jawab Ainisha sambil tersenyum dan mengusap airmatanya.
__ADS_1
"Ibu langsung pulang saja, ya?"
"Silahkan Bu. Hati-hati di jalan."
Ainisha masuk setelah mobil Bu Minarsih tidak terlihat lagi. Dia segera masuk dan mendapati Haikal sedang duduk di ruang tamu. Ainisha agak kaget juga karena Haikal berani datang.
"Haikal, kapan datang?" tanya Ainisha sambil duduk.
"Aku, kangen. Jadi aku memberanikan diri datang. Aku sudah siap dimarahi atau diusir," jawab Haikal sambil tersenyum.
"Apa itu?" tanya Ainisha saat melihat banyak barang di dalam rumah.
"Pakaian kita. Satu koper pakaianku, satu milik Haidar dan yang lainnya milik kamu," jawab Haikal.
"Tapi, kenapa ada pakaianmu juga?"
"Hemm, aku akan tinggal di sini. Dimana istriku tinggal, maka aku akan tinggal di sana juga," jawab Haikal santai.
"Tidak takut diusir? Mereka dimana?" tanya Ainisha sambil melihat ke seluruh ruangan.
"Cari siapa, ayah dan ibumu? Mereka pergi ke Mall bersama Tama."
"Ada kak Tama juga?"
"Ainisha, mereka sudah menerima dan memaafkan aku. Sekarang, aku ingin meminta maaf sekali lagi. Maafkan aku atas apa yang aku lakukan. Aku sudah pernah berjanji, tapi aku mengingkarinya lagi," ucap Haikal merasa bersalah.
"Aku, aku tahu. Sebenarnya semua itu karena kamu cemburu. Asalkan kamu tidak selingkuh, harusnya aku bisa menerima permintaan maafmu."
"Aku nggak pernah selingkuh. Aku percaya kamu juga tidak akan selingkuh. Karena aku ingin belajar saling percaya," ucap Haikal sambil menggenggam tangan Ainisha.
Ainisha tersenyum malu-malu, seperti anak ABG yang baru jatuh cinta.
"Haikal, aku hamil," ucap Ainisha pelan tapi cukup membuat Haikal mematung.
__ADS_1