Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 45. Tidak jadi lamaran


__ADS_3

Acara lamaran untuk Ainisha, mulai dipersiapkan di rumah orangtua Ainisha. Bu Minarsih sebenarnya ingin sekali, acara lamaran Ainisha ada di rumahnya. Tetapi, Bu Minarsih menyadari bahwa yang lebih berhak atas Ainisha adalah orangtua kandungnya.


Ainisha terlihat sangat bahagia sepanjang hari, sambil menunggu malam tiba. Berbagai hidangan sudah dipersiapkan sejak sore hari. Semua persiapan telah selesai dengan baik ketika menjelang malam.


Ainisha mulai berdandan ketika malam tiba untuk menyambut tamu. Sebenarnya, Ainisha merasa heran. Malam ini hanya sekedar lamaran, tapi persiapannya seperti akan ada pesta makan. Tidak perlu berhias, juga tidak perlu masak makanan yang begitu banyak.


Sementara, semua orang tampak gelisah, ketika keluarga Haikal belum juga datang. Begitu juga dengan Ainisha. Biasanya Haikal tidak pernah terlambat. Apalagi ini acara lamaran. Acara yang penting untuk mereka berdua.


Perasaan Ainisha menjadi tidak menentu. Untuk menenangkan hatinya, Ainisha mencari Haidar dan bermain dengannya. Tawa Haidar membuat Ainisha sedikit bisa melupakan kegalauan hatinya saat ini.


Tiba-tiba, terdengar suara teriakan dari beberapa orang, yang mengatakan bahwa pengantin pria telah datang. Ainisha hanya tersenyum saja mendengar teriakkan itu.


Mana ada pengantin, ini hanya acara lamaran, batin Ainisha.


Kedatangan keluarga Haikal, menjadi hal terindah yang pernah Ainisha rasakan. Sebuah lamaran yang dihadiri oleh semua orang yang dia sayangi. Kedua orangtuanya dan saudara-saudara jauhnya semua ada disini. Benar-benar merasa bahagia sebagai seorang wanita yang akan menerima lamaran pria yang di cintainya.


Ainisha teringat, bagaimana dulu dia menikah dengan Haikal tampak kehadiran keluarganya. Sedih dan merasa bersalah pada orangtuanya. Karena saat itu, dia masih berbohong tentang identitasnya.


"Ainisha, cepat keluar. Semua orang sudah menunggumu," panggil ibunya.


"Iya, Bu," jawab Ainisha. "Mbak Sisi, tolong bawa Haidar."


"Baik, Bu," jawab Sisi lalu menggendong Haidar mengikuti langkah majikannya.


Ainisha merasa gugup dan tegang, padahal mereka sudah pernah bertemu dengan semua yang datang. Ainisha berjalan perlahan menuju ke halaman yang sudah di dekor sedemikian rupa sehingga terlihat sangat indah.


Ainisha menghentikan langkahnya, saat melihat Haikal duduk di kursi yang sudah dipersiapkan. Di hadapan Haikal, ada dua orang yang sedang berbicara dengan orangtua Haikal dan hal itu tampak mencurigakan bagi Ainisha.


"Ainisha, calon suamimu sudah menunggu. Jangan terlalu lama bengong-nya," ucap tante Asih sambil menggoda Ainisha.


Ainisha tersenyum malu. Padahal, Haikal memang suaminya. Tetapi, perasaan seperti itu masih Ainisha rasakan saat ini. Berasa mau jadi pengantin baru.


Ainisha duduk disamping Haikal dan semua orang berkumpul untuk melihat prosesnya. Kerudung berwarna putih, dipakaikan diatas kepala Ainisha dan Haikal. Ainisha sempat panik dan kaget dengan semua ini. Tetapi, dengan mesra Haikal berbisik ditelinganya.


"Aku tidak sabar, ingin segera memberikan adik untuk Haidar. Jadi nikmati saja, prosesnya," bisik Haikal disambut wajah merah Ainisha yang tertunduk malu.


Ainisha tidak menyangka, jika acara lamaran akan berubah menjadi acara pernikahan. Mungkin saja, semua orang sudah mengetahuinya kecuali dirinya. Benar-benar kejutan untuk Ainisha.


Acara pernikahan dimulai dengan khidmat. Haikal dengan lancar mengucapkan ijab kabul, yang diucapkannya untuk yang kedua kalinya, setelah pernikahan mereka dulu.

__ADS_1


"Sah."


"Sah ...."


Doa pernikahan telah di bacakan oleh pak penghulu diikuti kata 'aamiin' dari semua yang ada disana. Semua menarik napas lega, setelah prosesi pernikahan sederhana yang Ainisha dan Haikal laksanakan berhasil dengan baik.


Acara makan bersama segera dilaksanakan. Semua orang tampak begitu gembira dan menikmati berbagai macam masakan yang sudah disediakan. Ainisha sebenarnya juga lapar, karena dia tidak makan sejak tadi siang. Takutnya, pakaian yang dia pakai tidak akan muat. Tetapi, suara cacing diperutnya tidak bisa berbohong.


"Ainisha, mau makan apa?" tanya Haikal saat tahu istrinya sedang lapar.


"Apa saja," jawab Ainisha singkat.


