
Malam udah menunjukan pukul 9 malam. Sambil menunggu kedatangan Haikal, Ainisha bersandar di kursi hingga tertidur karena kelelahan. Suasana malam yang cukup dingin membuatnya sedikit menggigil. Meski begitu, Ainisha masih sempat bermimpi.
Dia berlari mengejar pencuri yang berlari setelah mengambil sebuah ponsel dari seorang wanita yang sedang bermain ponsel di jalan. Dengan susah payah, akhirnya dia berhasil mengejar pencuri tersebut.
Pencuri itu melawan sehingga Ainisha dan pencuri itu berkelahi. Ainisha sedikit banyak pernah belajar seni bela diri, sehingga dengan mudah Ainisha bisa membuat pencuri itu terjatuh. Pencuri itu memohon ampun lalu memberikan ponsel hasil curian padanya. Saat Ainisha berbalik, seseorang memegang bahunya. Tanpa pikir panjang dan secara reflek, Ainisha menampar sekenanya karena menganggap orang itu adalah pencuri tadi.
"Aduh ...."
Karena merasa tangannya sakit, Ainisha terbangun dari tidurnya. Rupanya tadi dia bermimpi. Tetapi saat menampar, dia merasa seperti sungguhan. Dan benar saja, di depannya, terlihat Haikal dengan wajah menahan amarah sambil memegangi wajahnya yang merah bekas tamparan Ainisha.
"Maaf, pak Haikal. Saya tidak sengaja. Saya kira tadi pencuri ponsel yang ada dalam mimpi saya," ucap Ainisha sambil mengulurkan tangannya.
"Sudah, sebaiknya kita pergi sekarang. Sebelum semakin malam," ucap Haikal.
"Baik. Silahkan," ucap Ainisha agak kesal karena Haikal sangat sombong dan tidak ingin menjabat tangannya.
Ainisha mengikuti langkah Haikal menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah sakit. Tidak kata-kata yang terucap selama dalam perjalanan. Ainisha hanya bisa berdoa, semoga dia bisa menjalani pekerjaan ini dengan baik tanpa ketahuan oleh ibunya Haikal maupun oleh Haikal sendiri.
Sampailah mereka di rumah Haikal. Ainisha masih enggan untuk turun dari mobil. Ada keraguan yang merasuki hatinya dan ingin membuatnya lari dari tempat ini. Haikal turun dan melangkah menuju teras rumahnya.
"Kamu ... kemana dia," ucap Haikal kesal karena ternyata dia bicara sendiri.
Haikal berbalik badan dan kembali menuju ke mobilnya. Disana, Ainisha masih duduk terdiam.
__ADS_1
"Hei, kenapa masih di dalam mobil. Cepatlah keluar atau mau aku gendong?" tanya Haikal sambil mengancam.
"Baik-baik, aku segera keluar," jawab Ainisha gugup.
Ainisha segera keluar dari mobil dan mengikuti langkah Haikal sambil menunduk. Tak ayal, saat Haikal berhenti, Ainisha menabrak punggung Haikal. Haikal hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Ainisha yang sangat jauh berbeda dengan Alisha, istrinya. Memang wajah serupa tapi kelakuan berbeda.
"Aini, jalannya pake mata. Jangan pake dengkul. Kayaknya, aku mencium bau-bau kambing. Padahal disini tidak ada kambing," ucap Haikal penuh ejekan.
Ainisha mencium bau badannya sendiri yang memang seperti bau kambing. Dia ingat kalau dari pagi, dia tidak sempat mandi. Ainisha hanya tersenyum malu karena Haikal pasti menyindir dirinya.
"Maaf, saya lupa mandi," ucap Ainisha.
Haikal tidak mendengarkan ucapan Ainisha. Di bergegas membuka pintu lalu berjalan menuju ke kamarnya. Ainisha berjalan perlahan dan mengingat saat-saat bersama Haikal di rumah ini. Bagaimana Ainisha yang saat itu menjadi Alisha, diberikan kasih sayang dan cinta yang sangat banyak dan berlebih. Baik oleh Haikal, maupun oleh ibunya.
