
Ainisha tidak pernah menyerah dengan keputusannya membantu ekonomi keluarganya. Dia tetap konsisten menjalani hari-harinya tanpa ada keluhan. Bahkan, Ainisha cenderung menikmati apa yang saat ini dia lakukan.
Sampai akhirnya, Haikal yang menyerah dan kini dia memutuskan untuk menerima tawaran sang ayah. Dengan begitu, Ainisha tidak perlu bekerja keras lagi. Haikal menyerah karena tidak tahan melihat Ainisha harus kecapekan setiap hari.
Haikal memberitahukan keputusannya pada Ainisha saat mereka rebahan di kamar. Saat itu, Ainisha sedang meninabobokan Raihan. Ainisha agak terkejut dengan keputusannya yang bertolak belakang dengan diri Haikal yang keras kepala.
"Mas, apa kamu tidak bercanda? Bukannya kamu sudah menolak keinginan ayah?" tanya Ainisha.
"Aku tidak menolak, hanya bilang kalau itu pilihan terakhir. Aku memang tidak boleh keras kepala. Dulu aku hidup sendirian, tidak ada tanggungjawab keluarga. Jadi aku bisa berbuat sesukaku, termasuk menolak semua bantuan. Aku ingin menunjukan pada mereka, jika aku bisa sukses tanpa mereka. Kini, ada kamu dan Haidar, aku tentu tidak boleh egois hanya memikirkan egoku sendiri," jawab Haikal sambil menatap wajah Ainisha.
"Tapi, itu berarti kita harus pindah dari kota ini?"
"Tentu saja. Untuk sementara, kita akan tinggal di rumah orangtuaku. Setelah ada rezeki, aku pastikan, kita akan membeli rumah sendiri," jawab Haikal berusaha meyakinkan Ainisha.
"Bukan masalah itu yang Ainisha pikirkan. Aku percaya jika Mas Haikal akan bertanggungjawab padaku dan Haidar. Tapi, bagaimana dengan orangtuaku? Mereka hanya memiliki aku, dan ibu juga memiliki sedang berpenyakit. Rasanya, aku tidak tega, harus meninggalkan mereka," ucap Ainisha sedih.
"Aku tahu, tapi jika tetap di sini, aku akan menjadi suami yang tidak bertanggung jawab. Membiarkan kamu bekerja, sementara aku hanya berdiam di rumah," ucap Haikal dengan suara bergetar.
"Tapi, aku tidak pernah berpikir begitu, Mas. Aku hanya ingin membantu saja, dan aku menganggapnya sebagai ibadah," ucap Ainisha lembut.
"Meskipun begitu, aku tetap tidak bisa membiarkan istriku kesusahan," ucap Haikal menekankan ucapannya.
"Aku nggak merasa susah, Mas. Kenapa kamu bilang seperti itu. Itu, kamu seperti sedang menuduhku," ucap Ainisha mulai kesal.
"Aku tidak sedang menuduh kamu. Kenapa kamu sensitif sekali?" tanya Haikal dengan nada agak tinggi.
Ainisha menatap tajam suaminya. Jika pembicaraan ini diteruskan, pasti akan terjadi pertengkaran. Ainisha memilih diam dan berpura-pura tidur. Ainisha berharap, esok hari, sikap Haikal akan kembali seperti dulu.
__ADS_1
Esok harinya, Ainisha sudah selesai membereskan semuanya. Termasuk membuat sarapan. Ainisha selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama suaminya. Tetapi, ternyata lagi ini menjadi pertengkaran pertama bagi mereka.
"Ainisha, kamu tidak perlu pergi bekerja lagi. Aku sudah menghubungi Bu Minarsih bahwa mulai hari ini, kamu berhenti bekerja," kata Haikal setelah mereka selesai sarapan.
"Mas, kenapa kamu sekarang sangat posesif. Kamu memutuskan tanpa bicara dulu denganku. Kamu sama sekali tidak peduli perasaanku," ucap Ainisha penuh emosi.
"Ainisha. Bukankah semalam aku sudah memberitahu kamu, bahwa kamu tidak perlu bekerja lagi. Aku yang akan bertanggung jawab atas hidup kamu dan Haidar," ucap Haikal agak keras membayar Ainisha semakin kesal.
"Mas, kenapa Mas Haikal masih terus keras kepala. Aku hanya ingin membantu, tapi kamu terlalu berpikir negatif tentangku. Tapi, baiklah, aku tidak akan bekerja seperti apa yang kamu inginkan!" Ainisha langsung berjalan menuju kekamarnya dan berganti pakaian.
Ainisha lalu mengajak Haidar bermain tanpa peduli pada kehadiran Haikal. Meskipun Haikal berusaha mendekati mereka, tetap saja Ainisha berusaha menghindar dan tidak menganggap Haikal meski ada didekatnya. Hati Ainisha masih kesal karena pertengkaran tadi, saat di meja makan.