Haikal segera mengambil piring untuk mengambil makanan. Beberapa pasang mata memperhatikan Haikal dengan senyuman.


"Ambil makanan yang banyak, biar nanti tenaganya kuat," ucap suami Tante Asih menggoda Haikal.


Haikal hanya tersenyum mendengar ucapan om Giri yang sengaja memprovokasinya. Kalau Haikal menjawab, pasti om Giri akan terus menggodanya. Haikal mengambil nasi dan ayam goreng.


Dengan santai, Haikal membawa makanan ke Ainisha yang duduk di kursi tamu. Ainisha tersenyum melihat Haikal sangat perhatian padanya. Haikal memang pria yang dingin dihadapan orang lain, tetapi dia begitu hangat bila bersamanya.


Haikal menyuapi Ainisha meskipun Ainisha berusaha menolak. Haikal tetap memaksa dengan lembut dan sedikit mengancam.


Jika sudah begitu, mana bisa menolak. Hal itu membuat Haikal tersenyum penuh kemenangan.


"Haikal," panggil ibunya sambil menahan kekesalan.


"Ibu, ada apa? Kenapa Ibu terlihat kesal?" tanya Haikal kaget.


"Haikal, kamu ini. Kenapa tidak bilang dari awal, kalau kalian sudah memiliki anak?"


"Maaf, Haikal hanya ingin memberi ayah dan ibu kejutan. Tapi aku lupa memberitahu kalian, karena Ainisha lapar," jawab Haikal sambil tersenyum.


Ainisha memukul bahu Haikal karena dirinya dijadikan alasan.


"Kamu memang sudah memberi kejutan pada kami. Tapi, sudahlah. Percuma kesal sama kamu, mendingan Ibu main sama Haidar saja," ucap Bu Kartika berbalik badan untuk bermain dengan Haidar.


Haikal dan Ainisha tersenyum melihat sikap ibunya. Betapa bahagianya orangtua Haikal saat mereka tahu, mereka sudah memiliki cucu. Kebahagiaan ganda yang mereka rasakan, adalah anugerah Allah yang paling indah.


Selesai acara makan-makan, beberapa saudara pulang kerumah masing-masing. Kini hanya tinggal keluarga inti saja. Orangtua Haikal, orangtua Ainisha dan Bu Minarsih. Mereka mengadakan rapat singkat untuk pasangan pengantin baru.

__ADS_1


"Kami sudah menyiapkan tiket bulan madu ke Bali," kata Bu Kartika.


"Gimana, Ainisha? Kamu tinggal berangkat saja," ucap Bu Minarsih.


"Aku ... mending nggak perlu bulan madu. Gimana Haidar? Kalau aku pergi, Haidar juga harus ikut," jawab Ainisha.


"Kayak dirumah tidak ada orang saja. Bahkan ada pengasuh, kamu nggak perlu khawatir," ucap bu Semi ikut membujuk Ainisha.


"Haikal, gimana?" tanya ibunya.


Haikal harus turun tangan membujuk Ainisha, agar bersedia bulan madu ke Bali. Bagi Haikal, bulan madu atau tidak, tidak akan ada bedanya. Asalkan, bisa bersama Ainisha, itu sudah cukup. Tetapi, tentu saja bulan madu ini, tidak boleh dilewatkan.


Setelah sekian lama berpisah dengan Ainisha, ada kesempatan hanya berdua. Tanpa takut ada pengganggu, seperti John atau yang lainnya. Betapa indahnya, bila bisa mendekap Ainisha beberapa hari dikamar.


"Sayang, terima saja hadiah dari ayah dan ibu. Kasihan, mereka sudah susah payah membeli tiket dan menyiapkan penginapan untuk kita. Lihat, wajah mereka tampak mending," ucap Haikal berusaha membujuk Ainisha.


Semoga saja berhasil membujuk Ainisha pergi bulan madu dan pulang membawa kabar baik.


Bersambung


Terima kasih yang sudah mengikuti kisah ini hingga sini.


Sambil menunggu up selanjutnya, yuk baca karya Author yang lain.


Cinta dan Pengkhianatan.


Kisah dengan konflik ringan. Seorang guru TK yang di khianati tunangannya karena cinta jarak jauh karena pekerjaan.


Akankah pria seperti itu di pertahankan ataukah akan memilih pria lain yang lebih baik?


"Vera, apakah kamu tidak mau kembali padaku karena;;; pria ini?" tanya Rendra sambil melihat Damian yang sejak tadi hanya diam.


"Jangan libatkan orang lain dalam urusan kita. Ini tidak ada hubungannya dengan dia,";


"Lalu apa urusannya dia disini?" tanya Rendra tidak percaya.


"Dia ...," ucap Vera bingung.


"Aku sedang mengejarnya. Kebetulan kalian sudah putus. Jadi aku tidak akan sungkan lagi," jawab Damian yang membuat mata Vera melotot.

__ADS_1


"Apa, kamu sedang mengejarnya? Jangan harap kamu bisa mendapatkannya. Meskipun saat ini, Vera sedang marah padaku, aku akan pastikan rencana pernikahan kami akan tetap terjadi. Jadi, mundur saja dari pada kamu akan kecewa nantinya," ucap Rendra marah mendengar ada pria lain yang akan mendekati Vera.


__ADS_2