"Aku akan bicara padamu setelah kamu mandi. Kamu mandi dikamar ini saja. Pakaian istriku ada di dalam lemari. Kamu bisa pake yang kamu sukai. Asal jangan pake pakaian tidur yang berwarna merah. Aku akan mandi di kamar mandi yang ada dibawah. Setelah itu, tunggu aku. Jangan tidur dulu. Kita akan bicara pekerjaan yang akan kamu lakukan mulai besok." Haikal menjelaskan dengan panjang lebar.
"Baik," jawab Ainisha.
Haikal mengambil handuk dan menyiapkan pakaian ganti untuknya. Dia segera keluar untuk memberi kesempatan Ainisha mandi dan berganti pakaian.
Setelah Haikal keluar, Ainisha segera menuju kamar mandi karena badannya sudah mulai tidak nyaman. Ainisha yang sudah pernah tinggal dikamar ini, tidak merasakan rasa canggung sama sekali menggunakan kamar mandi di kamar Haikal.
Selesai mandi, Ainisha menggunakan handuk yang biasa dipake Alisha. Tanpa dia sadari, kebiasaan Alisha dirumah ini, malah Ainisha lakukan. Ainisha mengamati pakaian yang tertata rapi di lemari.
__ADS_1
Matanya tertuju pada pakaian tidur warna merah yang dibelikan Haikal untuk Alisha. Pakaian yang menurut Ainisha terlalu seksi. Tetapi bagi Haikal, pakaian itu sangat cocok untuk Alisha. Ainisha meraih pakaian tidur piyama panjang yang dirasa cocok untuknya tidur malam ini.
Ainisha mulai menguap dan diserang rasa kantuk saat Ainisha berganti pakaian. Makanya setelah berganti pakaian, dia langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Harapannya, dia tidak akan tertidur sampai Haikal datang untuk membicarakan persiapan kedatangan ibunya, ibu Kartika.
Beberapa saat kemudian, Haikal datang. Haikal yang sudah mandi dan berganti pakaian santai, masuk ke dalam kamarnya untuk memberikan arahan pada Ainisha. Sayangnya, Ainisha sudah terlelap dalam mimpinya.
Haikal berniat membangunkan Ainisha. Akan tetapi, ketika dia melihat wajah Ainisha, diurungkan niatnya. Haikal membenarkan posisi tidur Ainisha. Haikal juga menyelimuti Ainisha agar tidak kedinginan.
Haikal duduk di samping tubuh Ainisha dan memandangi wajah sederhana tetapi terlihat sangat cantik. Haikal tersenyum, yang kemudian membuatnya menyadari bahwa dirinya sudah menikah. Dan di depannya ini bukan Alisha tapi Ainisha. Haikal menarik napas panjang.
Haikal lalu berdiri dan mengambil selimut dari dalam lemarinya. Dia akan tidur di sofa untuk membuat Ainisha tidak merasa canggung. Karena bagaimanapun, Ainisha bukan Alisha. Padahal, malam ini Haikal akan memberitahu apa-apa yang harus dipelajari oleh Ainisha sebelum ibunya datang.
Haikal berharap, ibunya tidak akan datang lebih awal dari yang diperkirakan. Sehingga Haikal bisa mempersiapkan Ainisha sebagai Alisha. Sebelum tidur, Haikal mempersiapkan sebuah surat perjanjian yang akan mereka tandatangani sebagai sebuah kesepakatan. Setelah itu Haikal tertidur di sofa.
Malam sudah semakin larut. Ainisha terbangun saat perutnya terasa perih. Ainisha ingat, kalau dia belum makan sejak siang hari. Perlahan-lahan, dia membuka selimut lalu turun dari ranjang. Dia berjalan pelan-pelan karena takut Haikal akan terbangun. Ainisha berjalan menuju ke dapur.
Dia berusaha mencari sesuatu yang bisa di makan. Tetapi ternyata tidak ada apa-apa. Ainisha terduduk lemas di meja makan. Tiba-tiba perutnya terasa sakit dan mual. Rasanya mau muntah.
Ainisha berlari ke kamar dan langsung menuju ke kamar mandi. Dia berasa ingin muntah tetapi tidak ada yang bisa dimuntahkan karena dia belum makan.
Haikal terbangun saat mendengar suara orang muntah-muntah di dalam kamar mandi. Haikal khawatir karena Ainisha tidak ada di tempat tidur.
Apakah Ainisha masuk angin, bukankah tadi sudah aku selimuti dengan selimut tebal? batin Haikal.
__ADS_1