Seharian ini, Ainisha masih melakukan aktivitas seperti biasa, meski tanpa kata. Ainisha sama sekali tidak menjawab, ketika Haikal bertanya dan mengajaknya bicara. Haikal dianggapnya angin lalu, hingga Haikal merasa bersalah setelah seharian penuh, Ainisha tidak peduli padanya.
Haikal tidak berani mengeluh pada siapapun tentang keadaan rumah tangganya kali ini. Haikal takut, jika Ainisha akan lebih marah lagi jika ada yang tahu tentang pertengkaran mereka yang selama ini tidak pernah terjadi.
"Ainisha, maafkan aku. Aku mengaku salah," ucap Haikal saat mereka bersiap tidur.
Ainisha masih diam sambil menatap Haidar. perasaannya saat ini sedang kacau. Pikirannya jauh menerawang. Kenapa dia harus bertengkar dengan Haikal dan berakhir seperti ini?
"Ainisha, kamu sudah mendiamkan aku sejak pagi. Sekarang aku sudah meminta maaf, kenapa kamu masih tetap diam?" tanya Haikal yang semakin sedih melihat keadaan rumah tangganya jadi seperti ini.
Ainisha masih saja terbawa lamunannya dan tidak mendengar ucapan Haikal meski yang sudah diulang beberapa kali. Namun, sungguh diluar dugaan, Haikal memeluknya erat dan menciuminya berkali-kali. Ainisha sangat kaget dan dia berusaha berontak. Sayangnya, usahanya gagal karena tenaga Haikal begitu kuat.
Ainisha akhirnya pasrah saja, dengan perlakuan Haikal padanya. Sampai Haikal membisikan sesuatu ke telinganya.
"Ini hukuman karena kamu sudah mengabaikan aku, selama seharian ini. Juga karena kamu tidak mau menerima permintaan maafku. Padahal aku sudah tulus melakukannya," ucap Haikal lembut.
__ADS_1
"Benarkah Mas Haikal tadi, meminta maaf padaku? Kenapa aku sama sekali tidak mendengarnya?" tanya Ainisha kaget.
"Ainisha, aku sudah berbicara berulang kali, ternyata kamu tidak mendengarkan ucapanku? Kamu ... Membuat hatiku hancur," ucap Haikal mengendorkan pelukannya.
"Maaf, Mas. Aku benar-benar tidak mendengar karena ... tadi sedang melamun," jawab Ainisha penuh penyesalan.
Ainisha tidak ingin, pertengkaran mereka akan terus berlanjut. Tetapi, saat Haikal meminta maaf, dia malah tidak mendengar. Ainisha takut jika hal ini akan membuat Haikal marah padanya.
Ainisha langsung berbalik memeluk Haikal dengan erat. Ainisha lalu membisikkan sesuatu di telinga suaminya yang sedang menahan senyum.
"Mas, aku minta maaf. Maafin, ya?"
Tetapi, Haikal sama sekali tidak menjawab bisikan Ainisha. Ainisha yang merasa didiamkan, langsung mendorong tubuh suaminya ke atas kasur. Dengan kekuatan yang Ainisha miliki, dia mencoba menekan kedua tangan Haikal hingga terlentang dan dia menindih tubuh suaminya.
Ainisha tidak peduli, saat melihat Haikal kaget dengan ulahnya dan kelakuannya yang agak bar-bar terhadap dirinya. Ditatapnya wajah Haikal dengan tajam dan dengan raut wajah penuh kemarahan. Ainisha menikmati permainan ini dan berusaha untuk membuat suaminya menyesal mendiamkannya.
Tetapi bukannya takut, Haikal berbalik menindih tubuh Ainisha dan melakukan hal yang sama. Ainisha tidak mau kalah, dia juga berbalik menindih tubuh suaminya. Hal itu berlangsung beberapa kali.
Sampai, pada saat Ainisha kelelahan, dia menindih tubuh suaminya dan bersandar di dada suaminya. Untung saja, Haikal tidak lagi dendam pada Ainisha dan membiarkan tubuh Ainisha tetap pada posisinya.
Saat itu, tanpa mereka sadari, Haidar terbangun dan langsung berusaha naik ke atas tubuh ayah dan ibunya. Kontan saja, hal itu membuat Ainisha dan Haikal kaget. Haikal akhirnya membantu Haidar naik sehingga membuat Haikal tersenyum kesakitan.
"Kalian ternyata berat juga," gumam Haikal.
Sementara Haidar tertawa kesenangan bisa naik kuda-kudaan. Haidar seperti mendapatkan mainan baru.
Bersambung
__ADS_1